
Jack menjawabnya dengan sangat tegas.
“Paling tidak, jika kau mau membelinya sebelum waktu pembukaan tiba aku masih akan memberikanmu harga awal seperti yang kutawarkan. Tapi jika sudah pembukaan, aku akan menaikkan harganya dan akan mulai berpikir untuk menjualnya sebagai mayat utuh, manusia hidup atau sudah terpotong”
Pernyataan itu benar-benar tidak bisa membuat Riz berpikir. Seperti sudah habis kesempatan untuk bernegosiasi akhir, dia hanya bisa berdoa ada keajaiban untuk ini.
“Apa sudah tidak ada lagi yang mau dibicarakan?” tanya Jack sambil memegang cangkir tehnya
“A–aku sudah tidak memiliki hal lain untuk dikatakan” jawab Riz dengan nada kecewa
“Hmm…begitu. Kalau begitu habiskan kue dan teh milikmu sebelum pulang ya”
Riz terdiam dan berpikir keras.
‘Bagaimana ini?! Padahal aku sudah berada sedekat itu pada teman Kaito, tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Aku harus memikirkan cara lain untuk membawanya keluar dari tempat ini tanpa mengalami masalah serius dengan Jack-sama, tapi apa?! Ayo, berpikirlah Riz!’
Riz berpikir sambil terus memegangi piring kecil dengan kue red velvet di atasnya.
‘Bisakah aku mengajukan tawaran lainnya? Tapi apa yang bisa kutawarkan untuknya?’
Jack yang selesai dengan cangkir tehnya meletakkannya di atas meja dan melihat Riz.
“Oh, Riz…mau sampai kapan kau melihat kue itu dan tidak memakannya? Kau lihat sebelum istri cantikku pergi tadi? Dia bahkan membawa bagian Arkan agar dia menghabiskannya”
“A–aku hanya…sedang berpikir tentang–“
“Tentang anak tadi?”
Tepat sekali. Tangan Riz langsung gemetar mendengarnya.
“Ayolah, ini bisnis. Seperti yang sering kubilang padamu dan semua pedagang bahwa jangan pernah membeli sesuatu yang tidak bisa kau bayar dan jangan berhutang. Kalau kau tidak yakin bisa membayarnya sebaiknya tinggalkan. Itulah sebabnya aku benci cicilan dan kredit. Hanya membuat hidupnya sulit bernapas dengan tenang”
“Be–begitukah?”
“Benar. Terakhir kali ada bangsawan yang mencoba mencicil manusia yang kujual dan dia terlambat melunasinya tepat waktu. Saat dia membayar lunas cicilannya itu, aku memotong lengan kirinya sebagai bunga keterlambatan dan bersumpah untuk tidak memberikan kredit dan hutang pada siapapun. Menyusahkan”
Jack seperti bercerita tentang pengalamannya sendiri tanpa memikirkan Riz yang masih pucat. Setelah puas dengan cerita singkatnya itu, Jack menatap Riz dengan tatapan serius dan senyum sinis.
“Riz, aku ingin tau kenapa kau bersikeras ingin mendapatkan anak itu kembali? Bukankah Justin yang merupakan ladang uangmu baru saja mati?”
Riz terdiam. Sejujurnya dia membantu Arkan karena persahabatannya, tapi bohong jika dia mengatakan dia tidak sedih Justin mati.
Bukan karena dia menyukai Justin atau menganggapnya penting, tetapi hanya menghargainya sebagai sumber uang yang selalu memberikan mayat bagus padanya untuk dijual.
Awalnya Riz berpikir itu saja alasannya. Namun semua berbeda sekarang.
Terlepas dia baru mengenal Ryou dan Kaito atau tidak, perasaannya sedikit berubah. Melihat remaja di dalam ruangan tadi terbaring lemah membuatnya ingin menyelamatkannya.
Hal itu mungkin karena dia mengenal orang yang dekat dengan remaja itu. Atau Riz mungkin masih memiliki hati dan bukan sepenuhnya iblis berwujud manusia.
“A–aku hanya…ingin membantu Arkan. Arkan ingin…membawa orang-orang yang dibawa ke tempat ini dengan selamat jadi…”
“Hmm…kau setia kawan rupanya. Tapi maafkan aku karena tidak bisa menjawab keinginan tulusmu itu”
Jack mengganti posisi duduknya menjadi terlihat seperti seseorang yang memiliki kekuasaan tertinggi di tempat itu. Aura menakutkan keluar dan itu membuat Riz merinding.
“Tempat ini bukan didominasi oleh manusia yang memiliki hati nurani tapi iblis berwujud manusia. Manusia lemah dan berhati hanya akan menjadi dagangan di tempat ini, itu juga berlaku untuk remaja itu”
Riz tidak bisa membalasnya karena dia adalah satu dari sekian banyak iblis di tempat itu. Seketika keadaan menjadi hening dan tampaknya tidak ada yang bisa dilakukan oleh Riz.
Pertukaran dan tawar menawar ini sudah selesai. Sungguh hasil yang tidak diharapkan oleh mereka.
Mayat Justin hanya bisa membebaskan dua dari tiga orang yang dibawa dan membatalkan sisa transaksi yang ada. Sisa ‘barang’ yang dibawa oleh pengelola pasar gelap hanya bisa ditebus dengan uang yang dibayarkan langsung dengan harga pembukaan pertama. Jika melewati waktu tersebut maka harganya mungkin tidak akan bisa tersentuh dompet mereka.
‘Apakah hanya sampai di sini keberuntungan yang kami miliki sekarang?’ Riz bertanya dalam hatinya dengan nada kecewa
******
Di area pasar gelap, Arkan terlihat begitu bimbang dengan keadaannya. Dia terlambat untuk menyadari banyak hal dan sekarang terjebak dalam pikirannya sendiri.
“Haruskah aku kembali ke tempat Jack-sama atau menyusul anak-anak itu ke pintu gerbang?”
Arkan sudah tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir dan akhirnya dia memutuskan untuk berlari menuju pintu gerbang.
“Maafkan aku, Kaito. Aku akan memastikan kembali pertukaran ini dengan Jack-sama nanti setelah aku melihat Stelani dan Fabil baik-baik saja”
Bagaimanapun juga, kebebasan semua anak-anak itu sudah bisa dipastikan jadi dia tidak ingin membuang kemungkinan lain yang bisa merubah keputusan pengelola pasar gelap itu. Bisa dibilang, pilihan Arkan saat ini sudah benar dengan tidak melepaskan hasil yang sudah pasti didapatkannya. Meskipun di sisi lain, dia mungkin telah kehilangan kesempatan berarti lainnya.
Arkan berlari ke arah jalanan utama itu lagi dengan cepat dan dia sudah tidak mau membuang waktunya.
‘Aku harus cepat!’ pikirnya dalam hati
Arkan berlari dan dari arah belakang tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
******
Ryou dan Kaito yang telah bertemu dengan Stelani dan Fabil begitu syok mendengar penuturan dari kedua anak kecil itu mengenai Kino.
“Oi! Apa yang terjadi dengan kakakku?! Apa yang terjadi dengan Kino?!”
Gadis itu tidak mencoba melarikan diri dari Ryou dan menatapnya dengan tatapan sedih seraya meminta tolong.
“Ki–Kino-niisan…Kino-niisan terluka di bagian tangan kiri dan perutnya! Dia…dia berusaha melindungi kami sebelum kami dibawa pergi oleh wanita mengerikan itu dan pria besar berotot yang mengerikan!”
“Ter–terluka katamu?!” Ryou menjadi begitu ketakutan sekarang
Tanpa basa-basi, Kaito tidak membiarkan kesempatan ini.
“Aku mengerti situasinya. Sekarang jangan banyak bicara dulu dan tunjukkan tempat Kino berada sekarang! Bawa kami ke sana dan kami berdua akan menjamin keselamatan kalian!”
Kedua anak itu mengangguk dan tanpa basa-basi Ryou meminta gadis itu memegang erat kedua pisau milik Kino di tangannya. Dia menggendong gadis kecil itu dengan gaya bridal style di depan. Kaito juga menggendong Fabil di punggungnya dan berlari dengan cepat.
“Ceritakan pada kami kondisi Kino dan bagaimana kalian bisa lolos?” tanya Kaito sambil berlari menggendong Fabil
“Kami…kami terbangun dalam sebuah plastik di sebuah ruangan setelah diinjak dan ditendang dengan kuat oleh wanita yang membawa kami. Kami berdua ingat Kino-niichan ada bersama kami dan memutuskan untuk mencarinya dengan anggapan dia mungkin ikut dibawa bersama kami”
“……” Kaito mendengarkan tanpa mengatakan apapun
“Saat aku dan Stelani mencoba untuk mencari keberadaan Kino-niichan, kami membuka sebuah pintu yang berisi tubuh terpotong dan banyak darah!”
“……!!!” Kaito terkejut mendengarnya
“Lalu kami menemukan Kino-niichan terbaring dan tak sadarkan diri dengan luka serius di bagian lengan kiri dan….banyak sekali darah yang keluar. Hiks….” Fabil mulai menangis mengingatnya
Stelani yang digendong oleh Ryou bercerita hal yang kurang lebih sama dan menjelaskan bagaimana mereka meloloskan diri.
“Ruangan tempat kami berada tidak dikunci sama sekali. meskipun kami berpikir itu mungkin jebakan tapi nyawa Kino-niisan lebih penting. Setelah Fabil selesai memindahkan tubuh Kino-niisan, kami berdua menuruni tangga bangunan tempat kami berada dan kami melarikan diri dari sana” kata Stelani menjelaskan
Selama bercerita, Stelani mencoba sebaik mungkin menahan air matanya agar tidak menangis meskipun tanpa sadar air mata tersebut keluar dengan sendirinya. Ryou terlihat begitu pucat dan syok mendengar semua cerita gadis kecil itu.
Tetapi dengan semua perasaan itu, ada satu hal yang dikatakan oleh Ryou kepada gadis itu.
“……Kasih…..”
“Eh?” Stelani melihat wajah kakak yang menggendongnya
“Terima kasih karena sudah mengeluarkan semua keberanian kalian untuk mencari pertolongan demi kakakku. Terima kasih banyak sudah berusaha dengan baik demi Kino”
“Hiks…” Stelani akhirnya menangis
Dia memeluk dua pisau milik Kino dengan menahan rasa sakit di tangan kirinya. Dia menangis dan berdoa untuk keselamatan Kino.
“Aku…aku ingin Kino-niisan selamat. Hiks…kumohon selamatkan Kino-niisan!”
“Jangan khawatir. Meskipun harus menjadi iblis di tempat ini, aku akan menyelamatkan Kino juga kalian semua!”
Dalam hati, Ryou berdoa.
‘Kami-sama, selamatkan kakakku! Selamatkan Kino!’
Kaito berusaha untuk memikirkan berbagai kemungkinan.
‘Dengan larinya kedua anak ini, bisa dikatakan bahwa semua pertukaran kami telah gagal total. Aku tidak tau apakah Arkan dan Riz mengetahui bahwa mereka kabur. Yang jelas ini sudah di luar kendali! Pengelola pasar gelap ini juga mungkin akan mulai menggunakan cara kasar. Ditambah lagi, aku dan Ryou telah membunuh penjaga gerbang itu. Semua menjadi kacau!’
Kaito meminta Fabil menunjukkan arah tempat Kino berada.
“Dari sini lurus terus lalu belok kanan!”
Kaito mengikuti arahan Fabil. Ryou yang sekarang berlari di belakang Kaito berusaha mengimbangi kecepatannya.
“Nee, apakah bangunan tempat kalian berada itu dekat dengan bangunan tinggi?” tanya Kaito pada Fabil
“Bangunan tempat kami berada seperti toko dengan kaki manusia yang menggantung. Tapi, di samping bangunan itu memang ada bangunan tinggi sekali dengan gerobak di depannya”
Mata Kaito menyipit dan ekspresinya menjadi sangat serius.
‘Ternyata benar dugaanku! Bangunan paling tinggi itu kemungkinan tempat dimana pengelola pasar gelap berada!’ kata Kaito dalam hatinya
Kaito mulai berteriak pada Ryou.
“Ryou, semua ini sudah di luar kendali. Dengan larinya kedua anak-anak ini, kemungkinan rencana C yang akan kita lakukan!”
“Itulah yang aku harapkan! Aku tidak akan pernah memaafkan wanita iblis yang telah melukai kakakku!”
“Aku tau kau marah karena aku juga merasakannya. Tapi perlu kau ingat kalau wanita itu berbahaya! Dia bisa dengan cepat lari tanpa suara ketika keluar dari bar beberapa waktu lalu. Artinya dia adalah pembunuh profesional”
“Aku juga telah menyandang status sebagai kriminal, jadi tidak ada gunanya takut! Aku tidak akan membiarkannya lolos!”
Mata Ryou dipenuhi oleh amarah.
Sekarang, yang dibutuhkan oleh semua orang di pasar gelap itu adalah keberuntungan. Keberuntungan untuk terus hidup, keberuntungan untuk mencapai tujuan atau keberuntungan untuk keberhasilan membunuh musuh.
Hanya tinggal siapa pemilik keberuntungan terbesar yang akan mengubah semua takdir di neraka iblis tersebut.
******