Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 49. Pencarian dan Pengejaran bag. 1



Sementara di kota, Ryou dan Kaito berjalan sambil melihat sekeliling mereka.


Sudah sekitar dua puluh menit sejak mereka meninggalkan kolam air mancur dan berjalan menelusuri sisi kota untuk menemukan petunjuk mengenai anak berbaju orange bertopi coklat itu. Sampai saat ini belum ada kemajuan dari hasil pencarian mereka. Ini seperti mereka sedang mencari jarum dalam tumpukan jerami.


“Mencari bocah di kota seluas ini sama susahnya seperti saat berada di hutan aneh di ‘dunia malam’ waktu itu. Menyusahkan!”


“Ryou, pasang matamu baik-baik dan jangan sampai ada yang terlewat. Kau mengerti?”


“Jangan coba-coba memerintahku ya! Yang boleh mengaturku hanya diriku sendiri!” jawab Ryou dengan sinis


“Kau yakin? Bukankah kau punya sifat over protektif pada kakakmu? Aku yakin kau akan mendengarkan hampir semua kata-kata Kino”


“Hah?! Jangan bercanda!”


“Kau yakin? Kau yakin kau tidak mau mengakuinya?” Kaito bertanya sekali lagi karena tidak percaya pada Ryou


“……”


Reaksi Ryou yang diam menunjukkan dia mengakuinya meski terpaksa dan itu membuatnya sangat kesal. Akhirnya dia sengaja mencoba mengalihkan pembicaraan ini.


“Berhenti bicara omong kosong dan kembali ke topik kita lagi! Bagaimana sekarang?”


“Bagaimana apanya? Kita harus mencari anak itu. Kau dan aku sudah tau ciri-cirinya, sekarang tinggal dimana kita bisa menemukannya”


“Menemukan seorang anak kecil di tengah kota seramai ini hanya akan membuat waktu terbuang percuma!” protes Ryou


“Kalau mau protes, seharusnya kau mengatakan itu sebelum kita pergi tadi”


“……”


“Setelah drama yang kau buat di kolam air mancur barusan, kau sama sekali tidak berkomentar apapun. Kupikir kau benar-benar sudah setuju dengan ideku itu”


“Cih!” Ryou membuang muka ke samping sambil menunjukkan wajah tidak senang


“Jangan memberiku respon menyebalkan begitu, Ryou. Aku bukan peramal jadi aku tidak tau apakah akan berhasil atau tidak, bukankah aku sudah bilang itu tadi? Aku tanya padamu, kau percaya padaku atau tidak?”


“Tentu saja aku percaya padamu! Karena aku percaya makanya aku tidak membantahmu saat kau mengatakan kita akan mencari anak itu ke kota!” Ryou langsung menengok ke arah Kaito dan melihatnya dengan tatapan serius


Kaito terkejut walaupun wajahnya masih datar tanpa ekspresi saat mendengar jawaban itu. Dia tidak mengira Ryou akan secara sadar dan spontan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang tidak terduga.


Sejujurnya mendengar kalimat itu, Kaito merasa sangat senang meskipun dia tidak secara langsung menunjukkan ekspresinya.


Setelah beberapa saat, Kaito tersenyum dan memberinya respon.


“Begitu. Kalau begitu tenanglah. Aku melakukan ini demi kalian berdua jadi jangan protes mengenai apapun sekarang”


“Hmm” respon sederhana dari Ryou


Pencarian ini merupakan langkah pertama untuk menemukan keberadaan jam saku milik kedua kakak beradik itu. Entah akan berhasil menemukan anak itu atau tidak, yang jelas mereka harus mendapatkan setidaknya satu petunjuk.


“Menurutmu apakah Kino bisa melakukannya dengan baik? Aku masih belum sepenuhnya melepaskan rasa khawatirku” kata Ryou dengan nada serius


“Mulai lagi. Drama tadi sudah selesai kan? Kau mau membuatnya memiliki beberapa seri ya? Aku sudah lelah dengan emosimu tadi dan aku sudah katakan aku akan membutuhkan mental emosianmu itu. Jadi tolong kau simpan energimu untuk saat-saat penting”


Kaito bisa mengatakan protes dan itu adalah kemajuan pesat. Akhirnya dia bisa sedikit berargumen dan tidak hanya mendengarkan Ryou memarahinya dengan mulut pedasnya itu.


“Aku tau aku tau. Aku hanya khawatir kalau sampai terjadi sesuatu padanya”


“……”


Kaito terdiam mendengar itu. Dia tau Ryou tidak berbohong, hal itu terlihat dari matanya.


“Aku yakin dia akan baik-baik saja. Altar adalah tempat yang tepat untuknya mendapatkan informasi. Dengan otaknya yang jenius itu dan bakatnya dalam mendapatkan informasi, kau hanya perlu berdoa”


“……” Ryou mendengarkan Kaito


“Sekarang yang harus kau khawatirkan adalah keselamatan kita berdua” Kaito melirik Ryou dengan tatapan serius


“Haa…Kau menyadarinya? Kupikir kau tidak membahasnya dari tadi karena kau tidak tau”


“Tentu saja aku menyadari semua itu. Kurasa baru sekitar lima atau sepuluh menit yang lalu. Masih belum terlalu lama”


“Begitu. Lalu mau bagaimana? Apakah menurutmu tempat ini memiliki hukum?”


Sambil memegang pedangnya, Ryou sudah bersiap tetapi dihentikan oleh Kaito.


“Sebisa mungkin jangan sampai membunuh manusia untuk saat ini. Kita masih belum tau peraturan aneh lain di kota baru hasil ciptaan ‘dunia’ ini”


“Tapi kalau begini kita yang akan dirugikan! Ini tidak akan berlangsung lama jika kita membunuhnya sekarang Kaito. Hanya perlu memancingnya ke tempat lebih sepi di kota ini tidak akan jadi masalah, benar kan?” Ryou mencoba membujuk Kaito


“Aku tau itu. Tetapi aku juga khawatir jika kita membunuh manusia dari ‘dunia’ ini, hal itu akan mempengaruhi perkembangan tempat ini nantinya. Bisa jadi semua akan lebih merepotkan dibanding ‘dunia malam’. Kau mengerti kan?”


“Mustahil!. Sejauh yang kutau sejak aku dan Kino berada di ‘dunia’ aneh ini, ‘dunia malam’ ada di daftar paling atas dalam daftar ‘tempat paling menyebalkan, paling merepotkan dan paling buruk’ yang pernah aku datangi seumur hidup selain ruang konseling di sekolahku”


“Apa itu ‘ruang konseling’?”


Kaito benar-benar bertanya dengan polos dan wajah serius. Hal itu karena dia baru pertama kali mendengar kata ‘ruang konseling’. Karena ada kata ‘ruang’ dalam konteks kalimat Ryou, dia berpikir tempat itu adalah tempat dengan aliran waktu berbeda seperti yang selama ini dia datangi.


Ryou menjelaskan definisi seberapa ‘menakjubkannya’ tempat tersebut.


“Tempat yang buruknya sama dengan ‘dunia malam’. Jangan pernah berpikir untuk pergi ke sana, ingat pesanku!”


“Apa ada goblin atau satyr juga di sana?” Kaito bertanya dengan serius karena dia benar-benar penasaran


“Lebih buruk dari itu! Ada makhluk yang disebut guru berkaca mata dan berambut palsu untuk menutupi kebotakannya”


“Botak ya. Lalu?”


“Dia adalah orang yang selalu memarahiku setiap aku tidak sengaja memecahkan kaca jendela kelas ketika bermain sepak bola. Dan aku sudah masuk ke sana sebanyak tiga kali”


“Hebat juga kau masih hidup sampai sekarang”


“Benar. Itu semua berkat aktingku yang polos dan hebat”


“Apa Kino pernah berada di sana juga?”


“Mana mungkin! Kakakku adalah orang paling teladan di sekolahku. Dia bahkan sudah banyak meraih prestasi dan merupakan senjata terkuatku untuk melawan guru berkaca mata itu kalau aku dimarahi olehnya di ruang konseling”


“Hmm”


Kaito jadi mengeluarkan pujiannya untuk Ryou dalam hati.


‘Pantas saja Kino selalu mencoba menenangkan anak ini. Ternyata dia lebih liar dari goblin dan lebih sadis dari satyr yang muncul dua hari lalu. Tidak heran dia masih bisa berlari sambil batuk berdarah setelah menerima tendangan keras makhluk itu’


Dan sekarang Kaito menyesal sudah bertanya tentang hal itu kepada Ryou. Benar-benar membuang energinya.


Sudah cukup memuji Ryou dengan pujian berkelas, Kaito kembali ke topik pembicaraan yang tadi.


“Ryou, kita fokus dan serius sekarang. Aku katakan padamu sekali lagi, jangan coba-coba membunuh manusia di ‘dunia’ ini untuk sekarang. Mengerti?”


“Lalu apa yang mau kita lakukan sekarang?”


“Aku sedang memikirkannya. Untuk saat ini mereka tidak akan menyerang kita karena kita sedang berada di keramaian. Kurasa kita bisa mempertahankan diri seperti ini dulu untuk sementara waktu”


“Mau sampai kapan?”


“Sampai aku menemukan celah yang tepat. Ketika tiba saatnya, kita langsung lari secepat mungkin”


“Haa…baiklah. Aku akan menahan diri”


Sesuai dengan apa yang terjadi, Ryou dan Kaito sedang diikuti dari belakang sekarang. Meskipun mereka tidak tau persis berapa jumlahnya, namun mereka bisa merasakannya dengan jelas.


Ryou sendiri merasa aneh pada dirinya.


‘Sejak sampai ke tempat ini, aku benar-benar merasakan keganjilan pada tubuhku sendiri seperti yang dikatakan Kino. Bahkan sekarang, aku bisa merasakan beberapa indera milikku mengalami peningkatan drastis. Ini seperti…aku hampir tidak bisa melihat diriku sebagai manusia normal lagi sekarang’


**


Di belakang, ada lima orang dengan tubuh besar sedang berjalan dengan hati-hati mengikuti dua orang yang berada di depan mereka. Satu diantara dua orang tersebut memiliki ciri-ciri seperti yang dimaksud oleh Justin.


Pria dengan pedang tanpa sarung pedang.


Jarak antara mereka berlima dengan kedua orang itu cukup jauh, namun mereka tetap fokus dan tidak mengalihkan pandangan mereka sedikit pun terhadap kedua orang di depan mereka sekarang.


Kelima pria bertubuh besar itu seperti merencanakan sesuatu.


“Orang itu adalah pria yang dimaksud Justin-sama. Ternyata dia benar-benar masih ada di kota. Tidak percuma kita mencarinya ke sini”


“Apa kita harus menyergapnya sekarang?. Kita sudah berada di belakang mereka sekitar sepuluh menit sejak menemukan mereka di sini. Bukankah akan lebih baik jika mengurus mereka berdua secepatnya. Lagipula, Justin-sama hanya menginginkan pria berpedang tanpa sarung pedang itu. Anak di sampingnya bisa langsung kita bunuh di tempat”


“Tidak, masih belum. Tempat ini terlalu ramai. Jika sampai ada petugas keamanan di sini, semuanya akan lebih merepotkan. Jadi sebaiknya kita tunggu sampai mereka pergi menuju tempat yang lebih sepi”


“Tapi, aku tidak berpikir mereka akan melakukannya. Mereka terlihat seperti telah mengetahui bahwa mereka diikuti. Aku tidak bisa menemukan celah untuk menyerang mereka sama sekali”


“Kurasa mereka belum mengetahuinya. Mereka masih terlihat santai dan mengobrol, itu artinya kita masih belum ketauan. Kita akan tetap seperti ini sampai waktunya tepat”


Mereka berlima sedikit memperluas jangkauan mereka. Dua orang dari mereka mulai berjalan lebih cepat hingga hampir sejajar dengan kedua orang itu dan sisanya tetap berada di belakang.


Tiga orang yang ada di belakang mulai terlihat seperti akan berpencar. Sekarang, kedua orang yang mengikuti pria berpedang itu telah ada di depan mereka, membaur dengan penduduk lain yang lalu lalang untuk membuatnya tidak terlihat mencurigakan.


Kedua pria besar di depan mereka berbisik.


“Kita sudah berada di depan mereka sekarang. Kesempatan untuk mereka lolos dari kita hampir tidak ada”


“Yang lain juga tampaknya sudah mengepung mereka di belakang. Sisi kanan dan kiri mereka berdua telah tertutup oleh yang lain. Hanya tinggal membuat mereka terpaksa memilih jalan sepi dan kita bisa mulai menyerangnya”


**


Ryou dan Kaito masih bersikap tenang sambil terus berjalan. Terlihat seperti seakan mengobrol banyak hal, mereka seperti sengaja melakukannya.


“Seperti ini terus tidak masalah?” Ryou bertanya pada Kaito


“Tidak masalah. Sebentar lagi mereka pasti akan bergerak. Tunggu saja”


“Baiklah” Ryou menjawab dengan santai


Sebelum obrolan mereka terhenti karena kehilangan topik pembicaraan, Kaito mencoba bertanya hal lain pada Ryou.


“Boleh aku bertanya hal penting?”


“Boleh. Soal apa?”


“Apa kau dan kakakmu pernah membunuh seseorang?”


“Tentu saja tidak! Aku bukan kriminal seperti mu! Kakakku juga orang paling teladan dan pemilik sisi paling lembut di dunia. Mustahil dia mau membunuh seseorang”


“Tapi tadi kau mencoba menyarankanku untuk membunuh mereka semua yang ada di belakang? Kau pikir kau bisa membunuh manusia dengan mudah?”


Kaito bertanya hal itu karena ini berhubungan dengan sifat kemanusiaan. Bagi seseorang yang belum pernah membunuh, hal tersebut akan menjadi bagian paling sulit sekalipun sudah menyangkut keselamatannya.


Tidak salah jika Kaito bertanya hal itu pada Ryou.


“Aku tidak begitu mengerti. Hanya saja aku mulai bisa merasakan bahwa nyawaku dalam bahaya. Entah kenapa sejak datang ke tempat ini, indera-ku mengalami peningkatan dan aku bisa merasakan bahwa aku diikuti”


Ryou memberikan tanggapan pertamanya pada Kaito dan respon Kaito tergambar dari jawabannya.


“Itu tidak menjawab pertanyaanku”


“Apa kau tidak punya masalah jika disebut pembunuh?”


“Apa bedanya membunuh manusia dan monster di sini? Di ‘dunia’ aneh ini, manusia dan monster itu sama-sama berbahaya untuk hidupku. Sejauh yang kutau, hanya kau yang bisa kupercaya. Karena itu jika memang diperlukan, aku akan dengan senang hati menerima sebutan pembunuh itu di depan namaku”


“……”


Kaito diam mendengar jawaban itu. Dia mulai berpikir bahwa Ryou mungkin sudah kehilangan akal sehat dan hatinya.


“Apakah jika ada orang yang terbunuh, kau bisa merasa sedih?”


“Tergantung. Jika orang itu adalah orang baik yang kukenal atau orang yang sudah menolongku, aku akan merasa sedih dan menangis untuknya”


“……”


“Dan itu berlaku juga untukmu, Kaito. Aku dan Kino tidak ingin kau mati”


Jawaban Ryou sangat mengagetkan Kaito sekarang.


“Tapi, jika orang yang mati itu adalah orang jahat maka aku tidak akan menunjukkan ekspresiku di depan tubuh tak bernyawa milik mereka. Kalau bisa, aku mungkin akan tertawa di atas mayat mereka sambil mengutuknya sekalipun mereka sudah mati” Ryou melanjutkan jawabannya


Dengan itu, Kaito sudah bisa menyimpulkan bahwa hati Ryou telah mengalami perubahan.


‘Meskipun tidak mencolok, sekarang aku yakin dia sudah mulai sedikit kehilangan rasa kemanusiaannya. Aku merasa kemampuan bertarungnya yang meningkat secara cepat mempengaruhi emosi tersebut. Kuharap Kino tidak mengalami hal ini juga. Aku takut…’dunia’ ini mulai merubah mereka’


Di saat Kaito sedang berpikir, ada dua orang yang berjalan di samping mereka. Kedua orang tersebut adalah orang-orang bertubuh besar dengan tato yang mengikuti mereka. Dengan cepat mereka sudah berada di depan keduanya, membaur dengan orang-orang yang lalu lalang untuk menutupi gerakan mereka.


Ryou dan Kaito saling berbisik sekarang.


“Itu mereka” ucap Kaito sambil melirik


“Heh, tubuh besar bukan berarti kuat. Benar kan?”


“Lihat di pinggang mereka”


Kaito mengatakan pada Ryou untuk memperhatikan sisi samping pada pinggang kedua orang tersebut. Dia melihat sesuatu di dalam sabuk yang terpasang di sana.


“Pistol”


“Aku melihat dua orang yang mengejarku kemarin juga membawa barang serupa”


“Mereka bersenjata ya. Kaito, kau sudah pernah menghindari tembakan peluru?”


“Belum pernah. Di dunia sebelumnya, senjata seperti itu tidak pernah muncul”


“Kalau begitu kau akan menambah pengalaman baru setelah ini. Akan kujelaskan sedikit sesuai dengan pengamatanku sekarang”


“Akan kudengarkan. Kau bisa mulai” Kaito menjawab dengan serius


“Di pinggang mereka, aku bisa melihat gagang pistol yang mereka punya. Kemungkinan besar model yang mereka pakai adalah Revolver Smith and Wesson 500 Magnum dengan jumlah peluru sekitar enam butir di dalamnya”


“……”


“Diameter pelurunya 12.7 mm dengan kecepatan 495 m/sec. Jika kau percaya diri dengan kemampuan menghindar cepatmu, mungkin kau akan bisa melakukan sesuatu pada benda itu”


“Kau pernah berurusan dengan pistol itu sebelumnya?”


“Tidak pernah. Hanya tau dari game aksi yang sering kumainkan di rumah sampai tengah malam. Tapi berkat itu, aku bisa mengingat hampir semua jenis senjata api yang pernah diproduksi. Terima kasih kepada semua video gameku di rumah sekarang”


Ryou benar-benar memuji game miliknya dari dalam lubuk hati yang paling dalam.


“Lalu, seberapa fatal kerusakan yang ditimbulkan?”


“Tergantung bagian mana yang tertembak. Tentu saja jika mengenai kepala, leher atau jantung kau akan mati secara instan. Tetapi untuk bagian lain jika bisa meleset dari titik fatal kemungkinan hidup masih ada 40-45 persen”


“Tidak sampai 50 persen?” Kaito bertanya pada Ryou dengan tatapan kecewa


“Itu tergantung pada keberuntunganmu”


“……”


Sekarang Kaito memiliki masalah serius di dalam pikirannya.


‘Kalau begitu sudah bisa dipastikan sekarang. Senjata itu adalah musuh terbesarku saat ini. Itu karena keberuntunganku sangat senang melihatku menderita jadi benar-benar tidak bisa diandalkan’


Kaito melirik ke belakang dan menyadari mereka seperti terkepung.


“Mereka mengepung kita. Sepertinya sengaja ingin membuat kita terpaksa memilih jalan sepi”


“Bagus kalau begitu. Dengan begitu kita bisa membunuh mereka semua” Ryou menunjukkan tatapan tajam dan serius


“Sebaiknya kita menangkap mereka hidup-hidup dan mengintrogasi mereka”


“……” Ryou diam dan berpikir sejenak


Setelah berpikir dengan pikiran dingin, dia bicara.


“Baiklah. Menangkap mereka dan mencari tau alasan kenapa mereka mengikuti kita. Tapi tergantung situasi, kau harus mengijinkan aku untuk membunuh mereka jika memang diperlukan. Setuju?”


“Ryou, Kino akan sedih jika mengetahui adiknya telah membunuh seseorang”


“Kh…!”


Mendengar nama sang kakak disebut membuat Ryou tidak bisa menjawab apapun. Diam untuk beberapa detik, Ryou mengubah pikirannya dengan raut wajah kesal.


“Baiklah baiklah, aku mengerti!. Tidak membunuh, aku tidak akan membunuh mereka!. Puas!”


Kaito tersenyum. Dia benar-benar sudah tau kelemahan Ryou yang paling tidak bisa menolak atau melawan jika sudah berhubungan dengan sang kakak.


Sekarang kedua orang di hadapan mereka mulai memperlambat langkah mereka, sedangkan tiga orang yang terlihat terpencar mulai sedikit mendekat perlahan. Ryou dan Kaito sudah menyadari hal itu.


Jalanan yang mereka lalu memiliki banyak gang. Beberapa dari gang tersebut akan tembus ke sisi jalan lain di kota, ada pula yang semakin ditelusuri lebih dalam akan membawa mereka pada jalan buntu.


Kaito bicara dengan nada pelan.


“Di depan sana ada belokan ke kiri. Kita ambil jalan itu”


“Baiklah”


Sepertinya hal itu juga sudah direncakan kelima orang tersebut. mereka bermaksud menyergap mereka. Namun, semua itu tidak akan berjalan seperti rencana mereka.


“Kuberi aba-aba lalu kita lari ke dalam gang di depan”


“Ok. Lakukan dengan cepat, Kaito!”


Saat sudah berada beberapa inci menuju belokan gang, langkah Ryou dan Kaito terhenti. Hal itu membuat tiga orang yang berada di belakang mereka ikut berhenti. Dua orang lain yang berada di depan mereka menengok ke belakang.


“Sekarang!” Kaito berteriak dengan keras


Itu adalah aba-aba paling mengejutkan karena beberapa penduduk yang lewat jadi berhenti dan mencari dari mana asal suara teriakan tersebut. Ryou dan Kaito langsung masuk ke gang dan berlari dengan cepat.


“Sial, mereka mencoba kabur! Kejar mereka, jangan sampai lolos!!”


Kelima pria bertubuh besar itu langsung berlari mengikuti mereka. Gang itu tidak begitu lebar namun juga tidak begitu sempit. Di dalam gang terdapat banyak sekali tong sampah, tumpukan kantong sampah, tumpukan kotak kayu yang lebih dari lima kotak dalam satu tumpuk dan benda tak terpakai lainnya.


Sambil berlari, Ryou melihat sekeliling tempat itu dan mendapatkan ide.


“Oi, aku punya sedikit rencana!. Bagaimana?” Ryou berteriak sambil berlari


“Lakukan sesukamu! Kita bisa tetap pada rencana awal untuk menangkap mereka atau melarikan diri dari mereka. Yang manapun sama saja hasilnya!”


“Kalau begitu kita tetap di rencana semula tapi dengan sedikit ‘bumbu rasa’ dariku. Tidak masalah kan?”


“Terserah! Sudah kubilang lakukan sesukamu!”


Kaito menjawab seakan sudah menyerahkan semua pada Ryou tentang ‘bumbu rasa’ yang dimaksud. Mendengar jawaban Kaito, Ryou langsung tersenyum.


“Bagus kalau begitu”


Kaito terus berlari tanpa mengurangi kecepatannya tetapi hal sebaliknya dilakukan Ryou. Dia mulai memperlambat sedikit kecepatannya dan mengeluarkan pedangnya.


Kelima orang yang mengejarnya kaget dan bersiap-siap mengeluarkan senjata mereka. Namun, Ryou langsung tersenyum sinis. Saat dia masih berhasil menjaga jarak dengan mereka berlima, Ryou berhenti berlari dan berbalik.


“Yo, badan besar! Senang bertemu dengan kalian semua. Selamat pagi dariku dan…”


-SLAAASH


“Selamat tinggal!!”


“……!!”


Ryou memotong kotak kayu di sampingnya dengan pedangnya. Tumpukan kotak kayu yang tinggi itu terbelah dan mengeluarkan isi di dalamnya akibat terpotong oleh sayatan cepat pedangnya.


Isi dalam kotak itu adalah bir dan alkohol yang langsung pecah ketika jatuh ke tanah dan mengenai mereka saat keluar dari kota kayu tersebut.


Ryou tidak hanya memotong tumpukan tinggi kotak kayu tersebut, tapi juga memotong tumpukan kantong sampah di sisi kanan dan kirinya. Semua isi sampah itu keluar ke jalan dan memberikan hambatan pada langkah kaki mereka.


-Dooor…


Karena kesal dengan itu, salah seorang dari mereka mengarahkan pistol ke arah Ryou dan menembaknya. Tapi sebelum tembakan itu mengenainya, Kaito melompat dari belakang Ryou dengan memanfaatkan tong sampah di sisi samping sebagai pijakannya dan melompat ke tembok untuk berdiri di depan Ryou.


Dengan cepat dia membelah peluru itu menggunakan pedangnya dan langsung berlari ke depan menyambut mereka.


Sebelum sempat melawan, sebuah tendangan keras dilakukan Kaito ke wajah dan kepala mereka berlima.


-BUUK…BUUK…BUUK…


-CLAAANG


Ada yang jatuh dan mengenai tong sampah hingga tertimpa tumpukan kantong sampah, ada yang langsung menghantam tembok. Tendangan Kaito sepertinya sudah terasah dengan baik berkat pengalamannya melawan makhluk mengerikan di ‘dunia malam’.


Sebelum ada yang bangun, Ryou akhirnya berlari dan menendang wajah serta perut mereka dengan keras berkali-kali. Setiap tendangan darinya yang mengarah ke wajah kelimanya sengaja dilakukan begitu keras untuk memastikan mereka tidak bisa bangun lagi sementara waktu.


Kaito juga melakukan hal yang sama. Setelah menyadari mereka tidak lagi bangun, kedua orang itu menghentikan serangan mereka.


Ryou dengan cepat mengambil semua pistol mereka sedangkan Kaito memeriksa semua bagian tubuh mereka.


-KLEEK…TIING…TIING…TIING…


Ryou membuka empat pistol dan mengeluarkan semua peluru di dalamnya, sedangkan satu pistol sengaja disisakan olehnya. Setelah itu, dia mencari plastik bekas di sekitar sampah-sampah yang berserakan untuk membungkus semua peluru-peluru itu dan memasukkannya ke dalam kantong celananya.


Kaito membantu Ryou dengan membelah empat pistol di tanah menjadi beberapa bagian sehingga tidak bisa diperbaiki.


“Terima kasih sudah membantuku” ucap Ryou pada Kaito


“Sekarang kita bahkan tidak bisa membuat mereka bicara. Terima kasih pada ide gilamu itu, Ryou”


“Apa boleh buat kan?. Mereka bersenjata. Tapi sebenarnya kita masih bisa membuat mereka bicara dengan mematahkan kedua tangan mereka. Dengan begitu mereka tidak akan bisa memegang senjata”


Kaito melihat Ryou dengan tatapan aneh lalu mengatakan semua ‘pujian’ yang pernah dikatakan Ryou padanya dengan wajah dan nada datar.


“Dasar Ryou gila, tidak punya hati, sosiopat. Aku tau kau berbakat menjadi penjahat karena gabungan antara sifat sosiopat dengan psikopat yang ada dalam dirimu. Kau berbakat menjadi kriminal. Selamat, Ryou”


Sebuah 'pujian manis' dari Kaito untuk Ryou yang berujung pada sebuah teriakan dari Ryou.


******