
"jangan menghindar."
Ucapan yang terlontar dari mulut Aksa. Membuat Riana terdiam sejenak.
"Maaf Bang, Ri mau anterin kopi ke Ayah," ucapnya tanpa mau melihat wajah Aksa.
"Biar Abang yang bawa kopi ini ke Ayah." Aksa mengambil cangkir kopi yang ada di tangan Riana.
"Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana," titah Aksa.
Riana hanya menghela napas kasar. Mau tidak mau di harus menuruti ucapan Aksa. Dia tahu, bagaimana jika Aksa murka. Lebih kejam dari Giondra.
Aksa kembali dengan sebuah salep di tangannya. Dan dia menarik kursi agar bisa dekat dengan Riana, membuat Riana risih dan tidak nyaman.
Tangan Aksa mulai menyentuh pipi Riana dan membuat mata Riana melebar dengan sempurna. Ada desiran hebat di hatinya. Namun, segera dia tepis. Karena dia sadar dia tidak pantas untuk Aksa.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Aksa ketika melihat pipi Riana memar. Meskipun samar, Aksa mampu melihatnya dengan jelas.
Tidak ada jawaban dari Riana membuat Aksa mendengus kesal. Aksa segera membuka penutup salep dan hendak mengoleskan salep tersebut ke pipi Riana. Namun, suara dua orang wanita yang menyapanya membuat Aksa mengurungkan niatnya.
"Hai Aksa!" sapa Sarah dan juga Ziva.
"Ri, ke kamar perawatan Iyan dulu, ya," pamit Riana kepada Aksa.
"Akhirnya aku terbebas," gimana sambil melangkah cepat ke kamar Iyan dirawat.
***
Amanda dikurung oleh Satria di kamarnya. Dia tidak mengijinkan Amanda untuk keluar rumah.
"Kenapa kamu berbuat gila?" sergah Satria.
"Karena aku tidak ingin hidup miskin, Mas. Percuma aku nikah sama kamu, jika nantinya aku harus hidup melarat," sahut Amanda. Satria menggelengkan kepala tidak percaya. Sungguh wanita tidak tahu malu.
"Jadi, kamu menjajakan tubuhmu karena hartaku, iya?"
"Kenapa kamu bertanya yang sudah pasti kamu tahu jawaban sebenarnya?"
"Wanita jallang!" seru Satria.
"Tidak ada jallang yang tidak butuh uang, Mas." Ingin sekali Satria menenggelamkan Amanda ke sungai Amazon yang isinya anaconda. Agar Amanda ditelan hidup-hidup agar tidak meninggalkan jejak ketika dia mati. Semua orang pasti akan mudah untuk melupakannya.
"Hidupku realistis, aku menikahi pria kaya raya karena ingin menyenangkan diriku sendiri dengan harta yang suamiku miliki. Dan apa untungnya menikah dengan pria yang kaya raya, tapi karena surat wasiat jatuh miskin," cibirnya.
Satria terus menahan emosinya yang semakin memuncak. Harga dirinya sudah diinjak-injak.
"Lebih baik aku gugurkan kandungan ini. Percuma anak ini lahir, tapi memliki seorang ayah yang tidak bisa memberikannya apa-apa."
"Gugurkan saja, aku pastikan bukan hanya janinmu yang mati. Tapi, kamu juga mati di tanganku," teriak Satria.
Bantingan pintu membuat Amanda terlonjak. Tanpa perasaan, Satria mengurung Amanda di kamar. Amanda sudah mulai kehilangan kewarasannya.
Frustasi dan stres itulah yang Satria rasakan. Akhirnya, dia memberanikan diri menemui sang kakak. Kedatangannya disambut cibiran oleh anak kedua Addhitama, Rifal.
"Muka apa cucian baru kering?" Ledekan yang Rifal lontarkan kepada Satria. Dan hanya ditanggapi dengan dengusan kesal.
"Papihmu ada?"
"Di ruang kerja," sahut Rifal seadanya.
"Tolong panggilkan," titah Satria. Rifal pun menuruti perintah pamannya.
Tak lama, Addhitama menghampiri Satria di ruang keluarga. Diikuti oleh Rifal yang sedang memeluk toples berisi cemilan cokelat kesukaannya.
"Ada apa?"
"Dia ingin menggugurkan kandungannya dan kembali pada suaminya," adu Satria pada Addhitama.
"Bagaimana jika dia berani menggugurkan kandungannya?" Ada raut khawatir di wajah Satria.
"Kenapa tidak sekalian dia ikut bunuh diri?" sinis Addhitama.
"Lagian ya, udah pada tua masih aja gak takut sama dosa. Sisa waktu yang Tuhan berikan harusnya dipakai untuk berbuat kebaikan. Malah kenikmatan duniawi yang kalian kejar," timpal Rifal.
"Giliran buatnya aja bilang I love you, tapi giliran udah tumbuh benih di dalam perut bilangannya i hate you," cerocos Rifal yang masih asyik mengunyah makanan kesukaannya.
"Kamu dengar apa respon semua anak-anakku. Aku tahu, kamu menemui Rindra. Lalu, kamu mengancam Radit juga. Untuk apa? Agar aku membatalkan isi wasiat Papa. Itu tidak akan mungkin terjadi, Satria," ucap Addhitama.
"Kamu tahu kan, bagaimana aku menghukum Rindra putraku sendiri? Kamu adikku dan kamu pasti sudah paham bagaimana watakku. Bagaimana cara kerja otakku?" tukas Addhitama.
"Apa yang harus aku lakukan, Bang?"
"Aku bilang, cek kehamilannya. Jika, sudah memungkinkan, lakukan tes DNA. Mau itu anakmu atau bukan, kamu akan tetap kehilangan hartamu," tandas Addhitama.
"Aku lebih rela harta Papah dinikmati oleh anak yatim piatu dan para duafa dari pada harus diberikan kepada ular berkepala manusia," tegasnya.
Satria hanya menghela napas pasrah. Sebentar lagi jalan hidupnya akan berubah. Dan penyesalan selalu datang terlambat.
Sedangkan di kediaman Gio. Riana memilih makan malam di kamar perawatan Iyan. Jujur, dia masih sungkan dan tidak enak kepada semua orang yang sudah berbaik hati menampungnya.
"Di sini saja, Ri," pinta Ayanda.
"Tidak Mom, Ri ingin menemani Iyan." Riana pun pamit sopan kepada semua orang termasuk Sarah dan juga Ziva. Dan Aksa menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
"Terlalu segan tinggal di sini," gumamnya.
Ketika Riana sedang menyantap makanannya, ada yang menyodorkan botol minuman dingin di hadapannya. Siapa lagi jika bukan Aksa.
"Ri, sudah bawa minum, Bang," tolaknya halus.
"Simpanlah. Ini minuman kesukaanmu, kan," tawar Aksa. Riana pun mengambil minuman yang Aksa berikan. Dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Riana hendak beranjak dari duduknya dan refleks tangan Aksa mencegahnya kembali. "Mau ke mana? Makananmu belum habis."
"Ri, sudah kenyang." Bohong, itulah yang Riana lakukan. Dia tidak ingin berlama-lama dengan Aksa. Karena semenjak dia tahu tentang bundanya, dia sudah berniat untuk mengubur semua rasa yang dia miliki untuk Aksa.
Aksa mengambil piring di tangan Riana. "Duduk! Makan yang benar. Karena Abang tahu kamu belum makan." Tangan Aksa pun mengambil nasi dan lauk-pauk yang ada di piring Riana. Lalu, berniat untuk menyuapi Riana.
Namun, Riana tidak membuka mulutnya. Terlalu malu dan tidak enak itulah yang Riana rasakan.
"Buka mulutmu!"
"Tapi ...."
Aksa memasukkan sendok yang berisi makanan ke dalam mulut Riana dengan paksa. Pada akhirnya, Riana menyerah dan menerima suapan demi suapan dari tangan Aksa hingga makanan itu habis.
"Biar Ri, yang mencucinya." Riana merebut piring di tangan Aksa dan dengan langkah seribu menuju ke dapur.
Jantungnya bertalu-talu, sungguh Riana sangat tidak nyaman. Setelah piring dia cuci bersih. Dia menghampiri ayahnya yang tengah berada di kamar sang kakak. Di sana hanya ada Rion, Echa dan tentunya suami posesif Echa.
"Iyan sama siapa, Ri?" tanya Echa.
"Ada Abang di sana." Radit mengulum senyum membuat Riana menatap kesal ke arah kakak iparnya itu.
"Ayah, boleh Riana bicara sesuatu?" Rion mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Bicara apa Ri? Jangan buat Ayah takut."
"Bolehkah Ri tinggal bersama Om Jun saja?"
...****************...