
Kaito berlari ke arah suara ledakan itu dan ketika asap yang menutupi mereka menghilang, Xenon telah menghentikan serangan tersebut dengan sihirnya.
“Apa…itu?” Kaito syok melihatnya
Bisa dilihat bahwa ada semacam balok-balok tanah padat yang tinggi menjulang dengan Xenon yang bersembunyi di belakangnya. Dari arah belakang balok tembok itu terdengar suara.
“Aku hampir saja terkena serangan itu di titik fatal. Aku senang aku bisa mengaktifkan sihir ini lebih dulu. Aku tidak perlu susah payah menjelaskan ini pada kalian, kan?”
“Aku tidak mau mendengar omong kosongmu. Sekarang berhenti bersembunyi dan biarkan aku membuatmu menyesal!!”
Ryou berteriak dan berlari tanpa memedulikan tembok di depannya. Kaito berusaha mengerjarnya, namun terjadi getaran lain.
Langkah Kaito terhenti.
“Jangan bilang kalau dari dalam tanah–”
Baru Kaito ingin menebak, tampaknya sihir Xenon lebih senang memberitaukan jawabannya sendiri daripada memberi harapan palsu.
“Apa kalian senang bertemu dengan lembing-lembing itu lagi?” tanya Xenon dari belakang dinding balok tersebut
“Kh!! Sihir ini…sihir yang sudah membuat Kino terluka…” gumam Kaito
Dari balik pohon, Kino mencemaskan keduanya.
‘Aku harus bagaimana? Jika aku tidak segera menolong mereka maka Xenon-san akan benar-benar mencoba membunuh kami! Aku harus melakukan sesuatu dengan sihirku”
Kino mencoba berpikir kembali dengan tenang sekarang.
‘Sihir air…aku tidak begitu ingat bagaimana cara mengendalikannya. Tapi, aku merasa ada sebuah energi hidup yang mengalir. Seperti…tubuh ini berada di dalamnya, menyatu dan saat tersadar, mereka telah menjadi bagian dari diriku’
Kino menatap air sungai di dekatnya.
“Apakah aku bisa memanfaatkan air itu untuk mengaktifkan sihirku?”
Dia mencoba berkonsentrasi dan mengingat sensasi yang dia rasakan semalam. Kino juga mengingat semua yang dikatakan oleh Xenon padanya.
[Api adalah kekuatan tekad, air adalah ketenangan pikiran dan angin adalah kebebasan. Elemen itu adalah wujud dari diri kalian sendiri]
[Bagaikan cermin, elemen itu adalah pantulan diri kalian. Mereka tidak boleh menguasai kalian tapi kalian lah yang harus menguasai mereka]
Kino menyadari sesuatu sekarang. Dia melihat secara diam-diam apa yang terjadi di pertarungan sekarang.
‘Api adalah kekuatan tekad. Emosi Ryou mengendalikannya sekarang dan dia bertekad untuk mengalahkan Xenon-san, sedangkan angin milik Kaito-san adalah kebebasan. Kaito-san sedang membebaskan dirinya untuk menjadi kekuatan itu sendiri’
‘Air milikku bersumber dari ketenangan pikiran. Yang harus aku lakukan sekarang adalah mengabaikan semuanya termasuk rasa sakitku. Aku harus selaras dengan sihir di dalam tubuhku sendiri untuk bisa menguasainya’
Teori memang mudah, tapi praktek itu jauh lebih sulit.
Kino mencoba mengingat kembali hal yang dia lakukan untuk menguasainya.
Tanpa sadar, dia mendengar suara air. Bukan suara air dari sungai yang menguap karena panasnya api, tapi suara air yang bahkan tidak dia sadari sebelumnya.
Air itu mulai keluar dan dengan posisinya yang dekat dengan air sungai, sedikit demi sedikit air itu menjadi gelembung kecil dan mendekatinya.
Gelembung air itu menyatu menjadi air dan mengelilinginya. Ada gelembung air sungai yang menyentuh kaki dan tangan serta tubuh Kino yang lain akibat masih buruknya pengendalian Kino, tapi sesuatu terjadi.
“Eh?!” Kino terkejut
Air yang tidak sengaja bersentuhan dengan kaki dan tangannya bersinar. Lebih uniknya lagi, air yang membasahi pahanya yang tertutup kain mulai mengeluarkan sinar aneh.
Seperti mendapat kejutan dan mengalami kejadian horror, luka di kaki Kino semakin menutup sedikit demi sedikit.
“Aku…sihirku ini…” Kino sampai bingung ingin berkata apa
‘Padahal luka di pahaku ini telah diperban oleh kain dari jubah Kaito-san, kenapa gelembung air yang terbuat dari sihirku bisa…tunggu dulu, sihir? Jangan katakan bahwa aku baru saja melakukan pengendalian sihir air!’ gumam Kino dalam hati dengan ekspresi terkejut
Dia saja terkejut, bagaimana dengan yang lain jika mengetahui hal ini.
Lupakan dulu soal pendapat yang lain, Kino mencoba berteman dengan akal sehatnya sekarang. Dia berpikir kembali.
‘Sihir airku mampu mengobati luka. Aku tidak yakin tapi…aku akan coba menggerakkannya sebentar’
Dengan jantung yang berdebar-debar dan tangan yang dingin, Kino berdiri perlahan. Gelembung air dan air yang melayang di sekitarnya masih belum ada yang jatuh ke tanah, membuktikan bahwa sihirnya masih bekerja.
“Tidak…sakit. Ini hebat!” Kino tersenyum
Dia melihat air di sekitarnya, “Airnya mengambang. Sihirku masih ada. Apakah ini artinya kau sudah bisa mengendalikannya?”
Kino mulai menarik napasnya perlahan dan mengosongkan pikirannya. Seketika air tersebut jatuh.
Dia mulai menenangkan pikirannya kembali dan menggunakan konsentrasinya untuk membayangkan air yang muncul dari sihirnya.
Rupanya, dia berhasil. Sedikitnya, ada air sungai dalam jumlah tertentu yang mengelilinginya. Dia terlihat senang sekali.
Mungkin di antara ketiga remaja asing itu, Kino yang paling beruntung karena dia menyadari senjata rahasia dari pengendalian sihir airnya.
“Sekarang, aku harus berpikir untuk menghentikan semua itu. Ini hanya latihan dan masing-masing dari kami telah berhasil membangkitkan sihir yang dimiliki. Seharusnya Xenon-san berhenti, tapi…”
Kino mengintip secara diam-diam sambil memegangi jubah milik Kaito. Dia mengikat jubah tersebut di lehernya dan mengendap-endap di belakang pohon untuk mengamati situasi.
Air yang diambilnya dengan sihir tadi masih mengelilingi di sekitar tubuhnya. Kino melihat ada ketidakseimbangan di sini.
“Ini seperti sebelumnya. Xenon-san menyerang dari balik dinding itu tanpa melihat kami. Aku tau kalau dia kuat. Ini bisa jadi pembantaian sepihak seperti beberapa waktu lalu” gumamnya dengan panik
Kino menyadari sesuatu.
‘Sihir air ini sudah bisa kugunakan. Artinya sihir itu juga bisa!’
Kino melihat sekitarnya. Dia melihat pedang bambu miliknya yang sempat diabaikan sejak dia dibawa oleh Kaito ke tempat aman.
Ketika dia terluka karena tertancap lembing, pedang itu diabaikan layaknya debu di sisi pojok ruangan.
“Maaf sudah mengabaikanmu. Aku membutuhkanmu sekarang. Ada sihir yang bisa aku pakai dan itu membutuhkan bantuanmu, pedang bambu”
Ryou masih sibuk membakar sambil menghindari lembing-lembing yang muncul dari tanah.
“Jangan jadi pengecut dan keluar sekarang!” teriak Ryou
“Jangan besar mulut dan buat aku keluar kalau bisa!” Xenon membalas dari balik dinding
Kaito dengan pedangnya mengeluarkan sihirnya.
[Wind Art: Black Feather Blade]
Pedang Kaito lagi-lagi dikelilingi oleh bulu hitam dan ketika diayunkan, bulu hitam dan angin itu mengarah tepat ke dinding balok milik Xenon.
Terjadi benturan yang cukup keras tapi tidak cukup bagus. Xenon melihat ada bulu hitam yang jatuh tepat di bawah kakinya dan berteriak dari balik dinding balok tanah tersebut.
“Serangan itu tidak akan mempan, Kaito! Kalian pikir serangan seperti itu akan mempan padaku? Kalian harus siap mendapatkan hadiah seperti Kino!”
Ryou yang mendengar teriakan itu begitu emosi sampai dia mengeluarkan sebuah sihir skala besar yang sebenarnya dia sendiri tidak bisa mengendalikannya. Semua itu murni karena dia tersulut emosi.
[Fire Art: Burgeoning Whirlflame]
Sebuah lingkaran seperti roda api muncul dan seketika menyebar dan membesar. Panas apinya benar-benar sampai membuat Xenon tiba-tiba berkeringat.
“Dia serius ingin memanggangku kali ini” gerutunya
Pedang api Ryou memberikan dampak yang cukup besar dalam sihir barunya kali ini.
Kalau Ryou sedang tidak emosi, dia pasti akan memamerkan hal ini kepada sang kakak dan Kaito, tapi dia bahkan tidak dengar teriakan Kaito yang tepat ada di sampingnya.
“Ryou! Kendalikan dirimu atau kau akan membakar kita semua!”
“Orang menyebalkan di balik dinding itu yang harus matang duluan!”
Kino yang masih berniat untuk mengambil pedang bambunya jadi panik melihat sang adik.
“Aku harus menghentikan Ryou. Tidak, aku harus menghentikan pertarungan yang sudah jauh dari tujuan utama kita”
Kino tidak lagi bersembunyi dan berlari mengambil pedang itu. Begitu dia berhasil, tentu saja lembing dari tanah mencoba menyerangnya.
Dengan memanfaatkan sihirnya, Kino menghancurkan lembing tersebut.
[Water Slasher]
Air yang mengelilinginya berubah menjadi setajam pisau dan memotong semua lembing tersebut.
Dari balik dinding, Xenon merasakan ada getaran lain dari tanah.
“Ini…apakah ini Kino?”
Kino mulai mencoba mengeluarkan sihirnya untuk menghentikan semuanya.
“Aku mohon, sekalipun aku belum bisa mengendalikan ini…seharusnya ini bisa menyelesaikan semuanya”
Kino menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkan sihir skala besar.
‘Aku ingin setelah ini, kita bisa bicara baik-baik. Tolong buat ini berhasil!’
[Water Art: Big Wave Tsunami]
Air sungai yang ada di belakangnya mulai terangkat ke atas dan tidak ada yang menyangka bahwa Kino akan langsung menurunkan semua ombak air sungai yang terangkat itu ke arah semuanya.
“Aku mohon pada kalian untuk berhenti sekarang”
******