Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 80. Pasar Gelap bag. 7



Di [La porte du Paradis], di lantai tiga kediaman Jack dan Seren, terlihat keduanya sedang duduk dan makan siang bersama.


Tidak ada siapapun kecuali mereka. Jack tampak sudah bersih dan tampan dengan gaya berpakaian kasual, baju lengan panjang yang longgar dan celana bahan berwarna gelap terlihat serasi dengan warna pakaiannya saat ini.


Tapi, sifatnya yang terlalu cinta istri itu sepertinya lebih mendominasi dibanding wajah tampannya.


“Oh Seren cintaku, bakat memasakmu semakin luar biasa. Daging ini lembut seperti daging bayi. Ahahaha”


“Itu memang daging bayi–”


“Apa?!” Jack langsung kaget mendengarnya dan memotong kalimat sang istri


“Itu daging bayi kambing” kata Seren dengan wajah dan nada datar


“Oh cintaku yang paling manis, kau membuatku hampir kehilangan nafsu makanku. Itu namanya daging kambing muda, bukan daging bayi kambing” Jack tersenyum kecut ke arah sang istri


“Memang aneh jika menyebutnya daging bayi kambing? Kambingnya memang masih kecil seperti bayi, kan?”


“Seren sayang, itu tidak sama. Percayalah pada suamimu ini”


“Begitu. Baiklah, itu daging kambing muda. Aku membuatnya seempuk mungkin agar kau menyukainya” jawab Seren dengan senyum manisnya


“Oh, cintaku~ kupikir kau benar-benar memberi suamimu ini daging bayi manusia sebagai makan siang, ahahaha” Jack tersenyum pada sang istri dengan sedikit canggung


Sekarang dia memandangi daging di garpunya dengan tatapan aneh. Terlihat dengan jelas kalau nafsu makannya benar-benar mulai berkurang akibat candaannya sendiri.


Seren tampak memakan daging kambing dan sup di meja dengan tenang, namun sepertinya Jack lebih senang meminum air di gelas.


Sedikit demi sedikit dia menjauhkan piring itu ke depan dengan hati-hati agar tidak diketahui oleh sang istri.


Di saat dia sedang melakukannya, tiba-tiba jantungnya nyaris berhenti ketika Seren memanggilnya.


“Jack–”


“Ah!! Eh, ya? Ada apa cintaku?” Jack mempertahankan wajah tampannya sambil memainkan garpu makannya


“Aku ingin bertanya tentang rencanamu ingin mencari pria yang dicari Justin”


“Oh!”


Keberuntungan datang, Jack langsung meletakkan garpunya di atas piring dan menyingkirkan piring makan miliknya beserta sup dagingnya ke depan dan jauh dari jangkauannya.


Seren yang melihat sikap suaminya itu ingin sekali bertanya tetapi sang suami lebih cepat merubah situasi.


“Jadi sayangku, kenapa? Tadi bicara apa? Oh, aku ingat. Kau ingin tau tentang rencana selanjutnya ya”


“Benar” kata Seren tanpa memedulikan kejadian sebelumnya


“Ehem, jadi begini cintaku. Aku berpikir karena kita sudah mendapatkan dua dari malaikat Justin jadi kupikir kita bisa mulai mencarinya. Pria berpedang tanpa sarung pedang itu sepertinya tidak begitu sulit untuk dicari”


“Kenapa?”


“Alasannya karena jarang sekali orang dengan ciri-ciri mencolok seperti itu di kota ini. Aku yakin kita pasti akan menemukannya dengan mudah” kata Jack sambil tersenyum


“Tapi bagaimana jika ternyata orang itu sudah tidak ada di kota ini?”


“Justin hanya meminta kita untuk menemukannya dalam keadaan hidup. Selama dia belum mencabut permintaannya, kita akan terus mencarinya. Lain cerita jika dia mencabut permintaanya pada kita atau mati terkena serangan jantung tiba-tiba. Atau seandainya dia mati terbunuh”


“Mati ya. Sejauh ini aku tidak bisa membayangkan ada orang yang cukup bodoh mau melawannya di tempat yang dia sebut sebagai daerah kekuasaannya. Bahkan daftar mayat yang diberikan Riz pagi ini juga hasil perbuatannya” kata Seren sambil memotong daging yang ada di atas piring


Jack yang melihat istrinya memotong daging itu jadi membayangkan kata-kata istrinya soal ‘bayi’ lagi dan menelan ludahnya kembali dengan wajah cemas.


‘Aku memang senang memotong manusia tapi tidak berarti aku senang memakannya juga. Jika saja istriku yang cantik ini memiliki sedikit selera humor yang bagus seperti pelawak mungkin nafsu makanku tidak akan lenyap seketika’


Jack meminum air dalam gelasnya kembali dan melanjutkan pembicaraannya.


“Ehem. Begitulah. Selama tidak ada permintaan dari pihaknya, kita akan mencarinya. Hitung-hitung menambah daftar barang dagangan tanpa harus mencarinya susah payah”


“Kau benar, Jack. Dan bicara soal barang dagangan, untuk pembukaan malam ini banyak sekali permintaan dari para bangsawan mengenai organ tubuh anak-anak. Karena sudah ada dua, kenapa tidak bunuh dan dipotong untuk dijual malam ini?”


“Hmm?” Jack yang sedang minum air dari gelasnya lagi langsung melihat sang istri dengan tatapan bingung


“Kenapa anak-anak itu tidak dibunuh dan langsung dipotong tubuhnya untuk dijual?” tanya Seren


Jack menjawab setelah selesai minum air.


“Ah, mereka ya. Aku sudah tidak minat. Kupikir mereka akan sangat menarik dan membuatku berkata ‘waaah, indahnya ciptaan Tuhan yang satu ini’, tapi ternyata tidak begitu. Ekspetasiku hancur seketika”


“Kenapa? Mereka sehat dan mulus. Selain itu mereka juga memiliki gigi yang sehat dan mata yang bagus”


“Mereka tidak makan dengan benar. Justin memang menganggap mereka sebagai hewan peliharaan tapi tidak kukira dia tidak merawat hewannya dengan baik. Kau tau aku sudah memeriksa mereka sendiri kan, cintaku? Aku memperhatikan semuanya dari ujung rambut hingga kaki. Perut mereka baru terisi dengan baik pagi ini, atau paling tidak baru semalam. Itu tidak ideal sama sekali”


“Jadi, percuma saja dibawa ke sini?” tanya Seren dengan nada kecewa dan wajah sedih


“Oh, tidak tidak sayangku! Jangan membuat wajah mengerikan itu di depan suamimu yang sangat menyukai senyumanmu itu!. Itu tidak percuma sama sekali!!”


“Benarkah?”


“Benar benar. Kita masih bisa menjualnya dengan harga murah di pasar agar orang-orang kaya itu membelinya sebagai budak. Lagipula itu adalah pemberian Justin sebagai bayaran untuk kita jadi sekarang terserah pada kita mau menggunakannya sebagai apa”


Jack memegang tangan sang istri dan mengelusnya dengan lembut seraya merayunya agar tidak sedih lagi. Seren yang merasa lebih baik mendengar ucapan suaminya langsung tersenyum bahagia.


“Lalu, bagaimana dengan anak laki-laki yang tadi?” Seren kembali bertanya pada Jack


Jack tersenyum seperti seorang psikopat sesungguhnya.


“Kalau yang itu berbeda. Dia sangat menakjubkan dan berbeda. Apalagi tubuhnya tidak mengeluarkan aroma apapun seperti bukan manusia. Sekalipun dijual dalam keadaan hidup, aku tidak akan memasang harga rendah untuknya”


Seren mulai tersenyum bahagia melihat senyuman indah bagaikan psikopat milik suaminya.


“Bicara soal hal lain, apa Will masih di ruangan itu?”


“Oh, dia sudah kuminta kembali berjaga di posnya. Ini sudah tengah hari jadi sebaiknya dia juga kembali bekerja. Kecuali jika dia mau menjual kepalanya padaku, dia tidak perlu berjaga lagi” kata Jack dengan wajah santai


“Jack sayang, kau sudah sering melakukannya pada karyawanmu yang lain sehingga hanya tersisa Will dan Lucy di bawah. Kita bahkan belum menemukan pengganti koki kita yang baru kau penggal tiga hari lalu. Karena itu aku berusaha untuk belajar memasak dari buku resep miliknya”


“Kau benar. Kurasa kita harus menemukan karyawan baru lagi sekarang agar istriku tidak perlu lagi memasak daging bayi, eh bukan…daging kambing muda lagi. Ahahaha”


“Begitu”


Seren hanya tersenyum tanpa tau bahwa suaminya itu sebenarnya menyindir secara halus.


Akhirnya waktu makan siang mereka selesai dengan Jack yang hanya memakan dua suap daging tanpa memedulikan sisanya.


******


Di tempat asing lainnya, Riz yang membawa gerobak berisi mayat Justin berjalan paling depan disusul oleh Arkan lalu Ryou dan Kaito di belakang mereka.


Ryou dan Kaito saling bicara dengan nada pelan.


“Kaito, aku sudah mendengar sedikit informasi berguna mengenai wanita bernama Seren dan suaminya yang bernama Jack”


“Benarkah?”


“Benar. Aku akan menjelaskan sedikit kepadamu”


Kaito mendengarkan semua penjelasan yang dikatakan oleh Ryou sejak awal. Arkan yang sempat melirik mereka berdua di belakangnya tampak cukup memahami apa yang kedua orang itu bicarakan.


‘Aku mengerti dengan situasi ini dan jika melihat dari gaya anak bernama Ryou yang sering disebut Kaito itu, dia memiliki kemampuan bertarung yang tidak kalah dengannya. Kuharap ini tidak akan berakhir buruk’


Mendengar semua penjelasan Ryou, Kaito menjadi serius.


“Itu artinya selain Seren, Jack yang paling berbahaya”


“Menurut Riz seperti itu. Itu karena dialah suami Seren sekaligus pengelola pasar gelap yang sedang kita tuju. Dia juga yang bisa memutuskan apakah manusia yang dibawa ke tempat itu bisa dijual dalam keadaan hidup atau tidak”


“Merepotkan!!” kata Kaito dengan kesal


“Kau benar, ini merepotkan. Semua ini gara-gara iblis yang sudah jadi mayat cacat di gerobak depan!!. Gara-gara dia Kino jadi ikut terlibat. Sampai mati aku tidak akan memaafkannya!!”


Ryou kembali tersulut emosi melihat gerobak dengan mayat Justin yang terbungkus plastik.


Mereka berjalan melewati jalan yang tidak pernah dilalui sebelumnya.


Jalan yang mereka lewati itu lebih sepi dari yang mereka duga. Meskipun siang hari namun semua yang ada di sana benar-benar tidak berpenghuni.


“Oi, kalian yang di depan!!” Ryou berteriak kepada dua orang di depannya


“Kau memanggil siapa? Bicara yang jelas!”


“Siapapun yang mau menjawabku. Tempat macam apa ini?! Kenapa tidak ada satupun bangunan yang ditinggali oleh manusia? Apa semuanya sudah berakhir menjadi dagangan di pasar gelap?” Ryou bertanya sambil berteriak


Hal itu tidak mengherankan. Bangunan di sana memang sepi sekali. Suasananya mirip dengan ‘dunia malam’ yang mereka tau namun bedanya ini versi siang hari.


Meskipun ada cahaya namun dengan tingginya bangunan di sana, bayangan gelap dari paparan matahari lebih mendominasi sehingga suasana menjadi lebih tidak bersahabat.


“Oi, jawab aku sekarang!!” Ryou kembali berteriak setelah tidak mendapatkan jawaban beberapa detik


“Kau benar-benar miskin adab ya, Ryou!! Seharusnya kau memanggilku atau Arkan untuk menjawabmu” kata Riz sambil mengejek Ryou di belakangnya


“Terserah! Ini tidak seperti aku ingin menjadi teman akrab kalian berdua! Sekarang jawab pertanyaanku, kenapa bisa begitu?”


“Dasar bocah! Iya iya akan kujawab. Tempat ini memang tidak pernah ditinggali sejak ini merupakan daerah perbatasan antara wilayah asing bagian depan dengan wilayah gelap [Région Crâne Rouge] milik Jack-sama” jelas Riz


“Wilayah gelap, [Région Crâne Rouge]? Apa tidak salah? Itu berarti ‘wilayah tengkorak merah’ kan? Kenapa disebut wilayah gelap?” Ryou terlihat bingung dengan penamaan area tersebut


“Wilayah ini dulunya adalah bekas pembantaian secara sepihak yang dilakukan oleh Jack-sama kepada tuan tanah dan anak buahnya yang mengaku sebagai penguasa tempat ini. seperti Justin yang mengaku tempat asing di depan itu sebagai wilayahnya, ada banyak sekali orang-orang sejenis yang mengaku wilayah tertentu sebagai wilayahnya”


“Berarti ada lebih dari satu orang seperti Justin di tempat ini?” tanya Kaito


“Tepat sekali. Aku tidak mengenal mereka secara dekat seperti aku mengenal Justin tapi beberapa dari mereka menjadi pelangganku di pasar gelap jadi minimal aku tau dari mana asal mereka”


Kaito berkata dalam hati.


‘Sepertinya ‘dunia’ ini memang memiliki masalahnya sendiri. Kalau begini, bagaimana caranya aku bisa menemukan petunjuk tentang ingatanku di tempat seperti ini?’


Riz kembali melanjutkan penjelasannya.


“Jack-sama dan Seren-sama adalah yang paling lama tinggal di tempat ini sejauh yang kutau. Aku hanya mendengar cerita tentang pembantaian itu dari kabar angin tidak lama setelah membuka kios di pasar gelap atas tawaran salah satu anak buah Jack-sama dulu. Sekarang orang itu sudah mati dan berakhir menjadi dagangan Jack-sama tiga bulan setelah aku bergabung”


“……” semua orang terdiam mendengarnya


“Tapi, sejak semua pedagang yang berjualan di sana mengenal baik pasangan suami-istri tersebut jadi kami semua sudah menghafal setidaknya tiga sampai empat kebiasaan penting mereka berdua”


“Termasuk yang kau ceritakan padaku tadi?” tanya Ryou


“Itu juga salah satunya” jawab Riz dengan senyum


“Kenapa melakukan hal tidak penting begitu?” tanya Arkan


“Demi keselamatan kami semua”


“Keselamatan?”


“Wilayah gelap itu adalah tempat yang menjual satu jenis material sebagai barang dagangan yaitu manusia. Manusia dengan hati nurani pasti tidak akan mau melihat manusia lain dijual atau dimutilasi dengan kejam, benar kan?. Karena itu, kami menyebut orang yang datang ke tempat seperti itu untuk melakukan transaksi jual-beli di sana sebagai iblis berwujud manusia” jelas Riz dengan serius


“Itu artinya kau juga iblis berwujud manusia, Riz” kata Kaito dengan nada serius dan mata dingin


Ryou dan Arkan yang terlihat serius terdiam mendengar ucapan Kaito. Riz yang tidak menengok ke belakang hanya tersenyum miris.


“Kau benar. Aku juga iblis berwujud manusia. Kalau tidak, mana mungkin aku membuka usaha penjualan mayat dengan namaku sendiri”


“……” Kaito masih terlihat serius dengan mata dinginya


“Tapi, kalian yang berniat menukar mayat Justin dengan tiga orang yang masih diragukan status hidup dan matinya juga iblis berwujud manusia sekarang” jawab Riz dengan mata dingin dan senyum miris


Tidak ada yang membantahnya. Itu memang benar. Sekarang, mereka memang bermaksud untuk melakukan transaksi jual-beli di sana dengan sistem barter yang artinya mereka juga pantas dijuluki iblis berwujud manusia.


“Aku tidak peduli lagi dengan sebutan iblis atau apapun itu. Aku akan menyelamatkan kakakku meskipun harus berubah menjadi iblis”


Ryou mengatakannya dengan mata penuh emosi. Kaito yang melirik Ryou mengingat apa yang direncanakan oleh mereka di ruangan Justin saat Arkan pergi untuk menyusul Riz.


******


“Ryou, ini hanya dugaanku saja tapi aku ingin menyampaikan sesuatu padamu”


“Apa itu?”


“Mengenai hal ini, aku ingin kau mendengarkan rencana B dan C yang aku punya”


“Rencana B dan C” Ryou terlihat serius


“Kita tau bahwa ini bukan masalah mudah sejak semuanya menyangkut nyawa Kino dan anak-anak itu. Ditambah lagi, wanita bernama Seren yang dikatakan oleh tuan bartender itu merupakan seorang pembunuh dan orang yang melakukan perdagangan manusia. Sekalipun tuan bartender berniat melakukan pertukaran mayat Justin dengan nyawa ketiganya, aku ragu semua akan berjalan dengan mulus”


“Apa maksudmu?” Ryou bertanya dengan tatapan bingung


“Pikirkan baik-baik. Kita sedang membicarakan nyawa manusia. Dilihat dari sisi manapun, manusia yang masih hidup berjumlah tiga orang ditukar dengan mayat satu orang itu bukanlah pertukaran yang adil!. Terlepas seperti apa jenis transaksinya, aku yakin orang bodoh juga tau hal itu”


“……” Ryou mulai terlihat serius


“Sekalipun wanita bernama Seren itu bersedia melakukan pertukaran dengan tuan bartender nantinya, aku yakin setidaknya dia hanya akan membebaskan paling maksimal satu diantara ketiganya dan mungkin itu juga tidak sesuai dengan harapan kita. Pikirkan kemungkinan itu!”


Ryou mulai berpikir dengan serius.


‘Apa yang dikatakan oleh Kaito ada benarnya. Dilihat dari manapun, menukar mayat dengan manusia bernyawa itu tidak adil. Orang gila juga tau itu!!. Sebodoh-bodohnya mereka, mereka tentu akan menilai pertukaran material ini dengan nilai yang sama juga. Konsepnya seperti barter’


Ryou mengangguk setuju dengan pemikiran Kaito dan bertanya.


“Lalu apa rencana B dan C yang kau punya?”


“Rencana B nya adalah membiarkan pertukaran ini terjadi dengan tambahan uang di dalamnya”


“Uang? Memang kita memiliki uang dalam jumlah banyak?”


“Untuk sekarang tidak. Sisa uang yang kau dan aku miliki mungkin tidak akan cukup untuk menjamin keselamatan mereka, namun jika memang ada kemungkinan walau sedikit kita bisa mengajukan sistem cicil atau kredit. Kau pasti tidak asing dengan itu juga, kan?”


Ryou marah dan melampiaskan kekesalannya sambil menunjuk mayat Justin dengan telunjuknya.


“Jangan bercanda!! Kenapa aku harus berhutang untuk nyawa manusia yang sejak awal itu adalah kesalahan mayat si bodoh di sana itu!!”


“Aku tidak memintamu untuk melakukannya tapi aku hanya menyampaikan bahwa itu sebagai rencana B. Terlepas bagaimana isi transaksinya nanti, anggap saja ini hanya rencana cadangan dengan kemungkinan terjadi sangat kecil” Kaito mencoba meyakinkan Ryou


“Aku tidak suka rencana bodohmu itu! Ganti! Langsung ke rencana C!”


Kaito hanya bisa menghela napas dan menunjukkan ekspresi berbeda dengan sebelumnya. Ekspresi ini begitu dingin dengan sorot mata tajam.


Ryou yang menyadari hal itu terkejut dan sorot matanya berubah.


“Rencana C yang kupunya adalah merebut mereka secara paksa dengan kekerasan”


“……”


Seperti sudah menduganya, Ryou tampak tenang dan tidak memberikan reaksi apapun.


“Sejak kau dan aku membunuh Justin bersama, tidak akan jauh berbeda jika kita membunuh dua atau tiga orang lain di sini. Sejak ‘dunia’ ini tidak memiliki hukum, artinya yang kuat yang menang, yang lemah yang kalah”


“Maksudmu, aku boleh membunuh wanita itu jika aku mampu?” tanya Ryou dengan wajah serius


“Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk melindungi sisi kemanusiaanmu agar tidak membuat Kino sedih. Namun sejak aku gagal melakukannya dan aku sendiri juga mulai gila karena masalah ini, aku rasa aku akan menangis saja dan bersujud minta maaf pada Kino setelah semua ini berakhir”


Ryou tertunduk dan diam sambil berpikir. Sampai akhirnya ekspresi terakhir yang ditunjukkan olehnya adalah sebuah senyuman sinis dengan sorot mata tajam.


“Aku mengerti. Kalau memang seperti itu, aku akan sangat senang melakukannya”


“Kau yakin tidak akan menyesali apapun?” Kaito bertanya kepada Ryou dengan wajah cemas


“Sudah sangat terlambat menyesali apapun. Sejak aku dan Kino datang ke ‘dunia’ yang tidak jelas ini, tujuan kami adalah menemukan jalan kembali ke Jepang. Aku akan menerima rencanamu itu”


Kaito terlihat lega mendengarnya lalu berkata dengan senyuman.


“Kalau begitu, sebaiknya kau menyiapkan mental terbaikmu ketika kita minta maaf pada Kino nanti”


“Jangan khawatir. Air mataku ini masih banyak tersisa untuk melakukannya. Aku akan menulis daftar dosa yang kulakukan selama dia tidak ada di sampingku. Tenang saja” Ryou mengatakannya dengan senyum tipis di bibirnya


******


Selesai mengingat semua hal yang direncanakan oleh keduanya, Kaito berkata dalam hati.


‘Aku berharap tidak ada satupun dari rencana cadanganku yang berhasil, terutama yang terakhir. Aku berharap semua berjalan sesuai dengan apa yang kami inginkan dan mendapatkan mereka bertiga kembali’


******