
Aksa sudah menunggu Riana di depan kelasnya. Tanpa Riana sadari, Aksa menarik tangan Riana menjauhi kelasnya.
"Ada apa, Bang?" tanya Riana.
"Pake," titah Aksa sambil menyerahkan helm. Riana pun menuruti perintah dari Aksa.
"Pegangan," ucap Aksa lagi. Riana memegang bahu Aksa membuat Aksa berdecak kesal. Dengan paksa Aksa menarik tangan Riana agar memeluk pinggangnya.
Tidak dipungkiri, hati Echa bergemuruh tak karuhan. Tanpa dia sadari motor yang dilajukan Aksa berhenti di sebuah cafe tak jauh dari sekolah.
Dengan lembut, Aksa membukakan helm yang dikenakan Riana. Membuat jantung Riana berdisko ria kembali.
Aksa menggenggam tangan Riana dan membawanya masuk ke dalam cafe yang instragamable. Baru saja hati Riana berada di mode slow, pertanyaan Aksa membuat hati Riana deg-degan.
"Apa kamu masih mencintai, Abang?"
Mulut Riana terbungkam. Dan dia merasa kebingungan atas pertanyaan yang dilayangkan oleh Aksa. Sentuhan lembut tangan Aksa membuat Riana sedikit terkejut.
"Jawab, Ri," ujarnya lembut.
"Ke-kenapa Abang menanyakan itu?" tanya balik Riana.
"Karena Abang mulai menyukai kamu."
Ingin rasanya hati Riana salto bolak-balik mendengar ucapan Aksa. Tetapi, dia harus sadar diri dan dia harus ingat akan ucapan kembaran Aksa. Kenapa Aksa berubah kepada dirinya. Wajah Riana berubah sendu.
"Apa karena akhir-akhir ini, Ri seperti Kak Echa?"
Kali ini Aksa yang tidak bisa menjawab. Mulutnya kelu, tidak menjawab ataupun menyanggah pertanyaan Echa.
"Ri, tidak ingin disukai karena orang lain menganggap Ri seperti orang yang mereka kagumi. Sukai Ri, karena diri Ri sendiri."
"Dan Ri janji, akan membuang jauh-jauh perasaan Ri untuk Abang. Ri, tidak pantas mendampingi Abang. Mungkin, Abang sudah memiliki jodoh yang orang tua Abang pilihkan dan masih mereka rahasiakan."
"Kembalilah pada hubungan kita yang dulu. Saling melengkapi tanpa dicampuri dengan rasa suka yang kita miliki. Hanya sebatas suka antara kakak beradik," pungkasnya.
"Ri, yakin, waktu akan mengikis cinta yang Ri miliki untuk Abang. Apalagi, Abang akan melanjutkan kuliah di negeri orang. Sudah pasti, cinta ini akan dengan mudahnya hilang begitu saja."
Dada Aksa terasa sesak mendengar ucapan Riana. Sedangkan, dalam hati Riana meringis dengan perkataannya sendiri. Inilah yang harus dia lakukan. Dia tidak ingin tenggelam dalam perasaan. Biarlah waktu yang memudarkan cintanya. Karena Riana yakin, ini hanyalah cinta monyet saja.
Menikmati segelas jus dalam suasana hening sangat tidak menyenangkan. "Ayo, Bang. Ayah sudah menyuruh Ri dan Iyan ke rumah sakit," ucapnya yang sudah siap untuk berdiri.
Dengan cepat Aksa menarik tangan Riana hingga dia terjatuh dalam dekapan hangat Aksa.
"Ijinkan Abang memeluk kamu. Dan Abang akan membuang rasa suka kepada kamu. Jika, itu memang mau kamu," bisik Aksa.
Bulir bening menetes begitu saja membasahi wajah Riana. Ucapan Aksa terdengar sangat tulus dan sangat menembus ke ulu hati. Sakit, itulah yang Riana rasakan. Tetapi, dia juga tidak ingin dicintai atau disukai karena kemiripan sikapnya dengan orang lain. Dia ingin, Aksa menyukai dirinya karena sikap Riana sendiri.
"Abang akan membuang rasa suka Abang dan menggantinya dengan rasa sayang. Ijinkan Abang untuk belajar menyayangi kamu."
...****************...
Yang minta kisah Aksa dan Riana tapi gak komen, aku jitak online kalian. 🤧
Yang penasaran sama siapa yang di Surabaya besok aja ya. Akunya mau nyari cover buat novel baru.
Happy weekend ...😘