
Arya mengernyitkan dahinya ketika melihat isi pesan dari dokter Eki.
"Ini bukan istrinya temen lu, ya."
Begitulah isi pesan dari dokter Eki dengan menyisipkan foto Amanda yang sedang bersama Satria.
"Iya, itu laki siapa?" balas Arya.
"Satria Wiratama, pemilik rumah sakit tempat gua praktek di Jakarta. Kebetulan udah dua Minggu ini gua ditugaskan di Jakarta lagi."
"Satria Wiratama? Bukannya itu Om si Radit?" gumamnya.
Arya merasakan ada sesuatu hal yang aneh. Apalagi, dia melihat jelas tatapan Satria dan juga Amanda ketika di acara lamaran Echa. Amanda tidak berani menatap Satria sedangkan Satria menatap kagum ke arah Amanda.
"Ga usah bengong, kesambet lu," ujar Rion.
"Udah ngobatin Ayandanya?" Rion hanya mengangguk.
"Semenjak jadi Nyonya Giondra kulitnya lebay," cibir Rion.
Geplakan di bahu Rion terdengat jelas. Ayanda sudah memasang wajah masam dan Arya hanya terkekeh melihat dua manusia di depannya ini.
"Emang kalian mah cocoknya jadi sahabat. Buktinya, ketika kalian pisah hubungan kalian semakin akrab gitu. Beda ketika kalian jadi suami-istri. Kayak kanebo kering," terang Arya seraya tertawa.
"Gak lucu!" pekik mereka berdua.
"Ciye kompak."
"Somplak!" dengus Ayanda.
Karena semua pengecekan sudah selesai. Sore ini juga mereka kembali ke Jakarta. Ayanda ikut ke dalam mobil yang dibawa Arya.
"Ngapain lu duduk di belakang?" omel Arya pada Rion.
"Lu kira gua sopir kalian," sungut Arya.
Rion berdecak kesal mendengar ocehan Arya. Dia pun bergegas pindah ke kursi depan.
"Berasa ratu, ya, yang di belakang," goda Rion.
"Iyalah, orang aku wanita satu-satunya. Yang bener bawa mobilnya, tubuh ku lecet sedikit aja aku potong transferan kalian," ancam Ayanda.
"Cih, gaya lu Maemunah," ucap Arya.
Rion pun tertawa melihat Arya dan Ayanda yang kini berdebat. Tak terasa mereka tiba di Jakarta. Arya mengantar Ayanda terlebih dahulu karena sudah mendapat ultimatum keras dari sang Tuan, Giondra Aresta Wiguna.
"Makasih," ucap Ayanda.
"Langsung istirahat, Dek. Besok suamimu pulang matamu kaya mata panda, Mas yang kena bogem," imbuh Rion.
"Iya, Mas."
Arya pun melanjutkan kembali perjalannya. Tiba sudah mereka di rumah mereka masing-masing. Kepulangan Rion disambut oleh putri kecilnya.
"Jangan peluk dulu, ya. Ayah masih kotor nanti gatal." Riana pun mengangguk mengerti.
"Bunda di mana, Ri?"
"Di kamar, Ayah," jawab Riana.
"Ayah mandi dulu, ya. Nanti baru main sama Ayah." Riana menunjukkan ibu jarinya.
"Sayang, kamu gak nyambut Abang?" Tidak ada jawaban dari Amanda.
Rion mengernyitkan dahinya, tidak biasanya Amanda seperti ini. "Sayang kamu kenapa?" tanya Rion sambil memegang bahu Amanda. Namun, segera Amanda tepis. Amanda menatap tajam ke arah Rion.
"Gak usah sentuh aku, sentuh aja mantan istri kamu!" serunya.
"Apa maksud kamu, Yang? Abang gak ngerti."
"Gak usah sok polos Bang, Abang ngapain aja sama mantan istri Abang. Ngapain aja? Hah?"
"Ada ya, mantan suami-istri masih bergandengan tangan dengan mesranya. Meskipun, jauh dari istri harusnya Abang jaga perasaan istri bukan malah bermain di belakang istri," bentak Amanda.
"Apa sih maksud kamu?" sentak Rion.
"Aku ke Bandung kerja, ngurus toko yang kebakaran. Siapa yang bermesraan? Aku, Bhaskara dan Ayanda kerja di sana," ungkapnya.
"Aku cape kalo kamu terus-terusan cemburu sama Ayanda. Dari awal aku pernah bilang, Ayanda memiliki tempat tersendiri di hati aku. Tapi, bukan berarti aku itu masih mengharapkan Ayanda. Dia sudah bahagia begitu pun aku."
"Kurang kah pembuktian cintaku selama ini terhadap kamu?" Suara Rion sudah mulai meninggi.
"Amanda, ketika aku menerima wanita lain di dalam hidupku. Itu berarti aku sudah menyimpan semua kenanganku dengan Ayanda. Jadi, gak usah terus mempermasalahkan hubunganku dengan Ayanda. Karena aku pun tak pernah mempermasalahkan bagaimana masa lalumu."
Amanda terdiam mendengar ucapan Rion. Masa lalunya? Bagaimana reaksi Rion jika dia tahu bahwa yang merenggut kesuciannya adalah Satria?
"Terserah kamu sekarang. Aku capek!"
Rion masuk ke dalam kamar mandi. Dan Amanda terduduk di tepian tempat tidur. Dia merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia bisa terpancing oleh ucapan Satria.
Di balik pintu kamar, Echa hanya menghela napas kasar. Niat hati ingin berpamitan, malah mendengar pertengkaran.
"Lebih baik Mamah dan Ayah jaga jarak," gumamnya.
Tanpa pamit, Echa pergi meninggalkan kediaman Rion. Dia bergelut dengan pikirannya sendiri. Sampainya di rumah, sang mamah sudah menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Mah, apa Echa boleh bicara sebentar?"
Ayanda menatap aneh ke arah Echa. "Kenapa Kak?"
"Kita bicara di kamar Echa, ya." Ayanda pun mengikuti Echa. Sebelumnya dia pamit terlebih dahulu kepada si kembar tengah asyik menyantap aneka sushi.
"Ada apa Kak?"
"Mah, apa yang terjadi antara Mamah dan Ayah di Bandung?"
"Hah? Tidak terjadi apa-apa, Kak. Memangnya kenapa?"
Echa menceritakan apa yang didengarnya ketika hendak pamit kepada Ayah dan bundanya. Dan Ayanda hanya menghela napas kasar.
"Mamah hanya meminta tolong untuk mengoleskan obat di pundak belakang Mamah. Kamu tahu, kan, akhir-akhir ini kulit Mamah sensitif tidak boleh terkena debu atau kotoran." Echa mengangguk pelan.
"Ya, harusnya Mamah tahu diri. Tidak semua orang berhati seperti Papa kamu. Harusnya Mamah bisa menjaga jarak. Besok akan Mamah bicarakan dengan Ayah, Om Arya serta Papa. Mamah tidak ingin keluarga Ayah kamu hancur karena terus salah paham."
Echa memeluk tubuh Ayanda dengan begitu eratnya. "Echa tahu, Mamah dan Ayah melakukan semua ini untuk Echa. Maafkan Echa, Mah."
"Tidak, Sayang. Mamah dan Ayah sepakat untuk tetap berteman meskipun kami telah berpisah. Dan buktinya Mamah dan Ayah semakin akrab. Tapi, keakraban Mamah dan Ayah diartikan berbeda oleh bundamu."
"Maafkan Mamah, jika besok dan seterusnya Mamah akan menjaga jarak dengan Ayahmu." Echa pun mengangguk pelan.
"Demi kebaikan Mamah dan juga Ayah," sahut Echa.
Keesokan harinya, setelah kembalinya Gio ke Jakarta. Ayanda menceritakan semuanya kepada Gio. Dan Gio memeluk tubuhnya dengan sangat erat.
"Lakukan yang terbaik untuk Mommy. Dari awal Daddy tidak melarang Mommy, tidak juga membatasi hubungan Mommy dengan Rion. Jika, ini keputusan Mommy maka, lakukanlah."
"Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk mengerti kita, kan." Ayanda pun mengangguk pelan.
"Makasih sudah memberikan kepercayaan yang sangat luar biasa kepada Mommy," ucap Ayanda.
"Sama-sama Sayang. Daddy menikahi Mommy karena Daddy ingin membuat Mommy bahagia. Bukan terkekang ataupun tersiksa."
Mereka berdua pergi mengunjungi kantor Rion. Hari ini Echa sedang menghabiskan waktu bersama Radit. Karena lusa Radit akan bertolak ke Ausi.
Gio dan Ayanda yang selalu bersikap mesra membuat semua para karyawan yang bekerja di kantor Rion merasa iri. Sungguh pasangan yang serasi.
Sapaan hangat dari Kinanti dibalas senyuman manis oleh Ayanda. "Pak Bos ada di dalam. Masuk aja, Bu."
Ya, Kinanti diamanatkan jika Ayanda datang jangan buat dia menunggu. Dan harus segera dipersilahkan masuk ke dalam ruangan Rion. Karena Ayanda adalah owner dari semua toko bakery milik Rion.
"Loh, kok?"
Bukan hanya Rion yang terkejut, Arya pun menatap bingung ke arah Ayanda dan juga Gio.
"Tumben amat," ucap Arya.
"Aku mau bicara serius dengan kalian," ujar Ayanda.
"Bicara?"
Ayanda mengangguk pelan dan dia beserta suaminya sudah duduk di sofa. Diikuti oleh Arya dan juga Rion.
"Ada apa?" tanya Rion yang sedikit merasa khawatir.
"Aku akan mengundurkan diri dalam kepengurusan toko ini."
Mata Rion serta Arya melebar dengan sempurna. Mereka berdua tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ayanda.
"Aku serahkan toko ini kepada kalian berdua. Dan semua keuangan pun aku serahkan kepada kalian. Kalian cukup kirimkan 20% hasil dari keuntungan ke rekening milik Echa. Karena, aku sudah tidak ingin menerima apa-apa dari toko ini."
"Aku tidak ingin terus-terusan menjadi pemicu pertengkaran rumah tangga kalian, Mas. Lebih baik aku mundur dan hubungan kita harus berjarak supaya istrimu tidak selalu cemburu kepadaku."
Rion hanya menghela napas kasar mendengar penuturan dari Ayanda.
"Hargai keputusan Ayang. Dan ini juga yang Echa inginkan. Dua wanita ini tidak ingin rumah tangga lu hancur. Mereka ingin lu bahagia dengan keluarga lu," terang Gio.
"Sebenarnya Mas berat, Dek," keluh Rion.
"Mas pasti bisa kok. Gak apa-apa nama pemilik masih pakai namaku. Ketika Echa sudah selesai kuliah, akan kuserahkan kepemilikan toko ini kepada Echa. Dan dia yang akan membantu kalian," tutur Ayanda.
Arya dan Rion hanya bisa menuruti apa yang diminta oleh Ayanda. Mereka juga tidak mau memaksa. Karena Ayanda juga memiliki puluhan bisnis yang cukup besar yang dia kelola sendiri bersama para sahabat dan orang kepercayaannya.
Sedangkan di sebuah pusat perbelanjaan. Echa dan Radit memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu di sebuah restoran cukup mewah. Setelah memilih menu, Radit sibuk dengan ponselnya karena banyak pekerjaan yang dia handle seorang diri. Namun, mata Echa terpaku pada satu sosok yang sangat Echa kenali.
Dan matanya melebar ketika dia melihat ada pria yang duduk di meja yang sedang wanita itu tempati.
"Ay, aku ke toilet sebentar, ya."
Echa melangkah dengan pelan dan ingin memastikan yang dilihatnya itu salah atau tidak. Echa menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Aku harap ini pertemuan kita yang terakhir. Aku tidak ingin bertemu dengan kamu lagi. Urusan kita sudah selesai."
"Dua belas tahun lalu, mahkotaku sudah kuserahkan kepadamu dengan harga satu milyar. Hingga penyesalan masih tersimpan dalam di dalam diriku," lirihnya.
"Kita sudah saling menguntungkan. Dan semuanya pun sudah selesai. Marilah menjalani kehidupan kita masing-masing. Jangan mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Apalagi jika, kamu berusaha menghancurkan rumah tangga seseorang. Sudah dipastikan, hidupmu akan terus menderita."
Echa benar-benar syok mendengarnya. Dia memang tidak mengerti akan masa lalu Amanda. Yang dia tahu, Amanda hanyalah wanita malam. Tapi, mendengar semua ini hatinya seakan perih. Apalagi pria yang duduk di kursi di depan Amanda adalah anggota keluarga Radit.
"Ayah." Satu nama yang dia sebut.
Echa kembali ke meja yang dia dan Radit tempati dengan wajah yang sulit diartikan.
"Kamu kenapa, Yang?" Radit terlalu peka, sedikit raut wajah Echa yang berubah pun pasti Radit tahu Echa sedang tidak baik-baik saja.
Tidak ada jawaban dari Echa. Dan Radit duduk di samping Echa. Menarik Echa ke dalam pelukannya. "Jangan ada yang kamu tutupi dari aku," imbuhnya.
Pesanan mereka pun tiba. Di mood seperti ini, Echa pasti tidak akan menyentuh makanannya. Dan dengan telaten Radit akan menyuapi Echa.
Semua yang dilihat dan didengar Echa, Echa simpan rapat-rapat. Dia tahu hubungan Ayah dan bundanya sedang tidak baik. Jika, dia memberitahukan perihal ini hubungan ayahnya pasti akan semakin tidak harmonis. Dan jika, ayahnya mengetahui ini semua. Masihkan restu sang Ayah masih dia dapat?
"Kamu kenapa?" Radit bertanya lagi ketika selesai makan.
"Jika, tiba-tiba keluargaku membatalkan pernikahan kita dan berbalik tidak merestui kita. Apa kita harus berpisah?"
"Maksud kamu apa, Yang?" Echa hanya terdiam. Dia takut, sungguh takut. Echa tahu watak ayahnya seperti apa.
"Hey, dengar Sayang. Pernikahan itu akan tetap terjadi. Aku akan berjuang tanpa lelah untuk memperjuangkan cinta kita."
Echa berhambur memeluk Radit. Sedikit lega begitulah yang dia rasakan.
Hubungan Rion dan Amanda sedang tidak tegur sapa semenjak kejadian kemarin. Ada sedikit rasa kecewa kepada Amanda. Sudah hampir sepuluh tahun menikah tapi, dia tetap masih tidak percaya dengan kedekatannya dengan Ayanda yang hanya sebatas sahabat.
Rion memutuskan untuk merelakskan pikirannya. Setelah pulang kerja, dia pergi ke sebuah coffee shop langganannya. Rion memilih duduk di tepian jendela. Melihat lalu lalang kendaraan sendirian.
"Serius lu ketemu sama Amanda?" Dan si pria itu menjawab dengan sebuah anggukan.
"Oh God, luar biasa banget. Wanita yang lebih dari sepuluh tahun lu cari akhirnya ketemu. Gua ikut senang."
"Dia udah menikah," tukas si pria.
"Dan kemarin aku bertemu dengannya. Dia memintaku untuk menjauhi dia. Urusannya dengan aku sudah selesai setelah cinta satu malam yang aku bayar satu milyar untuk mahkota seorang wanita seperti Amanda."
Deg.
Jantung Rion berhenti berdetak. Pandangannya memang ke arah jendela. Tapi, pendengarannya mampu mendengar jelas apa yang dikatakan dua pria di belakangnya ini.
"Amanda? Mahkota satu milyar?"
Pikirannya tertuju pada istrinya. Dengan pelan dia menoleh ke arah belakang tempat dia duduk.
"Itu kan Satria, Omnya Radit," gumamnya.
"Apa dia ...."
Rion segera menghubungi seseorang untuk mencari tahu perihal apa yang dia dengar. Orang di seberang sana pun segera menjalankan perintah dari Rion. Rion berharap, Amanda yang dimaksud oleh Satria bukanlah Amanda istrinya.
Keesokan harinya, orang suruhan Rion meminta bertemu di sebuah cafe. Dan Rion menyanggupinya.
"Mau ke mana?" tanya Arya yang melihat Rion sudah memakai jaket kulit yang tidak biasa gunakan.
"Ketemu Bagas."
"Bagas?" ucap Arya.
Rion tak mengindahkan ucapan Arya. Dan dia segera menuju tempat di mana Bagas ingin bertemu.
"Ada apa ini? Kenapa tuh anak hubungi si Bagas?" Ya, Bagas adalah orang suruhan Rion yang bertugas sebagai Intel.
Rion melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke cafe yang dimaksud oleh Bagas. Dahinya mengernyit ketika dia melihat mobil yang dia kenali terparkir di depan cafe. Rion mencari sosok Bagas.
"Udah dapat informasinya?" Bagas yang sedikit terkejut pun segera menganggukkan kepalanya.
"Liat tuh," tunjuk Bagas ke arah meja yang berada cukup jauh dari mereka.
Bagas mengeluarkan semua bukti yang dia dapat. Rion yang masih memandangi punggung wanita itu segera beralih pada lembar demi lembar foto yang diberikan Bagas.
"Selama ini lu terlalu acuh sama masa lalunya karena cinta yang lu punya buat dia sangatlah besar. Dan itu kenyataannya," terang Bagas.
Rion benar-benar syok dengan apa yang dilihatnya dan juga diungkapkan oleh Bagas.
"Satu milyar untuk satu malam, sungguh mahal. Dan hanya orang berduit sekelas Satria yang mampu membayarnya."
"I-ini ...."
"Ya, adiknya Addhitama. Calon besan lu."
"Ja-di ...."
Bagas pun mengangguk. "Dia yang beli mahkota Amanda. Dan dia juga yang sekarang lagi sama istri lu."
Rion mengarahkan pandangannya ke arah meja di ujung sana. Ya, benar itu istrinya dan Satria.
"Ini urusan lu sama istri lu. Gak ada sangkut pautnya sama anak lu. Bijaklah jadi orangtua," imbuh Bsgas. Ya, Bagas tahu bagaimana watak Rion.
"Kenapa dia gak jujur sama gua? Dan kenapa dia bisa sama Satria?"
"Hanya istri lu yang tahu jawabannya. Dan asal lu tahu udah beberapa hari ini Satria mantau rumah lu. Dan ke manapun istri lu pergi selalu dia ikuti," jawab Bagas kemudian menyesap rokoknya.
"Sial!" pekiknya.
Ada gurat-gurat kemarahan di wajah Rion. Dan tanpa pikir panjang Rion pun segera pergi.
"Kebiasaan," dengus Bagas.
Rion pergi dan Arya pun datang. Bagas yang sedang menikmati kopi pun tersentak akan kehadiran tiba-tiba Arya.
"Bos lu pulang ngapa sekarang lu yang datang?" sindir Bagas.
"Ada apa?"
"Ck, masih aja lu jadi manusia peka," decak Bagas.
"Tuh," tunjuk Bagas dengan dagunya ke arah kursi pojokan.
"Ngapain gua liat orang yang lagi berduaan?" Bagas melempar korek ke arah kening Arya hingga dia mengaduh.
"Tuh liat kertas di atas meja," titahanyà .
Mata Arya membesar melihat kertas yang disuguhkan untuknya. Foto Amanda berpakaian minim dan Satria yang terlihat masih muda.
"Jadi, benar apa yang dikatakan Eki?" gumamnya.
"Reaksi si Rion gimana?" Wajah khawatir nampak jelas Arya tunjukkan.
"Lu pasti tau jawabannya," sahut Bagas.
"Bukankah sumai-istri harus saling terbuka? Tentang hal pahit dan kecil sekalipun." Arya mengangguk pelan.
Arya hanya menghela napas kasar dan dia segera menghubungi Rion. Namun, tidak ada jawaban darinya. Mata Arya masih memandang Amanda dengan Satria. Ingin rasanya Arya menghampiri mereka. Tapi, Arya juga tahu batasan. Sekarang yang dia pikirkan adalah Rion.
Arya saja yang mendengarnya merasa kecewa. Bagaimana dengan Rion?
...----------------...
... ...
......Hargailah setiap tulisan yang kalian baca. Karena kalian tidak tahu bagaimana perjuangan para author di balik layar dalam menulis bab per bab yang akan mereka suguhkan kepada kalian. ......