
Bonus Chapter.
Aku ucapakan terimakasih banyak kepada kalian yang telah membaca dan menghargai karya remahan peyek ku ini. Karena kalian yang selalu menunggu up Bang Duda, memfavoritkan, memberikan like dan juga komen serta ketika ada notif Bang Duda up langsung kalian baca, membuat level karya ku naik lumayan drastis.
Terus beri dukungan seperti ini ya Sayang ...
Tujuan ku nulis cerita di sini karena ingin memberikan hiburan berupa bacaan gratis untuk semua orang. Sebenarnya gak gratis ya, hanya bermodal kuota tanpa harus membeli koin.
Kebanyakan para pembaca di Mangatoon/Noveltoon adalah emak-emak yang mencari hiburan gratis karena jenuh dan bosan mengurus pekerjaan rumah yang gak ada habisnya.
Benar apa betul? 😁
Thank you so much, Love you all ...
...****************...
Kedua pasang merpati yang sempat terpisah kini sedang melepas rindu. Berbeda dengan seorang gadis yang sedang menatap langit malam dengan wajah sendu.
Perkataan Riza tempo hari membuat hatinya semakin tak kuasa menahan sedih. Meskipun mencoba untuk terus tertawa di depan Riza tapi, pada nyatanya hatinya menolak untuk menerima kenyataan yang dokter katakan.
"Melihat kondisi Riza yang semakin ke sini semakin memburuk, mungkin umurnya tidak akan lama lagi. Riza bisa bertahan 1-3 bulan ke depan."
Penjelasan dokter mampu membuat Echa dan juga Marta menutup mulut mereka tak percaya.
"Tapi, saya bukan Tuhan. Saya hanya memprediksi secara medis saja. Kita berdoa saja supaya ada mukjizat yang luar biasa untuk Riza. Karena semenjak ada kamu (Echa) Riza seperti orang yang tidak sakit."
Echa terpaksa tersenyum padahal hatinya teramat sakit mendengar ucapan dokter. Sebegitu sayangnya kah Riza kepadanya?
Setelah bertemu dengan dokter, Echa terus memandangi wajah pucat Riza yang sedang terlelap. Terlihat sangat damai sekali wajahnya.
"Akankah aku siap kehilangan kamu?" ucap Echa sangat pelan. Tak terasa air matanya menetes.
"Jangan menangis, aku gak suka," ucap Riza dengan suara berat.
Echa tersenyum ke arah Riza. Tangan Riza menghapus jejak air mata di pipi mulus Echa.
"Tetaplah tersenyum di hadapanku. Karena senyummu adalah alasan aku menjadi kuat dan tetap bertahan menghadapi penyakit ini."
Semakin deras air mata yang mengalir di pipi Echa. Hingga terdengar isakan yang sangat lirih.
"Aku sayang kamu, aku gak mau liat wanita yang aku sayangi menangis," ucap Riza yang kemudian mengecup lembut tangan Echa.
"Aku tau kamu hanya menganggap ku sahabatmu. Aku tidak mempermasalahkannya. Dan aku berharap, sebelum aku menutup mata kamu bisa membalas rasa sayangku, bukan sebagai sahabat tapi lebih dari sahabat."
"Aku mau kamu janji," pinta Riza yang sudah mengangkat jari kelingkingnya.
"Apa?"
"Jangan menangis ketika aku memejamkan mata untuk selamanya. Meninggalkan kamu dan semua kenangan kita."
Hati Echa benar-benar lemas mendengar ucapan Riza. Sesungguhnya dia tidak bisa. Mendengar prediksi dokter saja ingin sekali dia protes.
"El ... kamu mau janji kan sama aku."
"Aku gak mau melihat wanitaku menangisi aku. Padahal aku pergi agar terbebas dari penyakit ku."
Echa hanya menunduk tak bisa menjawab apa yang diucapkan oleh Riza. Mulutnya sulit untuk berbicara menahan rasa sedih yang luar biasa.
"El ... hanya itu pintaku," ucap lirih Riza yang masih mengacungkan kelingkingnya.
Echa mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum dia menjawab permintaan Riza. Perlahan Echa mengangkat kepalanya, menatap Riza sendu.
Dia melihat ke arah kelingking Riza. Dengan perlahan dia menautkan kelingkingnya ke kelingking Riza.
"Aku janji," ucap Echa dengan suara berat dan hati yang teramat sesak.
Rona bahagia terpancar dari wajah Riza. Ya, benar kata dokter jika, Riza tidak seperti orang yang sakit ketika bersama dengan dirinya.
"Selalu temani aku hingga waktu ku habis dan harus kembali kepada-Nya."
"Jangan bilang kayak gitu," bentak Echa dan langsung memeluk tubuh Riza. Air matanya mengalir membasahi pipi.
Marta menutup pintu kembali setelah mendengar semua yang diucapkan oleh Riza. Putranya seolah sudah siap untuk pulang menghadap sang pencipta. Tapi, dia sebagai ibu sangat merasa takut. Takut jika dia tidak mampu mengikhlaskan kepergian putra tercintanya.
Pintu ruangan terbuka dan Echa keluar dari kamar perawatan Riza. Echa langsung memeluk tubuh Marta dengan berderai air mata.
"Tante, sebenarnya Echa gak sanggup," lirihnya.
Marta hanya bisa mengusap lembut punggung Echa dengan air mata yang terus menetes. Dia pun membisu, tidak bisa berkata apa-apa walaupun hanya sekedar mengucapkan kata penyemangat untuk Echa. Sesungguhnya Marta juga tidak sanggup jika, esok atau lusa prediksi dokter itu akan benar terjadi.
****
Happy reading ...