
“Kalian ini bangsawan yang tidak terlihat seperti bangsawan untukku. Kampungan”
“Apa katamu?!”
“Tolong jangan membuat kami berempat malu karena ucapan kalian ya, tuan muda”
Ryou benar-benar mengatakan hal itu kepada orang yang baru ditemui kurang dari satu jam.
Sang kakak mencoba menenangkan sang adik. Bukan, lebih tepatnya membuat sang adik kembali ke jalan yang benar.
“Ryou, jangan bicara tidak sopan! Siapa yang mengajarimu bicara begitu?”
“Aku kan sudah bilang padamu kalau aku mempelajarinya sendiri. Lagipula, dia itu memang terkesan kampungan. Didikan kelas bangsawannya tidak dipraktekkan dengan baik”
“Lain kali, aku tidak akan mengizinkanmu untuk menonton film anime dengan tema kekerasan mental. Lihat saja nanti” ancam sang kakak
“Kino, kau ini kakakku atau bukan?!”
“Ryou sudah di luar kendaliku” Kino terlihat serius kali ini
“Ukh…iya iya, aku minta maaf. Maafkan aku”
Kaito tidak bermaksud membela, namun dia dengan tegas mengatakan hal ini pada pemuda yang baru ditemuinya itu.
“Jene Rottenburg ya…aku mengerti kalau kau tidak terbiasa dengan menu rakyat biasa seperti ini. Tapi, tidak sopan bertanya mengenai cara dan bahan yang dipakai seperti itu”
“Aku tidak bermaksud begitu”
“Aku tau, tapi aku rasa kau harus belajar peka pada keadaan. Aku harap kau tidak tersinggung. Bagaimanapun juga, ini adalah pertemuan pertamamu dengan orang asing seperti kami”
Jene diam kembali. Dia melihat Ryou dengan tatapan sinis sekali, “Aku tidak tersinggung dengan ucapanmu. Aku tidak terima dibilang kampungan oleh orang di sebelahmu itu”
“Apa? Aku? Tidak terima dengan ucapanku? Itu artinya kau memang mengakui kau kampungan”
“Apa?!”
“Ryou…” Kino menoba menenangkan sang adik kembali, tapi tampaknya akan jadi hal yang sia-sia
“Dengar tuan muda, jika tidak terima, sebaiknya berhenti bersikap seolah-olah ini adalah tempat yang harus mengikuti standarmu. Standarmu itu tidak berlaku di kehidupan sosial tempat ini, ingat itu”
“Dan apapun yang terjadi di dalam asrama akademi, tidak berlaku di tempat ini. Kau harus membuka pikiranmu lebih luas agar tidak kampungan seperti tadi. Pakai bertanya bahan yang dipakai sisaan atau bukan”
Kalimat-kalimat Ryou itu hanya bisa membuat Jene memerah. Xenon tersenyum mendengarnya sambil berkata dalam hati.
‘Aku tau mulutnya itu memang harus diwaspadai. Untung saja aku tidak sering memancing emosinya’
‘Tapi serius, aku yakin ada konspirasi di sini. Kakaknya tidak seperti dia, kenapa dia bisa cerewet melebihi perempuan?’
Jessie memegang tangan Jene untuk membuatnya tenang, “Sudahlah. Itu juga karena Jene juga salah. Jangan diteruskan atau akan membuatmu malu nanti”
“Cih!” Jene terpaksa mengalah demi kembarannya
Dengan begitu, Ryou bisa tersenyum puas. Semua hidup bahagia selamanya. Bukan, semua berakhir dengan kemenangan mulut pedas Ryou.
Saat makanan datang, dua kembar itu cukup terkejut karena aromanya cukup lezat. Mereka berenam memakannya bersama.
“Enak…” gumam Jene pelan
“Begitu. Syukurlah Jene-san menyukainya” Kino memberikan senyumnya
“……” Jenen melihat Kino dengan tatapan heran
“Ada apa?”
“Kau benar kakak dari anak liar itu?”
“Eh?”
“Pribadimu lebih bagus 100x lipat dari anak liar di sampingmu itu. Kau pasti bohong soal menjadi kakaknya ya”
“A–aku benar-benar kakaknya. Kami lahir dari ibu dan punya ayah yang sama” Kino hanya bisa tersenyum bingung menjawabnya
Ryou ingin sekali mengucapkan ‘pidato panjang’ sekali lagi tapi mulutnya langsung dimasukkan roti oleh Kaito sambil berkata, “Diam dan habiskan makananmu mumpung gratis”
Jessie tersenyum melihat itu dan melirik Xenon yang makan dengan tenang.
Hari petang berubah menjadi malam. Selesai makan, mereka menunggu makanan penutup datang sehingga mengobrol serius sebentar.
“Jadi, kalian benar-benar bukan dari Negara ini ya?” tanya Jessie
“Benar. Kami…”
“Dari timur” Xenon secara spontan menjawab
“Timur”
“Benar. Mereka dari timur, Jessie-sama. Aku dan ketiganya bertemu kemarin dan kami sudah banyak bercerita satu sampai tiga hal. Benar kan, Kino?”
“Xenon-san benar, Jessie-san. Kami sudah sedikit mengenal semua hal di sini”
“Selain itu, kami juga mengikuti ujian masuk besok pagi”
“Apa?! Kalian ikut ujian masuk?!” Jene langsung terbelalak
“Kenapa? Mau protes?”
“Memang kalian punya sihir?”
“Tentu saja punya!” Ryou dengan penuh percaya diri menjawabnya
“Begitu. Syukurlah” Jessie tersenyum
“Kalau tidak salah, Jessie-san dan Jene-san adalah anggota divisi dari Dewan Sihir. Apakah kalian berdua juga penguji?”
Jene yang meminum teh di cangkirnya berkata sambil menunjuk Xenon dengan ibu jarinya.
“Bukan. Kami pengawas ujian yang mendampingi penguji dan orang yang akan kami dampingi adalah orang ini”
“Apa? Xenon-san yang…”
“Kami akan bekerja dengan Xenon besok” Jessie terlihat senang sekali
[Aku juga ingin cerita itu pada kalian tadi sore]
Kedua orang itu seperti memiliki satu pikiran yang sama.
‘Kau tidak bilang dari awal’
Makanan penutup datang dan mereka melanjutkan pembicaraannya.
“Jadi, bagaimana kalian bisa bertemu Xenon dan menjadi dekat?”
“Kami bertemu di taman” jawab Kino
Ryou ingin ikut membuka mulutnya tapi dihalangi oleh Kaito yang menginjak kakinya.
“Sakit!” bisik Ryou
“Kau diam saja. Kino mungkin bisa mendapatkan informasi lain dari mereka. Mulutmu itu bisa mengacaukan semuanya, jadi tutup mulutmu”
“Tapi tidak menginjakku juga kan?!”
“Kau yang minta makan gratis jadi makan saja ini. Aku tidak lapar”
“Kita kan memang tidak bisa merasakan lapar dari awal, bodoh!” bisik Ryou kesal
“Sudah makan saja!”
Ryou mau tak mau mengikuti perkataan Kaito dan mendengar tiap percakapan yang dilakukan sang kakak pada kedua kembar itu.
“Kami baru mendaftar pagi ini jadi kami tidak begitu paham persiapan apa yang mungkin kami lakukan untuk besok”
“Ah, kalau soal itu jangan khawatir. Hanya ada pertarungan sebagai penilaian. Untuk cara bertarungnya, tiap pos berbeda nantinya jadi tergantung kalian dapat pos yang mana, peraturan di sana yang berlaku nanti” jelas Jessie
“Benarkah?”
“Benar. Ada yang hanya boleh menggunakan sihir, hanya boleh menggunakan senjata dan ada yang boleh menggunakan keduanya” lanjut Jessie kembali
“Semua itu tergantung penguji kalian dan tugas pengawas seperti kami berdua memastikan tidak ada kecurangan sampai tingkat serius” Jene menambahkan
“Kecurangan sampai tingkat serius?”
“Misalnya menggunakan sihir pelumpuh, penguat dan sebagainya. Tiap pos memiliki larangan masing-masing. Karena itu, penguji cukup fokus pada peserta dan kualitas mereka, sedangkan pengawas yang bertanggung jawab pada jalannya seleksi peserta”
“Tujuannya agar penguji bisa benar-benar memperhatikan dan mendapatkan peserta berkualitas sesuai kebutuhan yang diperlukan untuk masuk dalam akademi”
“Begitu”
Ketiga remaja dari dunia lain itu cukup mendapatkan sedikit info berguna. Selama melanjutkan makan, mereka bertiga benar-benar telah memiliki beberapa informasi yang cukup dan semua itu berasal dari si kembar.
Saat keluar dari kedai, keduanya bermaksud mengajak Xenon pulang ke asrama.
“Maaf, aku akan menginap di tempat lain. Aku akan mengantar ketiga orang ini dulu. Kami masih memiliki urusan” katanya
“Kalau begitu, kami berdua ikut ya?” Jessie mendekati Xenon dengan harapan besar
“Maafkan aku, Jessie-sama. Silahkan kembali bersama Jene-sama”
“Tapi–”
“Jessie, ayo” Jene menarik sang adik dan pergi
Xenon melihat ketiga remaja dari dunia lain dan berjalan bersama mereka. Sepanjang jalan, mereka bicara hal yang tidak penting. Kaito melihat Xenon dan berbisik.
“Kita benar-benar diikuti”
“Aku tau. Aku sudah menduga hal ini”
Xenon mengeluarkan sihirnya.
[Earth Art: Wall of Illusion]
Seperti ada sebuah pantulan cermin yang menunjukkan Xenon dan yang lainnya, Jessie dan Jene yang ada di belakang mereka seperti melihat keempat orang di depanna menghilang tiba-tiba.
“Menghilang?!” Jessie terkejut
“Ini mungkin sihir [Art], aku tidak bisa mendeteksinya. Pasti ulah Xenon. Anak itu…”
Jessie menjadi murung, “Kenapa? Bukankah kita akan menjadi keluarga? Kenapa dia menutup diri pada kita sampai sejauh itu? Apa kita begitu tidak bisa dipercaya olehnya sampai seperti itu?”
Jessie mulai terlihat sedih dan air mata mulai keluar. Jene hanya bisa memeluk sang adik untuk membuatnya tenang.
“Jangan menangis. Kalau besok bertemu dengannya, akan kuminta dia berlutut minta maaf padamu”
“Apa perasaan ini juga yang dirasakan Rexa-sama?”
“Jessie?”
“Rexa-sama juga merasa selalu ditolak olehnya. Kenapa Xenon begitu memikirkan hal yang terjadi saat itu? Itu bukan salahnya! Xenon tidak perlu menahan dirinya! Dia tetaplah bagian dari van Houdsen!”
“Jessie, jangan membahasnya di sini. Selain itu, itu adalah masalah kedua kakak beradik itu”
“Sampai kapan Xenon akan terus seperti ini? Hiks…aku ingin dia kembali seperti dulu. Padahal dia bisa terbuka pada orang asing yang baru ditemuinya, tapi kenapa dia terus menjaga jaraknya pada kita?”
“Ayo kembali. Setidaknya hari ini, kita tau bahwa masih ada sisi Xenon yang kita kenal di masa lalu. Cepat atau lambat, dia pasti akan mendapatkan dirinya yang dulu. Dan jika itu tiba, Jessie harus menjadi orang yang tetap ada di sampingnya”
“Kau akan menjadi teman yang menemaninya sampai tua nanti, jadi kuatkan dirimu. Jessie mencintainya kan?”
Jessie mengangguk. Jene hanya tersenyum dan mengusap-usap kepala sang adik.
“Tersenyumlah. Aku juga akan berusaha. Sekarang ayo pulang”
Jene mengajak adiknya pulang. Di saat itu, mereka tidak tau bahwa orang yang sedang dibicarakan mendengar semuanya.
Ketiga remaja dari dunia lain itu menatap Xenon dan orang yang ditatap tidak mengatakan apapun.
Ada sesuatu yang menarik perhatian Kaito dan Yuki bersaudara dari tatapan gelap yang ditunjukkan Xenon dan mungkin ini akan menyeret mereka dalam hal lain
******