Bang Duda

Bang Duda
149. Malam Pertama (Arya dan Beby)



Setelah acara selesai, sepasang pengantin pun masuk ke dalam kamar hotel yang telah disiapkan. Arya mendudukkan dirinya di sofa dengan menghembuskan nafas kasar.


"Ternyata gini ya jadi ratu dan raja sehari. Sangat melelahkan," gumamnya


"Sayang," panggil Beby yang berada di depan meja rias.


"Ada apa?" tanya Arya yang kini sudah melangkahkan kaki ke istrinya.


Arya pun memeluk tubuh Beby dari belakang, dan menciumi pundak Beby yang sedikit terbuka. Ada desiran aneh yang kini merasuki tubuhnya.


"Mandi dulu, Yang. Badan aku udah lengket dan gatal," ujarnya sambil memperlihatkan merah-merah di tangan dan juga lehernya.


"Kok bisa gini, Yang?"


"Kulitku sensitif banget. Kalo keringatan dan kena debu langsung begini," jelas Beby.


"Ya udah, kamu mandi duluan. Takutnya nanti ini makin menjalar." Arya pun mengusap tangan Beby yang gatal dan kemerahan.


"Bukain ini, tanganku gak sampe," pintanya malu-malu sambil menunjuk punggung kebayanya.


Arya putra terkekeh geli. "Gak usah malu, Yang. Bentar lagi juga aku bakalan ngeliat semuanya."


"Cepet, ih. Lama," sentak Beby dengan muka yang merona mendengar ucapan Arya barusan.


Setelah Beby masuk ke dalam kamar mandi, Arya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sebelumnya, dia sudah melepaskan tuxedo yang dia kenakan. Sekarang hanya menyisakan kemeja yang bagian dadanya sudah terbuka lebar dan juga celana.


Suara bel berbunyi, menandakan ada yang datang. Ketika Arya membuka pintu dua pegawai hotel membawa tumpukan kado. Arya menyuruh mereka untuk meletakkan kado-kadonya di atas tempat tidur.


Arya pun mulai membuka satu per satu dan membaca siapa pengirimnya. Rata-rata adalah teman kuliahnya dan juga teman SMA.


"Banyak banget kadonya," ucap Beby yang sudah berada di samping Arya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Arya pun memandang Beby dari atas sampai bawah. Dia hanya mengernyitkan dahinya. "Kenapa gak pake ...."


"Mandi dulu sana," potong Beby dan langsung mengusir Arya. Arya hanya mendengus kesal.


Setelah mengeringkan rambutnya, Beby naik ke atas tempat tidur. Melihat isi kado yang telah dibuka oleh suaminya. Di hadapannya hanya tinggal beberapa kado saja.


Beby sedang asyik membuka kado, dia tidak menyadari bahwa sudah ada suaminya di sisinya. Dengan melingkarkan tangannya di pinggang Beby.


Mata Beby melebar, dan jantungnya berdegup tak karuhan. Melihat bagian atas tubuh Arya yang tidak dibalut dengan sehelai benang pun. Suaminya hanya mengenakan celana boxer saja.


"Biasa aja liatinnya, sekarang kamu bisa sentuh aku sesuka hati kamu. Aku milikmu," kata Arya sambil menuntun tangan Beby untuk menyusuri bagian atas tubuhnya.


"Buka kado dulu, Yang," elak Beby.


Sudah Kak Gi persiapkan hotel mewah di Korea Selatan, begitu juga di pulau Jeju. Tidak ada batasan waktu untuk kalian di sana. Pakailah pesawat pribadi Kak Gi. Selamat menempuh hidup baru dan langgeng selalu.


"Anak Sultan," puji Arya. Rona wajah gembira sangat terpancar dari wajah Beby..


Arya membuka kado dari dokter Eki. Matanya terbelalak begitu juga Beby. "Gak guna punya teman kayak begini," geram Arya yang melempar 10 kotak merah yang di dalamnya terdapat karet seperti balon.


"Ada suratnya, Yang," kata Beby.


Bumi udah semakin sempit bro. Jadi, jangan terlalu buru-buru dan grasak-grusuk. Habisin dulu pengaman dari gua, baru dah lu bisa tancap gas. Hahahaha ....


"Kampret," teriak Arya. Beby malah tertawa melihat wajah Arya yang sudah merah padam.


"Satu lagi, Yang." Beby membaca namannya. "Dari Pak Rion," lanjutnya.


"Jangan dibuka!" Beby yang sudah menyobek sedikit pembungkus kadonya menatap Arya bingung. "Kenapa?" tanya Beby.


"Aku mencium aroma-aroma tidak enak, Yang," ungkapnya.


Beby pun menyerahkan hadiah dari Rion kepada suaminya. Arya pun mengoyak pembungkus kado dari sahabatnya. Dan setelah dibuka, Beby langsung merampas kardus kecil yang sedang dipegang Arya.


Beby langsung membuka kardus kecil dan diambilnya isi dari kardus itu. Beby membolak-balikkan satu sachetan kecil yang dia pegang. Menekannya lalu dia berkata, "tisu galon."


Arya pun tertawa terbahak-bahak mendengar tebakan Beby. "Kenapa ketawa?" tanya Beby.


Hanya gelengan yang menjadi jawaban dari Arya. Arya menyingkirkan semua hadiah pemberian dari para teman-temannya. "Yang, boleh kan?" Dengan malu-malu Beby menganggukkan kepalanya.


Berawal dari penyatuan bibir yang hangat berubah menjadi ganas. Tangan Arya sudah menyusuri tubuh Beby dan piyama yang dipakai Beby pun sudah terbuka semua memperlihatkan bagian yang sangat indah yang Beby miliki. Dada Beby yang seputih susu pun sudah berisi bercak-bercak merah ulah sang suami. Foreplay yang Arya berikan mampu membuat Beby melayang.


Sekarang, tangan Arya sudah menyusuri lahan bawah yang ingin segera di garapnya. Setelah mendapat persetujuan dari Beby dengan perlahan Arya melepas celana yang dipakai Beby. Kini hanya menyisakan penutup tipis mahkota Beby.


Tinggal satu langkah lagi menuju surga dunia. Tangan Arya dengan pelan menurunkan helaian kain terakhir dari tubuh sang istri. Baru sampai lutut si celana dalam turun, mata Arya melebar. Arya menyentuh sesuatu yang menempel pada kain tipis itu.


"Darah," ucap Arya. Beby pun langsung terbangun dari posisi awalnya.


"Maaf, halangan ku lebih cepat datang," sesal Beby setelah melihat darah kotor yang menempel di celana dalamnya.


Tubuh Arya pun lemas dan lunglai seketika. Tongkat ajaibnya yang sudah menjulang tinggi tiba-tiba seperti putri malu. Kembali menciut.


****


Happy reading ....