
Ini adalah sebuah ingatan dari Kaito. Sebuah ingatan yang dimulai saat dia membuka matanya.
“Mm…”
Perlahan-lahan, dia membuka matanya. Dilihatnya sebuah atap kayu dengan ornamen indah yang belum pernah dilihatnya. Dia mencoba melihat ke kanan dan kiri namun sulit karena luka yang terasa sakit pada bagian tangan kanan dan perutnya.
“Kh…sakit…”
Mencoba untuk bangun, pemuda itu menahan sakit di perutnya. Dia menyadari lukanya telah terobati dan pakainnya telah berganti.
“Dimana…aku? Akh, kepalaku…kenapa?”
Pemuda itu mencoba mengingat sesuatu, tapi jangankan untuk mengingat.
-Deg
Ketika dia mencoba baru berniat melakukannya, kepalanya seperti akan pecah, jantungnya berdetak kuat. Ada sesuatu yang aneh padanya.
‘Na–napasku…ke–kenapa napasku terasa sesak?! Aku tidak…aku tidak bisa mengingat apapun! Kepalaku sakit! Kenapa!’
Di dalam pikirannya, dia hanya bisa merintih dan bertanya kenapa.
Pemuda itu tidak bisa melakukan apapun. Keringat mengalir membasahi tubuhnya dan seketika seluruh pakaiannya mulai basah karena keringatnya. Lukanya seakan terbuka namun rasa sesak itu tidak bisa tertahankan. Ada sesuatu yang seakan menekannya.
“Kaagh…” sekarang dia merasakan lehernya seperti tercekik
Dia meronta-ronta menahan sakit. Berguling beberapa kali sampai tubuhnya lunglai dan lemas, kesadarannya semakin memudar. Dia pingsan dengan kondisi yang memprihatinkan.
Ketika membuka mata, dia melihat bayangan buram seseorang. Seseorang yang memegang tangannya dengan lembut. Seperti ada sesuatu yang diucapkan olehnya tapi dia tidak mendengarnya.
‘Apa…yang diucapkannya? Aku tidak…mendengarnya. Siapa…itu?’
Pemuda itu hanya bertanya dalam hatinya sambil mencoba melihat sosok yang menggenggam tangannya dengan lembut. Perlahan-lahan matanya mulai menutup. Sebelum menutup matanya, dia sempat mendengar suara yang seakan berbisik.
“Tidurlah, semua akan baik-baik saja”
Hanya kalimat itu yang terdengar di telinganya. Kalimat lembut yang cukup untuk membuatnya kembali memejamkan matanya.
Ada ketenangan tersendiri dalam tidurnya saat itu, namun semua berubah.
***
“Kumohon bangunlah! Kita sudah berjanji untuk bersama. Apa gunanya keluar dari tempat ini jika tidak bisa bersamamu! Hiks… hiks…”
Tangisan seseorang namun tidak terlihat seperti apa rupa orang itu. Berkali-kali suara itu mengulangi kata-kata yang sama. Tiba-tiba terdengar suara ledakan besar dari dalam rekam kejadian itu diikuti oleh cahaya terang yang sangat menyilaukan.
“Siapa itu? Apa itu aku? Siapa yang ada di sana? Apa yang aku lupakan?”
***
Di pagi hari yang cerah, sinar matahari pagi mulai masuk dari pintu yang terbuka lebar. Ruangan dengan kayu sebagai bahan utama serta pintu kayu dengan lapisan kertas tradisional ala negeri timur mendominasi model rumah tersebut.
Terlihat sosok bayangan seseorang yang sedang menunggu pemuda itu bangun. Dia mulai tersenyum saat melihat pemuda itu membuka matanya perlahan.
“Mmm…ah…dimana ini?” tanya pemuda yang baru saja mengalami mimpi aneh
“Selamat pagi. Ini di rumahku. Kau lapar tidak?” suara itu langsung bertanya hal utama tanpa perlu basa-basi
“Hmm?!” pemuda itu terkejut dan langsung bangun
“Jangan bangun dulu, nanti tubuhmu tidak kuat menahan rasa lapar”
Mendengar ada seseorang yang mendekatinya seperti itu, dia langsung panik dan mundur dari tempat tidurnya.
“Siapa kau?! Ini dimana? Apa yang kau lakukan padaku?”
“Pertanyaanmu banyak sekali. Pertama, aku yang menolongmu. Kedua, ini di rumahku. Ketiga, aku menolongmu. Puas?”
“……” pemuda itu terdiam
Yang ada di hadapannya adalah sosok perempuan muda yang sangat cantik, berkulit putih dengan rambut lurus terurai melebihi pundak dan berpakaian tradisional. Pakaiannya mirip seperti hanfu atau kimono.
“Kamu sudah baik-baik saja, kan? Aku sudah menjawabmu. Sekarang kamu harus mendengarkanku”
“Aku…aku…”
-Kruuuuk
“……!!!” pemuda itu terkejut dengan suara yang diciptakannya
“Ahahahaha, perutmu terlalu jujur. Aku senang aku bertanya. Ayo makan dulu, kamu harus makan agar perutmu jinak”
“……” pemuda itu hanya bisa menurut demi perut
Tempat itu adalah sebuah rumah luas seperti rumah adat di negeri timur, dengan halaman luas, kolam dan jembatan kecil yang membentang, pohon dan bunga serta langit cerah.
Di tempat seluas itu, pemuda yang tidak tau siapa dan dimana dia harus tinggal dengan seorang perempuan cantik berdua. Ini jelas membuatnya cukup panik. Tapi tampaknya, perempuan itu tidak menganggapnya masalah.
Pemuda itu mengikuti perempuan cantik itu dari belakang. Dia sempat melihat-lihat halaman yang luas dan indah di sana.
“Ini benar-benar…rumahmu?” tanya pemuda itu
“Benar. Ini rumahku. Sedikit informasi bahwa semua ini adalah milikku. Bukan hasil rampokan dan bukan tanah warisan”
“Aku tidak perlu tau sampai detail begitu, kan?”
“Kamu akan bertanya lagi jadi sekalian saja aku jawab”
“……” pemuda itu terdiam
Meskipun dia tidak mengerti kenapa dia bisa sampai di tempat itu, tapi pemuda itu memilih untuk melihat keadaan sekitarnya sebelum bertindak. Ditambah lagi, luka yang dialaminya masih belum sembuh jadi kemungkinan untuk bertarung sangatlah tipis.
“Kita sampai”
Perempuan itu membuka pintu slide kayu ruangan tersebut. Di dalamnya terdapat meja makan dan bantal duduk di lantai, lantai kayu bersih dan makanan enak yang asing di matanya.
“Ini…”
“Ruang makan. Aku sudah bilang padamu kalau perutmu pasti lapar, kan? Ayo” perempuan itu tersenyum
Pemuda itu duduk bersama perempuan cantik yang menolongnya.
‘Ini…apa? Aku tidak tau apa namanya tapi sepertinya ini…ini enak’ pikir pemuda itu dalam hati
“Ehem, ini adalah sarapan kesukaanku. Nasi dengan sup sayur isi daging dan…telur gulung! Aku mau memamerkan karya terbaikku setelah percobaan gagal sebanyak 14 kali”
“Apa?” pemuda itu tercengang
“Telurnya…kemarin terlalu asin, dua hari lalu terlalu manis dan hari ini sempat gosong 5 kali. Tapi tenang saja! Aku percaya diri pada kemampuan memasakku sekarang dan aku yakin yang ini enak”
“……” pemuda itu menatap ke arah makanan di atas meja
‘Perempuan ini…aku yakin dia sedang melakukan percobaan pembunuhan padaku’ gumamnya
Perempuan itu melihat tatapan penuh rasa curiga dari pemuda yang baru ditolongnya.
“Kamu jangan seperti itu ya! Aku sudah susah payah membuatnya sendiri tanpa bantuan siapapun dan apapun jadi sebaiknya kamu cicipi”
“Kamu ini tidak sopan sekali ya. Sudah kubilang aku percaya diri pada kemampuan memasakku, masih kamu ragukan?” perempuan itu cemberut
“Kau gagal 14 kali, kan?”
“Um…dipotong jadi 10 kali saja….aku gagal 10 kali, 4 kali setelah itu bonus” ucap perempuan itu sambil tersenyum
“……” pemuda itu menolak menerima candaan perempuan itu
Meski senyumannya sangat cantik dan manis, namun hal itu tidak membuat pemuda itu lengah sama sekali. Sedikit perdebatan itu semakin membuat perut pemuda itu berbunyi semakin keras.
“Sudahlah, kita makan saja ya. Kalau mau tambah, aku masih ada banyak”
Perempuan itu mengambilkan nasi dalam mangkuk kecil untuk pemuda itu. Alat makan yang digunakan adalah sebuah sumpit kayu dengan ukiran yang tidak pernah dilihatnya.
“Bagaimana makan dengan ini?” tanya pemuda itu
“Hmm? Kamu belum pernah memegang kuàizi ya? Ya sudah, ganti sendok saja. Tunggu sebentar ya”
Perempuan itu berdiri dan pergi sebentar. Tidak lama setelah itu dia kembali dengan sendok dan garpu.
“Pakai ini agar bisa makan” perempuan itu memberikannya pada pemuda itu
Kali ini mereka benar-benar akan makan.
“Selamat makan~” ucap perempuan itu sambil tersenyum
“Se–selamat makan” pemuda itu meniru ucapannya
Saat telur gulungnya masuk ke mulut mereka, mereka cukup terkejut karena rasanya sangat…
“Asin” pemuda itu mengerutkan keningnya
“Hiks…”
“Ini terlalu asin untuk disebut asin biasa. Ini asin sekali”
“Maafkan aku” perempuan itu terlihat menangis memakan masakannya
“Berapa banyak garam yang kau masukkan?”
“Tiga…”
“Tiga apa?”
“Tiga sendok kecil. Tapi sendoknya benar-benar kecil, aku tidak bohong!” perempuan itu mencoba membela diri
“Itu terlalu banyak” ucap pemuda itu dengan wajah aneh
“Hiks…kukira garam bagus untuk kesehatanmu yang lemas karena tidur selama tiga hari”
Pemuda itu terkejut mendengar ucapan perempuan itu.
“Tiga hari?! Aku tidur selama tiga hari?”
“Benar. Kamu tidur seperti bongkahan kayu yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bangun. Padahal aku sudah menyembuhkanmu dengan kemampuan penyembuhanku tapi sepertinya kamu lebih lelah dari yang aku pikirkan” jawabnya sambil memainkan telur gulung yang ada di piring
Pemuda itu tampak syok. Dia tidak menyangka bahw dia tidur selama tiga hari. Tapi sensasi rasa sakit dan cekikan itu nyata.
“Apa kau tau apa yang terjadi padaku?! Bagaimana aku ada di sini dan kenapa aku bisa merasakan hal mengerikan itu?! Katakan, apa kau mengetahui sesuatu?!” pemuda itu mendesak perempuan itu
Setelah terdiam beberapa saat, perempuan itu terlihat serius.
“Kamu…berasal dari tempat yang sangat jauh dari sini. Kamu terlempar dari ‘duniamu’ dan berakhir di sini”
“Terlempar dari…dunia?” pemuda itu syok mendengarnya
“Benar. Bisa dibilang kalau kamu bukan dari negeri ini dan berasal dari tempat asing”
Sorot mata perempuan cantik itu mulai sangat serius. Pemuda itu hampir berteriak tidak percaya tapi niat itu dihentikan. Tidak lama setelah itu, sorot mata tajam perempuan itu mulai memudar berganti dengan wajah sedih dan mata merah.
“Hiks…kita bicarakan itu nanti saja. Bagaimana dengan sarapan kita ini? Hiks…aku tidak mau makan telur asin…”
“Ekh…” pemuda itu langsung berubah aneh
Perempuan itu melihat pemuda di depannya.
“Nee, kamu bisa memasak tidak?”
“Hah?” pemuda itu tidak percaya pada pada yang didengarnya. Dia lantas bertanya kembali, “kau ingin aku memasak makanan untukmu? Kau tidak ingat kalau aku baru saja bangun?! Aku ini sedang terluka?!”
“Tapi kamu juga lapar, kan? Hiks…kalau aku yang memasak lagi, bisa-bisa kita tidak makan nanti” perempuan itu memelas
“Kau tidak serius, kan?” pemuda itu semakin melihat perempuan itu dengan wajah sinis
“Aku serius. Sup dagingnya tidak asin, kan? Telur! Aku ingin telur gulung dan kamu harus membuatkannya. Harus buat, harus buat, harus buat!” dan sekarang perempuan itu merengek pada orang yang ditolongnya
Pemuda itu mulai melihat perempuan cantik itu dengan tatapan jijik dan kesal. Rasanya seperti tidak percaya bahwa dia adalah orang yang telah menolongnya.
‘Sepertinya ini akan menjadi sangat merepotkan. Perempuan ini…wajahnya saja yang cantik tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Aku benar-benar ditolong oleh orang ini? Kenapa aku jadi meragukannya?’ pikir pemuda itu dalam hati
******
Di dalam ruangan yang disewa oleh ketiga remaja itu, terdapat dua orang remaja yang duduk terpaku.
Wajah mereka terlihat sangat bingung sampai-sampai tidak bisa berkata apapun. Setelah mendengar seseorang meminum tehnya, mereeka mulai bicara.
“Kau…ditolong oleh orang seperti itu, Kaito?” tanya Ryou dengan nada tidak percaya
“Benar”
“Serius?”
“Benar”
“Dia bahkan gagal memasak telur gulung sebanyak 14 kali?”
“Benar”
“Dan dia berani merengek padamu untuk dibuatkan telur gulung?”
“Benar”
“Ah…”
Kino dan Ryou saling melihat satu sama lain dengan wajah datar. Tatapan aneh itu terjadi beberapa kali sampai akhirnya Ryou berkata padanya.
“Aku turut berbela sungkawa. Ternyata, mentalmu sudah diuji sejak pertama kali bertemu dengannya”
“Terima kasih” jawab Kaito santai sambil memimum tehnya
Sungguh sebuah awal cerita yang sangat tidak disangka oleh kedua kakak beradik itu.
******