Bang Duda

Bang Duda
376. Serba Salah (Musim Kedua)



Radit menajamkan matanya kepada sang Papih. Meminta jawaban atas ucapan Rio yang mengatakan bahwa kedua orang tua Rio terbang ke Surabaya.


"Ada apa, Pih?" Rasa penasaran melanda Radit sekarang ini.


Baru saja Addhitama akan membuka mulut, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk ke nomornya. Terdiam sejenak mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang yang berada di seberang sambungan telepon.


"Selamatkan bayinya. Papih usahakan akan terbang ke sana secepatnya."


Semua orang menatap bingung kepada Addhitama ketika dia menyebutkan kata bayi.


"Aku udah hubungi anak perusahaan di Kalimantan. Tetapi belum diberitahukan kepada orang yang bersangkutan," timpal Rifal yang baru saja masuk ke kamar perawatan Echa.


Kalimantan? Bayi?


Dua clue itu membuat semua orang yang berada di sana berpikir cukup keras. Tak terkecuali Rion.


****


Tibanya di Surabaya, Rindra dan Nesha segera menuju ke sebuah rumah sakit di mana orang yang dikabarkan terjatuh di kamar mandi itu dirawat.


"Dia terpeleset, Pak," adu seorang wanita paruh baya kepada Rindra.


"Bagaiman kondisinya?" Kini Nesha yang bertanya.


"Sudah membaik." Nesha dan Rindra mengeja napas lega. Dan mereka menuju kamar perawatan si orang tersebut diantar oleh wanita paruh baya tadi.


"Mamih aja yang masuk, Papih tunggu di luar," ucap Rindra ketika berada di depan kamar perawatan.


"Loh?"


"Belum saatnya Papih bertemu dengan orang itu." Nesha mengangguk mengerti.


Hanya Nesha yang masuk ke dalam kamar perawatan. Dilihatnya orang itu sedang terlelap, mungkin karena efek obat. Namun, sebuah ucapan dokter mampu membuat Nesha sedikit takut.


"Harus dilakukan operasi. Karena air ketuban sudah pecah."


Nesha tidak ingin gegabah. Sebelum mengambil tindakan, Nesha melapor kepada pihak yang berhak memutuskan segalanya. Setelah orang yang Nesha telepon menyetujui, akhirnya Nesha mau mengurus serta menandatangani berkas dari rumah sakit untuk proses operasi.


"Sudah?" tanya Rindra. Nesha hanya mengangguk


"Kita tidak perlu berlama-lama di sini. Papih sudah menyuruh orang untuk mengawasi kamarya hingga masuk ke ruang operasi. Setelah operasi selesai, barulah kita datang lagi ke sini."


"Tapi ...."


"Papih lelah Mih. Mumpung Rio lagi gak ikut, kita gunain waktu yang singkat ini untuk bulan madu versi cepat," imbuh Rindra sambil menarik turunkan alisnya.


Nesha pun hanya mampu tertawa melihat tingkah suaminya yang semakin hari semakin mencintainya. Padahal, jika melihat beberapa tahun lalu. Mencintai Rindra Addhitama adalah kesalahan terbesar yang dia lakukan. Jatuh cinta pada sosok laki-laki berengsek yang hanya mempermainkan sebuah hubungan demi tak ingin terkalahkan. Dan menjadikan Nesha sebagai taruhan. Sakit, itulah yang Nesha rasakan.


Kekuatan cinta Nesha mampu membutakan matanya. Bertahan meskipun menyakitkan. Itulah yang dia lakukan. Nesha mencintai Rindra karena kekurangan yang Rindra miliki. Karena Nesha ingin mengubah kekurangan itu menjadi sebuah kelebihan terpendam yang ada pada diri Rindra. Sungguh beruntungnya Rindra, mendapatkan wanita cantik, mandiri dan tangguh. Walaupun awal pernikahan mereka hanya sebuah perjanjian. Lama kelamaan benih-benih cinta itu hadir di hati Rindra. Kebaikan dan ketulusan Nesha mampu membuat seorang Rindra Addhitama luluh dan bertekuk lutut di hadapan Nesha. Dan Nesha tidak menyangka, kini Nesha diperlakukan layaknya berlian oleh Rindra. Padahal, hidup Nesha dulu sangat memilukan. Dibuang layaknya sampah pernah Nesha rasakan.


"Faster, ya." Dijawab gelengan kepala oleh Rindra.


"Slow aja, Mih. Biar sama-sama enak," bisik Rindra.


Seperti sepasang merpati yang tidak bisa dipisahkan. Itulah mereka sekarang. Dan mereka meninggalkan rumah sakit dan memilih menyewa hotel untuk melakukan honey moon dadakan.


Kembali ke Jakarta.


"Boleh gak, Iyo bawa baby-nya satu ke rumah?" tanya Rio yang ternyata sudah berada pangkuan Radit dan menciumi bayi yang sudah terlelap digendongan Echa.


"Gak boleh, ini punya Om Radit." Wajah Rio pun ditekuk dan terlihat sangat lucu.


"Rio gak boleh bawa dedek bayinya. Tapi, Rio boleh kok main sama dedek-dedek bayinya," ucap lembut Echa.


"Aunty pelit! Dedeknya ada tiga, tapi Aunty gak mau berbagi sama Iyo," ocehnya.


"Padahal, Aunty selalu ngajarin Iyo untuk berbagi." Dengan fasihnya mulut Rio mengomel.


Semua orang pun tertawa mendengar ocehan bocah kecil berusia 3 tahun lebih itu. Wajahnya yang sangat tampan dan rambut berponi menambah kegemasan bagi orang-orang yang melihatnya.


"Kamu kira anak-anaknya Om Radit itu boneka," sahut Radit sambil mengacak-acak poni keponakannya yang sangat gemoy berpipi chubby.


"Iyo, mau satu baby-nya. Pasti Mamih dan Papih senang deh liatnya. Apalagi ini cewek, cantik. Nanti, Iyo boleh bawa dedek bayi main sama Mamih dan Papih, kan?"


Ucapan Rio membuat para orang tua dan juga Rifal menatap ke arah Radit dan Echa. Merasa sedang dihakimi, Radit menghela napas kasar sebelum akhirnya menjawab.


"Iyo boleh main sama dedek bayi, tapi di rumah Om Radit. Dan apa?"


"Gak boleh ajak Mamih dan Papih," sahut Rio. Radit mengangguk seraya tersenyum.


Dari Rio lahir memang Radit menyayangi Rio seperti anaknya sendiri. Apalagi, Rio lahir setelah Echa mengalami keguguran. Namun, ada hal yang tidak boleh Rio ajak ketika Radit membawanya pergi jalan-jalan, kedua orangtuanya. Karena Radit akan mengajak Rio atas permintaan Echa.


"Sampai kapan kalian akan seperti ini?" tanya Ayanda.


"Sudah lebih dari lima tahun loh," sambung Gio.


"Sampai istri Radit mampu menghilangkan kekesalan dan sakit hatinya. Bagi kalian mungkin ini masalah kecil. Tidak untuk istri Radit yang sangat perasa. Ketika Echa sudah melupakan semua perbuatan Abang, Radit janji Radit dan Echa yang akan datang menemui Abang." Mereka tidak akan memaksa. Semua keputusan ada di tangan Radit dan Echa.


"Kenapa sekarang jadi bahas Radit?" keluhnya.


"Kepo, Dit," jawab Rifal. Radit menatap kakaknya dengan tatapan jengah.


"Kata Papih tadi bayi? Bayi siapa yang Papih maksud?" Echa membuka suara dan mulai membahas apa yang tadi sang Papih mertua katakan melalui sambungan telepon.


"Papih dan Kakak sedang merahasiakan apa, sih?" desak Radit.


"Dan ada keperluan apa Abang sama Mbak Nesha pergi ke Surabaya? Bukankah jika masalah pekerjaan hanya Abang yang akan berangkat sendiri? " Kecurigaan mulai Radit rasakan.


Tidak biasanya sang Papih merahasiakan masalah perusahaan atau apapun pada dirinya. Setiap ada masalah Addhitama selalu mengumpulkan ketiga anaknya. Memberitahukan kepada mereka, membahasnya kemudian mencari jalan keluar untuk masalah yang tengah dihadapi.


Rifal menatap sang Papih dengan tatapan teduh. Anggukan kecil yang Rifal berikan membuat Addhitama menghela napas kasar. Ragu, itulah yang ada di benak Addhitama. Ada hati yang harus Addhitama jaga. Jika, adiknya tidak berengsek. Dia tidak akan pernah masuk ke dalam keadaan serba salah.


"Apa bayi itu anak Bunda?" Suara seorang gadis memecah keheningan. Dan mata semua orang menatap bingung ke arah Riana yang baru saja datang, tapi langsung menanyakan perihal bayi yang menjadi pembahasan mereka.


Melihat Addhitama yang hanya terdiam, Riana semakin mendekat ke arah Addhitama. Menyentuh tangan Addhitama dengan lembut.


"Om, benarkan bayi itu adalah bayi Bunda?" Mata Riana seolah meminta jawaban.


...****************...


Komen banyak dong ....


Aku up lagi nanti.