
Semenjak Azka kembali ke restoran tempat Sheza bekerja, dia selalu bersikap dingin kepada Sheza dan tak segan pula memarahi Sheza jika Sheza lalai. Hingga Sheza menjatuhkan air mata karena ucapan kasar dari Azka.
Sebenarnya Azka tidak tega, tapi itulah yang harus dia lakukan. Setiap kali memarahi Sheza dengan tak segan Azka melukai dirinya sendiri. Menonjok cermin ataupun dinding hingga tangannya berdarah-darah. Itu sebagai tanda jika Sheza terluka karena dia, dia pun harus ikut terluka.
Beby hanya menatap sedih melihat kakaknya seperti ini. Berkali-kali Beby membujuk Azka untuk move on dan mencari pengganti Sheza selalu saja kakaknya menolak.
"Dia wanita yang aku cari selama 10 tahun." Itulah yang selalu Azka ucapkan kepada Beby.
Ketulusan cinta Azka untuk Sheza sangat terlihat jelas dari matanya. Diam-diam Azka selalu memperhatikan Sheza dari jauh dan tak segan dia mengikuti Sheza hingga kontrakannya. Selama dua Minggu ini Azka mengintai Sheza, tapi tidak pernah melihat Sheza bersama Rion. Azka beranggapan jika Rion memang sedang sibuk dan hanya memiliki waktu pada malam hari menghabiskan waktu mereka untuk berkencan
Hari-hari Sheza setiap hari mendung, cerah tidak hujan pun tidak. Setiap hari dia selalu menunggu Azka, dan menatap Azka dari jauh dengan rasa bersalah sangat dalam. Perubahan dari diri Azka membuat hatinya sakit. Azka sudah membencinya.
Hari ini, Beby menyuruh Sheza untuk lembur karena ada beberapa karyawan yang izin pulang cepat karena keluarganya sakit. Sheza pun menuruti adik dari Bossnya ini. Lambat laun Sheza tau, jika Beby adalah kembaran Azka. Mereka memiliki sifat yang sama, yaitu kelembutan hati mereka membuat Sheza nyaman berada diantara mereka. Hubungan Beby dan Sheza kini merenggang karena Beby sedikit kecewa dengan perasaan Sheza terhadap kakaknya.
Malam pun tiba, mata Sheza tidak terlepas pada seorang pria yang tengah duduk di meja pengunjung. Wajahnya yang tampan membuat semua wanita berlomba-lomba mencari perhatian Azka. Tak satupun digubris oleh Azka, dia tetap fokus pada laptopnya.
"Maafkan aku," gumam Sheza.
Mata Sheza terlihat melebar ketika Azka menghampiri seorang wanita cantik yang baru saja datang. Postur tubuhnya sangat sempurna dan polesan make up yang luar biasa cantiknya. Azka tersenyum lebar ke arah wanita itu dan tak segan mereka berpelukan di depan khalayak umum. Dengan wajah berbinar dan senyum yang terus tersungging, wanita itu merangkul lengan Azka menuju meja yang sedari tadi Azka tempati.
"Bang, kok tampan banget sih. Jadi makin sayang," ucap manja wanita itu kepada Azka.
Telinga Sheza sangat jelas mendengar ucapan yang terlontar dari wanita itu. Sehingga membuat mata Sheza pedih dan mulai memerah. Hingga suara Beby membuat Sheza menyeka ujung matanya.
"Bawakan minuman dan cemilan ke meja Pak Kano," titah Beby. Sheza pun hanya bisa menganggukkan kepalanya namun hatinya menjerit kesakitan.
Setelah makanan dan minuman sudah siap dibawa ke meja Azka, Sheza terdiam dalam waktu yang cukup lama. Hatinya seolah tidak sanggup jika harus melihat Azka bermesraan dengan wanita lain.
"Sheza, cepat bawa," ujar salah seorang koki restoran.
Akhirnya Sheza membawa makanan dan minuman itu dengan hati yang sangat getir. Dia mencoba memasang wajah sebiasa mungkin. Ketika dia sudah ada di depan meja Azka, pemandangan yang sangat menyakitkan membuat matanya berkaca-kaca. Dengan cepat Sheza meletakkan makanan dan minuman di atas meja Azka.
"Silahkan dinikmati," ucapnya dengan nada gemetar. Pandangan Azka dan Sheza pun tak sengaja bertemu.
Air mata yang sedari tadi Sheza tahan akhirnya meluncur bebas. Dengan cepat Sheza membalikkan badannya dan meninggalkan meja Azka. Sungguh sakit hati Azka melihat bulir air mata yang terjatuh dari mata indah Sheza. Mata Azka mengikuti kemana langkah Sheza. Dilihatnya Sheza yang berjalan dengan tertunduk dan punggung yang sedikit bergetar.
Sheza masuk ke toilet dan menumpahkan semua sesak di dadanya. "Hati aku sakit, Azka," gumamnya dengan air mata yang bercucuran.
Wajah Azka nampak sangat bersalah. Wanita disampingnya berkata, "dia itu cemburu, cemburu itu tanda cinta. Jadi, kejarlah."
"Dia hanya iba kepadaku," lirih Azka.
"Apa Abang lupa Papa pernah bilang apa. Sebelum buku nikah di tangan kejarlah cinta Abang. Ya, kalo Abang diam aja, dia bisa dicomot cowok lain."
Azka hanya terdiam mendengar ucapan wanita disampingnya ini. "Jangan bohongi hati Abang sendiri. Kejar sebelum nanti Abang menyesal," lanjut si wanita.
Azka pun bangkit dari duduknya, dia langsung mencari Sheza ke belakang. Senyuman terukir dari dua wanita yang berada di meja Azka. "Semoga dugaanmu benar," ucap Beby pada si wanita. Hanya sebuah senyuman manis yang si wanita itu berikan.
Azka mencari keberadaan Sheza, dia sudah mencari ke toilet hingga ke halaman belakang namun tetap saja tidak ada.
"Bapak cari siapa?" tanya Sari.
"Sheza izin pulang Pak, katanya badannya tiba-tiba meriang. Mana di luar mau hujan," balas Sari.
Belum kering ucapan Sari, hujan pun turun tanpa memberi kode terlebih dahulu. Dengan perasaan cemas dan khawatir Azka menuju mobilnya. Dan melajukan mobilnya menuju kontrakan Sheza.
Tak lama mobil pun tiba di kontrakan Sheza. Tanpa memakai payung Azka berlari memasuki gang sempit menuju kontrakan Sheza. Naas, kontrakannya masih terkunci dan para tetangga Sheza hanya mengatakan jika Sheza belum pulang.
"Kamu dimana Sheza," gumam Azka.
Sheza menyusuri setiap jalan dengan langkah gontai dan hati yang perih. Air matanya sudah bercampur air hujan. Bajunya sudah basah kuyup namun tak Sheza hiraukan. Hanya isakan lirih yang menambah riuh rintikan hujan.
Bibirnya sudah mulai membiru karena dinginnya terpaan air hujan. Sheza terus saja melangkah seraya menyesali perbuatannya. Hanya kedua tangannya yang terlipat di atas dadanya yang kini menjadi penghangat tubuhnya.
Ada sepasang tangan yang tiba-tiba memeluk hangat tubuh Sheza. Deru hangat nafasnya mampu membuat hati Sheza berhenti berdetak untuk sesaat.
"Jangan pergi, aku mencintaimu," ucap pria itu.
Sheza membalikkan tubuhnya, menatap mata pria yang sangat mencintainya namun rasa Sheza untuknya telah pudar.
"Aku mohon," katanya dengan wajah yang sangat memelas.
Ada rasa iba di hatinya, namun logikanya masih mampu untuk berpikir jernih. Setelah kepergian pria itu selama dua Minggu tanpa kabar, membuat hati Sheza semakin yakin jika rasa itu bukanlah untuknya lagi. Melainkan untuk seseorang yang dia anggap sebagai sahabat, tapi kini berubah menjadi seseorang yang mampu membuatnya merasakan arti kehilangan yang sesungguhnya.
"Maaf Pak, biarkan saya pergi. Menata hati saya lagi," jawab Sheza.
Rion menatap Sheza sangat dalam, dia masih berharap jika Sheza akan menerimanya lagi. Rion menggenggam tangan Sheza lalu menciumnya. Mata Sheza melebar ketika melihat seseorang dengan baju yang sudah basah kuyup dan tatapan pilu berada tak jauh dari mereka.
Dengan keras Sheza mengibaskan tangannya hingga genggaman tangan Rion terlepas. Pria itu pun membalikkan badannya dan semakin menjauhi mereka berdua.
"Azka!" teriak Sheza. Sheza pun berlari mengejar Azka yang semakin jauh meninggalkannya.
"Ya, aku kalah lagi," ucap Azka dengan nada yang sangat miris.
Pada akhirnya pelukan seseorang dari belakang dengan nafas yang tersengal-sengal menghentikan langkah Azka.
"Aku mencintaimu."
To be continue.
***
Hay ...
Ayo dong banyakin komennya, banyakin jempolnya dan juga banyakin votenya biar tiap hari update 2 kali.
Cuma 3 hal itu yang bikin ide bertebaran. Kalo pada letoy aku pun melehoy.
Pokonya jangan lupa like, komen dan juga vote sebanyak-banyaknya 😁
Happy reading ...