
Mereka dijamu sangat spesial oleh Genta Wiguna. Genta sudah menganggap Rion dan Arya seperti putranya sendiri. Kehadiran mereka berdua mampu menghidupkan suasana dan membuat Genta merasa muda lagi.
"Kalian harus nginep, ya," ujar Genta.
"Aku tidur sama pacar ya, Om," canda Arya.
"Nih!" ucap Genta dengan memperlihatkan pisau ke wajah Arya.
Semua orang pun tertawa, mereka menikmati makan mereka tanpa Gio, Echa dan juga Ayanda. Echa sedang melepas rindu dengan kedua orangtuanya.
Echa terus memeluk pinggang Ayanda dan kepalanya bersandar pada bahu mamahnya. Gio yang melihat sikap aneh Echa hanya tersenyum tipis dengan tangan yang sedang menggendong Gathan.
"Kenapa, Sayang?" tanya Gio.
Echa hanya menggelengkan kepalanya, Gio memberikan Gathan ke tangan Echa. "Belajar jadi kakak yang baik," ujar Gio sambil tertawa.
Echa menggendong Gathan dengan sangat kaku, melihat mata bulat adik pertamanya yang sedang terjaga, membuat hati Echa menghangat. Beban yang sedang dia rasakan hilang begitu saja.
"Kamu tuh kalo udah gede jadi bodyguardnya Kakak ya." Echa tertawa ketika si Abang meresponnya dengan senyuman.
"Gemes," ucap Echa seraya menguyel-uyel pipi gembul si Abang.
Gio dan Ayanda saling menatap hangat, bibir mereka melengkungkan senyuman yang sangat bahagia melihat Echa sangat menyayangi Gathan.
"Mah, kok Adek gak bangun-bangun?"
"Belum waktunya, ntar juga kalo udah haus dia bangun," jawab Ayanda.
"Kok kamu gak tidur sih kaya si Adek? Jangan jadi anak yang nakal ntar gak Kakak sayang loh," ucap Echa pada Gathan.
Mendengar perkataan Echa Gathan pun menangis, membuat Echa panik. "Mamah," panggil Echa.
Ayanda hanya tertawa. "Si Abang sedih kamu ngomong begitu," ujar mamahnya.
Echa yang awalnya tak percaya akhirnya mencium seluruh wajah Gathan. "Kakak bercanda Abang." Tangis Gathan pun reda membuat Echa tersenyum bahagia.
Gio membawakan makanan untuk istri dan putrinya. Gio menyuapi satu per satu perempuan yang amat dia sayangi.
"Makan dulu gih, Abangnya biar Mamah gendong," ucap Ayanda.
"Gak apa-apa, Echa masih pengen main sama si Abang," ucapnya yang terus menguyel-uyel pipi Gathan.
Amanda dan Rion yang menyaksikan keakraban Ayanda, Gio dan juga Echa yang sedang menggendong salah satu dari si kembar tersenyum bahagia.
"Manda ingin seperti itu," ucap Manda yang kini memandang Rion.
"Kamu pasti bisa, Sayang," balas Rion dengan mengecup ujung kepala istrinya.
"Bangor, udah pantes lu," canda Arya yang baru saja masuk ke kamar Gio dan Ayanda.
"Sekolah dulu yang benar. Nikah masih lama," tegas Rion.
Echa langsung menundukkan kepalanya, Ayanda dan Gio yang merasakan ada yang berbeda dengan putri mereka hanya dapat menghela napas kasar.
"Kamu istirahat, si Abang biar Mamah yang gendong," ucap Ayanda lembut.
"Dad, antar Echa ke kamarnya," pinta Ayanda dengan matanya mengisyaratkan sesuatu.
Sekarang Gathan sudah dikerumuni para pria tampan dan para wanita cantik. Hanya adu mulut yang selalu terlontar dari mulut kedua pasangan ini. Gelak tawa mereka membuat tidur Ghassan terganggu. Dan dia pun mulai menangis. Ghassan langsung diambil oeh Amanda namun, tangisnya tidak reda.
"Si Adek haus." Ayanda dengan pelan hendak turun dari tempat tidurnya untuk membuatkan susu dilarang oleh Rion. "Biar aku aja yang bikin susu."
"Emang bisa?" ragu Arya.
Ayanda dan Amanda saling menatap dan tersenyum. "Adem banget sih ngeliat istri sama mantan istri si Rion akur begini," ucap Arya kagum.
"Terus mereka harus jambak-jambakan gitu?" ujar Beby.
Arya yang gemas dengan kekasihnya hanya tertawa dan memeluk erat tubuh Beby. "Jijik gua liat lu kayak gitu. Mending nikah deh," ledek Rion.
"Bulan depan." Jawaban dari Arya membuat orang yang berada di dalam kamar menatap ke arah Arya dan juga Beby.
"Kaget? Gua juga sama," balasnya dengan tertawa. Lemparan bantal dan guling dari orang-orang yang berada di dalam kamar membuat Arya tertawa terbahak-bahak.
Di kamar yang berbeda hanya suasana haru yang terasa. Echa menangis dalam pelukan Papanya.
"Kamu suka sama dia?" Echa hanya menggelengkan kepalanya.
"Echa hanya menganggap dia sebagai sahabat Echa sama seperti Mima dan Sasa," lirihnya.
"Kenapa kamu nangis?"
"Echa gak yangka ternyata dibalik tingkahnya yang bar-bar menyimpan penyakit yang dia sembunyikan dari Echa dan yang lainnya," jawab Echa dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya.
"Bicara jujur sama Ayah dan Mamah." Saran Gio.
"Mereka pasti akan langsung melarang," ucap Echa dengan senyum kecutnya.
Gio terus mengusap punggung putrinya. Masa remaja yang harusnya dilalui dengan indah dan berwarna malah membawa kepedihan sendiri untuk putrinya.
Pagi harinya, Ayanda mencoba mendatangi kamar putrinya. Dengan pelan dia membuka pintu kamar, dilihatnya Echa yang sedang menundukkan kepalanya sangat dalam dengan ponsel di pangkuannya.
"Dek," panggil Ayanda.
Echa menegakkan kepalanya dan air matanya mengalir deras. Ayanda berhambur memeluk tubuh putrinya. Tanpa bersuara Echa memperlihatkan ponselnya kepada mamahnya. Mata Ayanda melebar dan hatinya menolak untuk percaya dengan apa yang sedang dia lihat.
"Echa harus bagaimana?" Echa yakin, Papanya sudah memberitahu semua masalah yang sedang dia hadapi.
"Akan Mamah bantu bicara sama Ayah," ujar mamahnya.
Siang hari Ayanda meminta Rion dan juga Amanda untuk ke kamarnya. Tanpa basa-basi Ayanda mengutarakan maksud dan tujuannya kepada Rion dan juga Amanda.
"Tidak!" tolak tegas Rion.
"Kita sudah sepakat tidak akan pernah mengizinkan Echa untuk pacaran. Kenapa sekarang kamu yang minta?" Amanda mencoba menenangkan suaminya.
Ayanda menjelaskan semua duduk persoalannya berharap Rion akan luluh.
"Echa tidak boleh pacaran dulu, titik."
Echa yang baru akan masuk ke kamar orangtuanya hanya tersenyum tipis. "Echa akan menolak permintaan Tante Marta," ucap Echa dengan senyum yang dipaksakan.
Semua mata tertuju pada Echa, wajahnya mampu tersenyum tapi hatinya sangat teriris. Echa hanya ingin membahagiakan sahabatnya sebelum pergi untuk selamanya.
Riza adalah sahabat laki-laki Echa satu-satunya yang banyak bicara tapi, sikapnya yang sangat baik dan perhatian kepada Echa dan membuatnya nyaman berteman dengan Riza.
"Echa tidak akan pernah membantah apapun yang Ayah dan Mamah ucapkan. Sekalipun itu membuat hati Echa sedih, Echa tidak masalah," ujarnya lagi dan berlalu meninggalkan orangtuanya.
Langkah Echa pun dihadang oleh Arya. "Menyenangkan orang lain tidak harus meminta persetujuan siapa pun. Lakukan apa yang ingin lu lakukan, karena penyesalan selalu datang belakangan."
Tangis Echa pun pecah di dalam pelukan Arya. Arya sangat merasakan kesedihan keponakannya ini. Dia tahu, Echa bukanlah anak yang cengeng tapi, ketika menyangkut orangtua dan sahabatnya inilah Echa yang sebenarnya.
****
Happy reading ....