
"Jangan pernah dilepas. Sampai Abang membawamu ke depan penghulu."
Mulut Riana tercekat mendengar ucapan yang terdengar sangat tulus yang keluar dari mulut Aksa. Hatinya berbunga dengan perlakuan manis Aksa.
"Sa," panggil seseorang yang baru saja masuk.
Kompak Aksa dan Riana menoleh ke asal suara. Dengusan kecil keluar dari bibir Riana.
"Kenapa pulang gak bilang sama aku?" tanyanya. Dan sudah menarik kursi untuk duduk di samping Aksa.
Baru saja hati Riana berbunga dan sekarang berganti dengan kecewa. Aksa menatap ke arah Riana yang tengah asyik menari-narikan jari-jarinya di atas benda pipih miliknya.
"Sa, kenapa gak dijawab? Tadi aku ke rumah kamu. Kata Tante kamu ke sekolah jemput Riana," terangnya lagi.
"Emang kamu siapa aku? Apa gunanya harus laporan ke kamu?" sungut Aksa.
Bagi Riana pemandangan di depannya ini sungguh merusak suasana hatinya. Apalagi si perempuan yang bersikap sok manja membuatnya ingin menyiramkan es kopi yang baru saja disajikan.
"Kok kamu kasar banget sih ngomongnya," keluhnya lagi.
Lagi-lagi Riana hanya menghela napas kasar. Harus bersabar sebentar. Menunggu seseorang datang.
Lima menit berlalu terasa seperti lima tahun. Si perempuan manjanya bukan main dan si laki-laki yang benar-benar dingin.
"Ri," panggil seorang laki-laki berseragam putih abu-abu. Dengan cepat Riana bangkit dari duduknya dan menghampiri si laki-laki itu. Rahang Aksa mengeras dan tangannya mengepal keras. Dia pun ikut bangkit mengejar Riana.
Langkah Riana terhenti ketika Aksa menarik tangan Riana. "Pulang sama Abang." Kalimat yang terdengar sangat memaksa.
"Maaf, Ri bukan kambing congek. Ri juga bukan tukang kacang," sahut Riana sambil mengibaskan tangan yang dipegang oleh Aksa.
Riana melepaskan kalung yang baru saja Aksa berikan. Dan mengembalikannya kepada Aksa.
"Simpan kalung ini dan berikan pada wanita yang benar-benar Abang sayangi. Jika, Ri yang memakainya, lambat laun kalung ini akan Ri buang. Sama seperti perasaan Ri kepada Abang, Ri mencoba untuk membuang perasaan Ri. Karena Ri tidak pantas untuk Abang," terangnya lagi dan meninggalkan Aksa yang masih mematung di tempatnya.
Aksa masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan kafe tersebut. Mengikuti motor yang dikendarai oleh Kevin dan Riana.
Cemburu sedang memenuhi hati Aksa. Ingin sekali dia menabrak motor di depannya. Jika, dia tidak ingat bahwa Riana tengah dibonceng oleh Kevin.
Motor Kevin berhenti di depan rumah sang kakak. Aksa masih memantau dari jarak beberapa meter. Dan Aksa bisa bernapas lega ketika Kevin tidak masuk ke dalam rumah Echa.
Dan sekarang, Aksa yang masuk ke dalam rumah sang kakak. Disambut hangat oleh Aleesa si kurcaci muka datar.
"Uncle," panggil Aleesa.
Aksa segera menggendong tubuh gembul Aleesa sedangkan Rion menatap tajam ke arah Aksa.
"Kenapa Yah?" tanya Aksa.
"Harusnya Ayah yang tanya kenapa?" sergah Rion.
Aksa menghela napas kasar dan duduk di sofa sambil memangku tubuh Aleesa.
"Jika, kamu berani menyakiti Riana. Jangan harap Ayah akan merestui kamu untuk menjadi pendamping hidup Riana. Terlepas kamu itu anak dari sahabat Ayah itu tidak akan menjamin hati Ayah luluh," tegas Rion dengan nada serius.
"Setetes air mata yang Riana jatuhkan, sama dengan satu tusukan dari belati panjang yang menusuk hati Ayah," pungkasnya lagi.
Aksa hanya terdiam mendengar ucapan dari Rion. Kalimat yang seperti ancaman yang mematikan. Sedangkan di kafe, Ziva masih duduk manis di dalam kafe seorang diri. Menunggu Aksa yang tak kunjung kembali. Akhirnya, dia memilih untuk pergi. Namun, langkahnya harus terhenti ketika seorang pelayan mencegahnya.
"Maaf, Mbak. Anda belum bayar minumannya." Ziva tercengang mendengar ucapan si pelayan. Ketika dia melihat ke arah meja, memang ada dua es kopi yang belum disentuh oleh para pemiliknya.
Karena rasa cemburu yang menggebu, Aksa melupakan minuman yang belum dia bayar. Dan tagihan itu pun harus dibayar oleh Ziva. Dialah yang harus menerima getahnya.
...****************...
Lanjut apa gak bonchap-nya?