Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 123. Air Mata dan Ikatan Persaudaraan



“R–Ryou?! Ada apa?” Kino terkejut karena sang adik menangis dalam pelukannya


“Hiks…jangan membenciku. Kumohon jangan membenci adikmu ini. Hiks…maafkan aku…maafkan aku…”


“Ryou? Kenapa? Kaito-san, apa yang sebenarnya–”


“Maafkan aku, Kino” Kaito ikut menundukkan kepalanya dengan raut wajah menyesal


Kino hanya mencoba untuk tenang sambil mengusap-usap punggung sang adik.


“Aku tidak akan membencimu. Kenapa Ryou mengatakan hal yang aneh?”


“Hiks…hiks…”


Ryou tidak mengatakan apapun selama beberapa menit dan hanya menangis di pelukan sang kakak. Kino tidak bisa mendengarkan tangisannya dan menunggu sampai dia berhenti.


“Ryou…” Kino memanggil sang adik


“Hiks…hiks…”


“Ryou…”


“Hiks…hiks…”


“Haaah…Ryou, kalau kamu memelukku seperti ini terus…aku bisa tercekik”


Mendengar hal itu, Ryou langsung melepaskan pelukannya dan melihat wajah sang kakak. Air mata masih terus mengalir.


“Lihat, sudah baik-baik saja kan? Jangan menangis lagi ya” Kino menghapus air mata Ryou dengan tangannya


Sebelum dia selesai menghapus air mata itu, Ryou memegang tangan sang kakak dengan erat dan kembali menangis.


“Aku…minta maaf…hiks…aku bukanlah adik yang baik untukmu”


“Kenapa bicara begitu? Ryou adik yang baik untukku dan–“


“Adik yang baik tidak akan menjadi pembunuh!!” Ryou berteriak


“……” Kino hanya terdiam tanpa merubah ekspresinya


“Aku…aku pembunuh sekarang. Aku membunuh seseorang dan aku…aku telah menjadi pembunuh sekarang!”


“……” Kino hanya mendengarkan adiknya menangis di hadapannya


“Kino, aku juga minta maaf padamu”


“Kaito-san…”


“Ini semua salahku. Jika saja aku bisa mengendalikan diriku saat itu…jika saja aku memperhatikan Ryou saat itu, ini semua tidak akan terjadi” Kaito menyalahkan dirinya sendiri


“Ini bukan salahnya, ini salahku!”


Ryou menceritakan semuanya pada Kino.


“Saat itu…ketika aku mengejar Theo yang keluar dari bar, aku bertemu dengan anak-anak lain. Hiks…saat aku mendengar dari mereka bahwa kau diserang dan terluka akibat perbuatan Justin, aku sangat marah dan tidak bisa mengendalikan emosiku. Hiks…aku…”


Genggaman tangan Ryou semakin kuat. Kino hanya terdiam dan tidak merubah ekspresinya sama sekali.


“Kino, aku juga bersalah. Aku sudah mengatakan pada Ryou untuk mengendalikan dirinya sendiri agar tidak kehilangan sisi kemanusiaannya. Tapi, sejak orang yang menyiksa anak-anak itu bukanlah manusia berhati baik jadi kupikir aku bisa melakukan sesuatu dengan mengabaikan sisi kemanusiaanku sendiri”


“Kaito-san…”


“Tuan bartender tidak menceritakan semua kejadian di bar padamu. Saat aku bertarung dengan Justin dan membuatnya hampir mati, dia masih hidup. Ketika aku dan tuan bartender membawanya ke dalam ruangan di bar sebelum Ryou dan anak-anak itu datang, dia masih bernapas meskipun kedua lengannya telah kupotong” lanjut Kaito


“Lalu…aku yang membunuhnya! Aku membunuhnya dengan tanganku sendiri. Hiks…”


“Ryou…”


Kaito terlihat begitu menyesal mendengar pengakuan dari Ryou. Dia benar-benar merasa bertanggung jawab pada semua hal yang terjadi.


“Saat aku dengar dari Kaito bahwa iblis bernama Justin itu ada di dalam ruangannya, aku masuk ke dalam. Meskipun sempat dihentikan oleh Kaito, tapi…tapi aku…aku melakukannya karena aku marah!! Aku marah karena dia melibatkanmu dan membuatmu terluka!! Aku benci padanya dan…hiks…aku membunuhnya…hiks…” Ryou mengakui semuanya


Kino mencoba melepaskan genggaman tangan Ryou darinya. Akan tetapi, begitu tangannya berhasil dilepas, Ryou memeluknya kembali dengan histeris.


“Jangan membenciku! Aku mohon, maafkan aku! Aku melakukan ini untukmu! Jangan membenciku, kumohon! Nii-san…hiks…maafkan adikmu yang telah menjadi pembunuh ini, tapi…tapi aku melakukan ini demi menyelamatkanmu! Maafkan aku, maafkan aku…aku minta maaf”


Kaito yang mendengar itu hanya bisa menahan air matanya sampai matanya memerah.


‘Jika bukan karena kecerobohanku, ini semua tidak akan terjadi’ Kaito menyalahkan dirinya sendiri


Kino hanya memejamkan matanya dan mengelus lembut rambut sang adik sambil tersenyum.


“Aku sangat beruntung memiliki adik yang baik sepertimu, Ryou”


“……!!!” Ryou terkejut dan melepaskan pelukanya


“Aku minta maaf karena membuatmu merasakan hal buruk seperti itu. Maafkan aku karena telah menjadi kakak yang lemah”


“I–itu tidak benar! Nii-san tidak–”


“Ryou bukanlah pembunuh. Ryou adalah penyelamat. Kaito-san juga tidak membunuh. Aku tau kalian berdua yang mengalahkan penjaga gerbang itu juga, benar kan?”


“……!!!” Kaito menatap Kino dengan tatapan terkejut


“Aku tau ada sesuatu yang disembunyikan dariku, tapi aku yakin semua itu demi menolongku. Aku menyesal karena sudah membuat kalian berdua merasakan hal seperti ini. Kumohon, berhentilah menyalahkan diri kalian”


Kino tersenyum dengan air mata yang mengalir. Dia menangis. Memikirkan bahwa dua orang yang sangat peduli padanya sampai melakukan hal berbahaya seperti itu membuatnya begitu sedih dan terharu.


“Terima kasih karena sudah melakukan semua hal demi menolongku. Aku…berhutang banyak pada kalian berdua. Terima kasih banyak”


Ryou kembali menangis dan tidak bisa menghentikan air matanya. Suasana di tempat tersebut berubah menjadi haru.


Di balik pintu, Arkan ternyata tidak pergi dari sana dan mendengarkan semuanya dari luar. Dengan menutup mulutnya menggunakan satu tangannya, dia berdiri dengan tangan gemetar.


‘Mereka…’


Dalam hati, Arkan berpikir bahwa apa yang didengarnya adalah sesuatu yang terlalu mengharukan.


Setelah itu, dia mulai berjalan ke bawah menuju pintu keluar untuk duduk di sebuah kursi di dekat sana.


**


Di dalam ruangan, Kino masih terus mengelus-elus rambut sang adik.


“Jangan menangis lagi. Kalau Ryou menangis, aku akan ikut menangis” ucap Kino dengan senyuman


“Nii-san…”


“Rasanya, sudah lama sekali Ryou tidak memanggilku begitu. Jarang sekali Ryou menjadi mode manja seperti ini”


Kino menghapus air matanya sendiri. Setelah itu, dia menghapus air mata sang adik kembali.


“Coba lihat adik kecilku ini. Biasanya mulutnya penuh dengan kalimat menyakitkan hati orang lain, tapi sekarang dalam mode manja seperti ini. Manisnya” ucap Kino sambil tersenyum seraya menggodanya


“……” Ryou hanya diam


“Kaito-san juga. Wajahmu tidak berbeda dengan Ryou sekarang”


“Anggap saja aku sedang dalam mode menyesal sekarang. Kau bisa mengabaikanku” jawab Kaito dengan senyum tipisnya


Kino hanya tersenyum dengan wajah memerah. Dia kembali melihat sang adik yang mulai mirip dengan anak kucing.


“Sudah selesai?” Kino bertanya pada sang adik


“Apanya?”


“Pengakuan dosamu” jawab Kino sambil menggodanya


“…Ma–masih ada lagi yang lainnya, tapi–”


Kaito memotong pembicaraan Ryou dengan kalimat yang di luar dugaan.


“Bukankah kau mau bersujud sambil membacakan daftar panjang dosa-dosamu pada Kino, Ryou?”


“Bersujud?”


“A–apa yang kau…”


Ryou melirik ke arah sang kakak dan wajahnya langsung memerah seperti tomat karena malu.


“Itu…um…”


“Memang sepanjang apa daftar dosa milik Ryou selama aku tidak berada di dekatmu?”


“Hanya…hanya sepanjang…sepanjang…Ei! Orang sakit jangan menggodaku ya! Kau juga jangan bicara macam-macam Kaito!” Ryou jadi membentak Kaito sambil menunjuk wajahnya


“Kau sendiri yang mengatakannya. Aku hanya mengingatkan padamu kalau kita masih ada hutang pengakuan sambil bersujud” Kaito menjawabnya dengan sangat santai tanpa dosa


“Kau tidak mengatakan hal itu! Kau kira aku tuli! Kau hanya mengatakan aku yang harus minta maaf sambil bersujud dengan daftar dosaku!”


Kaito mulai berubah, dari mode menyesal menjadi mode pertahanan diri dari makian Ryou. Sekarang, keduanya saling berhadapan dengan wajah siap menyerang mental lawannya.


“Oi, kau lupa ya? Kau sendiri yang bilang saat kita di pasar gelap. Kau bilang kalau kau akan minta maaf padanya sambil membacakan semua daftar dosa yang kau buat! Sekarang, aku tanya padamu dimana daftar yang seharusnya kau tulis?”


“Aku…aku memang bermaksud menulisnya–“


“Banyak alasan” Kaito memotong kalimat Ryou dengan nada datar


“Oi! Jangan mengatakan semua hal buruk yang kulakukan itu murni hanya aku yang salah ya! Tidak seperti dirimu yang tidak mengakui bahwa dirinya krimi…ukh, creamy puff!”


“Kau mau memanggilku apa tadi?”


“Tidak ada” kali ini, Ryou yang menjawab dengan wajah polos


“Bohong! Ingat ya, yang bisa menghinaku dengan sebutan kriminal hanya Kino! Kau juga sudah jadi kriminal sepertiku! Jangan coba-coba memanggilku dengan sebutan itu lagi ya”


“Asal kau tau, aku masih ada satu sebutan lagi yang sampai kapanpun akan melekat padamu!”


“Apa maksudmu itu?”


“Dasar sosiopat! Orang hilang ingatan yang menyebalkan! Wajah yang masuk dalam kategori pencarian buronan!”


“Yang kau sebutkan itu tiga, bukan satu! Dasar remaja dunia lain yang tidak normal!”


“Hei! Kau lupa, kau sendiri yang bilang kalau aku dan kakakku itu sudah keluar dalam daftar manusia normal yang kau tau!”


“Kutarik ucapanku, Kino normal tapi kau tidak!”


“Apa katamu?!”


“Apa maumu?!”


Di ruang rawat pasien, terjadi pertarungan sengit antara dua remaja yang tidak mau mengalah satu sama lain. Selain itu, pasien di ruang tersebut hanya bisa menatap mereka dengan wajah syok.


“Bukankah…beberapa waktu yang lalu kita masih dalam keadaan terharu dan menangis? Kemana semua momen itu pergi?” Kino bergumam sendiri dengan suara pelan


Sedangkan kedua orang itu masih sibuk dengan perang mulutnya.


“Aku sudah tidak mau terus menjadi korban dari mulut pedasmu itu, Ryou”


“Heh! Memang kapan kau bisa memang dariku?”


“Aku akan senang sekali jika bisa menguncimu di dalam toilet ruangan ini. Atau paling tidak, membiusmu agar kau tidak banyak bicara”


“Lakukan kalau bisa?! Kau itu hanya remaja labil yang punya selera buruk!”


“Um…teman-teman…”


Kino berusaha untuk memanggil mereka yang masih sibuk dengan perang mulutnya, tapi dihiraukan.


“Teman-teman…” sekali lagi dia memanggil mereka


Dan kembali dihiraukan.


“Kalian berdua, jika tidak tenang sebaiknya keluar dari ruangan ini dan biarkan aku yang sakit ini istirahat”


-Deg


Ryou dan Kaito langsung melihat ke arah Kino yang tersenyum manis pada mereka berdua.


“Kalau tidak tenang, silahkan kalian keluar dari sini. Pintunya ada di sana dan kalian bisa langsung membukanya”


“Kino…”


“Nii-san”


“Aku memintanya dengan sopan, kan? Dan Ryou…meskipun kamu sedang dalam mode manja sekalipun, kalau berisik dan terus mengatakan hal yang kasar pada Kaito-san…aku tidak akan mengizinkanmu di sini untuk menemaniku. Apa kamu mengerti, adikku?”


“……”


Senyuman ramah Kino bisa diartikan sebagai senjata paling tajam yang membuat Ryou dan Kaito terdiam seketika.


Kedua orang itu akhirnya sepakat pada satu hal yang sama.


‘Marahnya orang ramah itu ternyata sangat mengerikan’


Demikianlah akhir dari pertarungan sengit tersebut. Sungguh hasil yang di luar dugaan karena pemenangnya adalah Kino, sang pasien yang menjadi pendengar setia semua makian itu.


******