
Sedangkan di kediaman Rion, ada dua hati anak manusia yang sedang merasakan kesakitan luar biasa. Adik yang tidak mereka inginkan lahir dari seorang ibu yang sudah melahirkan mereka.
"Apa wanita seperti itu masih pantas dipanggil dengan sebutan Bunda?" lirih Riana yang kini menelungkupkan wajahnya di atas kaki yang ditekuk.
Sakit, itulah yang Riana rasakan. Mimpi buruknya sekarang menjadi kenyataan. Orang yang dia hormati dan sayangi malah seperti ini. Dan, seakan ibunya sudah tidak pernah peduli dengan Riana dan Iyan. Padahal, secara terang-terangan Rion mengijinkan Amanda menemui kedua anaknya.
Usapan lembut di rambut Riana semakin membuat hatinya hancur. Tubuhnya semakin bergetar dan Rion segera memeluk tubuh sang putri yang memang lebih rapuh dibandingkan Iyan.
"Bagaimana pun anak itu adalah adik kamu. Terlahir dari rahim yang sama dengan kamu dan juga Iyan. Sama seperti Kak Echa yang terlahir dari rahim Mommy, sama seperti Abang dan Kak Aska."
Tidak ada jawaban dari Riana, dia masih terisak. "Ri, gak menyangka ibu kandung Ri malah seperti ini? Nasib Kakak lebih beruntung dari Ri," lirihnya.
Iyan berhambur memeluk tubuh Riana. "Jangan menangis, Kak. Iyan tidak suka melihat Kakak cengeng. Iyan ingin kuat seperti Kak Echa. Membuktikan pada dunia bahwa Iyan bisa menjaga Kak Ri dan Ayah meski tanpa Bunda."
"Iyan masih memiliki banyak ibu. Jadi, Iyan gak takut kekurangan kasih sayang." Bibir Rion melengkung dengan sempurna ketika mendengar celotehan putranya yang terdengar sangat serius.
"Jangan banding- bandingkan hidup kalian dengan Kakak kalian. Kakak kalian meneliti luka tersendiri. Kalian adalah korban dari perpisahan kedua orang tua. Hingga meninggalkan luka yang sulit untuk disembuhkan," terang Rion kepada Riana dan juga Iyan.
"Biarkan Bunda bahagia dengan keluarganya. Dan kita bahagia dengan keluarga kita," tukas Iyan layaknya orang dewasa.
Ketukan pintu kamar membuat keharuan itu bubar seketika. Ternyat Aksa yang berada di depan pintu kamar Riana.
"Ada apa, Bang?" tanya Rion. Sedangkan Riana masih enggan menatap Aksa dan memilih memeluk tubuh sang ayah.
"Boleh Abang bicara sama, Ri." Kedua alis Rion menukik mendengar ucapan Aksa.
"Ciye," goda Iyan.
"Di halaman samping aja, ya," tawar Rion. Aksa pun mengangguk pelan.
"Tapi, Yah ...."
Riana pun mencuci muka terlebih dahulu sebelum menemui Aksa di halaman belakang. Setelah meletakkan minuman yang dibawanya, Riana duduk di samping Aksa.
"Diminum, Bang," ucap Riana.
"Makasih."
Hanya keheningan yang tercipta. Tidak ada obrolan di antara mereka berdua. Aksa mulai memberanikan diri untuk menatap Riana.
"Ini buat kamu," ucap Aksa sambil menyerahkan kotak beludru berwarna navy kepada Riana.
"Apa ini?" tanya Riana.
"Buka saja."
Riana membuka kotak kecil berwarna navy dan ada gelang di dalamnya. Kening Riana mengkerut menandakan dia benar-benar tidak mengerti.
"Jagalah gelang itu. Itu adalah gelang turun temurun dari Nenek Abang. Simpanlah, ketika Abang pulang dari London Abang akan mengambilnya."
Riana semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Aksa. Dan laki-laki di hadapannya malah pergi begitu saja sebelum menjelaskan semuanya.
"Apa maksudnya?" Riana terus menatap gelang yang ada di dalam kotak tersebut. Hingga dia mengambil gelang itu dari dalam kotak. Ketika gelang itu digerakkan, ada kalimat I love you. Ya, gelang itu berbentuk gelang keroncong bukan gelang rantai.
Mata Riana melebar dan dia sedikit tidak percaya. Namun, dia segera menetralkan perasaannya. Dengan hati-hati Riana meletakkan gelang itu kembali. Menutupnya dengan rapat.
"Maaf, Ri akan membuang perasaan itu."
...****************...
Komen di atas 50 aku up lagi malam ....