
Sebenarnya Gio sudah menyuruh tiga pasangan itu dan juga echa untuk istirahat di hotel. Namun, mereka menolaknya. Mereka akan menemani Gio sampai Ayanda sadar.
Lelah, kantuk, dan nyeri di ujung bibirnya sama sekali tak dihiraukan oleh Gio. Dia terus saja menggenggam tangan Ayanda dan sesekali mengusap perut istrinya yang sudah terlihat buncit.
"Pa, makan dulu," ucap Echa.
Gio hanya menggelengkan kepala. Tubuhnya seolah menolak semuanya. Yang Gio inginkan hanya kesadaran Ayanda. Kesibukannya malah melukai anak dan istrinya.
"Mom bangunlah," ucapnya pelan.
Ayanda masih belum bangun juga membuat Gio semakin bersalah. Seharusnya dia menjaga istrinya bukan malah menyakitinya.
Tangan Ayanda mulai bergerak, matanya pun mulai terbuka pelan-pelan.
"Mommy," ucap bahagia Gio.
Hanya tatapan dingin dan marah yang Ayanda tunjukkan. Ayanda pun mengibaskan tangan Gio.
"Pergi dari sini!" usir Ayanda pada suaminya.
"Mom ...."
"Pergi!" teriaknya.
Gio langsung mendekap tubuh istrinya. Dengan sekuat tenaga Ayanda memberontak namun, Gio semakin mempererat pelukannya.
"Daddy jahat! jahat!" teriak Ayanda seraya memukul punggung Gio.
Gio tetap tak bergeming, dia membiarkan Ayanda memukul dirinya sampai istrinya puas melampiaskan kemarahannya.
"Maafkan Daddy," lirih Gio.
Ayanda terus saja menangis dalam dekapan suaminya. Hingga perutnya mulai terasa sakit. Gio pun panik dan langsung memanggil dokter.
"Jangan buat istri Anda stres dan terpancing emosi. Sebisa mungkin buatlah mood istri Anda baik." Gio hanya menganggukkan kepala.
"Aku mohon, Daddy pergi dari sini. Aku tidak mau melihat wajah Daddy. Selesaikan urusan Daddy dengan wanita itu dulu. Cukup sekali aku disakiti," lirih Ayanda.
Rahang Rion mulai mengeras mendengar ucapan Ayanda. "Gua udah peringatkan ke lu jangan pernah sakitin Ayanda," bentaknya seraya menarik kerah kemeja Gio.
Arya dengan segera menarik tubuh Rion, dia sangat tahu Rion bisa bersikap anarkis jika menyangkut Ayanda.
"Kano, bawa Gio pergi dari sini," pinta Ayanda.
Azkano hanya menganggukkan kepala, tapi Gio tetap tak bergeming di tempatnya.
"Kak, ini demi kebaikan istri dan anak Kakak," ucap Azkano.
"Kak, Beby mohon. Jika, Kakak tetap keras kepala Paman akan semakin murka," timpal Beby.
Akhirnya, dengan terpaksa Gio meninggalkan Ayanda. Azkano mengajaknya beristirahat di hotel, namun Gio tidak mau. Dia akan tetap menunggu Ayanda di depan ruang perawatan.
Di dalam ruangan, Echa meminta kepada Ayahnya dan juga Amanda untuk beristirahat di hotel. Biarkan Echa, Sheza dan Beby yang menjaga Ayanda.
Rion, Amanda dan Arya pun meninggalkan rumah sakit dan menuju hotel yang sudah disiapkan Gio. Ada dua kamar berdampingan. Arya membuka pintu kamar hotel miliknya diikuti oleh Rion.
"Ngapain lu ikut ke sini. Tidur sono sama bini lu," ujar Arya dan langsung mendorong paksa tubuh Rion keluar.
Arya langsung mengetuk pintu kamar hotel Amanda. "Kalian kan laki bini, masa iya tidurnya misah. Apa kata orang coba," ujar Arya ketika Amanda sudah membuka pintu.
Dengan kasar Arya mendorong tubuh Rion hingga menabrak tubuh bagian depan istrinya.
"Selamat menikmati malam pertama," usil Arya seraya terkekeh.
Di dalam kamar, hanya kecanggungan yang tercipta. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua.
"Kita tidur dalam satu tempat tidur aja Bang. Kan ada guling yang akan ngasih jarak antara kita," balas Amanda.
Mau tidak mau Rion mengikuti perkataan Amanda. Semenjak Amanda mendiamkannya, sekarang Rion menjadi lelaki penurut. Apa yang dikatakan Amanda selalu diturutinya.
Di rumah sakit, Azkano kembali ke ruangan Ayanda. Dilihatnya wajah Ayanda yang masih sangat sendu. Echa yang kini berada disamping mamahnya. Terus menggenggam tangan ibundanya seraya mengalirkan kehangatan dan ketenangan.
"Bicarakan baik-baik dengan Papa, Mah," pinta Echa.
Ayanda hanya diam tidak menjawab apapun yang dikatakan Echa. Hatinya masih sakit melihat suaminya bersama wanita lain dan bisa tertawa lepas.
"Jaga Kak Ay, ya," pinta Azkano kepada Sheza dan juga Beby.
Di luar ruangan, Gio hanya menundukkan kepala. Dia tidak bisa meninggalkan istrinya. Dia harus tetap berada di samping Ayanda karena dia suaminya. Begitulah keras hati Gio.
"Kakak sudah meminta Remon untuk membawa wanita itu?" tanya Azkano.
"Sudah, tapi lusa dia baru bisa terbang ke sini," ucap Gio.
"Kak Ay masih menyimpan trauma masa lalunya. Makanya dia seperti itu," sahut Azkano.
Gio hanya terdiam, seharusnya dia membahagiakan Ayanda ketika kehamilan istrinya sudah memasuki kehamilan tua. Bukan malah menambah beban pikirannya.
"Kita ke IGD. Obati luka Kakak, itu sudah mulai membiru," ujar Azkano.
"Aku tidak apa-apa. Aku tidak bisa meninggalkan istriku," balasnya seraya melihat keadaan Ayanda dari kaca luar.
Kali ini Azkano tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sangat tahu jika kakak sepupunya ini sangat mencintai istrinya. Dan sangat tidak mungkin jika Gio memiliki wanita simpanan lain.
Di kamar hotel, Amanda dan Rion sudah berada di atas tempat tidur. Ini kali pertama mereka tidur dalam satu tempat tidur. Tidak ada pembicaraan apapun. Hanya cahaya temaram yang kini ada di kamar itu.
Amanda hanya membolak-balikkan badannya seperti orang gusar. Rion yang memang belum tertidur segera beranjak dari tempat tidur.
"Mau kemana?" tanya Amanda yang merasakan ada pergerakan dari tempat Rion.
"Sepertinya kamu tidak nyaman, aku tidur di sofa aja," jawab Rion.
"Di sini aja temenin Manda," pintanya.
"Tapi, kamu sendiri yang ...."
"Abang," panggilnya.
Rion pun mengurungkan niatnya untuk turun dari tempat tidur. Mereka mengambil posisi saling membelakangi. Jantung Amanda berdetak tak karuhan. Begitu pun Rion, Rion hanya takut jika dia tidak bisa menahan hasrat kelelakiannya. Terlebih Amanda tidur tanpa menggunakan hijab. Terlihat sangat cantik di mata Rion.
Hingga akhirnya mereka terlelap ke alam mimpi. Sedangkan di rumah sakit Gio tetap menatap Ayanda yang seperti orang gelisah dalam tidurnya. Kadang wajahnya terlihat sedang meringis merasakan sakit. Ingin sekali Gio menghampiri Ayanda dan mengusap lembut calon bayi kembar mereka.
Semalaman Gio hanya memandangi istrinya dari balik kaca pintu kamar, melihat istrinya yang tidak bisa tidur nyenyak karena sedang hamil besar membuatnya semakin merutuki kebodohannya. Selama ini setiap malam dia tidur nyenyak sedangkan istrinya tidur dalam ketidaknyamanan.
Di kamar hotel, Amanda membuka matanya perlahan. Pertama kali orang yang dia lihat ketika bangun tidur adalah suaminya, senyuman pun melengkung indah di bibirnya. Amanda melihat ke arah tubuhnya, tanpa Rion sadari, tangannya memeluk tubuh Amanda. Sudah tidak ada penghalang lagi diantara mereka berdua. Guling pembatas pun sudah tak tahu dimana.
"Manda mencintai Abang, dan akan terus berusaha membuat Abang jatuh cinta kepada Manda," ucapnya sangat pelan. Amanda pun mengecup kening suaminya, dengan pelan menurunkan tangan suaminya di tubuhnya dan bergegas membersihkan diri.
Setelah terdengar pintu kamar mandi tertutup, Rion membuka matanya dengan tersenyum bahagia. Ternyata dia tidak benar-benar tidur. Karena ulah Rion lah guling itu ada di bawah tempat tidur.
***
Mon maap semuanya..
Up hari ini ngaret pake banget ya😁
Jangan bosen like, komen dan juga votenya ya Sayang ...
Happy reading ...