Bang Duda

Bang Duda
174. Pergi Kemana?



Setelah Gio pindah ke rumah barunya dan Echa sudah sembuh. Sekarang putrinya ikut bersama Ayanda. Hati Rion sedikit demi sedikit tenang. Terlebih kondisi Echa baik-baik saja. Membuat Rion sedikit lega.


Perut Amanda yang sudah sedikit membuncit, membuatnya mulai susah bergerak. Rion pun menjadi suami siaga. Apapun yang Amanda minta sebisa mungkin Rion turuti. Hanya saja permintaan Amanda sering membuat Rion migran.


Meskipun selalu menggerutu di belakang Amanda, tapi Rion tetap akan pergi membeli apa yang Amanda inginkan.


Seperti malam ini, Rion baru saja pulang kerja jam sepuluh malam. Dilihatnya, Amanda sudah terlelap. Karena lelah yang melanda, Rion ikut berbaring bersama istrinya. Dan memeluk erat tubuh istrinya. Tendangan-tendangan kecil bisa Rion rasakan dari perut Amanda.


Tubuh Rion digoyang-goyang kan oleh istrinya. Dengan mata yang sulit terbuka, Rion malah berbalik membelakangi Amanda.


"Abang." Amanda masih menggoyang-goyangkan tubuh Rion hingga Rion pun berusaha membuka matanya.


"Ada apa sih, Yang. Masih malam, tidur lagi ya," ucapnya dengan suara berat.


"Bang, Manda lapar." Mendengar ucapan istrinya mata Rion langsung terbuka dengan sempurna.


"Emang tadi gak makan?" ucapnya yang sudah bersandar di kepala ranjang.


Amanda pun menggeleng. "Manda ketiduran," sesalnya.


"Ya udah, istriku dan anak Ayah mau makan apa?" tanyanya yang sudah sadar sepenuhnya.


"Ini." Amanda menunjukkan gambar seblak komplit. Dan Rion familiar dengan toping-toping yang ada didalamnya.


"Udah malam, Yang. Mau nyari ke mana jam segini?" Rion melihat jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam.


"Bandung," sahut Amanda dengan santainya.


Mata Rion melebar dengan sempurna dan mulutnya pun menganga dengan lebarnya.


"Yang, ini tuh masih pagi pake banget. Mana ada tukang seblak yang masih buka jam segini." Rion berkata sedikit membentak Amanda.


Amanda hanya diam dan menundukkan kepala dengan tangan yang mengusap lembut perutnya.


"Kalo siang pasti aku beliin meskipun harus ke Bandung langsung. Ke Palembang aja aku jabanin cuma buat beli mpek-mpek yang kamu mau."


Amanda hanya diam tidak menjawab ucapan Rion. Air matanya menetes begitu saja. Dia sadar, dalam seminggu ini dia sudah menyusahkan Rion hanya untuk memenuhi ngidamnya.


"Aku lelah, Yang. Aku capek, aku ingin istirahat. Banyak kerjaan yang tertunda karena aku harus menuruti keinginan kamu. Banyak pertemuan yang harus aku batalkan karena tiba-tiba kamu ingin ini dan itu."


"Berilah aku waktu untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiranku. Apapun pasti akan aku lakukan untuk kamu, untuk anak kita."


Bukannya menenangkan istrinya, Rion malah beranjak dari tempat tidur. "Aku capek, aku ingin istrihat."


Rion masuk ke dalam kamar putrinya dan menguncinya dari dalam. Dia benar-benar ingin istirahat. Seminggu ini tubuhnya lelah harus pergi ke beberapa daerah hanya untuk memenuhi ngidam Amanda.


Yang membuat Rion jengkel, ketika dia sudah bersusah payah tapi, makanan yang dia belikan tidak disentuh sedikitpun oleh istrinya. Cukup dilihat lalu Amanda tersenyum dan mengatakan, "Manda sudah tidak ingin memakan itu."


Rion membaringkan tubuhnya dan tak lama terlelap. Sedangkan Amanda masih menangis di dalam kamarnya. Apakah ibu hamil akan sesensitif ini? Begitulah pikirnya.


Pagi hari, Rion membuka matanya dan menggerakkan badannya yang terasa jauh lebih segar. Dia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang berada di kamar Echa.


Setelah selesai mandi, dia masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak melihat istrinya di sana. Namun Rion tetap melanjutkan langkahnya menuju lemari. Dia pun mengenakan kemeja kerjanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30, Rion segera menuju meja makan. Keningnya mengkerut ketika di meja makan hanya ada beraneka makanan tanpa adanya Amanda.


Dicarinya ke dapur dan halaman belakang, Amanda tidak ada. Rion mencari ke halaman depan, tidak ada juga. Kepanikan sedikit menguasai hatinya sekarang ini. Dia menuju lantai atas, ruang kerjanya. Namun, nihil Amanda tetap tidak ada.


Rion berpapasan dengan Mbak Ina di tangga. "Istri saya kemana?" tanya Rion.


"Ibu pergi sedari subuh, Pak."


Deg.


Jantung Rion berdetak sangat kencang. Rasa takut kini memenuhi pikirannya.


"Dia bilang mau kemana?"


"Katanya mau jalan-jalan pagi, tapi Ibu juga membawa tas kecil, Pak."


Lutut Rion lemas, pikiran-pikiran jelek kini menghantui dirinya Mbak Ina yang melihat wajah majikannya berubah langsung pamit dan menjauhi Rion.


"Pergi ke mana kamu, Yang?" lirihnya.


"Jangan-jangan dia ...."


****


Happy reading ...