
Ryou berteriak dan langsung menyerangnya tanpa memikirkan situasi saat ini. Will langsung dengan cepat menangkisnya menggunakan pisau dagingnya.
-CKLAAANG
“Kau benar-benar ingin bertarung setelah aku membiarkanmu masuk ke dalam?”
“Diam kau!!” Ryou berteriak
Dia terus menyerang dan tidak memedulikan kata-kata pria besar itu. Will terlihat mudah menghalangi serangan itu tapi dia tidak menyadari apa yang mendatanginya dari sisi depan.
Sebuah tendangan dari arah depan tepat mendarat di wajahnya dan terpaksa memukul mundur dirinya.
“Ugh!” Will mundur sambil menahan sakit di wajahnya
Wajahnya mengalami luka di bagian hidung hingga berdarah tetapi serangan itu masih berlanjut.
Sebuah ayunan pedang datang dari arah depan Will kembali menerima serangan tersebut. Tubuh besarnya itu mulai mundur kembali sambil terhuyung-huyung.
“Kalian…rupanya kalian benar-benar….”
-SLAAASH
“Uaargh!!!”
Belum selesai dengan kalimatnya, Will berteriak kesakitan setelah menerima sebuah serangan.
Sebuah serangan cepat kembali dilancarkan. Serangan secara sepihak mulai dari tendangan itu sampai sayatan panjang yang membuat tubuh pria besar itu terluka dan mengeluarkan darah dilakukan sendiri oleh Kaito.
“Beraninya kau melakukan hal seperti itu pada Kino! Aku tidak akan memaafkanmu!”
Mendengar kalimat itu, Will mengerti bahwa kedua orang di hadapannya itu tidak berniat untuk berhenti menyerang sampai salah satu diantara mereka bertiga mati.
“Begitu rupanya. Jadi kalian ingin menyerangku dan mengalahkanku di sini? Ahahaha, kalian pikir kalian bisa melakukannya? Aku…”
Belum selesai dengan kalimatnya, Ryou berlari dan menyerangnya kembali. Serangan itu bisa ditahan oleh pisau daging besar milik Will tapi tidak dengan serangan menggebu-gebu yang dilakukannya.
Teknik serangan bertubi-tubi yang dilakukan Ryou tidak seperti biasanya. Semua pandangan matanya hanya tertuju pada lawannya sekarang. Gerakan cepat baik saat mengayunkan pedang maupun menghindari serangan Will dilakukan dengan baik berkat fokusnya pada lawan.
“Aku tidak berniat bermain-main denganmu. Dimana kakakku sekarang, jawab aku!!”
“Oi oi oi, aku sudah katakan itu semua Madame yang melakukannya. Jika kalian terus seperti ini, pertukarannya bisa batal dan kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini”
Dengan santai Will masih mampu mengajak remaja yang menyerangnya bicara. Seakan luka di wajah dan tubuhnya tidak berarti, dia masih bisa menghindar dan menyerangnya dengan sangat baik.
-Dor
“Ukh!” Will merasakan betisnya tertembak
Kaito memegang pistol di tangan kirinya dan menembaknya beberapa kali. Sambil menghindari tembakan itu, Will terus maju dan menyerang kedua remaja itu secara bergantian.
‘Dia benar-benar berbeda dengan Justin! Meskipun telah terluka tapi kekuatan dan kecepatan serangannya masih terus meningkat. Jika dibiarkan, hanya tinggal masalah waktu. Aku tidak punya waktu untuk menghadapinya!’ gumam Kaito dalam hati
Kaito terus mencoba mencari celah agar kakinya kehilangan keseimbangan. Dia harus terus menembak dari jarak yang cukup lalu Ryou yang menyerangnya secara langsung dari dekat. Mereka berdua tidak merencanakan strategi apapun namun mereka mampu melakukannya dengan baik. Tapi itu tidak bertahan lama.
Ryou terkena pukulan keras pada perutnya yang membuatnya terlempar dan memuntahkan darah.
“Akh…uhuk…uhuk…Cih, sial!” umpat Ryou pelan sambil mencoba berdiri
“Ryou!!” Kaito teriak sambil melihat Ryou
Kaito terlihat cukup panik sekarang, begitu pula dengan Ryou. Baru menerima pukulan keras di perutnya, Ryou nyaris dihadapkan dengan serangan lain yang diarahkan padanya.
“Jangan diam saja dan terima ini!!” teriak Will sambil mencoba menyerang Ryou dengan pisau dagingnya
Saat Will hendak melakukan serangan ke arah Ryou, Kaito melihat celah bagus.
Dia menembak ke arah kaki depan Will hingga pria besar itu terlambat menyadarinya dan mulai kehilangan keseimbangannya.
Di saat keseimbangannya langsung melemah, dari arah depan, Kaito langsung menebas tangan kanan yang memegang pisau daging itu.
“Uagh!!”
Baru kehilangan tangan kanan miliknya, Ryou tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menyerangnya. Dengan sedikit memaksakan dirinya, dia langsung berlari ke depan dan melompat. Sebuah serangan dari Ryou berhasil membuat sayatan panjang dari bawah perutnya sampai ke atas pundak kanan Will.
“Akan kubunuh kau! Akan kubunuh kau! Akan kubunuh kau!” teriak Ryou
“Gaaaargh!!” pria tua itu berteriak sampai akhirnya terjatuh
Will yang telah terluka dan kehilangan satu tangannya mengeluarkan banyak darah. Dia masih bisa tertawa dengan napas terengah-engah di saat seperti ini.
“Ahaahaha! Menarik sekali! Kalian bisa membuatku terluka seperti ini, tapi kalian tidak akan bisa membunuhku”
“Jangan banyak bicara!!” teriak Ryou sambil mengayunkan pedangnya
Ketika pedangnya hampir mengenai tubuhnya, Will langsung menangkap leher Ryou dan mencekiknya dengan tangan kiri.
“Ugh!!” Ryou tertangkap
Kaito yang melihat Ryou dicekik oleh pria besar itu mencoba untuk tidak panik. Mata dan wajah Ryou yang masih terlihat penuh emosi memperlihatkan bahwa dirinya belum menyerah. Pedang di tangannya masih belum dilepaskan olehnya dan semakin digenggam erat.
“Kalian pikir kalian bisa membunuhku seperti yang kalian lakukan pada Justin? Aku sudah bekerja menjadi penjaga gerbang pasar gelap ini selama 6 tahun dan aku sudah menghadapi banyak sekali orang-orang menyebalkan seperti kalian” kata Will
Apa yang dikatakan oleh Will didengarkan oleh Kaito. Dia menyadari bahwa dia memang bukan orang biasa. Dia kembali mengingat apa yang terjadi ketika wanita bernama Seren dan dirinya keluar dari bar beberapa waktu lalu dan langsung berlari tanpa suara dengan cepat. Itu artinya orang di depan mereka itu lebih kuat dari yang sekarang.
‘Bisa melukainya dengan mudah seperti ini…mungkinkah ada semacam rencana di balik semuanya?’ Kaito mulai berprasangka buruk dalam hatinya
Meskipun begitu, itu bukan lagi masalah karena Kaito harus memikirkan cara agar cengkeraman tangan pria besar itu lepas dari leher Ryou.
Dia mulai bersiap menembak kembali. Akan tetapi dengan mudahnya Ryou dilempat ke arah Kaito dengan begitu keras hingga tubuhnya terhempas dan pistol yang dibawa oleh Kaito terlepas dari tangannya.
“Akh!. Kai…to…kau tidak…apa-apa? Uhuk…uhuk…” Ryou berusaha untuk bangun dari atas tubuh Kaito
Tubuh Kaito menjadi bantalan untuk menahan Ryou merasakan sakit yang luar biasa. Namun, dengan cepat Kaito langsung mendorong Ryou ke sisi kirinya hingga terjatuh. Setelah itu dia melompat ke sisi kanan dengan cepat.
Tindakan Kaito sudah benar karena Will berniat untuk menendang mereka kembali dengan keras.
“Kau benar-benar seperti monster” cela Kaito dengan wajah kesal
“Dalam 6 tahun aku mengabdi, tidak pernah sekalipun aku gagal membunuh orang meskipun harus ditukar dengan anggota tubuhku sendiri seperti sekarang”
“Kalau begitu jadikan ini yang pertama!!” teriak Kaito
Kaito dengan reflek langsung berlari ke arah depan. Dia dengan cepat mengayunkan pedangnya.
‘Berbeda dengan melawan goblin atau giant orc, tubuhnya ini tidak sekuat itu dan seharusnya mudah untuk kubunuh. Tapi kenapa aku rasakan firasat tidak enak darinya’ pikir Kaito dalam hati
Terlalu banyak keraguan membuat Kaito menjadi kesulitan membunuhnya meskipun dia memiliki banyak celah untuk itu.
‘Keraguan yang tidak berguna adalah suatu kegagalan untuk seorang petarung dan jika aku gagal menghentikannya, hanya masalah waktu sampai dia membunuhku dan Ryou! Tubuhnya tidak memiliki apapun dan ini bukan ‘dunia malam’, Kaito! Jangan ragu untuk membunuh manusia setelah apa yang dilakukan oleh mereka pada penyelamatmu!!’
Kaito terlalu kaku dan terus berpikir bahwa manusia di tempat ini memiliki kemampuan yang aneh seperti monster di dunia malam tapi akhirnya pikiran itu dihilangkan.
Dia dengan cepat menyerangnya kembali dengan mengayunkan pedangnya untuk melukai kaki Will. Dengan cepat Will mengangkat kakinya dan menendangnya mundur.
Will mundur dengan cepat beberapa langkah dan mengambil kembali pisau dagingnya yang terjatuh. Dia menggenggamnya dengan tangan kiri dan menyerang Kaito. Ryou yang masih mencoba untuk bangkit melihat pistol Kaito yang tergeletak di tanah.
‘Pistol itu…’ pikirnya
Dengan melihat pertarungan Kaito, tampaknya dia memiliki kesempatan untuk mengambil benda itu. Pria besar itu sepertinya lebih tertarik dengan Kaito yang kuat dibandingkan dirinya. Bisa dilihat Kaito benar-benar dibuat bertahan dengan serangannya.
‘Padahal sudah kehilangan banyak darah dan tangan kanannya, tapi kenapa pria besar ini masih bisa memberikan perlawanan sengit seakan tubuhnya tidak apa-apa?! Apa dia monster? Ditambah lagi, dia terlihat seperti menikmatinya. Ini berbahaya!’ gumam Kaito dalam hati
Sementara itu, Ryou melirik ke arah pistol itu sekali lagi dan segera melihat kembali semua gerakan dua orang yang bertarung itu dari jauh.
Emosinya kembali terpancing ketika dia mengingat apa yang dikatakan oleh Will.
[Remaja laki-laki itu ya! Madame tadinya ingin membunuhnya]
[Hanya sebuah sayatan dan tusukan tidak akan membuatnya mati dengan cepat. Kalau dilihat dari waktunya seharusnya dia mungkin masih hidup atau paling tidak sekarat]
“Aku tidak akan memaafkannya! Aku tidak akan memaafkannya!”
Dengan air mata yang keluar dari matanya, Ryou memaksakan dirinya dan berdiri mengambil pistol itu. Tidak ada rencana apapun kecuali emosi yang menguasainya. Dia mengingat banyak hal sebelum sampai ke fase ini.
[Nilai kemanusiaan? Bicara apa kau ini?]
[Aku tidak sedang membicarakan kemanusiaan di sini!! Aku sedang bicara bagaimana caranya menyelamatkan kita dari iblis berkedok manusia, ingat itu!!. Omong kosong dengan kemanusiaan. Sejak kapan ‘dunia’ aneh ini memiliki aturan dan hukum?!]
Semua yang tiba-tiba muncul dalam ingatannya adalah kata-kata dan kalimat yang diucapkannya sendiri pada Kaito.
“Pada akhirnya aku sudah menjadi pembunuh. Tidak perlu ragu untuk membunuh satu atau dua nyawa lain jika diperlukan. Mereka sudah menyakiti kakakku! Mereka sudah menyakiti orang yang paling penting untukku! Aku akan melenyapkan semua iblis berkedok manusia itu!!” kata Ryou sambil menangis dengan tatapan penuh kebencian
Ryou terus mengamati pertarungan dan dia akhirnya melihat posisi yang tepat untuk menarik pelatuknya. Dia berlari dengan pedang dan pistol di tangannya.
Sekilas, sebuah kalimat lain yang paling penting untuknya muncul seakan berbisik.
[Kau tidak lupa apa yang kita bicarakan ketika berbelanja semalam, kan?. Kau dan aku harus minta maaf pada Kino setelah ini]
Kalimat dari Kaito yang dia katakan ketika masih berada dalam ruangan Justin.
Ryou yang berlari tanpa sadar masih mengeluarkan air matanya dan menangis mengingat kalimat itu. Di dalam hatinya, dia mengutarakan semua perasaan sedih dan doanya.
‘Kino, maafkan adikmu yang menyedihkan ini. Aku sudah gagal melindungimu, aku gagal menepati janjiku padamu dan aku sudah mengecewakanmu. Adikmu telah menjadi pembunuh dan mungkin akan menjadi kriminal lebih buruk lagi dari Kaito. Saat aku berhasil menyelamatkanmu dari tempat terkutuk ini, aku akan terima semua kutukan dan kemarahanmu nanti. Aku mohon….tunggu aku dan hiduplah!’
**
Pertarungang Kaito melawan Will terlihat semakin tidak seimbang. Bukan Kaito yang mendesa lawan namun justru Kaito yang terdesak oleh serangan lawan.
“Oi oi oi, apa hanya segini kemampuan bertarungmu? Kau merasa ragu melihatku masih bisa bertarung seimbang denganmu dengan semua luka dan tangan ini, hah?!”
Kaito hanya diam dan bergumam dalam hati.
‘Dia benar! Aku tidak bisa menghilangkan prasangka buruk dalam pikiranku. Ini tidak bagus’
Gerakan melambat seperti seorang pemula yang baru belajar bertarung. Kaito kehilang banyak kontrol dan kesempatan emas untuk mengalahkannya.
‘Jangan ragu, Kaito! Kalau begini, semua akan sia-sia sa…apa?!’
Kaito melihat dari arah samping Ryou berlari dengan mengayunkan pedangnya untuk menyerang Will.
“Hiyaaa!!!”
Ryou berteriak untuk mengalihkan pandangan Will. Will yang mendengar itu langsung berbalik ke arah Ryou sambil mengayunkan pisau dagingnya.
“Kau lagi!! Selamat tinggal, anak manis!!”
Will dengan kuat mengayunkan pisaunya ke arah depan dan dengan reflek cepat Ryou langsung merunduk dan menusuk perut Will dengan pedangnya. Pandangan Ryou lurus ke atas wajah Will lalu dengan cepat mengarahkan pistol ke lehernya dan terdengar suara.
-Dor
“R…Ryou…” Kaito hampir tidak bisa berkata apa-apa
“Ini untuk perbuatan kalian pada kakakku!!”
-Dor…Dor
“Akh!!”
Ryou menembak kembali dan membuang pistolnya. Dengan menggunakan kedua tangannya, dia langsung menekan pedangnya lagi agar menancap lebih dalam.
“Kau…!!!” Will melihat ke bawah dengan tatapan kebencian
Kaito tidak tinggal diam dan langsung melompat dari arah belakangnya. Dengan ayunannya, dia tidak ragu lagi dan langsung memenggal kepala Will.
-SLAAAASH
-Pluuk
Dengan tubuh yang masih dalam pose menyerang, kepala Will jatuh begitu saja. Dari lehernya, darah mengucur seperti sebuah air mancur yang ‘indah’ di siang hari. Ryou yang bermandikan darah itu langsung mencabut pedangnya dan menendang tubuh pria besar itu hingga jatuh ke tanah.
Kaito yang mengayunkan pedangnya untuk membersihkan darah pria besar itu mencoba mengatur napasnya dan memperlihatkan kekecewaan pada dirinya sendiri.
‘Dasar pecundang tidak berguna! Untuk apa kau sempat memikirkan hal yang tidak-tidak hingga membahayakan nyawamu sendiri dan orang lain! Kalau begini, kau tidak akan pernah pantas untuk menyelamatkan hidup siapapun!’ kata Kaito mencela dirinya sendiri
Kaito segera tersadar dan melihat Ryou yang berdiri melihat kepala pria besar itu sambil menangis.
“Kino…hiks…Nii-san…Nii-san…hiks…hiks…”
“Ryou…” Kaito melihatnya dengan tatapan sedih
Kaito langsung menyimpan kembali pedangnya dan menghampirinya.
“Ryou, kita tidak punya banyak waktu”
“…Hiks…hiks…” Ryou terdiam sambil menangis
Kaito mengambil kembali pistol di jalan dan memastikan peluru yang tersisa. Setelah menyimpan kembali pistol miliknya, dia menarik tangan Ryou dan memaksanya berlari.
Kaito bahkan berlari dan berteriak.
“Kino masih hidup!!”
“……!!!”
“Jangan pernah meremehkan tingkat keberuntungan miliknya! Diantara kita bertiga, hanya kakakmu yang dicintai oleh takdir, ingat itu! Kita ke sini untuk menyelamatkan mereka bukan untuk meratapi nasib mereka! Kita juga harus minta maaf pada Kino!”
Kata-kata itu membuat Ryou tersadar. Dia berhenti dan melepaskan tangannya dari Kaito sambil melihatnya dengan tatapan serius.
“Aku tau itu! Aku hanya merasa sedih memikirkan dia memiliki adik yang buruk sepertiku, itu saja! Kita pergi ke tempat dimana pengelola itu berada sekarang!”
“Kalau begitu, ayo!”
Mereka akhirnya telah mendapatkan kembali kepercayaan diri mereka dan drama kecil berakhir. Akan tetapi, ternyata tidak semudah itu.
Selang beberapa menit setelah mereka berlari, Kaito meminta Ryou untuk berhenti.
“Tunggu sebentar, Ryou” Kaito meminta Ryou berhenti
Keduanya berhenti sambil melihat satu sama lain dengan wajah aneh.
“Ada apa, kita tidak punya waktu?!” seru Ryou dengan ekspresi serius
“Aku baru menyadari sesuatu yang penting. Kita memang harus mencari tempat pengelola itu berada, tapi kemana kita harus mencarinya?”
Ryou terdiam dengan mata lebar dan ekpresi datar.
“A…kau benar. Kemana tujuan kita sekarang?”
******