
Ayanda sudah tiba di apartment. Tidak banyak yang Ayanda katakan kepada Beby dan juga Arya. Meskipun mereka berdua tahu duduk persoalannya seperti apa.
"Sekarang aku harus menjaga jarak dengannya."
Ayanda memperhatikan putra-putra tampannya yang sudah terlelap dengan sangat nyaman.
"Makasih, sudah jagain Mommy selagi Daddy gak ada bersama kita."
Pagi hari di kediaman Rion.
Echa mencari adik-adiknya ke setiap sudut rumah namun, tak dia temui. Dia pun menghampiri ayahnya yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponsel.
"Yah, Mamah dan si kembar mana?"
"Mereka kembali ke apartment."
Mimik muka Echa berubah sendu, dia tidak berani menanyakan kepada ayahnya. Meskipun Echa juga tahu alasan mamah dan kedua adiknya itu pergi apa.
"Cha, sarapan dulu," panggil bundanya.
"Kamu sarapan dulu, Ayah tunggu di mobil."
Echa memperhatikan ayahnya yang menuju pintu keluar. Dia merasakan hubungan ayah dan bundanya sedang memanas.
Di meja makan Echa makan dengan tenangnya. Dia melihat bundanya yang seolah tidak berselera melahap makanan yang ada di piring.
"Bun, pulang sekolah Echa langsung ke apartment. Dan akan tinggal di sana lagi bersama Papa dan Mamah serta si kembar," pamit Echa.
Dada Amanda terasa sesak mendengar ucapan Echa. Seolah semua orang kini meninggalkannya. Terlebih suaminya sangat marah dengan sikap Amanda. Hingga tidur pun Rion memilih di ruangan kerja dengan mengunci pintu dari dalam. Seolah dia tidak mau diganggu oleh Amanda.
Dengan berat hati Amanda menganggukkan kepalanya. Kenapa omongan kakaknya selalu memutari otaknya hingga dia benar-benar merasa takut jika Ayanda akan merebut Rion darinya.
Sesampainya di kantor, Rion memesan sarapan dengan aplikasi online. Hatinya masih tidak terima dengan ucapan Amanda yang menurutnya merendahkan Ayanda.
"Kenapa bini lu jadi begitu sekarang?" tanya Arya tiba-tiba.
Rion hanya mengangkat bahunya dan sekarang mulai menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran.
"Kasian gua sama Yanda, harus bawa bayi-bayinya hampir tengah malam begitu," ujar Arya.
"Hati gua juga sakit, Bhas. Ayanda hanya terlihat kuat di depan gua tapi, gua tau gimana hatinya sekarang. Gua takut kalo Ayanda gak mau ketemu sama gua."
"Apa ini karena Juna?" tanya Arya lagi.
"Entahlah."
Wajah Rion sangat frustasi sekarang. Arya sangat mengerti Rion, sebesar apa sayangnya kepada mantan istrinya. Hingga dia terang-terangan kepada Giondra jika dia tidak akan pernah bisa menghapus nama Ayanda di hatinya. Karena Ayanda memiliki tempat tersendiri. Dan Giondra dengan senang hati menerimanya, tidak mempermasalahkannya.
Siang harinya Giondra menghubungi Rion. Ayanda menolak untuk bertemu Rion dulu. Dengan alasan dia tidak mau semakin dibenci Amanda. Rion hanya menghela napas berat, dan akhirnya dia menyetujuinya.
Sangat berat sebenarnya bagi Rion. Namun, dia juga tidak bisa memaksa. Setelah Giondra kembali ke Indonesia mungkin Ayanda akan mau bertemu lagi dengan dirinya.
Rion sudah menjemput Echa dan dia mengantarkan Echa ke apartment Ayanda. Kali ini, Rion mengantarkan sampai depan pintu apartment. Sudah ada dua penjaga yang sengaja Gio tugaskan di sana untuk menjada anak dan istrinya.
"Ayo masuk," ajak Echa.
"Mamah tidak mau bertemu dengan Ayah dulu. Salam kan saja pada Mamah, ya," ujar Rion.
Echa pun mengangguk pelan dan masuk ke apartment. Rion melajukan mobilnya menuju rumah Arya. Hari ini dia tidak ingin bertemu dengan Amanda. Rasa kesalnya kian bertambah.
Di rumahnya Amanda menangis di dalam dekapan Juna. Juna hanya bisa menenangkan adiknya. Niat hati menjauhkan Rion dari Ayanda, malah Ayanda yang pergi dari rumah Rion. Membuat Juna salah langkah.
"Nda, apa kamu tahu apartment Ayanda?"
Amanda hanya menggelengkan kepala. Karena dia belum pernah sekalipun diajak ke kediaman Ayanda oleh Rion. Harapan Juna pun sirna.
Jika saja kepulangannya bisa dipercepat, dia akan pulang hari ini juga. Dia tahu, hati istrinya sekarang ini sedang tidak baik-baik saja.
***
Amanda terus saja menunggu suaminya tetapi, Rion tak kunjung pulang. Dia mencoba menghubungi Rion nihil, nomornya sedang tidak aktif. Pikiran jelek berseliweran di kepalanya. Dia menyangka jika Rion sedang berada di rumah Ayanda. Saking penasarannya, Amanda menghubungi Echa.
📲 "Bunda jangan khawatir, Ayah tidak di sini. Makasih udah merenggangkan hubungan Ayah dan Mamah."
Echa pun langsung menutup panggilannya. Hatinya sedih ketika Beby mengatakan jika Bundanya lah yang menyebabkan Ayahnya tidak bisa bertemu dengan Mamah dan juga si kembar. Bukan Echa namanya jika, kekecewaannya dia pendam seorang diri.
"Lu gak pulang?" tanya Arya pada Rion yang sedang tersenyum melihat foto si kembar yang dikirimkan Echa.
"Males."
Arya hanya membiarkannya saja, sesekali Amanda juga harus diberi pelajaran agar tidak terus berpikiran buruk terhadap suaminya.
Pagi sudah tiba, Rion benar-benar tak pulang. Membuat Amanda sangat gusar. Hari ini dia berniat untuk ke kantor Rion. Jam makan siang tiba, Amanda sudah tiba di depan kantor Rion.
Sebelum masuk ke ruangan suaminya, Amanda mencoba mengatur napasnya dulu. Ada rasa sedikit takut di dadanya.
Ketika pintu dibuka, Amanda melihat Rion sedang tersenyum memandangi ponselnya. Dadanya sesak, hatinya kini sudah dipenuhi rasa curiga.
Dengan langkah lebar Amanda merampas ponsel suaminya. Dilihatnya foto Ayanda sedang tersenyum manis dengan si kembar di sampingnya.
"Kembalikan!"
Amanda tetap tidak mau mengembalikannya. Dia memicingkan matanya tajam.
"Jadi ini alasan Abang gak pulang. Memandangi mantan istri Abang, iya?" bentak Amanda.
Urat-urat kemarahan sudah nampak di wajah Rion. Ingin sekali dia menyahuti ucapan Amanda. Namun, tidak ada gunanya. Hanya akan menguras emosinya saja.
Dengan wajah memerah, Rion pun keluar dari ruangannya meninggalkan Amanda dengan ponselnya. Amanda yang dia kenal sudah berubah membuatnya sangat kecewa.
Sita yang baru saja akan ke bawah untuk makan siang menghentikan langkahnya ketika mendengar suara tangisan dari dalam ruangan bosnya. Dia mencoba melihatnya dan ternyata Amanda yang sedang menangis dengan posisi duduk di lantai.
"Ibu kenapa? Ada masalah dengan Pak Boss?"
Hanya isakan yang menjadi jawaban dari mulut Amanda. Mata Sita memicing ketika melihat sebuah ponsel tergelatak di bawah dengan foto Ayanda dan juga kedua anaknya.
"Ibu cemburu?" Amanda masih diam.
"Semua orang tahu jika Pak Boss sangat mencintai Bu Boss. Meskipun Bu bos telah menikah dan bahagia dengan suaminya tapi, cinta Pak bos tetap sama." Ucapan Sita semakin membuat dada Amanda semakin sesak.
"Belajarlah dari Pak Gio, setelah menikah Pak bos secara terang-terangan bilang ke Pak Gio jika dia tidak akan pernah bisa melupakan Bu Boss."
"Tapi apa jawaban Pak Gio? Silahkan mencintai istri saya, saya tidak akan keberatan. Yang terpenting istri saya hanya mencintai saya."
"Sungguh sangat lapang hati Pak Gio. Karena Pak Gio tahu, Pak boss tidak akan pernah merebut Bu bos dari Pak Gio. Makanya tali persaudaraan mereka berdua sangat kuat hingga sekarang."
"Pak Gio aja yang suaminya Bu bos santai aja dengan perasaan Pak bos terhadap istrinya. Kenapa Ibu sangat cemburu? Padahal kan dari awal Ibu tahu tentang hubungan Pak bos dan Bu bos." Amanda hanya terdiam mendengar ucapan Sita.
"Harus Ibu tahu, Bu bos bukan tipe wanita yang gampang berpaling apalagi sekarang beliau sudah punya suami yang tak terkalahkan dari segi wajah dan kekayaan."
"Jangan pernah dengarkan ucapan orang lain karena banyak yang tidak suka dengan keakraban Pak bos dan juga Bu bos."
"Ibu yang tahu sikap Pak bos, Ibu yang mengerti Pak bos. Menurut Ibu, apakah Pak bos ingin merebut Bu bos? Atau sebaliknya Bu bos akan mengambil Pak bos dari Ibu?"
"Percayalah apa yang Ibu lihat bukan dari apa yang orang katakan. Terlalu banyak netizen maha benar di dunia ini."
Sita pun melenggangkan kakinya meninggalkan Amanda. Dia membiarkan Amanda berpikir jernih. Karena apa yang telah Amanda tuduhkan sangat tidak benar.