
Waktu terus saja bergulir. Kepergian Aksa ke London hanya tinggal menghitung jam. Besok siang dia akan terbang ke London bersama kedua orang tuanya beserta Aska dan juga sang kakek. Sebenarnya, Echa ingin ikut. Berhubung si kembar masih kecil Radit tidak mengijinkan.
Malam ini, sedang diadakan acara perpisahan di rumah besar milik Gio dan Ayanda. Sudah ada para sahabat Aksa serta anak-anak dari sahabat Gio dan Ayanda. Ditambah tingkah lucu tiga tuyul piaraan Echa yang dilepas begitu saja oleh yang empunya. Membuat semua orang kewalahan.
Diusia yang baru menginjak tujuh bulan. Tiga bayi itu sudah gagah merangkak. Menjadi pembuat onar cilik ketika mereka sedang berkumpul seperti ini.
"Bangor, kenapa piaraan lu dilepaskan sih?" teriak Arya yang sudah menggendong Eeya dengan wajah penuh dengan krim kue.
"Loh, Eeya apain Uwa?" tanya Echa sambil meraih Aleeya digendongan Arya. Namun, anak itu malah menangis keras tidak mau lepas dari gendongan Arya.
"Lah, kenapa lu gak mau sama emak lu sih, Yul." Aleeya semakin menangis keras membuat Arya mengalah.
"Ya udah, main ya sama Uwa." Tangisan Aleeya pun reda dan berubah menjadi senyuman manis.
"Fotokopian emaknya banget ini mah," gerutu Arya disambut kekehan oleh Echa.
"Besok-besok minta mainan mahal, ya, Nak," ucap Echa sambil mengusap lembut rambut Aleeya. Dijawab dengusan kesal oleh Arya.
Echa sedang sibuk membuat salad di dapur. Padahal banyak pelayanan di sana. Tetapi, Echa ingin membuatnya sendiri.
"Kakak bikin apa?" Echa menoleh ke asal suara. Sudah ada adiknya di meja makan.
"Kenapa kamu di sini? Gak gabung sama teman-teman Aksa?" Riana menggeleng. Echa menghela napas kasar. Dia meninggalkan salad yang baru setengah jadi dan menyuruh pelayan untuk melanjutkannya.
"Apa Abang menyakiti kamu?" Riana menggeleng.
"Ri, ingin melupakannya, Kak. Di saat Ri ingin melupakannya, kenapa dia semakin mendekat? Ri, tahu ... jika, Abang suka sama Ri karena ada kemiripan dari sikap Ri dengan Kakak. Ri, tidak ingin dicintai karena rasa iba," lirih Riana.
"Jika, Abang beneran cinta sama kamu gimana?" tanya Echa serius.
"Lebih baik dibuang, Kak. Kenyataannya, cinta sendiri itu menyakitkan. Apalagi jika cinta kita tidak terbalaskan. Sangat amat menyakitkan." Senyum hambar yang menjadi penghujung ucapan Riana.
Echa hanya bisa mengusap lembut pundak sang adik. Echa tahu cerita sebenarnya dari Aksa. Dan dia juga tahu bagaimana Riana. Dia hanya ingin menjadi penengah. Tanpa mau menjodohkan. Karena akan sangat menyakitkan ketika pada akhirnya Tuhan menakdirkan jika mereka tidak berjodoh.
"Kak Ri, dipanggil Abang," ucap Beeya yang sudah merampas salad milik Echa. Padahal, salad itu baru saja diberikan oleh pelayan untuk Echa.
"Beeya!"
Beeya tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Echa. Hingga sang papah yang wajahnya sudah berubah bentuk seperti badut Mampang menghadangnya.
"Ya ampun, itu wajah diapain?" tanya Beeya dengan mulut penuh.
"Di poop-in, puas?" Beeya semakin terpingkal. Warna kuning yang dia kira krim kue ternyata poop dari si Bangor kecil. Siapa lagi jika bukan Aleeya yang senangnya membuat Arya sengsara. Berbeda dengan Aleena dan juga Aleesa. Yang menjadi anak Solehah dan tidak banyak tingkah. Seperti ayahnya, Raditya Addhitama. Sedangkan, Aleeya adalah bayi mungil yang aktifnya luar biasa. Dia seperti mengambil keaktifan yang dimiliki kakak-kakaknya. Yang membuat Arya heran, anak ketiga Echa ini jika sudah bertemu dengannya pasti nempel seperti perangko. Dan tidak ingin diajak oleh siapapun.
Arya melanjutkan langkahnya ke arah dapur dan menyerahkan Aleeya kepada Echa. "Anak lu poop udah kayak kucing aja, sembarangan," dengus Arya yang kini menuju kamar mandi dapur.
Echa menatap Arya bingung dan menyingkap baju yang dikenakan oleh Aleeya. Bukannya marah, Echa malah tertawa.
"Untungnya cair ya, Om. Coba kalo keras," ejek Echa dengan suara keras.
"Bocah durhaka emang lu," balas Arya dengan penuh emosi.
"Yuk, kita bersihin terus Eeya bobo, ya," ucap Echa pada sang anak ketiga.
Echa membawa Aleeya ke kamar miliknya yang berada di rumah mamahnya. Dibaringkannya Aleeya lalu dia mengambil tisu basah untuk membersihkan semua kotoran putrinya. Tidak ada rasa jijik bagi Echa. Setelah selesai membersihkan kotoran sang anak dan mengganti pakaian Aleeya dengan piyama tidur, Echa mulai memberikan asi untuk Aleeya. Diantara yang lain, Aleeya adalah anak yang rewel jika ingin tidur. Harus kenyang dulu, baru tbisa tidur nyenyak.
Pintu kamar terbuka, Radit melongokkan kepalanya terlebih dahulu sebelum masuk. Echa sudah meletakkan jari di bibirnya agar Radit tidak berisik. Dengan pelan Radit menghampiri Echa dan duduk di samping sang istri.
"Lelah yang membawa kebahagiaan, Ba," jawab Echa sambil tersenyum ke arah Radit.
Radit menarik dagu Echa, mengusap lembut bibir mungil milik istrinya. Dan entah sejak kapan bibir itu sudah mulai berpagut juga sudah saling membalas. Ada sensasi tersendiri bermesraan sambil menyusui sang bayi. Bayi itu pun seakan tahu kedua orang tuanya sedang melepas rindu setelah hampir tujuh bulan tidak berperang melawan kenikmatan dunia.
"Ingat anak, woiy!" Suara Arya menggema membuat Echa dan Radit gelagapan dan melepaskan pagutan. Sedangkan yang punya suara sudah menghilang dan tertawa bagai monster menjauhi kamar.
"Rasain lu," gumam Arya yang tidak berhenti tertawa karena melihat kedua keponakannya seperti terciduk satpol PP.
****
Dengan sangat terpaksa, Riana pergi ke halaman belakang di mana para anak muda itu berkumpul.
🎤
Aku tlah tahu
Kita memang tak mungkin
Tapi mengapa kita
Selalu bertemu
Langkah Riana terhenti ketika mendengar lagu yang sedang diputar oleh mereka.
🎤
Aku tlah tahu
Hati ini harus menghindar
Namun, kenyataan ku tak bisa
Maafkan aku terlanjur mencinta ...
Tanpa sadar, tangan Riana memegang dadanya yang teramat sakit. Ya, Riana terlanjur mencintai Aksa terlalu dalam. Dan sekarang, dia ingin melupakan semuanya. Tetapi, Aksa mendekat dan melarangnya. Ingin memaksa masuk ke dalam hati Riana ketika hati sudah dikunci rapat oleh sang pemiliknya.
Dekapan hangat seseorang membuatnya mendongakkan kepala. Hanya senyuman lembut yang menjawab pertanyaan dari sorot mata Riana. Pelukan itu semakin dipererat seperti dia tidak rela untuk meninggalkan perempuan rapuh ini. Yang sedang berpura-pura menjadi wanita kuat.
"Bang ...."
"Ijinkan seperti ini, lima menit saja," potong Aksa.
Ketika pelukan itu semakin erat dan erat, Gio yang tengah menggendong Aleena menyenggol siku Rion yang tengah asyik menimang Aleesa yang yang hendak terlelap.
"Apaan?" tanya pelan Rion. Gio menunjuk dengan dagunya. Refleks mata Rion mengikuti arah dagu Gio.
"Anak gua kayaknya cinta beneran sama anak lu," ucap Gio.
"Biarkan perasaan mereka mengalir. Mereka masih terlalu muda dan belum paham arti cinta yang sesungguhnya. Takutnya, cinta mereka hanya cinta monyet belaka."
...****************...
Yang mau tahu soundtrack lagu Riana dan Aksa lihat di ig aku ya @fiet82
Komen yang banyak ya ....