
“Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan penjelasanmu itu, Arkan!. Berikan jawaban dalam 5 kata yang dirangkai menjadi sebuah kalimat…sekarang!”
Arkan yang masih setia memegangi kantong bekal di tangannya mencoba menenangkan pikirannya yang masih sulit untuk ditenangkan.
“Baiklah. Dengarkan aku baik-baik. Nyawa Kaito dalam bahaya sekarang, puas?”
Ryou mendapatkan jawaban dari Arkan sesuai dengan keinginannya. 5 kata yang dirangkai menjadi sebuah kalimat. Tentu saja orang yang disebut Arkan menjadi syok dan bingung.
“Apa maksudmu, tuan bartender?” Kaito bertanya dengan ekspresi bingung
“Jadi–“
Belum selesai merangkai kelanjutan penjelasannya, kalimat Arkan sudah dipotong terlebih dahulu oleh Fabil.
“Arkan-niichan, wanita itu…dia yang menyerang Kino-niichan dan membuatnya terluka seperti ini!!”
Ryou yang mendengar itu tentu sudah mengetahuinya bahwa orang yang telah menyakiti kakaknya adalah wanita di depannya. Dia sudah sangat emosi dan mencoba menahan dirinya karena Kaito langsung memegang lengannya agar dia tidak bertindak gegabah.
“Jangan memulai, Ryou. Dia berbahaya seperti yang kukatakan padamu” bisik Kaito
“Tapi dia sudah menyakiti kakakku!” Ryou menjawab dengan tatapan penuh kebencian
“Aku ingin mendengar penjelasan dari tuan bartender mengenai ucapan wanita itu. Sebaiknya kau juga mendengarkannya sebelum bertindak”
“Kau kira aku akan menunggu untuk–“
“Kau harus bisa belajar untuk membaca situasi, Ryou. Sepertinya wanita itu cukup menghargai perkataan tuan bartender sehingga tidak menyerang kita sekarang. Sebaiknya kau menurut kali ini” kata Kaito yang menguatkan genggamannya pada lengan Ryou
Arkan mengerti situasi sulit ini. Dia masih belum mengerti beberapa hal jadi dia mencoba untuk mengatakan semua hal yang dia ketahui dengan cepat.
“Jangan memotong pembicaraanku terlebih dahulu! Aku ke sini ingin mencari kedua anak itu karena mayat Justin bisa membebaskan mereka dan membatalkan semua transaksinya yang lain”
“Artinya kedua anak ini bisa kembali pulang ke bar?” tanya Kaito dengan wajah tenang
“Benar. Setidaknya itulah yang aku–“
“Tapi kita datang ke sini untuk membebaskan tiga orang yang mereka bawa” Ryou dengan tegas dan emosi langsung memotong perkataan Arkan
Baru kurang dari 15 detik Arkan mengingatkan mereka untuk tidak memotong pembicaraannya dan sekarang Ryou sudah melakukannya. Meski begitu, hal yang ditekankan oleh Ryou masuk akal. Karena sebenarnya, hal itulah yang ingin dibahas oleh Arkan.
“Aku tau kalau awalnya kita bermaksud menukar mereka bertiga dengan mayat Justin tapi…aku masih sedikit penasaran dengan hasil akhirnya karena Jack-sama hanya mengatakan kedua anak-anak itu yang kembali bukan tiga” Arkan mencoba menjelaskan dengan panik
“Itu artinya pertukaran ini tidak berlangsung sesuai keinginan, begitu maksudmu?” Kaito mulai menatap tajam wajah Arkan yang panik
Penjelasan Arkan mulai menyulut emosi Ryou naik dan dengan kesal dia mulai berjalan dan mengeluarkan pedangnya.
“Ma–mau apa kau dengan senjatamu itu, Ryou?” tanya Arkan dengan wajah pucat dan semakin panik
“Aku akan memotong leher wanita itu”
“Oi!!”
“Dia sudah menyakiti kakakku dan–“
Kaito menghalanginya dengan mengeluarkan pedangnya juga dan menghunuskannya ke arah Ryou.
“Aku sudah bilang untuk tetap tenang, Ryou. Ini masalah serius dan di depan kita ada orang yang jauh lebih kuat dari kita. Aku masih bertanggung jawab untuk keselamatanmu dan Kino jadi jangan membuatku bekerja melebihi kemampuanku”
Kaito sudah kehabisan cara untuk memberitau Ryou secara halus karena emosi remaja itu sudah tidak terbendung.
Melihat itu, Stelani dan Fabil menjadi sangat takut dan menghampiri Ryou.
“Ryou-niisan, kumohon tenangkan dirimu. Dia berbahaya! Kau harus tenang! Ingat, kita harus menyelamatkan Kino-niisan”
“Kau harus tenang, Ryou-niichan!”
“……” Ryou tidak melihat kedua anak itu sama sekali
Kaito tidak menurunkan pedangnya dan bertanya pada Arkan.
“Tuan bartender, aku dengar kalau wanita itu ingin bertemu denganku. Apa maksudnya itu?”
“Itu–“
“Nee, Arkan…sudah selesai bicara belum? Aku ingin bertemu dengan temanmu itu”
Dari arah belakang Arkan, Seren memanggilnya karena merasa sudah tidak sabar. Wajah Arkan semakin terlihat tidak sehat dan menjawab wanita itu.
“Jangan bergerak dari sana, Seren-sama. Aku mohon tunggulah sebentar lagi!”
“Hmm….baiklah”
Kaito mulai melirik wanita yang melemparkan senyum manis dan menyapanya dengan lambaian tangan. Sekarang, Kaito melihat Arkan kembali dengan tatapan sinis.
“Katakan padaku” desak Kaito
“Kau membunuh penjaga gerbang itu, iya kan?”
“Bukan aku, tapi kami berdua. Aku dan Ryou yang melakukannya” jawab Kaito dengan tegas
“Tapi kau yang memenggal kepalanya, benar kan?”
“Itu benar”
“Iblis wanita itu ingin sekali bicara denganmu mengenai hal itu. Sejak kau juga yang membunuh Justin, dia ingin sekali….me–me–mengenalmu lebih dekat?”
“Kau ingin menjodohkan aku dengan iblis?” tanya Kaito dengan nada ketus
“Bukan itu maksudku!”
Sudah cukup basa-basinya, Kaito langsung berjalan dan membisikkan sesuatu pada Arkan.
“Tuan bartender, kami ingin mengeluarkan teman kami yang terluka parah dari sini. Jaga kedua anak ini dan pikirkan cara terbaik yang kau punya”
“Apa?! Kau gila! Aku saja masih belum sepenuhnya tau hasil pertukaran yang baru saja kulakukan! Selain itu, kunci gerbang itu ada pada iblis wanita itu! Tidak mudah keluar dari sini tanpa kunci!”
“Kalau begitu pikirkan cara untuk mendapatkan kuncinya”
“Ka–“
Kaito meninggalkan Arkan dan bicara pada Ryou.
“Aku ingin kau fokus pada cara untuk mengeluarkan kita semua”
“Kau tidak bisa menghentikanku membunuhnya” Ryou menjawab dengan nada marah
“Tapi keselamatan kakakmu harus lebih utama. Ingat kalau kau masih harus sujud dan menangis di hadapannya”
Sambil terus memasang wajah dingin dan meningkatkan kewaspadaannya, Kaito berjalan mendekati wanita itu.
Dengan tetap menjaga jaraknya, Kaito yang masih menggenggam erat pedangnya bertanya pada wanita itu. Seren menyambutnya dengan senyuman sedangkan Kaito meresponnya dengan wajah yang tidak bersahabat.
“Kudengar kau ingin bertemu denganku. Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?”
Seren yang tersenyum senang dan terlihat merona akhirnya berlari mendekatinya. Namun, tidak lama setelah itu, Kaito mengarahkan pedangnya kepada wanita itu dengan tatapan dingin.
“Eh?” wanita itu kaget
“Jangan coba mendekatiku lebih dari ini atau aku akan mengambil tindakan tegas!”
“Apa…kau yang bernama Kaito?” tanya wanita itu dengan senyum yang masih belum hilang dari wajahnya
“Anggap saja aku berjalan menemuimu dengan jarak ini karena aku adalah orang yang kau cari. Sekarang, katakan apa yang kau inginkan dariku?”
Seren mengangkat kepala Will dan membaliknya untuk menunjukkan bekas penggalan pada bagian bawahnya.
“Ini kau yang melakukannya?” tanya Seren dengan nada senang
Seketika, kedua anak itu langsung memeluk Arkan karena takut. Arkan sendiri jadi semakin merasa bahwa mentalnya telah jatuh.
‘Dia benar-benar sudah tidak waras!’ Arkan memaki Seren dalam hati
Ryou yang melihat itu menjadi emosi kembali. Dia masih mengingat dengan jelas penjelasan anak-anak itu tentang luka Kino dan apa yang dia lakukan padanya.
Kaito tidak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu, sejak dia mengetahui bahwa dia sedang berurusan dengan iblis berwujud manusia.
“Kenapa? Kau ingin membalas dendam karena aku telah membunuh karyawanmu?”
“Eh~kenapa aku harus marah dan ingin balas dendam? Aku ingin kau tau bahwa aku sangat memuji hasil kerjamu ini”
Mendengar hal itu, Ryou dan Kaito tidak bisa menahan emosinya.
“Kau bahkan menganggap nyawa karyawanmu sendiri serendah itu? Ternyata kau benar-benar iblis!” Kaito tidak bisa menyembunyikan kemarahannya
Melihat reaksi dan wajah Kaito, Seren justru semakin senang dan mulai berjalan mendekatinya. Tidak disangka hal itu langsung memicu Kaito. Dengan cepat dia mengayunkan pedangnya untuk menghentikan langkah Seren.
Wanita itu dengan cepat menghindari pedang Kaito dan tanpa disadari, dia telah berdiri di depan Kaito dengan senyuman di wajahnya. Gerakannya sama sekali tidak disadari oleh pandangan Kaito yang terbiasa bertarung di ‘dunia malam’.
Tentu saja Kaito menyadari bahwa wanita itu menghindari pedangnya, namun dia benar-benar tidak melihat ke arah mana wanita itu menghindar hingga tiba-tiba dia muncul tepat di depannya. Senyum cantik dan warna pink merona menghiasi wajahnya.
“Gerakanmu bagus sekali~” puji Seren
Kaito yang tidak menyangka hal itu langsung melompat ke belakang dengan wajah syok. Bukan hanya Kaito, Ryou yang melihat itu pun tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut miliknya.
“Bagaimana–“
Arkan yang memeluk kedua anak-anak itu tidak berkedip sama sekali menyaksikan hal tersebut.
‘Inikah yang disebut dengan pembunuh profesional! Bahkan dengan mudah dia menembus pertahanan Kaito dan bisa berada di depannya begitu saja tanpa bersusah payah! Gawat! Ini membuktikan bahwa dia benar-benar bisa membunuh kami dengan mudah!’ gumam Arkan dalam hati dengan wajah panik
Kaito yang mulai mengamati wanita itu tidak bisa berhenti menatap langkah kakinya.
‘Ternyata benar dugaanku, langkah kakinya sama sekali tidak bersuara. Padahal di depan kami gerbang itu sudah begitu dekat. Kino harus bisa diselamatkan sebelum terlambat’ Kaito berpikir dalam hati
Dia mulai melihat wanita itu dengan serius dan mencoba bicara denganya.
“Apa benar kau bernama Seren, istri pengelola tempat ini?”
“Benar, namaku Seren. Dan ini adalah William, panggilannya Will ketika dia masih hidup” jawabnya sambil menunjukkan kepala yang dia pegang
“Aku ingin bertanya mengenai pertukaran yang kami ajukan kepada kalian selaku orang yang mengadakan kontrak dengan Justin. Apakah kau bisa memberitauku hasilnya?”
“Hasil? Bukankah Arkan harusnya sudah memberitaumu?”
“Aku ingin mendengarnya langsung darimu. Bahkan tuan bartender….maksudku bahkan Arkan masih memiliki pertanyaan tentang isi pertukarannya. Jadi aku ingin tau semuanya darimu selaku salah satu pengelola tempat ini”
“Eh? Arkan masih belum mengetahui semuanya? Apa benar begitu, Arkan?” Seren bertanya kepada Arkan dengan mengeraskan suaranya
Arkan melihat Seren dan mengangguk. Dia mulai mengatakan semua kesimpulan yang dia dengar sebelum kabur dari ruangan Jack.
“A–awalnya sebelum bertemu dengan Seren-sama, aku ingin kembali ke tempat Jack-sama dan bertanya mengenai hasilnya. Aku ingat Jack-sama hanya menyebutkan bahwa kedua anak ini bisa keluar dari tempat ini dan seluruh sisa transaksinya akan dihapuskan. Te–tetapi, sejak awal aku mengatakan bahwa aku ingin menukar mayat Justin-sama dengan ketiga orang yang kau bawa termasuk remaja yang ada di dalam gerobak ini”
Seren melirik gerobak yang ada di dekat Arkan.
“Astaga, aku sama sekali mengabaikan itu. Kupikir itu mayat”
Kalimat Seren sudah memancing emosi Ryou dan dengan cepat dia berlari sambil mengayunkan pedangnya.
“Ryou!” Kaito berteriak memanggil Ryou yang sudah menyerang Seren
Seren menghindari ayunan pedang itu. Namun ketika dia mencoba menendang tubuh Ryou, dengan cepat Ryou menghindar lalu mengeluarkan dagger yang dibawanya dan bermaksud memanfaatkan tendangan itu untuk menusuk betis Seren.
Tentu saja serangan itu tidak melukai Seren karena wanita itu dengan cepat merubah arah tendangannya. Dia menendang tangan Ryou hingga daggernya terlempar. Setelah itu, Seren berputar dan menendang tubuh Ryou. Tendangan itu mengenai perutnya.
-Bruuuk
“Akh!!”
Ryou terjatuh. Stelani dan Fabil berteriak dan berlari ke arah Ryou tetapi hal itu dicegah oleh Arkan yang panik.
“Kemampuannya tidak buruk tapi dia emosian. Aku tidak suka orang yang emosinya tidak terkontrol” gumam Seren dengan suara pelan
Kaito baru saja ingin menghampiri Ryou, dari arah belakang terdengar suara yang memanggil mereka.
“Kalian semua, hentikan!”
Semua orang yang kaget mendengarnya menengok ke belakang, sedangkan Seren yang memandang ke arah depannya tersenyum lebar dengan apa yang dilihatnya. Terlihat dua orang yang sedang mendekati posisi mereka berada.
Salah satu dari mereka berlari mendekati Ryou dan Kaito. Orang itu tidak asing untuk mereka.
“Kalian, kumohon hentikan ini sekarang!”
“R–Riz?!” Kaito terkejut dengan orang yang mendekatinya
-Deg
Kaito melihat aura tidak menyenangkan di sekitar orang yang berada di belakang Riz. Senyum lebar itu membuat Kaito merasa bahwa ini adalah saat yang tidak menguntungkan baginya.
“Bahkan di siang hari seperti ini, keberuntunganku sama buruknya seperti terjebak di ‘dunia malam’. Belum selesai menghadapi iblis wanita…ternyata iblis lainnya telah muncul”
******