
Sebelum baca kelanjutan Bang Duda, aku mau ngucapin banyak terimakasih kepada kalian semua yang sudah setia membaca cerita remahan aku ini. Kalian meminta aku untuk tetap stay di sini.
Jujur, aku aja belum kepikiran untuk pindah lapak/platform karena aku juga sudah nyaman berkarya bersama kalian semua para Readersku sayang ...
Makasih banyak untuk kalian semua yang udah pada nongol di kolom komentar. 🙏
...****************...
Akhirnya Gio dan yang lainnya memakamkan jenazah Dinda tanpa kehadiran Rion. Rion lebih memilih menemani istrinya. Itulah yang membuat semua orang di sini lega. Ternyata cinta Rion untuk Amanda benar, bukan kaleng-kaleng. Prosesi pemakaman pun telah selesai dan mereka semua kembali ke kantor dan rumah masing-masing.
Di Yogyakarta.
Amanda sudah memiringkan badannya ke arah suaminya yang sedari tadi merengek haus. Haus ingin Mimi susu langsung dari sumbernya.
"Sayang, ini kamu kok makin besar, ya," ucap Rion
Amanda yang sedang membuka pengait bra hanya berdecak kesal. Sedangkan suaminya terus saja menelusupkan wajahnya ke dada istrinya.
Seketika mata Rion berbinar ketika melihat mainan kesukaannya sudah keluar dari pembungkusnya. Dengan rakusnya dia melahap choco chips istrinya.
"Bang, pelan dong," pinta Amanda.
"Abang sangat haus, Sayang," sahutnya.
Amanda membiarkan suaminya melahap choco chips dan tak lupa Rion pun mengubah warna dada istrinya menjadi merah. Rion mengh*s*pnya dengan lembut dan tangan Amanda pun kini membelai rambut Rion. Perlahan kegiatan Rion terhenti dan choco chips Amanda terlepas dari mulut suaminya. Ternyata Rion sudah terlelap, istrinya hanya tersenyum melihatnya.
"Bayi gede," gumam Amanda dengan tangan masih mengusap rambut Rion.
"Tidur nyenyak ya, Bang." Kemudian Amanda mencium kening suaminya.
Amanda pun membenarkan apa yang sudah dilepaskannya. Perlahan beranjak dari tempat tidur dengan sesekali meringis sakit.
"Sayang," gumam Rion.
Amanda pun mengurungkan niatnya untuk beranjak dari tempat tidur. Dia mengusap lembut rambut Rion namun suaminya mencari sesuatu yang telah tidak ada di hadapannya.
"Haus," ucap Rion dengan mata yang terpejam.
Amanda pun akhirnya membuka kembali pengait penutup mainan kesukaan suaminya. Kemudian Amanda menyodorkannya ke mulut Rion dan langsung dilahap dengan nikmatnya. Mata Rion terpejam namun mulutnya tak henti melahap choco chips.
Mulai sekarang, Amanda harus terbiasa dengan kebiasaan baru suaminya. Seperti seorang bayi yang sedang kehausan. Dada Amanda terus terbuka dan suaminya pun terus bermain di sana sampai dia puas. Mereka pun akhirnya terlelap bersama dengan saling berpelukan.
Di Jakarta.
Gio sedang asyik menciumi perut istrinya dan melihat pergerakan anak-anaknya dengan terus tertawa.
"Daddy gak ingin tahu jenis kelamin si kembar?" tanya Ayanda.
"Apapun jenis kelaminnya yang penting anak-anak Daddy dan juga istri Daddy selamat dan sehat. Itu yang paling utama," ujar Gio.
"Mommy beneran mau lahiran normal? Resikonya tinggi loh," ucap Gio.
"Selagi masih bisa normal kenapa nggak?"
"Jadi, Daddy boleh dong nengokin si kembar lagi," pinta Gio.
"Daddy!" bentak Ayanda.
"Ini Mommy enak banget apalagi ini, gede banget sekarang. Bikin adik kecil selalu ingin dimanja," bisik. Gio di telinga Ayanda.
"Dad." Gio sudah menciumi tengkuk leher istrinya membuat darah Ayanda bergejolak. Dan akhirnya mereka menyelami surga dunia yang penuh dengan kenikmatan.
Di lain kota, Rion sudah terjaga. Melihat dada istrinya yang terbuka membuatnya tertawa. Dia memainkan choco chips istrinya hingga Amanda bergeliat.
"Kamu sangat sempurna, Sayang," ucapnya seraya mengecup kening Amanda.
Rion pun turun dari tempat tidur dan membersihkan wajahnya. Hatinya sangat bahagia dan sekarang dia sudah benar-benar melupakan Dinda di dalam hidupnya. Begitu juga Dinda yang sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Udah bangun?" tanya Rion yang melihat Amanda yang sedang membenarkan apa yang sudah terlepas.
Dengan cepat Rion menahannya. Rion menunjukkan puppy eyes agar Amanda tidak menutup mainannya.
"Makan dulu ya, baru Mimi lagi. Lihat loh ini udah merah," ujar Amanda.
"Abang mau ini," sahutnya dan menarik tangan Amanda masuk ke dalam celananya.
Ada sesuatu yang sudah sangat mengeras di bawah sana dan terasa hangat. Amanda menatap suaminya, dilihatnya pandangan suaminya yang sudah berbeda. Seolah juniornya minta disentuh lebih.
"Sayang," panggil Rion yang kini tengah menangkup wajah istrinya.
Mencium bibir merah Cherry istrinya dengan lembut dan tangan Amanda yang masih berada di dalam celana suaminya seraya memijat-mijat pelan.
Rion segera membuka celananya, juniornya benar-benar sudah menegang. Hanya tubuh Amanda yang bisa membuatnya seperti ini.
Amanda sadar, jika dirinya belum bisa memberikan servis untuk sekarang ini. Luka perutnya masih basah. Dengan rekam jejak kenakalannya dulu, hanya dengan tangan dan lidahnya Rion terus menikmati permainan Amanda.
"Terus, Sayang. Terus."
Dengan sabar Amanda memuaskan hasrat suaminya hingga erangan dan tubuh Rion menegang menandakan dia sudah mencapai klimaks. Dengan sengaja atau tidak cairan sp*rm* menyembur ke wajah Amanda.
"Sayang, maaf," ucap Rion dan langsung mengambil tissue. Mengelap cairan putih yang ada di wajah istrinya.
"Enak?" tanya Amanda.
"Banget Sayang. Makasih ya," jawab Rion dan langsung mencium bibir Amanda.
Amanda hanya tersenyum melihat tingkah pola suaminya. Rion benar-benar seperti anak kucing yang ingin selalu dimanja. Amanda sedikit demi sedikit merasakan ketulusan cinta suaminya.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Dengan sigap Rion yang membukakan pintu. Amanda belum bisa banyak bergerak.
"Maaf, Mas. Ada tamu nyari Mbak Manda," ujar Mbok Min.
"Siapa Mbok?"
"Mas Enzy," jawab Mbok Min.
Setelah menyampaikan tugasnya, Mbok Min kembali lagi ke dapur untum menyiapkan makan malam.
"Sayang, di bawah ada mantan kamu," ketus Rion.
Amanda hanya mengerutkan dahinya. Rion sedang menahan kesal. Amanda menghampiri Rion yang sedang duduk sofa single.
"Ada apa, Abang?" tanya Amanda yang mendudukkan tubuhnya pada pangkuan suaminya.
Hanya tatapan kesal yang Rion tunjukkan. Tidak ada jawaban dari mulut Rion. Darahnya sudah naik ke ubun-ubun menahan kesal.
"Ya udah, Manda akan temui mantan Manda. Dari pada di sini berasa ngomong sama patung," imbuhnya.
Amanda hendak bangun dari duduknya dengan cepat Rion menahannya. Meletakkan dagunya di bahu istrinya.
"Jangan temui dia, Abang takut kamu berpaling," lirih Rion.
Ayanda tersenyum dan mengusap lembut pipi suaminya. "Lihat Manda Bang," pinta Amanda.
"Manda tidak akan pergi. Hati Manda sudah terkunci untuk Abang seorang. Manda sangat mencintai Abang," ungkapnya.
"Abang juga sangat mencintaimu, Sayang."
Bibir mereka bertemu kembali, saling membelit dan juga menggigit. Hanya sebatas itu saja, mereka pun menemui Enzy di bawah.
Rion sangat melihat wajah khawatir Enzy. Ketika melihat Amanda yang sudah turun, Enzy bergegas menghampirinya. Langkahnya terhenti ketika tangan seseorang menggenggam erat tangan Amanda. Wajah Amanda pun sangat bahagia.
"Aku baik-baik saja." Hanya itu yang menjadi jawaban Amanda untuk Enzy.
"Lebih baik kamu temani Ayuna," sambung Amanda.
Enzy pun hanya mengangguk, melihat tangan Rion yang terus memeluk erat pinggang Amanda membuat nyali Enzy ciut. Dia pun akhirnya pamit, meninggalkan rumah Amanda dengan hati yang patah.
Mbok Min sudah menyiapkan makan malam. Dua sejoli yang sedang di mabuk cinta ini lebih memilih menikmati makan malam di kamar. Saling bersuap-suapan dengan penuh gelak tawa.
Setelah selesai makan, mereka duduk di sofa dengan tv yang menyala. "Ternyata begini ya, jatuh cinta setelah menikah," ucap Rion yang kini sudah memeluk istrinya dari samping.
"Mau ngapa-ngapain juga udah halal," sambung Amanda seraya tertawa.
"Berarti mau Mimi lagi, boleh?" tanya Rion dengan seringai senyumnya.
Tangannya sudah masuk ke dalam baju istrinya dan membuka pengait yang menutup mainan kesukaannya..
"Kudu beli baju kemeja deh ini," ucap kesal Amanda.
"Untuk apa?" tanya Rion yang sedang menghitung tanda merah di dada istrinya.
"Biar gak ribet kalo bayi gede minta mimi," sarkasnya.
"Sekalian bra-nya ganti yang pake pengait depan. Biar Abang gak repot-repot miminya," sahut Rion.
Amanda berdecak kesal mendengar ucapan suaminya. Jika sudah diajak ngomong hal berbau kenikmatan cepat tanggap. Sedangkan Rion sudah asyik mimi tak menghiraukan wajah istrinya yang sudah ditekuk.
****
Happy reading ...