Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 145. Permata dan Jiwa yang Indah bag. 6



“Sejak itu adalah milikku, aku ingin benda itu kembali”


Sebuah kalimat yang dikatakan dengan penuh keyakinan oleh Kaito membuat kedua kakak beradik itu tersenyum senang.


‘Lupakan tentang berpisah untuk saat ini, yang jelas sekarang adalah mendapatkan ingatan itu. Jika aku tidak mendapatkannya, aku tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini’ pikir Kaito


Akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat menuju bar. Setelah keluar penginapan, ketiganya pergi ke wilayah lain di kawasan perumahan penduduk. Itu adalah jalan menuju anak tangga yang mereka datangi pertama kali. Karena jalan terdekat dari lokasi mereka adalah jalan dengan anak tangga menurun, mereka memutuskan untuk melewatinya.


“Kaito, kau masih ingat jalannya kan? Kita lewat tempat ini saat membawa Kino ke rumah sakit waktu itu”  Ryou melihat Kaito


“Aku masih mengingatnya dengan baik. Kau tidak perlu meragukan ingatanku, Ryou”


“Tapi, kau kan orang yang kehilangan ingatan. Tentu saja aku harus meragukan ingatanmu”


“Ryou, itu terlalu kejam. Jangan bicara seperti itu pada Kaito-san” Kino berusaha menenangkan sang adik


“……” dan Kaito memilih untuk tidak membalasnya


Ucapan Ryou seperti sebuah serangan mematikan saat diucapkan dan Kaito masih dalam mode perbaikan mental.


Tidak banyak hal yang dikatakan setelah itu. Mereka sampai di anak tangga menurun itu dan langsung menuruninya. Setelah mengambil jalan lurus, wilayah asing seperti menyambut kedatangan ketiganya.


“Mau berapa kali pun aku masih tidak menyukai tempat ini” ujar Ryou


“Bukan hanya kau. Aku tidak akan pernah menyukai tempat lembab, kumuh, kotor dan tidak bersahabat dengan hidungku ini” Kaito merincikan banyak hal yang dia benci dari tempat asing itu


Kino memilih untuk tidak mendengarkan dan melihat sekeliling tempat itu. Dia masih penasaran dengan struktur wilayahnya.


“Sampai sekarang aku masih tidak bisa menggunakan akal sehatku untuk mendeskripsikan tempat ini”


“Kino? Ada apa?” Ryou melihat sang kakak


“Wilayah ini benar-benar ada di kota tapi tidak seorang pun dari penduduk kota yang peduli akan hal ini. Selain itu, banyak bangunan toko yang memiliki lantai yang lebih tinggi dari kawasan pertokoan tapi seakan tidak terlihat. Ini benar-benar wilayah asing” lanjut Kino


“Karena hal itulah makanya disebut wilayah dan tempat asing. Anak-anak itu juga menyebut tempat ini demikian, bukan? Selain itu, jika tempat ini diketahui oleh penduduk kota maka neraka seperti pasar gelap tidak akan ada” Ryou menjawab sang kakak


Kaito berjalan sedikit di depan kakak adik itu. Dia terdiam beberapa menit. Sampai akhirnya ketika mereka melewati kios pasar di wilayah asing, Kaito memberikan pendapatnya.


“Kita sudah selesai mempertanyakan tempat ini. Aku rasa tidak penting lagi apakah tempat ini adalah bagian lain dari ‘kedua dunia’ itu atau bukan. Kita kembali ke sini untuk mengatakan perpisahan. Anggap saja begitu”


Kedua kakak beradik itu terdiam. Kata ‘perpisahan’ yang diucapkan Kaito itu sepertinya juga berlaku untuk keadaan ketiga remaja itu setelah ini.


‘Setelah semuanya, kami juga akan berpisah’ itulah isi hati ketiganya


Kurang lebih lima sampai sepuluh menit berjalan, mereka tiba di sebuah belokan yang membawa mereka ke jalan sempit yang tidak asing.


“Kalian berdua mengenal jalan ini?” tanya Kino


“Benar juga, kau belum pernah melewati jalan ini ya? Jika kita ambil lurus tadi, kita akan ke wilayah milik iblis berwujud manusia kemarin. Kalau ke sini, kita akan sampai ke bar” Ryou memberitau sang kakak


“Begitu”


“Ini pertama kalinya kau datang, Kino. Aku harap kau tidak banyak berharap hal yang bagus” Kaito menambahkan


Kino tersenyum dan menjawab sambil menengok area sekitarnya.


“Aku tidak apa-apa, Kaito-san. Tapi, bangunan di sekitar sini banyak sekali yang kosong. Mereka benar-benar meninggalkan tempat ini begitu saja”


“Di depan bar itu juga sama seperti tempat ini. Aku masih ingat momen ketika aku melempar kantong sampah penuh botol ke arah mendiang Justin saat bertarung dengannya”


“Aku sudah dengar dari cerita Arkan-san ketika di rumah sakit. Itu pasti sangat hebat” Kino memuji aksi Kaito


“Dan yang lebih hebatnya lagi, Kaito memanggil gorilla itu dengan sebutan ‘mendiang’ di depannya. Suatu kemajuan yang bagus sekali” Ryou memujinya untuk hal lain yang nyaris tidak disadari yang lain


Mereka hampir sampai di bar. Sebuah perubahan kecil mulai terlihat karena tempat itu seperti tempat yang berbeda untuk beberapa sisinya.


Kaito menunjuk sebuah bangunan dengan papan bertuliskan [Barre des Noirs] di atasnya.


“Itu bar milik tuan manager”


“Bar itu…bar milik Joel-san dan tempat Arkan-san bekerja?” Kino melihat bar itu dari kejauhan


Ryou memperhatikan sejenak tempat tersebut.


“Sepertinya sudah sedikit berbeda. Tulisan di atasnya juga sudah berubah. Sepertinya renovasi pintu dan dindingnya telah selesai”


Ketika hampir sampai, mereka melihat pintu bar terbuka lebar. Dan saat ketiganya mencoba masuk, mereka melihat banyak sekali orang di dalamnya.


“Permisi”


“Selamat da…ah! Kino! Kalian semua datang?!” Joel menghampiri dan  menyambut mereka


“Selamat datang, kalian bertiga”


Yang menyambut mereka adalah Joel dan Arkan yang berada di bar. Terdapat beberapa pelanggan lain di dalam bar itu.


Pemandangan bar sudah jauh berubah. Lantainya sudah dicat dengan warna coklat yang cerah, dinding serta pintunya juga sudah diperbaiki. Dekorasinya juga sudah lebih hidup dan beberapa ornamen tambahan diletakkan sebagai pemanis.


“Aku senang kalian datang. Duduklah dulu sebentar”


“Terima kasih banyak, tuan manager” ucap Kaito


Mereka bertiga duduk di tempat yang ditunjukkan oleh Joel. Tidak lama setelah itu, dia berbisik.


“Aku akan mengusir mereka semua untuk area pribadi kita. Tunggu dulu ya”


“Eh? Mengusir?”


Kino tidak memahami maksudnya tapi ternyata dia benar-benar mengusir semua pelanggannya. Sungguh pemilik bar yang sangat bar-bar.


“Hoi, tukang mabuk! Kembali lagi nanti malam! Cepat pulang sana dan tinggalkan uang kalian di meja! Aku ada sedikit urusan penting sekarang!”


“Oi Jey kecil! Kami sudah lama sekali tidak minum di sini!” kata seorang pelanggannya


“Aku ada tamu yang lebih penting dari hari-harimu! Pergi dan kembali nanti malam saja kalau mau! Sana sana!!”


Ketiganya melihat sebuah pertunjukan menarik. Aksi seorang pemilik bar yang mengusir paksa pelanggannya bahkan sampai menarik tangan mereka karena menolak untuk pergi. Sudah begitu, dia memaksa pelanggannya membayar penuh untuk semuanya. Sementara Arkan yang berdiri di belakang meja bar hanya sibuk mengatur minuman sambil membersihkan gelas.


“Bisnis di tempat seperti ini memang menguras emosiku. Ahahahaha” kata Joel setelah berhasil mengusir pelanggannya


 Ryou berbisik pada Kino yang duduk di sampingnya.


“Dia sudah gila ya? Mengusir pelanggannya seperti itu tapi masih menagih bill pembayarannya”


“Ryou, jangan bicara begitu”


“Jujur, kau sependapat denganku kan?”


“Umm….itu…” Kino hanya tersenyum kecut karena mencoba untuk tidak mengakuinya


“Lihat, kan? Kalau kau saja sudah mengakuinya berarti dia memang punya masalah kejiwaan”


“Aku sedang bicara kenyataan di sini”


“Kamu harus bisa belajar untuk berhenti mengatakan hal kasar, Ryou”


Ryou diam mendengar ucapan sang kakak dan kembali duduk dengan tenang.


Tidak lama setelahnya, Arkan datang memberikan minuman dingin untuk ketiganya. Dua diantara minuman itu terlihat bening dan menyegarkan dengan sedikit soda yang terlihat. Hal itu membuat Kino menolaknya.


“Terima kasih banyak tapi aku minta maaf. Aku dan Ryou tidak minum alkohol, Arkan-san”


“Itu hanya air soda dengan jus lemon dingin. Aku tau karena kau sendiri sedang dalam masa pemulihan jadi minuman itu untuk dua orang lainnya. Untukmu, aku buatkan khusus teh segar dengan jus apel dan irisan buah”


Kino tampak senang sekali dengan minuman yang diberikannya.


“Terima kasih banyak, Arkan-san”


“Sama-sama”


Joel menghampiri mereka dengan Arkan yang menutup pintu dan mengganti tulisan di depan pintunya dengan kata ‘tutup’.


“Aku senang sekali kalian datang. Kalian ingin mengambil senjata kalian ya?” tebak Joel


“Benar” jawab Kaito dengan singkat


“Pedang dan pisau lengkap dengan sabuknya ada di ruang karyawan. Nanti karyawan durhaka itu yang mengambilkannya” Joel menunjuk Arkan dengan ibu jarinya


“Manager, berhenti memanggilku begitu”


“Memang kau durhaka pada bosmu, kan?”


“……” Arkan tidak mau menjawab dan pergi ke belakang


Mereka melanjutkan pembicaraannya kembali.


“Lalu, apakah ada hal lain kalian kemari? Tidak mungkin hanya untuk mengambil senjata saja kan?”


“Dimana anak-anak itu?” tanya Kaito dengan tenang


“Anak-anak itu…ehehehe…aku belum cerita pada kalian ya”


“Cerita mengenai apa, paman?” Ryou terlihat penasaran dengan kalimat itu


“Ehehe, sekarang ini…aku sudah menjadi…menjadi…”


“Menjadi apa? Kalau bicara yang jelas paman?!”


Sekarang Ryou mulai kesal dan dua orang lainnya juga mulai penasaran sambil meminum minumannya.


“Aku sudah menjadi–”


Sebelum selesai bicara, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Bersamaan dengan itu, suara anak-anak terdengar.


“Kami datang, Joel-papa~”


“Uhuk!!” ketiga remaja itu batuk karena tersedak


“Jey, kenapa kau menutup bar ini lagi?” tanya seorang wanita di belakang anak-anak itu


“Ouw~lihat siapa yang datang. Anak-anakku yang manis dan menggemaskan~”


Joel berdiri dan menyambut sembilan anak yang datang dengan sang istri.


Baru saja mereka hampir memeluk pria besar yang merentangkan kedua tangannya tersebut, perhatian anak-anak itu langsung teralihkan ke arah tiga orang yang terlihat syok tanpa berkedip.


Tidak butuh waktu lama sampai teriakan itu berganti nada.


“Kyaaa~Kino-niichan”


“Mana? Ada Kino-niichan?!”


“Kino-niichan datang! Ada Kaito-niichan juga nee~”


“Gyaaa!! Ada kakak galak di samping Kino-niichan!”


Anak-anak itu langsung menghampiri Kino dan mengabaikan Joel.


“Kenapa…kenapa mereka tidak memberiku pelukan seperti yang dilakukan semalam? Kemana momen hangat itu?” Joel mulai menangis di pojok ruangan


Sang istri menyambut kedatangan ketiga remaja itu dan pergi meletakkan semua barang-barang yang dibawanya. Tidak lama setelah itu, Arkan datang dengan senjata milik mereka.


“Kalian semua sudah datang ya. Dimana manager?” Arkan melihat sekeliling


“Orang tua itu menangis di pojokan. Abaikan saja, nanti juga kembali normal lagi” jawab Theo dengan ketus


Sampai saat ini, ketiga remaja itu tidak merubah reaksi syoknya meskipun Kino sudah diberikan banyak sekali pertanyaan oleh anak-anak itu.


“Kenapa kalian terlihat syok sekali?” tanya Arkan sambil memberikan senjata di tangannya pada Kaito


“Aku…sepertinya seluruh indera yang kumiliki masih berfungsi dengan baik tapi…tapi, barusan aku mendengar tuan manager dipanggil dengan sebutan….sebutan…”


“Oh itu. Karena kemarin mereka dilarang mengunjungi kalian oleh Ryou jadi mereka terus merengek. Dan sesuatu yang besar terjadi sampai malam”


“Mu–mungkinkah itu…”


Sebelum Kaito melanjutkan pembicaraannya, Michaela memanggil Kino dengan senyuman yang sangat ceria.


“Kino-niichan…”


“I–iya, Michaela-chan?”


“Kami punya orang tua baru sekarang~”


“Orang tua?”


Dalam sekejap, Joel yang menangis di pojok ruangan berangsur pulih dan ceria. Dengan cepat dia memeluk Michaela dan anak-anak itu sambil memamerkan sesuatu,


“Sekarang, mereka semua adalah anak-anakku! Panggil aku papa!”


Anak-anak itu tampak sangat senang dan memeluk pria besar itu, walau Theo lebih memilih memeluk Kino dan mengabaikannya.


Kino masih belum bisa menunjukkan senyuman manisnya karena masih dalam suasana terkejut, sedangkan kedua orang lainnya sudah bisa mengeluarkan satu sampai dua kata dari mulutnya.


“Pa–papa katanya…”


“Telingaku tidak salah dengar. Ternyata memang papa”


******