Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 206. Rencana Penyelamatan Song Haneul bag. 1



Kaito bersama kedua kakak beradik itu berusaha mencari peluang untuk masuk ke dalam dengan sembunyi-sembunyi. Tapi sepertinya, opsi sembunyi-sembunyi itu hanyalah mimpi di sore hari.


“Kita terobos mereka sekarang” celetuk Ryou


“Apa kau gila?” umpat Kaito


“Kau ada ide lebih bagus dari itu? Pintu gerbangnya hanya satu. Kalau kau bisa menembus dinding seperti hantu gentayangan atau shinobi, aku akan tutup mata. Masalahnya kau tidak bisa, Kaito!” protes Ryou kembali


“Kalau pengelihatanmu mengalami penurunan, aku akan memberimu gambaran nyata bahwa di depan sana, masih banyak zombie yang belum masuk ke dalam area gedung asrama. Kau bahkan belum melihat se-mengenaskan apa Baek Hyeseon, kan?”


“Dia berakhir mengenaskan?” Ryou jadi berbalik penasaran


“Wajahnya sudah tidak utuh”


“Hoo~selera zombie itu bagus juga” mendadak Ryou jadi memuji para zombie


Sekarang, perdebatan ini mengarah ke jalan yang penuh belokan. Tampaknya yang masih fokus pada pembahasan awal hanya Kino.


“Teman-teman, kalau kalian ingin berdebat tolong dilakukan nanti saja. Aku sendiri masih menahan diri untuk memarahi Ryou karena kejadian sebelumnya. Ingat?”


“……” kedua orang itu akhirnya diam dengan ekspresi datar


Kembali ke topik utama.


“Jadi, kita terobos” Ryou mengatakan ide ‘cerdasnya’ sekali lagi


“Ada yang salah dengan otakmu” kali ini Kaito memberikan sebuah ‘pujian’


“Kalian berdua…coba pikirkan dengan serius atau kita akan membuang-buang waktu untuk menyelamatkan Song Haneul-san!”


Sepertinya, kesabaran Kino masih diuji oleh kedua orang itu. Setelah melihat wajah Kino yang serius, mereka akhirnya mulai berpikir menggunakan kemampuan otak mereka yang sesungguhnya.


Akhirnya, mereka bisa kembali ke jalan yang lurus.


“Aku hanya memiliki satu ide dan itu adalah menerobos masuk. Bagaimanapun juga, tidak ada yang lebih baik dari itu”


“Haah…” Kaito sudah menyerah dengan pemikiran Ryou


“Ryou, aku mengerti kamu ingin sekali menerobos masuk. Tapi, selain memikirkan keselamatan Song Haneul…bukankah kita harus menyelamatkan diri sendiri”


“Karena itu, kita harus memancing sebagian dari mereka dari sana”


“Apa?!” Kino dan Kaito terkejut mendengarnya


“Kita harus menjauhkan sebagian dari mereka yang ada di pintu gerbang dengan pengalihan”


“Jangan bercanda! Siapa yang mau melakukannya!”


Jelas Kaito menentangnya. Tapi, Ryou mengatakan sebuah ide yang agak dipaksakan.


“Gedung Fakultas Seni Rupa di dekat kita dan gedung lainnya memiliki alarm kebakaran. Jika kita menekan tombol tersebut, mereka akan menghasilkan suara yang terdengar sampai keluar. Jadi…”


“Ryou ingin mengatakan bahwa kita cukup melakukan pengalihan dengan suara alarm tersebut? Tapi, tetap saja beresiko! Siapa yang tau jika nanti justru yang melakukan itu yang berada dalam pengepungan zombie?”


Kino jelas-jelas menentang ide buruk sang adik. Kali ini, Ryou menjadi orang paling nekad melebihi Kino.


“Menerobos dengan jumlah sebanyak itu jelas tidak mungkin. Tapi, kalau pengalihan seperti yang dimaksud oleh Ryou…mungkin aku yang cocok melakukannya” Kaito mengajukan dirinya


“Kaito-san?!”


“Kita hanya punya cara ini. Meskipun aku tidak yakin apakah bunyi alarm tersebut akan terdengar sampai luar atau tidak tapi…sekalipun agak dipaksakan, hanya ini kesempatan kita”


Kino sudah tidak tau lagi bagaimana cara menghadapi sang adik dan dia mencoba menekan seluruh emosinya sampai batas maksimal.


“Baiklah. Kita hanya perlu memancing mereka dengan suara keras agar menjauh dari pintu gerbang, benar begitu?”


“Benar”


“Aku mengerti”


Mereka mulai membicarakan rencana masuk ke gedung seni rupa dan mulai membahas seluruh rencana yang bisa dilakukan.


Ryou mengambil sebuah ponsel dan mengajari Kaito secara singkat cara untuk menghubungi mereka.


“Ini nomor dari ponsel ini. Jika kau sudah di dalam, cukup mencari nomor ini dan tekan yang ini. Aku dan Kino akan mengangkatnya”


“Aku mengerti”


“Kaito-san, saat kamu masuk ke dalam…tolong temukan benda berwarna merah terbuat dari besi yang berada di dekat tombol alarm kebakaran ya”


“Aku mengerti. Nanti, aku akan coba menghubungi kalian”


Kaito segera pergi ke dalam gedung seni rupa dan masuk dengan hati-hati. Sementara itu, Kino dan Ryou masih mengawasi perilaku para zombie yang mungkin saja berubah kembali.


“Kino, hubungi Song Haneul kembali. Tanyakan padanya apakah dia mendengar suara langkah kaki mendekat dari tempat dia berada sekarang atau tidak. Aku khawatir mungkin saja ada zombie yang sudah berjalan ke bangunan belakang”


“Aku mengerti”


Kino mencoba menghubungi Song Haneul kembali dengan nomor ponsel yang sama.


“Halo? Hoobae? Apa ini Yuki Kino?”


“Song Haneul-san, ini Kino”


“Yuki Kino! Apa…apa kamu sudah–”


“Sst…tolong jangan terlalu keras. Aku khawatir ada zombie yang sudah berada di dekat tempatmu berada”


“Aku…aku mengerti” Song Haneul mulai mengecilkan suaranya


“Apa di sana masih baik-baik saja? Apakah ada suara aneh yang terdengar?”


“Di sini…masih tenang. Aku masih belum mendengar apapun”


“Apa katanya?”


“Masih belum ada suara apapun katanya”


“Begitu. Pastikan dia aman dan tidak pergi kemanapun. Tanyakan apakah dia memiliki cukup persediaan makanan dan air?”


“Aku mengerti”


Kino kembali bertanya pada Song Haneul.


“Song Haneul-san, apakah ada air dan makanan di tempatmu berada?”


“Air…ada. Aku masih menyimpan beberapa biskuit, coklat batang dan jus. Ada chips juga”


“Kumohon bertahanlah sebentar sampai kami datang”


“Apa kalian benar-benar ingin menerobos masuk? Bukankah itu berbahaya?”


“Kami harus bertemu denganmu. Karena itu, apapun yang terjadi jangan sampai komunikasi kita terputus”


“Aku mengerti. Jika…jika ada suara yang aneh terdengar dari luar, aku akan menghubungi nomor ini kembali”


“Baiklah. Jaga dirimu, Song Haneul-san”


Kino menutup panggilannya dan menghela napas panjang.


“Haaa~”


“Semua masih aman?”


“Masih. Kami-sama, terima kasih karena Song Haneul-san masih dalam keadaan aman” Kino mengucap syukur


“Tapi, kita harus melihat sampai dimana keberuntungan perempuan itu. Lagipula, ada keberuntungan lain yang harus diwaspadai oleh kita. Yaitu keberuntungan milik Kaito yang tidak pernah bekerja dengan benar”


“……”


Kino ingin membela Kaito namun sepertinya dia memilih untuk diam


Di dalam gedung Fakultas Seni Rupa, Kaito berusaha mencari letak tombol yang dimaksud.


“Tombol merah di dekat pintu darurat dan sebuah tabung merah di dekatnya. Di mana itu?”


Kaito dengan cepat berlari sepanjang lorong koridor dengan banyak pecahan kaca dan darah dimana-mana. Tidak perlu terlalu mendeskripsikan betapa hancurnya tempat itu.


Setelah berbelok ke kiri, Kaito menemukan benda yang dimaksud.


“Mungkinkah ini dia?”


Dia menggunakan ponsel yang diberikan Ryou dan coba menghubungi nomor yang sudah diberitau Ryou.


“Tombol menghubungi itu yang hijau ini, kan?”


Tampaknya masih terlalu cepat untuk Kaito mengenal apa yang maksud dengan teknologi.


“Harusnya ini terhubung. Kalau tidak akan kubuang benda ini”


Kaito menekan ikon pada layar sentuh ponsel dan menunggunya.


Ryou yang saat itu masih mengawasi pergerakan zombie-zombie bersama sang kakak merasakan getaran dari dalam tas belanja yang dia pegang.


“Ini…Kaito!”


“Cepat angkat!”


“Halo?”


“Ryou, aku sepertinya sudah menemukan tombol besar merah di dekat pintu darurat yang dimaksud”


“Benarkah?! Bagus! Sekarang, pastikan kau bisa keluar dari sana dengan cepat setelah menekan tombolnya lalu


jangan lupa bawa benda besar yang dikatakan Kino padamu!”


“Aku bisa menekan tombolnya sekarang?”


“Tekan saja sekarang! Kalau suaranya bisa sampai luar, artinya mereka akan menyadarinya!”


“Kau yakin ini akan terdengar?" Kaito bertanya dengan wajah tidak yakin


“Aku juga tidak tau bagaimana bisa mayat hidup seperti zombie memiliki kemampuan pendengaran lebih tajam dari ibu-ibu tukang gosip di pasar. Ada yang salah dengan hukum alam ini, tapi tidak masalah. Nanti saja dipikirkan”


“Ryou…”


Kino tidak tau lagi bagaimana menghadapi pemikiran aneh sang adik.


“Pokoknya kau tekan saja tombol itu lalu kabur. Aku dan Kino juga akan kabur dari sini begitu alarmnya terdengar”


Ryou menutup panggilannya dan memberikan jempol serta senyum percaya diri pada sang kakak.


“Oh Yes! Kita akan berhasil dengan ini! Tenang saja!”


“O–oh…” Kino memberikan senyuman tipis dengan jempol kepada sang adik


Sekarang, Kaito yang hanya bisa pasrah setelah panggilannya terputus dan mengambil tabung merah itu. Dengan hati-hati dia mengangkatnya dan menekan tombol merah itu.


Terdengar suara yang tidak asing untuk kedua kakak beradik di luar.


-Krriiiiiing


“Itu tandanya! Kita pergi dari sini!”


******