
Kebahagiaan menyelimuti Arya dan juga Beby. Kehadiran Beeya membawa suasana baru dalam rumah mereka. Tangisan Beeya di tengah malam, sunyi ketika siang hari sudah menjadi warna baru di kediaman Arya.
Tidak ada kata lelah untuk seorang Arya Bhaskara. Meskipun setiap malam harus bergadang, tapi dia sangat menikmati itu. Dia tidak tega melihat istrinya kelelahan. Setiap habis maghrib, Arya akan tidur. Jam sepuluh atau jam sebelas malam dia bangun untuk bergantian menjaga Beeya.
Sebenarnya di jam Arya tidur itu, Beby bisa ikut tidur. Karena jadwal Beeya bangun itu jam dua belas malam. Sungguh nikmat memiliki seorang bayi.
Arya hanya menyuruh Beby untuk memompa ASI nya lalu dimasukkan ke lemari pendingin di kamaranya. Kamar Arya memiliki mini pantry untuk keperluan susu dedek Beeya. Karena Beeya tidak hanya diberi ASI, dia juga diberi susu formula.
Sang Mamih dan Arina masih berada di rumah Arya. Namun, Arya selalu menolak jika mereka berdua membantunya. Tugas Mamih dan Kakaknya hanya membantu dan menemani Beby ketika dia bekerja.
Setiap tengah malam, Nyonya Reina selalu masuk ke kamar sang putra. Bibirnya tersenyum ketika dia melihat Arya yang tengah mengajak Beeya berbicara.
Perlahan sang Mamih masuk ke dalam kamar Arya. Arya sudah terbiasa jika sang Mamih mengendap-endap masuk ke kamarnya ketika tengah malam. Dia ingin melihat cucunya terjaga. Apalagi bola mata Beeya sangatlah cantik.
"Beeya rewel gak Mih?" Nyonya Reina hanya tersenyum.
"Cucu Mamih rewel jika haus dan lapar." Nyonya Reina mengangkat Beeya dari box-nya. Dia menggendong cucu cantiknya lalu menciumnya.
"Kamu gak cape?"
"Lelahku hilang ketika melihat wajah cantik Beeya," imbuh Arya sambil memainkan pipi Beeya dengan jarinya.
"Ketika kamu marah kepada istrimu, tataplah wajah istrimu ketika dia sedang terlelap seperti itu."
"Jangan pernah melihat fisik istrimu sekarang. Mau istrimu tanpa make up, kucel dan terlihat tidak menarik. Tapi, lihatlah perjuangan dia ketika dia berjuang demi melahirkan malaikat kecil ini. Tanpa istri kamu, anak kamu tidak akan pernah lahir ke dunia ini."
"Iya, Mih. Aku akan berusaha sekuat dan semampuku untuk membuat dua malaikat hatiku ini bahagia," sahutnya.
"Mih, apa kemarin-kemarin Beby bilang kalo jahitannya masih sakit?" Nyonya Reina menggeleng.
"Mamih hanya terus mengontrol pola makannya. Dari harus mengkonsumsi putih telur dan ikan gabus supaya lukanya cepat mengering. Dan istrimu sangat penurut," jelas Sang Mamih.
"Mih, aku mohon anggaplah Beby seperti putri Mamih sendiri. Aku tahu, dia sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Apalagi ini kali pertama kami memiliki anak. Kami belum tahu apa-apa," kata Arya.
"Mamih tidak pernah membedakan siapapun. Suami Arina dan istri kamu adalah anak-anak Mamih. Tidak ada yang Mamih beda-beda kan. Kasih sayang kepada menantu-menantu Mamih sama seperti kasih sayang Mamih kepada anak-anak Mamih."
Hati Arya merasa lega mendengar penuturan dari Sang Mamih. Beby hanya memiliki Azkano, sedangkan ayahnya sibuk dengan bisnisnya. Dan dari kecil mereka berdua memang tidak dekat dengan Winarya, adik dari Genta Wiguna.
Hari semakin cepat berlalu, Ayanda menatap koper besar yang berada di pojokan kamar Echa. Kamar ini sebentar lagi tidak akan berpenghuni. Kamar ini akan kembali sepi.
Rumah yang senantiasa ramai dengan teriakan Echa dan juga si kembar, perlahan akan menjadi sepi. Keluarga yang lengkap, akan kekurangan satu anggotanya.
Sebagai seorang ibu, ingin rasanya Ayanda melarang kepergian Echa untuk melanjutkan study-nya di Canberra. Ayanda lebih mengizinkan Echa untuk kuliah di Jogja.
"Mah, Echa ingin belajar mandiri. Echa ingin belajar bisnis dari Kakek. Echa ingin merasakan didikan keras Kakek supaya Echa bisa menjadi orang hebat seperti Papa."
Ayanda hanya menghela napas kasar. Ada raut kesedihan di wajahnya. Ada rasa ketidak ikhlaskan dalam hatinya. Hal ini terjadi juga kepada Rion.
Anak pertamanya akan sekolah jauh darinya. Amanda mengusap lembut pundak Rion. Dia sangat tahu, suaminya sedang sedih. Dia tidak ingin Echa pergi.
"Abang cobalah bicara dengan Echa," ujar Amanda.
Rion pun menggeleng. "Dia sangat bersemangat untuk kuliah di sana. Abang tidak ingin mematahkan semangatnya."
"Sekarang, kita hanya bisa dukung putri kita Bang. Toh, kita bisa menjenguknya kapan pun kita rindu." Rion pun menganggukkan kepalanya.
Sedangkan anak gadis yang sedang membuat kedua orangtuanya sedih sedang dibawa oleh anak bungsu Addhitama.
"Kita mau ke mana?" Radit hanya melirik sebentar ke arah Echa seraya tersenyum.
"Nanti juga kamu tahu," imbuhnya.
Echa pun hanya menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang dengan wajah yang teramat kesal. Radit hanya tertawa melihat kekasihnya merajuk seperti ini.
"Jangan marah dong, Sayang," ucapnya sambil mengusap lembut kepala Echa.
Mobil Radit berhenti di sebuah pemakaman umum. Echa hanya terdiam sedangkan Radit sudah membukakan pintu untuknya dan mengulurkan tangan ke arah Echa. Dengan wajah tak terbaca, Echa menyambut uluran tangan Radit.
Sebelum masuk ke pemakaman, Radit membeli air dan juga bunga yang dijual di depan gerbang pemakaman. Tangan Radit terus menggenggam tangan Echa dan membawa Echa ke sebuah pusara yang sudah ditumbuhi rumput-rumput liar.
"Assalamualaikum, Mih. Maaf, Radit baru sempet datang ke rumah Mamih."
Deg, jantung Echa terasa berhenti berdetak mendengar Radit menyebut pusara ini adalah Mamihnya. Echa mencoba membaca nama nisan tersebut.
Mata Echa terbelalak dengan sempurna ketika melihat tanggal wafat di batu nisan itu sama persis dengan tanggal lahir Radit. Dan tahunnya pun sama, Echa sedikit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Matanya nanar melihat sang kekasih dengan telaten mencabuti rumput liar di sekitar pusara sang bunda. Dan mulutnya terkunci rapat ketika dia mengetahui rahasia yang Radit simpan rapat-rapat.
Bagaimana kamu tumbuh dan berkembang tanpa sentuhan hangat seorang ibu?
"Yang," panggilnya.
Echa pun ikut berjongkok di samping makam Mamihnya Radit. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Echa. Dia terus menahan sesak di dadanya.
Setelah mereka berdoa, Radit menyiramkan air dan Echa menaburkan bunga di atas pusara. Radit mengusap lembut nisan sang Mamih dengan wajah yang sulit diartikan.
"Mih, Radit mau pamit lagi. Sekolah Radit belum selesai. Radit janji, Radit akan menjadi orang hebat seperti Papih. Agar di sana Mamih bahagia dan bangga kepada Radit."
Echa menyeka ujung matanya mendengar penuturan Radit. Dia tahu, Radit sedang mengadu. Dia tahu dalam hati Radit dia menangis.
"Oiya, hari ini Radit ke sini gak sendiri. Radit bawa gadis cantik. Dia Echa Mih, pacar Radit. Dia yang mengisi hari-hari Radit yang kosong. Dia yang mengobati rasa sakit yang pernah Radit alami. Radit sayang dia, Mih."
"Sekarang, sudah tidak ada air mata yang menghiasi hari-hari Radit. Radit sudah bahagia Mih."
Echa ikut mengusap nisan Mamihnya Radit yang bernama Vivi. Dadanya semakin sesak, hatinya semakin perih.
Makasih Tante, telah melahirkan putra yang sangat luar biasa seperti Kak Radit.
Radit dan Echa pun meninggalkan pusara Vivi dengan mengucapkan kata pamit. Ya, lusa Radit dan Echa harus berangkat ke Ausi. Melanjutkan study mereka yang tertunda.
Di sepanjang perjalanan pulang, Echa hanya terdiam. Radit merasa aneh dengan sikap Echa yang tak biasa ini setelah pulang dari makam sang Mamih.
"Sayang, kamu kenapa?" Echa hanya diam tidak menjawab pertanyaan Radit.
Radit hanya menghela napas kasar dan masih fokus ke jalanan. Hati Radit merasa tidak tenang, ketika Echa mendiamkannya seperti ini. Dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Yang, kalo aku punya salah bilang dong. Jangan diemin aku kayak gini," imbuhnya.
Dan sekarang Echa malah menangis membuat Radit semakin bingung. Radit pun keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang. Dia mendekap hangat tubuh sang kekasih.
"Katakan apa salah aku, Yang."
"Kamu jahat, Bhal. Jahat," pekik Echa sambil memukul punggung Radit.
"Jahat kenapa Sayang?"
Echa malah semakin menjadi memukul Radit, yang Radit bisa lakukan hanyalah membiarkannya saja.
Setelah Echa sedikit tenang, Radit menghapus jejak air mata Echa. Dan dia menutup kembali pintu mobil dan melajukan mobilnya lagi.
Radit membawa Echa ke sebuah danau buatan. Dia menggenggam tangan Echa dan membawanya ke sebuah pohon rindang. Mereka duduk di bawah pohon tanpa alas duduk.
"Aku salah apa ke kamu?" tanya Radit sambil menggenggam tangan Echa.
"Kenapa kamu gak jujur?" Suara Echa terdengar sangat bergetar.
"Aku bohong apa, Yang? Aku gak ngerti, tolong jelasin ke aku. Aku bukan cenayang yang bisa nebak apa maksud kamu," imbuhnya.
"Ke-napa kamu gak bilang tentang Mamih kamu?" Radit hanya menghela napas kasar.
"Aku kan udah bilang, kalo aku ditinggal Mamih sedari aku kecil. Kamu masih ingat kan?" Echa pun mengangguk.
"Kenapa kamu gak bilang kalo Mamih kamu meninggal usai melahirkan kamu?" sentak Echa.
"Untuk apa?" Kini Radit menatap lurus menatap tenangnya air danau. Setenang hatinya sekarang ini.
"Bhal ...."
"Aku emang gak berniat bercerita. Aku gak mau orang-orang dekat dengan ku hanya karena rasa iba."
"Hidupku tidak lebih baik dari hidup kamu. Meskipun kamu terlambat mendapat kasih sayang dari ayahmu, tapi kamu masih bisa mendapatkannya, melihatnya dan juga memeluknya. Tapi, aku ... aku tidak tahu bagaimana wajah Mamih. Aku tidak tahu bagaimana rasanya dipeluk Mamih. Dan aku pun tidak memiliki kenangan apa-apa tentang Mamih. Sebuah foto pun tidak ada.”
Echa langsung memeluk Radit dari samping. Betapa sakit hati Echa. Betapa pilu nasib Radit. Apa Radit baik-baik saja?
"Itu alasannya kenapa aku tidak pernah mau merayakan ulang tahunku." Radit menoleh ke arah samping menatap Echa.
"Aku tidak mau bersenang-senang di atas suasana duka yang setiap tahun hadir di keluargaku." Air mata Echa pun luruh mendengarnya. Radit pun membenamkan kepala sang kekasih ke dadanya.
"Kamu gak usah sedih. Aku baik-baik aja, kok. Masa-masa sedihku sudah berlalu. Masa-masa sulit ku pun sudah bisa aku lalui. Meskipun itu tidak mudah." Radit mengecup ujung kepala Echa.
"Jangan khawatirkan aku, selagi kamu selalu ada di sisiku, aku akan selalu bahagia. Karena kamu adalah penawar setiap rasa sakit ku. Kamu seperti multivitamin untukku," imbuhnya.
"Bhal, apa karena ini hubungan kamu dengan Kak Rin ...."
"Iya, dia dan keluarga Mamih aku menyalahkan aku atas kepergian Mamih. Meskipun sudah 21 tahun, tapi sepertinya mereka masih menganggap aku seorang pembunuh."
Echa terhenyak mendengar penjelasan Radit. Hidupnya benar-benar tidak mudah. Sudah tidak mengenal ibu sejak lahir dan juga dibenci keluarga sendiri.
"Masa lalu ku sangatlah menyedihkan, aku dituntut kuat walaupun sebenarnya aku terluka. Tapi, sedih dan luka yang aku terima di masa lalu membuat aku menjadi pribadi yang lebih mandiri."
"Masa lalu kamu dan masa lalu aku itulah yang membuat kita cocok. Kita mengalami masa-masa sulit ketika kecil. Mengharuskan dewasa padahal belum saatnya. Karena masa lalu kita inilah, kita memiliki jati diri yang tidak orang lain miliki."
Echa mendongakkan kepalanya menatap Radit seraya tersenyum manis. "Makasih telah menjadi lelaki yang kuat. Dan makasih atas pertemuan tak sengaja kita. Tanpa kamu menyerempet aku, mungkin kita tidak akan sedekat ini." Radit pun tersenyum.
Manik mata mereka saling memandang dengan penuh sayang. Radit meraih dagu Echa, mengusap lembut bibir pink milikinya. Wajah Radit semakin dekat.
Lima centi.
Empat centi.
Tiga centi.
Dua centi.
Mata Echa pun sudah terpejam. Namun, bukan bibir Echa yang merasakan kehangatan kecupan Radit. Keningnya lah yang Radit kecup dengan penuh cinta.
"Ngarep banget dicium aku," goda Radit.
Echa hanya mendelik kesal ke arah Radit. Radit pun tertawa. "Kamu kan yang bilang jika bibir ini akan menjadi milikku setelah kita menikah. Dan aku tidak akan memaksakan kehendaknya meskipun aku juga ingin melakukannya."
Sungguh beruntungnya Echa memiliki kekasih seorang Raditya Addhitama. Selalu ada di sampingnya dan selalu memperlakukannya sangat lembut. Dan dia tidak akan pernah memaksakan kehendaknya.
"Makasih Bhal," kata Echa yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Sudah kewajiban ku, Sayang. Melakukan hal seperti itu lebih nikmat ketika kita sudah halal."
Setelah puas berada di danau, mereka berdua kembali ke rumah Echa. Hari ini ada pengajian di rumah Arya. Radit menjemput Echa di kediamannya sedangakan mamah dan papah Echa sudah berada di acara tersebut sejak sore hari.
Radit terpana melihat Echa menutup auratnya. Wajahnya terlihat sangat cantik ketika hijab menempel di kepalanya. Dan Echa pun tertegun ketika melihat Radit mengenakan baju Koko dan juga kopiah. Ketampanannya semakin terlihat.
Setelah puas saling pandang, tangan Radit menggenggam tangan Echa dan mereka pun menuju kediaman Arya.
Setelah acara pengajian selesai, Echa menghampiri Arya dan juga Beby di kamaranya.
"Om," panggilnya.
Arya yang baru saja meletakkan Beeya menoleh ke arah Echa begitu juga Beby. "Ada apa? Mau nagih biaya salon?" tanya Arya. Echa pun menggeleng.
Dia mendekat ke arah Beeya, memandang bayi mungil itu lekat-lekat. Memainkan pipi gembulnya yang membuatnya semakin lucu.
"Om, Kak, Echa mau pamit," ucapnya.
Arya dan Beby hanya saling pandang. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Echa.
"Lusa Echa akan berangkat ke Ausi. Doakan Echa semoga Echa bisa sukses dan membanggakan kalian semua yang ada di sini," imbuhnya.
Sepasang suami-istri itu hanya terdiam, mereka tidak bisa menjawab apa-apa. Ada rasa sedih di hati Arya begitu juga Beby.
"Kamu mau apapun akan Om turuti. Tapi, tetaplah kuliah di sini," tawar Arya.
Dengan cepat Echa pun menggeleng. "Tidak Om, Echa ingin mandiri di negeri orang."
Arya hanya menghela napas kasar. Dia mendekat ke arah Echa lalu memeluknya. "Kamu adalah warna dalam hidup Om. kamu tetaplah gadis kecil manja yang Om kenal."
Echa pun tersenyum dan membalas pelukan Arya. "Echa sayang, Om. Echa sayang semuanya, dan Echa juga ingin membuat bangga kalian semua. Om dan semuanya bisa menjenguk Echa kapanpun Om mau dan sempat. Dan Echa akan kembali ke Indonesia, hanya pas liburan saja."
Beby pun mendekat ke arah suaminya yang sedang memeluk Echa. Tanpa Echa sepertinya warna keluarga mereka akan sedikit pudar.
"Kamu sama Paman Genta di sana?" Echa pun mengangguk.
"Baik-baik di sana, jaga diri kamu," ucap Beby.
Echa pun mengangguk patuh. Beby memeluk tubuh Echa dengan penuh kasih sayang.
"Jika kalian rindu Echa, pandanglah Beeya. Bayi kecil itu adalah fotocopy-an Echa," ucapnya seraya tersenyum.
Hari di mana Echa meninggalkan Indonesia pun tiba. Tidak ada wajah yang bahagia ketika mereka mengantar Echa ke Bandara. Apalagi kedua orangtua kandung Echa. Mereka nampak sedih sekali.
"Echa hanya ke Ausi. Ayah, Mamah, Papa dan juga Bunda, kapanpun bisa menjenguk Echa di sana."
"Echa ingin menjadi orang hebat agar bisa meneruskan perusahaan Papa dan juga usaha Ayah. Echa ingin membuat kalian bangga."
Ketiga adiknya sudah menangis meraung-raung karena tidak ingin Kakaknya pergi.
"Echa pergi, Assalamualaikum."
*****
Kalo ada notif UP langsung baca ya ya ya. Jangan ditimbun akunya sedih