
"Ke rumah sakit sekarang. Dokter sudah mengijinkan untuk melakukan Tes DNA."
"Dasar bodoh. Mau-maunya saja mengikuti surat wasiat tidak berguna itu," sungut Amanda.
"Dasar Addhitama serakah," geramnya.
Entahlah apa yang ada dibenak dan pikiran Amanda. Semakin ke sini yang dipikirkan hanya harta dan tahta. Tidak peduli dengan anak-anaknya. Benar-benar seperti iblis betina watak Amanda sekarang.
"Apa kamu tidak sedih dengan perceraian kamu? Dan hak asuh kedua anakmu jatuh ke tangan manta suamimu," ucap seseorang yang berhasil menghentikan langkah Amanda.
"Bukan urusan kamu. Siapa kamu berani bertanya-tanya tentang kehidupan ku. Lebih baik urus saja dirimu sendiri," sahut Amanda dengan kasarnya.
Juna hanya menggelengkan kepalanya. Ternyata beginilah adik yang dia anggap baik itu. Ucapannya pun tidak mencerminkan sebagai wanita muslimah. Karena Amanda masih betah bersembunyi di balik hijabnya.
Dengan tanpa rasa bersalah, Amanda meninggalkan Juna. Tidak ada ketakutan serta kecemasan pada diri Amanda. Karena dia yakin, anak di dalam kandungannya adalah anak Satria.
Tibanya di rumah sakit, bukan hanya Satria yang ada di sana. Addhitama dan ketiga anaknya ikut berada di ruang pemeriksaan. Begitu juga para pria yang memakai pakaian serba hitam dengan kaca mata hitam. Amanda hanya berdecak kesal. Seperti tahanan begitulah dirinya.
"Silahkan ambil sampelnya, dok," titah Addhitama pada dokter pria paruh baya yang tak lain adalah dokter senior di rumah sakit itu.
Setelah dokter mengambil cairan amnion atau air ketuban melalui prosedur amniosintesis atau dengan charionic Villus sampling yang mengambil sampel jaringan plasenta. Dokter pun menatap ke arah Addhitama dan empat pria yang lain. Sedangkan Amanda diabaikan begitu saja.
"Dua Minggu lagi, kalian ambil hasilnya. Karena untuk mengetahui cocok atau tidak sampel dari dua DNA itu tersebut memerlukan waktu cukup lama." Addhitama beserta adik dan ketiga anaknya mengangguk mengerti. Hanya Amanda yang menatap mereka dengan delikan kesal.
"Jangan sampai ada orang lain yang memanipulasi hasil tes DNA itu. Sudah pasti aku akan menuntut kamu beserta rumah sakit ini." Dokter senior itu pun hanya berdecak kesal.
"Masih saja kamu arogan," sahutnya.
Amanda hanya menghela napas kasar. Karena dia yakin, hasilnya pasti positif. Semenjak bersama Satria, dia tidak pernah melakukan hubungan dengan laki-laki lain. Karena Satria sudah mampu memenuhi hasrat batin dan juga kebutuhan dompetnya.
Setelah tiba di rumah Satria, Amanda segera masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata. Otaknya sedang bekerja. Dia sedang memikirkan sesuatu perihal dirinya yang harus mengikuti suaminya untuk hidup melarat. Ketika kakak dari suaminya hidup enak dengan ketiga anaknya.
Dan Satria pun enggan bertanya lebih dalam. Setelah hampir dua bulan lebih menikah. Amanda hanya bagai pelepah pisang jika di ranjang. Tidak mau melayani suaminya dengan baik. Malah seolah acuh dan tidak menikmati apa yang sedang Satria berikan.
Berbeda dengan kediaman Echa dan Radit. Yang setiap malam dipenuhi suara bising para bapak-bapak tidak tahu diri dan juga ibu-ibu yang kerjaannya hanya menonton sinetron Mas Al.
Bagaimana Echa tidak emosi, ketika dia ingin istirahat. Sorakan dan teriakan dari para bocah serta orang tua saling bersahutan. Dengan langkah bagai pinguin, Echa keluar kamarnya. Ketika dia masuk ke ruang keluarga. Para ibu-ibu sedang mengoceh tidak jelas dengan tatapan mata mereka yang tak terlepas dari layar televisi.
"Si Elsa pengen aku jambak," omel Beby.
"Kalo ketemu pengen aku colok tuh matanya," sambung Sheza.
Ketika adegan berlanjut, mimik wajah ibu-ibu pun berubah. "Ya ampun, sweet banget sih Mas Al," ucap Ayanda. Belum ucapan lebay para ibu-ibu yang lain.
"Apa serunya? Cuma kisah CEO dingin bucin. Padahal awalnya benci jadi cinta. Udah sering aku baca di novel online." gumamnya.
Dengan sangat sengaja, Echa berdiri di depan tiga para ibu-ibu yang katanya pecinta Aladin. Echa mengambil remote yang ada di atas meja dan televisi pun seketika mati.
"Echa!" seru tiga ibu pecinta sinteron.
Sambil membawa remote, Echa menghampiri para bapak-bapak yang sedang asyik bermain Ludo di gazebo. Wajah mereka sudah tidak karuhan. Sudah seperti dakocan.
Yang membuat Echa berang ketika suaminya mencoret-coret wajah bapak-bapak yang lain dengan lipstik miliknya.
Sontak para bapak-bapak itu menutup telinga. "Kenapa sih, kamu?" sungut Rion.
Echa segera merampas lipstik yang sedang dipegang oleh suaminya. Matanya nanar menatap lipstik kesayangannya sudah tidak berbentuk.
"Lipstikku," lirihnya.
"Lebay," ejek Rion dan juga Arya.
"Nanti Papa beliin sama toko-tokonya." Gio menyombongkan diri.
"Bukan masalah harga lipstiknya. Tapi, warnanya yang susah dicari. Ini aja Echa dapat di London. Harus keliling mall yang ada di London dulu baru bisa dapat warna kayak gini." Echa pun mulai terisak para bapak-bapak itu pun mulai kebingungan.
Radit langsung melompat turun dari gazebo dan memeluk tubuh istrinya yang sedang menangis.
"Nanti aku cariin lagi lipstik kaya gini di London. Maaf, aku ambil lipstik kamu gak bilang dulu," sesal Radit.
"Aku sebel sama kamu. Pokoknya malam ini kamu tidur di ruang tamu," tukas Echa dan berlalu meninggalkan para bapak-bapak.
Radit hanya melongo mendengar ucapan sang istri. Padahal, malam ini adalah malam di mana dia mendapatkan jatah untuk menengok si kembar. Sedangkan dua mertuanya serta Arya dan Kano malah bersorak gembira.
Langkah Echa terhenti ketika para anak-anak sedang asyik bermain game dan para gadis remaja sedang bermain aplikasi tik tok. Echa segera menuju ke dalam rumah dan mematikan akses WiFi. Sehingga para anak-anak itu berteriak kesal.
"Sukurin!" sungut Echa yang kini mengunci dirinya di dalam kamar. Biarlah para bapak-bapak, ibu-ibu serta para anak-anak memaki dirinya. Sudah waktunya dia beristirahat. Dan beginilah cara Echa mengusir mereka secara halus.
"Kita tidur ya, anak-anak Bubu. Besok kamu harus ikut Bubu untuk kerja keras lagi." Monolog Echa sambil mengusap perut buncitnya.
Benar saja, semua tamu di rumah Echa dan Radit berteriak kesal. Apalagi para bocah pencari WiFi. Mereka pun pulang ke rumah mereka masing-masing. Dan hanya menyisakan Rion dan Radit di ruang tamu.
"Gara-gara kalian nasib Radit mengenaskan," keluhnya.
"Nikmatin aja, lagi pula Echa udah hamil besar. Masih aja mementingkan napsu. Apa kamu gak kasihan sama anak-anak kamu," ujar Rion.
"Ya pake gaya yang lain dong, Yah. Gaya yang tidak menekan anak-anak Radit serata gaya yang tidak banyak mengguncang kandungan istri Radit," sahutnya.
"Gaya apa?" Rion mengerutkan dahinya tak mengerti dengan rasa sedikit penasaran.
"Gaya yang hanya Radit dan Echa tahu. Kalo dijabarin di sini, yang ada Ayah malah mau."
"Sadar diri, sekarang kan status Ayah Dunes. Duda ngenes."
"Menantu sialan!" pekik Rion sambil berkacak pinggang. Namun, Radit malah tertawa terbahak-bahak menjauhi mertuanya.
...****************...
Aku mau crazy up nih, niatnya mau 4 bab untuk tanggal 29. Komen yang banyak ya ...
Yang nanya kisah Riana dan Aksa harap bersabar ya. Setelah Yang Terluka atau Tak Kan Kulepas Lagi tamat, aku akan buat kisah para anak-anak Bang Duda serta sahabat-sahabat Bang Duda.
R : Di Mana realesenya Thor?
A : Insya Allah di sini.