
Ketika Ryou dan Kaito akhirnya berdamai dengan keadaan dan berhenti bertengkar di tengah perjalanan mereka menuju bar, ucapan Theo mampu membuat sebuah pemikiran yang sama dalam otak keduanya.
‘Dasar anak sial kurang ajar!!’
Theo yang melihat mereka sepertinya tidak bermaksud buruk dan mulai serius.
“Ryou-nii, Kaito-nii, kita sudah tidak punya banyak waktu! Kalau terus di sini, hanya tinggal menunggu waktu sampai siang hari tiba!”
“……” Ryou dan Kaito saling melihat satu sama lain
Kedua remaja itu sebenarnya ingin sekali melakukan sesuatu pada anak itu, terutama Ryou. Keinginan terpendamnya sekarang adalah menarik kedua telinga anak itu dan mencubit pipinya sampai merah.
Dia bahkan mengatakannya langsung dengan nada pelan tanpa didengar oleh Theo.
“Aku ingin sekali memberinya pelajaran! Berani sekali dia mengatakan hal tidak waras seperti itu, lihat saja nanti!! Aku tidak akan membiarkannya mengadu pada Kino!”
“Kau sebaiknya tahan dirimu, Ryou. Kita juga salah karena sudah berdebat seperti tadi”
Sebuah pemicu keluar dari kalimat yang diucapkan Kaito. Ryou yang mendengarnya mulai berteriak sambil membuat wajah merah karena kesal.
Sekarang mereka memasuki ronde selanjutnya.
“Itu kan kau yang memulainya! Seharusnya kau diam saja tadi jadi tidak akan seperti ini, dasar bodoh!”
“Jangan bicara seenaknya begitu! Kau bisa mengatakan hal itu dengan mudah, tapi aku berusaha menolongmu di sini! Dasar remaja dunia lain tidak tau terima kasih!!”
“Hah?! Berani sekali kau, Kaito!!”
“Itu kenyataannya! Jika terjadi padamu dan Kino bertanya padaku, apa yang harus aku katakan padanya? Aku hanya mencoba melindungimu agar kau tidak memiliki gelar ‘pembunuh’ di depan namamu”
“Heh, lucu sekali. Aku sudah katakan kalau kita tidak sedang membahas nilai kemanusiaan! Aku ingin membunuh gorilla berwujud manusia bernama Justin demi keselamatan kita dan bocah menyebalkan yang berdiri di sana!!”
“Itu bukan alasan, dasar remaja dunia lain yang labil!!!”
“Dan itu bukan urusanmu, dasar kriminal tidak waras tanpa ingatan!!!”
Menakjubkan. Setelah berdamai selama kurang lebih 35 detik, sekarang mereka sudah berteriak dan melanjutkan debat panas tidak penting itu lagi. Theo yang menjadi penonton menjadi kesal sekarang.
“Kalian berdua diamlah!! Ini bukan saatnya bertengkar karena hal tidak penting seperti itu! Jam saku Kino-nii lebih penting dari pemikiran konyol milik kalian berdua!! Sekarang, lebih baik kalian berhenti bertengkar seperti pasangan suami-istri begitu atau aku akan mengadukannya pada Kino-nii kalau kalian berdua cerewet seperti perempuan!!”
“……!!!” kedua remaja itu diam dan langsung menengok ke arah Theo
Ini bukanlah kebetulan. Sepertinya Theo memiliki bakat yang sama dengan Ryou yaitu mulut pedas menyakiti hati walaupun level Ryou sudah tingkat dewa yang bisa melontarkan komentar tidak manusiawi ke semua kalangan kecuali pada kakaknya.
Setidaknya, Kaito percaya pada hal itu dan teori mematikan itu dibuktikan ketika dia melihat Ryou mulai memandang Theo dengan tatapan dingin setelah anak itu mengatakan semua kalimatnya tadi.
Ryou langsung mendekati Theo dengan wajah seperti siluman kucing.
“Bocah, kau itu baru mengenal Kino beberapa jam tapi sudah sangat sombong rupanya. Dengarkan aku baik-baik ya! Berani bicara macam-macam pada kakakku…akan kutarik kedua telingamu itu agar mirip kurcaci dari negeri dongeng! Awas kau ya!”
“Hiiiii!!! Menjauh dariku, setan!” Theo sekarang terlihat mundur beberapa langkah dengan wajah takut
“Bocah kurang ajar! Siapa yang kau sebut setan!!” Ryou berteriak dengan wajah menyeramkan miliknya
“……” Kaito hanya mematung dan terdiam
Di sini kita bisa tau bahwa Ryou memiliki sifat sangat ‘dewasa sekali’ karena mau meladeni anak kecil dengan sangat serius. Sungguh sifat yang sangat’terpuji’ dan tidak patut untuk dicontoh.
Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Kaito yang melihatnya dari kejauhan sambil mengelus-elus dadanya sendiri.
Kaito bahkan sampai memanjatkan doa.
‘Kino, aku sangat berharap kau ada di sini dan menghentikan anak brutal ini sekarang!’
**
“Haa…chuuh…”
Sebuah suara bersin yang manis di tengah gang sempit pada pagi hari itu.
Langkah Kino terhenti akibat bersin. Sambil mencoba mengatur napasnya kembali, dia mulai membuat ekspresi bingung.
“Apa aku terlalu lelah berlari? Kenapa aku bisa bersin tiba-tiba?” Kino bertanya pada dirinya sendiri
Untuk pertama kalinya sejak datang ke ‘dunia’ aneh itu, Kino bersin meski hanya sekali. Dan bagian terbaik dari semua itu adalah suara bersinnya sangat manis seperti suara bersin anak-anak.
“Kata orang jika bersin tiba-tiba, itu artinya ada seseorang yang sedang membicarakan kita. Aku harap bukan ayah atau ibu yang sedang membicarakanku sekarang”
Setelah berhenti beberapa detik, Kino kembali berlari.
**
Kembali lagi ke tempat Ryou dan Kaito berada sekarang, Theo yang sudah menjauhi mereka mulai terlihat serius.
“Bukan saatnya bermain-main! Tinggal melewati belokan di depan dan kita akan bisa sampai ke bar. Aku sudah katakan kalau ini bukan saatnya main-main!. Kalau sampai gorilla itu memiliki rencana tidak terduga, kita juga bisa kena masalah!!”
Ryou masih terlihat kesal dengan anak di depannya itu dan bergumam dalam hati.
‘Pada dasarnya semua ini kan salahmu! Kalau kau tidak mencuri jam saku Kino, semua ini tidak akan terjadi!. Aku benar-benar akan menarik kedua telinganya itu nanti!!’
Kaito telah selesai mengembalikan semua mentalnya dan langsung berlari ke depan sambil menepuk pundak Ryou tanpa melihatnya. Dia langsung menggendong Theo dengan tangannya dan berlari dengan cepat.
“Huwaaa!!!” Theo terkejut karena tiba-tiba digendong oleh Kaito
“Setelah belok kanan sebaiknya kau tunjukkan jalannya dengan benar, Theo. Lebih cepat jika aku membawamu begini!”
“……”
Ryou yang tau maksud dari Kaito tadi hanya melihat dan mulai berlari dengan cepat menyusulnya.
Theo terkejut karena kedua kakak yang bersamanya bisa berlari secepat itu. Bahkan dengan semua kecepatannya tadi, itu masih belum apa-apa.
Sesuatu terjadi saat Theo berada sedekat itu dengan Kaito. Kaito merasakan sesuatu yang sangat familiar dan begitu dikenalnya. Bahkan sekarang pertanyaan yang sudah pernah dipikirkan olehnya sebelum ini terulang kembali.
Kaito melirik ke arah Theo dengan sorot mata tajam.
‘Perasaan apa ini? Kalau dipikirkan lagi, saat melihat anak ini juga aku merasakan sesuatu seperti ini’
Kaito sempat melihat sesuatu di leher Theo dan bertanya.
“Apa yang di lehermu itu?”
“Ini? Ini harta berhargaku. Aku sudah memilikinya sejak kecil”
“Begitu. Aku hanya bertanya. Terima kasih sudah menjawabku” Kaito hanya melirik sekali lalu terdiam
“……” Theo diam sambil melihat wajah Kaito
Belokan sudah dilewati dan mereka berlari lurus ke depan. Dengan kecepatan lari dari kedua remaja itu, waktu yang mereka habiskan untuk menelusuri seluruh jalan itu hanya beberapa menit saja. Memang memakan waktu namun tidak selama yang dipikirkan Theo.
“Berhenti!” Theo meminta Kaito untuk berhenti
Keduanya berhenti berlari. Kaito menurunkan Theo dan melihatnya menunjuk sebuah bangunan.
“Itu barnya. Itu tempat Justin berada”
Mereka bertiga berhenti di tempat yang cukup jauh. Bar yang dimaksud Theo berbeda empat bangunan dari tempat mereka berdiri sekarang. Kaito melihat sekeliling tempat itu dan dia tidak mungkin salah lihat. Dia pernah melewati jalan ini sebelumnya ketika pertama kali masuk ke tempat asing itu.
Sekarang, Kaito menyadari hal aneh dan berpikir dalam hatinya.
‘Kalau kupikir kembali, bukankah anak tangga itu menuju ke bawah? Tapi hampir semua jalan ini lurus dan tidak ada tanjakan sama sekali. Hal itu juga kulihat sendiri saat masuk dan mencari jalan keluar dari tempat ini kemarin. Seandainya membandingkan dengan struktur jalan di kota dan pusat kota, aku tidak merasa jalanan itu miring ke bawah. Dari struktur tempat ini, memang ada yang tidak benar di sini’
Ryou memperhatikan semua bangunan itu termasuk bangunan di sampingnya. Jelas semua bangunan ini tampak kosong dan tidak digunakan sama sekali. Pintu dan jendela yang rusak serta tidak ada perabotan di dalamnya membuat suasana bangunan tua di sana terlihat menyeramkan.
Sorot mata Ryou berubah tajam.
‘Aku mungkin berhalusinasi tapi semua ini mirip dengan bangunan di ‘dunia malam’. Meskipun tampak berbeda tapi tidak begitu mencolok’ gumam Ryou dalam hati
Ryou berjalan mendekati Kaito dan berbisik.
“Kau sudah ke sini kemarin, kan? Merasa familiar dengan bangunan di sini tidak?”
“Aku sudah berpikir kalau ini mirip dengan ‘dunia malam’. Kau berpikir begitu juga, Ryou?”
“Tepat sekali, meskipun tidak sama 100% tapi ada beberapa bagian yang mirip”
“Begitu. Berarti aku tidak salah menamai tempat ini sebagai‘dunia malam’ junior” bisik Kaito ke Ryou
“Apa? Julukan tidak keren apa itu?”
“Ehem. Lupakan saja” Kaito menengok ke depan dengan wajah datar
Kaito memperhatikan daerah sekitarnya. Terdapat setidaknya empat gang kecil yang menuju ke belakang bangunan lain di sisi kanan dan kirinya atau yang dapat tembus ke jalan lainnya. Di samping bar itu sendiri terlihat sebuah gang kecil.
“Theo, apa itu sebuah gang?” Kaito menunjuk ke gang tersebut
“Itu gang tapi menuju ke bagian pembuangan sampah di belakang bar. Mayat-mayat itu kemarin dibuang di sana oleh anak buah si gorilla. Aku tidak tau apakah mayatnya masih di sana atau tidak”
“……”
Kaito diam sejenak dan tiba-tiba dia menggendong Theo lagi serta menarik tangan Ryou ke arah gang di samping kanan bangunan tempat mereka berhenti.
Dari arah bar, terdengar suara langkah kaki seseorang keluar.
“Sampai jumpa lagi, Arkan. Terima kasih kantong plastik besarnya. Ayo kita pergi sekarang, Will”
Suara itu seperti suara perempuan dengan orang lain di belakangnya. Kaito menutup mulut Theo dengan rapat dan memberi tanda kepada Ryou untuk diam. Tidak terlihat seperti apa wajah mereka dan bagaimana bentuk fisiknya, namun Kaito yakin suara langkahnya terdengar seperti langkah kaki dari dua orang.
Tiba-tiba wajah Kaito berubah panik saat dia menyadari bahwa salah seorang dari mereka berhenti dan bicara.
“Aku seperti merasakan sesuatu? Apa kau merasa ada orang lain di sini, Will?”
“Tidak, Madame”
“Hmm…aku yakin telingamu pasti salah tapi sudahlah. Ada yang lebih penting daripada mengurus orang-orang yang bersembunyi itu. Ayo, kita harus membawanya sebelum pembukaan nanti malam”
“Baik, Madame”
“Pokoknya kalau sampai mereka mengalami kerusakan sedikit saja, akan kupotong gajimu”
“Baik, Madame. Kalau bisa nanti berikan aku bonus ya”
“Dasar. Akan kupikirkan”
Suara mereka semakin menjauh dan tiba-tiba menghilang. Kaito terkejut dengan apa yang didengarnya, begitu juga dengan Ryou.
‘Suara wanita itu…dia bisa menyadari ada yang bersembunyi!!’
Setelah menurunkan Theo, Kaito mendekati Ryou dan berbisik kembali.
“Kau dengar tadi kan, Ryou?”
“Aku mendengarnya dengan sangat jelas. Menurutmu siapa dia? Aku merasakan hal tidak menyenangkan dari mereka berdua!”
“Aku tidak tau. Sebaiknya kita…Tu…Theo!!” Kaito terkejut melihat Theo berlari keluar gang menuju bar
Melihat anak itu berlari untuk keluar, Ryou menjadi kesal.
“Bocah sial itu!!”
******