Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 102. Penyelamatan bag. 4



Kaito memberitau garis besar dari rencana penyelamatan Kino yang sedikit berbahaya itu.


“Aku ingin kau masuk ke dalam sana dan keluar membawa Kino secepatnya. Setelah itu, membawanya lari dengan gerobak bersama dengan kedua anak ini”


“Aku mengerti. Tapi, tidak hanya itu rencananya kan?” Ryou bertanya dengan wajah serius


Seperti yang diduga oleh Ryou, Kaito memang memiliki lebih dari sebuah kemungkinan yang akan terjadi jika mereka melakukan rencana tersebut.


“Kemungkinan Riz masih di dalam bersama dengan pengelola tempat ini. Kita harus berpikir bahwa rencana ini memiliki celah atau membawa kita dalam masalah baru. Misalnyaa saja, ada kejadian dimana kita akan diserang oleh pengelola tempat ini karena ketahuan saat membawa kabur Kino”


“Kau itu berharap kita diserang atau apa, Kaito?! Kenapa terdengar seperti kau pesimis sekali kalau kita akan gagal menyelamatkan Kino?! Kita tidak boleh gagal atau kakakku akan–” Ryou terlihat kesal mendengar pemikiran Kaito


Tapi sebelum Ryou selesai dengan argumennya itu, Kaito memotong ucapannya dan memberikan alasan mengenai hal tersebut.


“Justru karena kita akan melakukan hal itu, kau harus bisa berpikir lebih kritis, Ryou!”


“Hah?”


“Pikirkan apa tujuan kita sekarang? Kita datang untuk menyelamatkan kedua anak ini dan Kino. Aku tidak tau bagaimana hasil dari pertukaran di sana tapi bisa saja itu tidak sesuai dengan keinginan kita”


“Maksudmu…Arkan dan Riz gagal?”


Ryou terlihat agak terkejut dengan ucapan Kaito.


“Aku hanya berpikir pertukaran yang tidak seimbang ini bisa saja memberikan hasil di luar harapan kita. Jika pertukarannya berhasil, maka seharusnya tidak masalah bagi kita untuk membawa Kino keluar dari tempat dia berada sekarang. Tapi, bagaimana kalau ternyata mayat Justin itu hanya bisa membebaskan salah satu dari kedua anak ini?”


“……!!!” Ryou terkejut


Bukan hanya Ryou yang kaget, Stelani dan Fabil juga terkejut mendengarnya.


“Hanya satu…dari kami…” kata Stelani dengan wajah syok


“Ini hanya satu dari gambaran buruk yang harus kita hadapi. Karena itu, aku mengatakan padamu kalau kita harus siap dengan masalah baru yang mungkin saja timbul karena rencana ini”


Sekarang, Ryou harus menerima semua sikap Kaito yang terlalu berhati-hati itu.


‘Dia benar! Hasil dari pertukarannya masih belum kami ketahui. Ditambah lagi aku dan Kaito sudah membunuh penjaga gerbang itu dan kedua pengelola pasar gelap ini masih belum mengetahuinya! Bisa saja mereka berubah pikiran atau mungkin sejak awal, rencana pertukaran ini telah gagal. Kurasa aku tidak bisa gegabah dan berpikir semua akan berjalan dengan baik!’ pikir Ryou dalam hati


Ryou mengangguk dan berkata bahwa dia mengerti maksud Kaito. Cukup mengejutkan karena kali ini, Ryou  mau diajak bekerja sama dan emosinya lebih terkontrol dari sebelumnya.


‘Mungkinkah dia jadi sedikit lebih dewasa karena Kino tidak bersamanya? Aku harus menceritakan ini pada Kino ketika kami berhasil membawanya’ gumam Kaito dalam hati melihat sikap Ryou


Kaito menjelaskan beberapa poin penting yang bisa saja menjadi masalah utama mereka sebelum menyelamatkan Kino.


“Aku memiliki beberapa gambaran untukmu, Ryou. Mengenai kemampuan, penjaga gerbang yang sebelumnya mungkin cukup berbahaya jika kita bertarung dengannya satu lawan satu. Tapi kita harus siap dengan lawan yang lebih buruk dari penjaga gerbang tadi dalam situasi tidak menguntungkan seperti sebelumnya”


“Maksudmu…situasi dimana kita harus bertarung melawan kedua pasangan suami-istri itu?”


“Tepat. Wanita yang bernama Seren itu jelas sangat kuat. Bisa dibilang, dia lebih kuat dari makhluk mengerikan yang kita lawan ketika berada di ‘dunia malam’. Aku ingin kau tidak melupakan apa yang kukatakan ini”


“Aku tau. Dia bisa berlari tanpa suara dengan cepat saat baru keluar dari bar waktu itu. jelas itu adalah ciri-ciri pembunuh kelas atas dan kurasa dia salah satunya”


“Benar sekali” Kaito membenarkan ucapan Ryou


“Tapi itu tidak penting! Yang terpenting, kita harus menyelamatkan Kino! Biarkan semuanya terjadi. Jika memang terpaksa harus bertarung, maka kalah bukanlah pilihan yang harus diambil! Aku akan masuk ke bangunan itu dan menyelamatkan Kino!”


“……” Kaito dan kedua anak itu mendengarkan Ryou


“Selain itu… kau tidak mungkin membiarkan aku dan kakakku dalam bahaya, kan? Sejak kau sendiri yang mengatakan akan melindungi kami berdua” Ryou melihat ke arah Kaito dengan senyum percaya diri


Kaito hanya tersenyum mendengarnya. Kedua anak itu tidak mengerti dengan pembahasan itu namun mereka yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Keempat orang itu kembali lari sampai ke belokan di depan. Ryou menurunkan Stelani.


Dengan mengintip sedikit dari belokan, Ryou dan Kaito melihat ke arah yang dituju oleh anak-anak itu.


“Itu! gerobaknya masih ada di sana!” kata Fabil sambil menunjuk gerobak dari kejauhan


“Berarti…bangunan di sampingnya itu adalah tempat dimana Kino berada sekarang?” tanya Kaito


“Benar! Di tempat itu tidak ada siapapun, jadi seharusnya Ryou-niichan bisa masuk ke dalam dan membawa Kino-niichan dengan aman” jelas Fabil


Ryou melihat ke arah anak-anak itu dan bertanya.


“Sekarang, kalian berdua…beritau aku tentang ruangan tempat Kino berada”


Stelani dan Fabil memberitau gambarang mengenai letak keberadaan Kino kepada Ryou dan dia telah mengingat semuanya.


Sesekali, Ryou menarik napas dan menghembuskannya lalu menatap ketiga orang lainnya.


“Aku pergi sekarang!”


“Hati-hati. Aku akan menyiapkan gerobak itu sambil melindungimu dan kedua anak ini” kata Kaito dengan sorot mata serius


Sebelum pergi, kedua anak itu tiba-tiba memeluk Ryou.


“Kalian berdu–“


“Tolong kembalilah dengan selamat, Ryou-niisan! Tolong kembalilah bersama Kino-niisan!”


“Selamatkan Kino-niichan!”


Mendengar itu, Ryou menjadi semakin bersemangat dan mengusap kepala keduanya.


“Tanpa kalian bilang sekalipun, aku pasti akan kembali dengan selamat bersama Kino. Kalian juga harus bisa membantu dan jaga diri kalian”


Sambil menyentuh pisau yang dipegang oleh Stelani, Ryou tersenyum dan berkata pada kedua anak itu.


“Pisau ini adalah hadiah yang kuberikan pada Kino pagi ini. Pastikan kalian menyimpannya baik-baik dan mengembalikan itu pada Kino nanti”


Stelani dan Fabil mengangguk dengan menahan air matanya. Kaito melihat jam saku miliknya kembali dan waktu telah menunjukkan pukul 01.45, artinya sudah pukul 13.45 siang dan ini lebih lama dari yang dikira.


“Sudah semakin siang. Kita harus cepat! Pergilah sekarang, Ryou!” ucap Kaito dengan wajah serius


Ryou mengangguk dan berlari keluar dari gang menuju ke bangunan yang dimaksud anak-anak itu. Tidak bermaksud untuk membuang-buang waktu, Ryou langsung masuk ke dalam dan menaiki tangga menuju ke atas.


Sesampainya di atas, Ryou tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut di wajahnya melihat noda darah di lantai.


Ryou berjalan dan melihat noda darah itu berasal dari sebuah pintu. Ketika dia membuka pintu itu, Ryou menutup mulutnya dan memalingkan wajahnya yang pucat ke kanan.


‘Hal tersebut sama seperti apa yang dikatakan Fabil. Ini jelas perbuatan iblis!!’ katanya dalam hati


Tidak perlu dijelaskan apa yang dilihatnya dalam ruangan tersebut sejak dia ingat apa yang diceritakan Fabil beberapa waktu lalu. Ryou menyadari noda darah itu mengarah pada sebuah ruangan dengan pintu tertutup.


Wajah Ryou tidak bisa menyembunyikan ekspresi sedih. Dengan cepat dia langsung membuka pintu itu dan air mata tidak bisa terbendung lagi.


“Kino!!!”


**


Setelah Ryou pergi, Kaito memasukkan kembali jam sakunya dan bicara pada kedua anak itu.


“Kalian berdua dengar, aku akan pergi untuk memindahkan mayat di dalam gerobak itu. tolong bantu aku untuk memastikan bahwa semua jalur kita aman. Tetaplah bersama dan jangan sampai terpisah. Setelah Ryou keluar dengan Kino, kita akan pergi dari tempat ini!”


“Kami mengerti, Kaito-niisan” jawab Stelani


“Kami akan berusaha agar tidak membuat kalian berdua repot!” kata Fabil


Kaito melihat kondisi Stelani dan Fabil sekali lagi dan mulai berpikir.


‘Gadis kecil ini tidak mungkin bisa berlari cepat. Sekalipun Fabil sanggup menggendongnya lagi, dia tidak akan mungkin bisa terus berlari sambil menggendongnya. Aku juga harus tetap memikirkan kemungkinan jika sampai terlibat dalam pertarungan ketika menjaga mereka berdua. Sepertinya, aku benar-benar membutuhkan lebih dari sekedar keberuntungan untuk bisa lolos dari tempat ini bersama mereka berdua’


Di saat Kaito berpikir demikian, dia sudah tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama dari ini dan  memutuskan untuk bergerak sekarang.


Kaito melihat kembali gerobak di depan bangunan paling tinggi di area tersebut dan berkata pada kedua anak itu.


“Stelani, Fabil…aku akan mulai pergi ke sana. Awasi tempat ini dan perhatikan! Setelah Ryou keluar, lari dan ikuti kami! Aku akan tetap melakukan sesuatu untuk kalian berdua!”


“Baik! Hati-hati, Kaito-niisan!”


“Kami akan mengawasimu, Kaito-niichan!”


Kaito dengan cepat berlari ke gerobak itu dan melihat kantong besar yang membungkus mayat Justin. Sorot mata Kaito yang tampak jijik dengan kantong besar itu tidak bisa disembunyikan.


Sekali lagi, komentar tidak menyenangkan keluar dari mulutnya.


“Sebenarnya aku sangat jijik harus memegangmu lagi tapi ini semua demi menolong penyelamatku”


Awalnya, dia ingin langsung memindahkannya. Namun, niat itu dibatalkan ketika Kaito menyentuh sediki kantong plastik itu.


[Kami sempat mendengar ada suara orang yang keluar masuk ke dalamnya]


Kaito mengingat apa yang dijelaskan oleh Fabil sebelumnya.


‘Meskipun kosong, di dalam sana tentu masih ada orang dan aku tidak boleh mengabaikan hal itu. Suara plastik ini bisa saja terdengar karena area sekitar sini begitu hening. Aku harus menunggu sampai Ryou datang baru dengan cepat melempar sampah dalam gerobak itu ke jalan’ gumam Kaito dalam hati


Sekarang Kaito berdiri di depan gerobak tersebut dengan menyentuh gagang pedangnya sebagai tanda waspada. Dia melihat ke lantai dua bangunan yang dimasuki oleh Ryou sambil berdoa.


“Cepatlah turun, Ryou. Kita sudah kehabisan banyak waktu”


**


Ryou yang berlari dan memeluk Kino berteriak memanggil namanya tanpa memedulikan apapun.


“Kino!! Hiks…Nii-san…Nii-san!! Kumohon bertahanlah, Nii-san!”


Ryou tidak bisa menahan air matanya saat melihat luka di perut dan lengan kiri Kino. Darah masih mengalir meski sudah tidak terlalu banyak seperti sebelumnya. Bibir Kino mulai terlihat pucat akibat kehilangan darah dan napasnya mulai melemah.


Tidak mau menghabiskan waktu percuma untuk melakukan drama pertemuan kakak-beradik, Ryou memeluk sang kakak sambil berbisik.


“Aku akan mengeluarkanmu dari tempat ini. Bertahanlah, Nii-san”


Ryou menggendong Kino dengan gaya bridal style dan berlari menuruni tangga. Air mata tidak berhenti keluar dan dekapan Ryou semakin kuat.


Tidak lama setelah menuruni tangga, Ryou keluar dari tempat itu. Kaito yang melihatnya langsung menghampirinya.


“Ryou! Ah….Kino…” wajah sedih Kaito tidak bisa disembunyikan lagi


Stelani dan Fabil yang melihat dari balik belokan gang menangis melihat Ryou keluar dengan menggendong Kino.


“Kino…Kino-niisan…Fabil, itu Kino-niisan!”


“Ah…Kino-niichan…”


Kedua anak-anak itu tidak bisa menyembunyikan air matanya dan dengan cepat Fabil menggendong Stelani kembali untuk menghampiri gerobak tersebut.


Kaito mengelus rambut Kino dan membersihkan darah yang ada di wajahnya.


“Kau harus mendengarkan permintaan maafku dan adikmu, jadi…kumohon bertahanlah sedikit lagi, Kino”


Fabil yang menggendong Stelani menghampiri mereka dan melihat Kino dengan wajah senang penuh air mata.


“Kino…hiks…Kino-niichan…”


“Syukurlah…syukurlah kami akhirnya bisa menemukan orang yang bisa menolongmu Kino-niisan. Terima kasih banyak, Ryou-niisan. Terima kasih banyak, Kaito-niisan”


“Sekarang, kita tunda dulu momen sedihnya dan kita bawa Kino dari sini” Kaito berkata demikian untuk menunda momen penuh derai air mata dari anak-anak itu


“Kaito, cepat singkirkan sampah itu dan kita bawa Kino! Kakakku terluka dan kita harus menyelamatkannya!”


Ryou tidak bisa menunggu lebih lama dari ini dan segera meminta Kaito membuang kantong besar di dalam gerobak tersebut.


Akhirnya, Kaito menarik kantong plastik itu dan melemparnya ke sisi samping jalan. Ryou dengan cepat membaringkan tubuh Kino.


“Kita keluar dari sini, Nii-san. Tolong bertahanlah sedikit lagi” ucap Ryou sambil mengelus rambut Kino dengan lembut


Kaito merasa ada seseorang yang datang dan langsung meminta Ryou mendorong gerobak itu.


“Ada yang datang! Cepat! Kita pergi dari sini! Ryou, dorong gerobaknya dan larilah. Sementara ini, aku akan menggendong Stelani. Kita lari dari sini melewati belokan sebelumnya!”


Dengan cepat, Ryou berusaha berlari sambil mendorong gerobak tersebut. Fabil menurunkan Stelani dan langsung berlari mengikuti Ryou di belakangnya. Kaito langsung menggendong Stelani di punggungnya.


Setelah mereka semua berbelok, dari pintu bangunan paling tinggi di tempat itu keluar seseorang dan terkejut dengan apa yang dilihatnya di luar.


******