Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 151. Kerinduan dalam Piring dan Rasa



Sesampainya di penginapan, ketiga remaja itu langsung meletakkan semua belanjaan mereka di atas meja. Kaito melepas sarung pedangnya dan membantu mengeluarkan semua yang telah mereka beli.


“Terima kasih banyak sudah membantu, Kaito-san” ucap Kino sambil tersenyum


“Sama-sama. Aku cukup menantikan masakan dari remaja dunia lain sekarang”


“Hah! Kalau kau mencicipi masakan kakakku, kau akan sangat menyukainya. Dia itu jenius dari semua jenius yang kutau!” Ryou terlihat bangga sekali pada kakaknya


‘Kalau itu aku tau. Setidaknya Kino bukanlah orang yang bermulut pedas sepertimu’ pikir Kaito dalam hati


Niatnya, dia ingin mengatakan hal itu dengan lantang tapi tidak mungkin karena kemampuan mencaci maki Ryou terlalu sulit dikalahkan. Akhirnya Kaito memutuskan untuk mengurangi semua komentarnya jika Ryou bicara.


Kino langsung pergi ke dapur untuk memeriksa semua peralatan yang bisa digunakan.


“Hmm? Pisaunya…tidak ada” katanya


Kaito yang mendengar hal itu langsung melihatnya dan bertanya.


“Kenapa? Apa ada yang kurang, Kino?”


“Sepertinya pisau dapurnya tidak ada. Saat kalian belanja waktu itu, apakah kalian lupa membelinya?”


“Soal pisau, kau pakai saja dagger milikmu itu. Itu serba guna, bisa untuk memotong buah dan sayur juga bisa memotong orang. Efisien sekali, kan?” ujar Ryou


Sambil berjalan menuju dapur dan mengambil daggernya dari sabuk ikat pada pinggang sang kakak, Ryou tidak lupa membawa kentang dari meja dan langsung mempraktekkannya di depan sang kakak.


“Lihat? Bisa memotong kentang juga? Kentang saja bisa dipotong apalagi manusia. Gunakan saja ini. Aku sengaja membeli ini sebagai hadiah agar bisa kau pakai berkali-kali untuk kebutuhan lain” kata Ryou sambil tersenyum


“……” Kino dan Kaito terdiam sambil melihat satu sama lain


Setelah itu, Ryou pergi untuk melepas sarung pedangnya dan membantu membawa bahan makanan yang dibeli. Kaito mendekati Kino lalu berbisik.


“Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu pada otak adikmu itu?”


“Aku…aku tidak berpikir Ryou tidak pintar, Kaito-san. Hanya saja…sejak dulu dia memang sedikit…um…ekstrim” jawab Kino sambil tersenyum kecut


“Tapi otaknya sudah berputar ke arah yang salah”


“Aku…aku mohon tolong dimaklumi ya”


Kaito hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengambil dagger itu.


“Kalau kau kesulitan mengupas sayurnya, biar aku yang lakukan. Tangan kirimu masih belum pulih. Jika terus bergerak, lukanya akan terbuka lagi”


“Terima kasih banyak” Kino tersenyum


Melihat Kaito membantu Kino mengupas kentang, Ryou yang membawa bahan masakan juga tidak mau kalah. Dia mengambil dagger lain milik Kino dan mulai memotong sayurnya.


Hal paling jeniusnya adalah mereka benar-benar menggunakan dagger itu untuk mengupas dan memotong. Tampaknya kali ini, ide Ryou sangat cerdas dan efektif.


Selesai memotong, sekarang giliran Kino yang bekerja. Dengan meminta kedua orang lainnya untuk menunggu, Kino membuat sebuah masakan yang cukup sederhana.


“Kau yakin kau tidak butuh bantuan, Kino?” tanya Ryou


“Aku hanya menumis, Ryou. Tolong tenang di sana dan siapkan saja piringnya ya”


Ryou mendengarkan perintah sang kakak dan mulai menata piring yang dia beli pada malam itu bersama Kaito. Kaito melihat jam saku miliknya dan sepertinya mereka menghabiskan waktu cukup lama ketika berbelanja.


“02.50 ya. Ini nyaris satu jam. Sepertinya kita menghabiskan waktu cukup lama saat berbelanja tadi” gumamnya pelan


“Mau bagaimana? Penjual di sana benar-benar sangat ekstrim kalau soal tawar menawar. Sudah begitu tidak mau mengalah lagi. Menyebalkan sekali”


“Tapi aku terkejut kau bisa membuat mereka semua diam dan memberi kita harga sangat murah” puji Kaito


“Huh! Kau tidak tau! Itu adalah jurus andalan ibuku saat dia menawar harga sayur-sayuran di pasar. Aku sempat mempraktekkan itu ketika membeli jam saku baru yang kupunya sekarang” Ryou menjawab dengan bangga


“Kau…serius?”


“Tentu saja serius!”


“Aku tau mulutmu itu adalah aset paling penting yang pernah ada” gumam Kaito pelan


“Kau bilang sesuatu?”


“Tidak ada. Aku hanya bicara sendiri. Aku pikir aku harus belajar banyak darimu. Teknik mengancam dan mencaci maki orang itu sepertinya harus kau turunkan sedikit padaku”


“……” Ryou melihat Kaito dengan wajah aneh


Itu seperti sebuah sindiran berbasis pujian dari Kaito. Seandainya Kaito tau bahwa dia juga memiliki bakat seperti Ryou. Tampaknya, Kaito masih tidak menyadari bahwa dia sudah berkali-kali membalas kalimat pedas Ryou.


Kino hanya mendengarkan semua pembicaraan itu sambil memasak.


‘Rasanya seperti kembali ke rumah. Paling tidak setelah permata milik Kaito-san didapatkan, aku dan Ryou harus bisa berjuang bersama untuk menemukan cara kembali. Jika memang kepingan ingatan dan jam saku kami saling terhubung, maka seharusnya kami juga bisa menghilang dari tempat ini’


Awalnya, ketika dia mengatakan semua itu saat di bar, Kino sendiri tidak yakin apakah memang dirinya dan Ryou akan ikut menghilang. Tapi seperti pemikirannya sebelum ini, jam saku mereka itu memang berhubungan dengan Kaito. Itu sebuah fakta.


Tidak ingin banyak memikirkan hal yang rumit, dia memilih untuk fokus pada perbaikan suasana saat ini dan membuat pikiran kedua orang yang ribut sambil menata meja itu membaik.


Akhirnya, setelah menunggu selama 35 menit, yang ditunggu-tunggu telah selesai.


“Makanan siap” seru Kino


Ryou langsung membantu membawakan masakan itu ke meja dengan wajah berbinar-binar.


“Nikujaga versi dunia lain!!” katanya


“Karena bahan yang masih sama dan masuk akal adalah ini jadi kupikir kita bisa membuatnya. Aku tidak bisa membuat miso tapi kalau hanya sup daging dan tahu aku masih bisa. Ada kaarage dan tempura sayuran juga”


Kaito terdiam beberapa saat. Dia berkata dalam hatinya sambil menunjukkan ekspresi aneh.


‘Ini…’ wajahnya seperti menggambarkan sesuatu


“Kaito-san, ada apa? Kenapa wajahmu aneh? Apakah Kaito-san memiliki alergi sesuatu?” tanya Kino dengan wajah cemas


“Ti–tidak, bukan apa-apa. Aku hanya…aku hanya tidak pernah berpikir kau bisa memasak semua ini dengan tangan terluka begitu”


“Begitu. Aku pikir ada yang mungkin tidak kamu sukai” Kino tersenyum mendengarnya


“……” Kaito tidak merubah ekspresi anehnya dan kembali melihat menu masakannya


“Kau tau selera makan kita sudah nyaris tidak ada, kan?” celetuk Kaito


“Tidak masalah, kan? Kau sendiri tidak tau malu begitu. Pakaian basah karena wine saja belum kau ganti” balas Ryou


“Aku akan menggantinya nanti”


“Dasar jorok! Seperti om-om yang pulang bekerja setelah mabuk-mabukan saja. Kau itu harus tau sopan santun. Ganti pakaianmu dan cuci tanganmu!”


“Kau sendiri memang sudah mencuci tangan?” balas Kaito


“Tanganku ini bersih dan bebas kuman!”


“Kau yakin? Setelah mengancam akan membuang sayuran dan berdebat dengan pedagang di kios sayuran tadi, kau masih bilang tanganmu bersih?”


“Itu tawar menawar yang diajarkan ibuku!”


“Dan itu yang aku sebut mengancam”


Kino yang sudah duduk di meja dan mengambil makanan hanya tersenyum merona sambil berkata.


“Kalian berdua, jika masih ingin bertengkar karena hal kecil sebaiknya lewat pintu keluar di sebelah kita. Nanti masuknya setelah matahari terbenam saja. Bagaimana?”


-Deg


‘Rasanya seperti perasaan yang tidak asing? Déjà vu?’ pikir Ryou dengan wajah panik


‘Aku merasa kalau ada aura tidak menyenangkan’ pikir Kaito dengan wajah yang tidak kalah paniknya dari Ryou


Setelah menengok, tampak terlihat senyum manis merona dengan cahaya yang menyilaukan. Sungguh sebuah kondisi yang sangat kontradiksi dengan situasi saat ini.


“Kino…senyum dan ucapanmu itu tidak sejalan” ucap sang adik pada kakaknya yang masih memasang senyum


“Aku hanya menyarankan”


“Tapi…”


“Bukankah saat di rumah sakit, kalian juga begitu? Mungkin saja Ryou dan Kaito-san memiliki hobi yang sama sekarang”


Senyum manis itu benar-benar membuat kalimat Kino terdengar sangat tajam menusuk. Dengan perlahan mereka duduk dan mulai menenangkan diri.


‘Kino lebih mengerikan jika sudah kesal. Aku tau dia berbahaya’ gumam Kaito dalam hati


Kino hanya menatap mereka dengan senyum dan mulai mengambilkan makanan untuk mereka. Setelah itu, dia bicara.


“Dengar kalian berdua, aku ingin kalian tidak berdebat hanya karena masalah kecil. Ryou bisa mencuci tanganmu sekarang dan Kaito-san boleh mandi terlebih dahulu. Jika kalian tidak ingin melakukannya, aku rasa tidak masalah. Tapi jangan sampai bertengkar saat mau makan. Mengerti?” Kino menasehati mereka dengan lembut


Ini seperti Kino memiliki dua orang adik yang sama keras kepalanya. Biarpun Kaito lebih tua darinya, tampaknya untuk beberapa momen Kaito bisa saja terpancing oleh Ryou. Sikap dingin dan aura misteriusnya sudah nyaris lenyap sekarang.


“Selamat makan” Kino membuka ucapan selamat makan


“Selamat makan”


Mereka bertiga mulai memakannya. Ini adalah sebuah hal yang sangat tidak terduga. Dengan satu suapan yang masuk ke mulut, ada perasaan lain yang menyelimuti dada Kaito.


***


Ada sebuah bayangan dari ingatan Kaito yang lain. Ingatan di sebuah rumah dan meja makan. Entah kenapa, makanan yang ada di meja dalam ingatan itu sedikit mirip dengan yang dibuat oleh Kino.


Dalam ingatan itu, seseorang yang sama dengan ingatan sebelumnya duduk di dekat Kaito.


“Aku yang membuatnya. Memerlukan perjuangan untuk membuat ini, kamu tau. Apalagi harus membuatnya setelah membelikanmu pedang” ujarnya


“Aku tidak pernah memintamu untuk membelikanku sebuah pedang. Kau saja yang melakukannya” Kaito merespon dengan wajah serius


“Hei hei, jangan begitu. aku sudah bilang kalau kamu bisa memamerkan pedang dan kemampuan berpedangmu pada rekan yang kamu temui nanti. Memangnya kamu tidak mau melakukannya selagi mengembara mencari kepingan ingatanmu itu?”


“Aku hanya perlu menjadi kuat”


“Dan pedang pemberianku bisa membuatmu kuat” orang itu tersenyum padanya


Dengan menghela napasnya, Kaito hanya merespon dengan kalimat “terserah” sambil memegang sebuah mangkuk kecil.


“Karena kau bilang membutuhkan usaha untuk membuatnya, aku rasa aku harus menghargainya dengan menghabiskan semua ini” kata Kaito pada orang di sampingnya


“Yap, benar. Habiskan ya. Aku berani jamin ini enak. Kalaupun tidak enak, setidaknya kamu tidak akan mati. Paling hanya pingsan atau sakit perut karena keracunan”


“……” Kaito meletakkan mangkuknya kembali


“Jangan jangan! Aku bercanda, aku bercanda! Jangan serius begitu! Kamu tidak manis sama sekali ih! Dasar serigala yang suka menyendiri!”


“Terserah saja”


Kaito mengambil makanan itu dan mencicipinya. Matanya melebar karena terkejut dengan rasanya.


“Bagaimana? Tidak membuatmu berkunang-kunang kan? Kamu tidak ingin muntah atau pingsan kan? Kaito?”


“Enak…”


“Eh? Apa tadi kamu bilang?”


“Ini…ini enak. Aku terkejut sampai mempertanyakan sihir apa yang kau pakai sampai bisa membuat makanan seenak ini. Meskipun tampilannya tidak menggugah sama sekali”


“Itu ejekan atau pujian? Kamu ini kadang menyebalkan ya” protes orang itu pada Kaito


“Aku tidak berbohong. Ini memang enak” Kaito tersenyum


***


Bayangan itu berakhir bersamaan dengan ucapan Ryou.


“Enak! Karaage ini juga enak! Ini sama seperti yang terakhir kali kau masak! Untuk makan malam kita, Kino!”


Kaito kembali ke kenyataan sekarang. Bersamaan dengan berakhirnya bayangan ingatan tadi, makanan dalam mulutnya pun telah tertelan sempurna. Kaito memejamkan matanya.


“Rasa…yang sangat kurindukan” gumamnya


******