
Hari yang dinantikan Arya tiba juga, hari ini adalah hari pernikahan Arya dan juga Beby. Akad nikah hanya diadakan secara sederhana di kediaman Beby. Namun, dekorasinya sangat mewah. Tentu saja, siapa yang tidak tahu dengan keluarga Winarya adik dari Genta Wiguna.
Akad nikah hanya mengundang para keluarga saja karena kedua belah pihak ingin menjadikan acara ini sakral tanpa liputan media.
Rion, Amanda, Riza dan juga Echa sudah berada di kediaman Antonio Baskhara. Rion terus saja menggerutu karena dia sudah berada lama di sana namun, tak kunjung ke tempat mempelai wanita.
Amanda hanya mengelus pundak Rion dengan lembut. Dia tahu, sedari tadi suaminya menahan mual dan pusing. Padahal masker sudah Rion pakai tapi, penciumannya sangat sensitif.
"Sabar ya, Bang," ucap Amanda dengan suara lembut. Lalu mengusap pipi sang suami yang sedang membaringkan kepalanya di pundak Amanda.
Sedangkan Riza dan Echa seperti pasangan yang benar-benar dimabuk cinta. Riza terus saja menggenggam tangan Echa karena sedari tadi banyak sekali laki-laki yang melirik ke arah sang pacar. Membuat Riza kesal.
"Kenapa sih? Cemberut aja," tanya Echa melihat mimik wajah Riza ditekuk.
Riza hanya melirikan matanya kesal ke arah sang kekasih. Echa pun tertawa lalu mencubit pipi Riza. "Lucu deh kalo cemburu," ucapnya.
Riza masih saja dia membuat Echa merebahkan kepalanya di pundak Riza. Kemudian, menautkan jarinya ke jemari Riza. Riza hanya menghela napas dan tangan yang satunya membelai rambut Echa.
"Aku benci kalo kamu berdandan terlalu cantik," geramnya.
Echa mendongakkan kepalanya menatap manik Riza. "Dari dulu kan aku cantik, Za. Jadi, wajar kalo mereka lirik aku," goda Echa.
"Tau ah," jawab Riza.
"Ciye ngambek," ledek Echa sembari jemarinya menekan-nekan pelan pipi Riza.
"Ngambek melulu mah tinggalin aja, Dek. Banyak yang lebih ganteng dan kaya kok, Dek," timpal Rion yang tidak jauh berada dari tempat Riza dan Echa duduk.
"Benar juga," jawab Echa dan langsung bangun dari duduknya. Namun, lengannya ditahan oleh Riza. "Maaf," ucapnya.
Echa terkekeh geli melihat wajah pias Riza. "Segitu sayangnya ya, kamu sama aku. Sampe gak rela banget kalo aku nyari yang lebih dari kamu," sahut Echa.
"Udah ah, diem," balas Riza yang kini meletakkan kepalanya di bahu Echa.
Amanda dan Rion yang melihat putri mereka sedang kasmaran hanya menggelengkan kepala. Rion tidak melarang hanya membatasi, sentuhan fisik pun hanya sekedar genggaman tangan ataupun kecupan kening dan pipi masih Rion perbolehkan. Lebih dari itu Rion akan sangat murka. Meskipun dia predator wanita tapi, dia tidak ingin putrinya menjadi santapan lezat para predator ganas seperti dirinya.
Di kamar Arya, Arina memandangi Arya yang sedang membenarkan penampilannya. Senyumnya melengkung indah namun, terselip kesedihan dari sorot matanya.
Arya yang sedari tadi menyadari sikap aneh kakaknya, mulai memberanikan diri menatap mata Arina.
"Gua tahu lu sedih Mbak, sama seperti yang gua rasain dulu ketika gua harus mengikhlaskan lu dibawa Abang Rido," katanya.
"Gak nyangka aja, adik gua yang bujangan tua akan melepas masa bujangnya," balas Arina dengan nada berat.
Arya memeluk tubuh Arina begitu pun Arina yang membalas pelukan Arya. Air mata yang sedari tadi Arina tahan akhirnya tumpah juga.
"Jangan pernah berubah setelah nanti lu menikah. Lu tetap adik gua yang menyebalkan namun selalu gua rindukan," lirih Arina.
"Gua tetap adik lu, Mbak. Gua akan selalu menjaga lu ketika si Abang gak ada. Gua tetap anak Mamih dan Papih, gak ada yang akan berubah dari gua," ujar Arya.
Nyonya Reina dan tuan Antonio memandang haru melihat anak-anaknya seperti ini. Momen yang sangat jarang mereka lihat. Terlebih Arya dan Arina sama-sama menitikan air mata.
"Arya, sudah waktunya kita berangkat," ucap Antonio yang menyudahi keharuan putra-putrinya.
"Mbak ...."
"Pegang tangan gua." Arya pun langsung menggenggam tangan Arina namun, tetap tak menghilangkan kegugupannya.
Arya sudah duduk di bangku yang sudah disiapkan untuk kedua mempelai. Telapak tangannya terasa sangat dingin. Rion dan Giondra hanya terkekeh kecil melihat sahabatnya yang selalu tenang dan bar-bar kini menjadi manusia kaku.
Tidak menunggu lama, Beby pun berjalan ke arah Arya yang diapit oleh Ayanda dan juga Sheza dengan mengenakan kebaya berwarna peach. Membuat Azka dan juga Giondra menatap kagum ke arah istri-istri mereka. Tak terkecuali Arya, matanya tak berkedip melihat Beby yang sangat cantik berbalut kebaya putih.
"Pilihanmu sangat luar biasa," bisik Antonio.
Arya menatap ke arah ayahnya dengan menyunggingkan senyum. Beby pun duduk di samping Arya. Acara pun sudah dimulai.
Ayah Beby menjabat tangan Arya dan mengucapkan jika dia akan menikahkan putrinya dengan Arya, dengan lantangnya dan hanya dengan satu tarikan nafas Arya menjawabnya.
Para saksi pun mengucapakan kata SAH membuat hati Arya lega. Beban yang sedari pagi dia emban kini telah hilang sudah, berganti dengan kebahagiaan. Beby mencium tangan Arya yang kini sudah sah menurut hukum dan agama menjadi suaminya. Arya membalasnya dengan kecupan di kening Beby dengan sangat dalam.
"Aku ingin seperti Om Arya dan juga Tante Beby," bisik Riza kepada Echa.
"Tidak semudah itu Ferguso," sahut Echa di telinga Riza.
Wajah Riza pun ditekuk kembali, sedangkan Echa tertawa kecil melihat wajah sang kekasih.
Setelah acara sungkeman yang mengharu biru, kini giliran para sahabat Arya dan juga Beby yang mengucapakan selamat. Air mata Beby mengalir deras ketika memeluk tubuh Azka.
"Adik manjaku sudah menikah sekarang. Jadilah istri yang baik untuk suamimu," ucap Azka dengan masih mendekap tubuh Beby.
"Akhirnya ganteng-ganteng mubazir sold out juga. Berkat dijual diskonan," ledek Rion.
"Kampret," umpat Arya.
Setelah mengumpat sahabatnya Arya memeluk tubuh Rion dengan erat. "Makasih, bro," ucapnya haru. Rion hanya menepuk pelan punggung Arya.
"Jadilah suami yang baik dan selalu bahagiakan istri lu," ujar Rion. Arya pun mengangguk mantap.
Setelah Beby memeluk tubuh Azka lalu dia beralih kepada Gio. Senyum bahagia melengkung di wajah Gio. "Kakak sudah menyiapkan hadiah untukmu," ucapnya.
"Makasih, Kak," balasnya dengan wajah yang teramat bahagia.
"Lu mau ngasih kado apa ke gua?" tanya Arya pada Rion.
"Masa kalah sama Andra," imbuh Arya seraya memanas-manasi Rion.
Rion memasukkan tangannya ke saku celana. Lalu mendekat ke arah Arya dan memberikan sesuatu ke tangan Arya.
"Tissue magic," gumam Arya pelan ketika melihat pemberian Rion.
****
Happy reading ....