
Waktu yang tersisa sampai matahari terbit kurang dari dua puluh menit. Tapi jika berada dalam posisi Kaito yang harus menghadapi sekawanan ogre dengan jumlah banyak dan senjata yang besar, waktu dua puluh menit akan terasa sangat lama. Kaito sendiri memiliki luka akibat pertarungan sebelumnya dan sebelumnya lagi. Jumlah ogre yang datang sebanyak dua puluh ekor. Melawan ogre sebanyak itu tidak akan mudah.
‘Aku sudah bertekad melindungi kedua kakak beradik itu sejak awal. Mundur setelah berhasil mendapatkan tujuanku bukanlah pilihan terbaik. Selain itu, jika aku mati di ‘dunia malam’ ini, maka nyawa mereka juga akan dalam bahaya. Setidaknya, aku harus melakukan sesuatu untuk melawan mereka. Selain itu, semua ini salahku karena membunuh satyr terakhir tadi’
Apa yang dipikirkan Kaito itu memang benar. Suatu kecerobohan dari Kaito yang berimbas sangat besar pada dirinya sekarang. Sekalipun dia mampu mengimbangi serangan para ogre itu dengan kedua pedangnya, tapi luka serius pasti tidak dapat dihindari. Namun, mata Kaito sepertinya sudah siap dengan semua kemungkinan itu.
-GROOOAAAARR
Para ogre itu berteriak dengan suara keras. Suara mereka menggema sampai menggetarkan tanah dan batu di sekitar tempat itu. Mereka langsung berlari ke arah Kaito dengan mata merah menyala.
“Satu-satunya hal yang harus kulakukan adalah mencegah mereka mendekati bangunan ini. Menyerang secara langsung ke depan dan tidak membiarkan mereka maju adalah pilihan satu-satunya yang kupunya. Aku tidak akan membiarkan kalian mendekati tempat ini sedikit pun!”
**
Kaito melihat kawanan ogre itu datang sekaligus. Dengan kedua pedangnya, Kaito langsung berlari menyambut mereka. Kecepatannya memang tidak sebanding dengan sebelumnya karena faktor kelelahan dan menahan sakit dari lukanya. Tapi, hal seperti ini bukanlah yang pertama kali sejak dia sudah sering menghadapi bahaya selama di ‘dunia malam’ . Kaito maju tanpa ragu dengan sorot mata tajam.
“Untuk langkah awal, sepertinya tidak perlu sampai membunuh mereka. Cukup satu tusukan untuk memperlambat pergerakannya. Sisanya akan diurus nanti”
Kaito tanpa ragu menggunakan pedang di tangan kanannya untuk menyerang.
-KLAAANG
Serangan Kaito pada ogre pertama di depan berhasil ditahan. Suara pedang yang ditahan oleh makhluk itu terdengar, menandakan betapa kerasnya material tongkat pemukul berukuran besar tersebut. Tongkat besar milik ogre itu berhasil menahan serangan Kaito, tapi tatapan tajam Kaito tidak berubah. Dia langsung menyayat bagian tangan ogre itu dengan pedang di tangan kirinya.
-SREEET…SLAAASH
Kaito berhasil membuat sebuah sayatan dengan pedang di tangan kirinya di tangan ogre tersebut. Sayatan itu memang tidak begitu panjang namun cukup dalam. Meskipun begitu, tampaknya ogre itu sama sekali tidak merasakan sakit dari serangan yang dilakukan Kaito. Tidak hanya itu, ogre lainnya ikut menyerangnya secara bersamaan.
-BAAAANG… BAAAANG
Pukulan demi pukulan dilakukan oleh mereka ke arah tubuh Kaito yang lebih kecil dari mereka, tetapi tidak berhasil dan mengakibatkan serangan tersebut menghancurkan jalanan dan akar besar yang tumbuh di sana. Kaito melompat ke sisi samping kirinya untuk menghidari serangan tersebut dan kembali menggoreskan pedangnya pada bagian tubuh mereka saat menemukan kesempatan. Kaki, tangan, betis serta bagian lain dari makhluk itu. Dalam pikirannya hanya agar bisa membuat luka goresan walaupun hanya sedikit.
“Selama bisa menggores kulit mereka, semua tidak akan sulit. Aku akan membuat kalian menyesal karena mencoba merebut apa yang menjadi milikku!!”
-SREEET…SLAAASH
Kaito melakukan serangannya kembali. Dua, tiga ogre telah berhasil dilukai meskipun tidak begitu dalam, hal itu sudah jelas bagian dari rencananya. Kaito tidak memberikan celah sedikit pun untuk mereka menerobos. Empat, lima, enam, tujuh ogre telah berhasil terkena sayatan pedang di tangan kirinya. Tapi, hal itu tidaklah mudah bagi Kaito. Dia harus berusaha menghindari serangan mereka sambil mencari celah.
“Siapa yang sangka bahwa para ogre ini memiliki kecepatan serangan yang lumayan. Jika aku menurunkan kecepatanku, tubuh ini pasti akan langsung hancur terkena senjata mereka. Sebelum mereka menyadari hal yang kulakukan, sebisa mungkin aku harus bisa menahan mereka agar tidak mendekat”
Kaito benar-benar sudah melewati kurang lebih sepuluh ogre hanya untuk meninggalkan sebuah sayatan berbagai ukuran. Namun, beberapa saat kemudian dia menyadari bahwa kelompok ogre yang telah diserangnya terlebih dahulu dan yang telah dia lewati sama sekali tidak membalas serangannya kembali setelah Kaito membelakangi mereka. Kaito menengok dan ternyata benar. Mereka tidak lagi memikirkan Kaito yang telah melewati mereka. Mereka langsung berlari ke arah bangunan tempat tubuh kedua kakak beradik itu terbaring.
“Cih! Kalian pikir kalian mau kemana!!” Kaito langsung berbalik dengan cepat
Jumlah keseluruhan ogre yang telah dilukai dan dilewati olehnya ada sepuluh ekor, jumlah yang berada di belakangnya juga sepuluh ekor. Kaito benar-benar berada di tengah barisan para makhluk mengerikan itu.
‘Kecepatanku yang sekarang masih bisa membawa tubuh ini berada di depan mereka. Tapi, meskipun berhasil berada di depan, jaraknya masih cukup dekat dengan tempat Kino dan Ryou berada. Selain itu, mereka tidak akan menghiraukanku karena yang diincar oleh mereka adalah permatanya. Mau tidak mau aku harus terus berada dalam jangkauan pandangan mereka dan memastikan mereka tidak berada di belakangku”
Tapi, pada kenyataannya semua yang dipikirkan dalam hati Kaito itu tidak semudah teorinya. Batas kemampuan dan tenaga serta perbedaan jumlah yang begitu mencolok menjadi masalah terbesarnya.
Kaito berlari secepat yang dia bisa dan langsung melompat ke atas tubuh ogre di depannya. Dia melompati pundak mereka satu per satu dan berhasil berada di depan mereka dalam waktu singkat dengan cara itu. Sekarang hanya tinggal memikirkan cara untuk membuat mereka berhenti. Tatapan mata kaito berubah tajam kembali dan kali ini senyuman terlihat di wajahnya.
“Cukup sampai di sini. Kalian yang berada di barisan paling depan, waktunya menghiburku di malam terakhir kita “ Kaito sudah siap dengan kuda-kuda terbaiknya
-GROOOOAAAAR
Para ogre itu berlari dan mengangkat semua senjatanya dan terdengar suara jatuh yang sangat keras.
-BRUUUUK…BRUUUUK….BRUUUUK
Sepuluh ogre yang berada paling depan satu per satu terjatuh dan tidak dapat berdiri. Mereka seperti mengalami mati rasa dan sulit untuk menggerakan tubuh mereka. Tongkat pemukul mereka terlepas dari tangan dan jatuh ke tanah. Barisan ogre di belakang mereka terpaksa menghentikan langkah mereka dan terdiam. Mereka sepertinya tidak mengerti dengan situasi yang sekarang terjadi.
“Biar ku jelaskan sedikit sebagai hadiah perpisahan. Pedang di tangan kiriku ini telah kuoleskan racun milik penyelamat hidupku. Racun yang kuoleskan memang tidak banyak, tetapi salah satu dari mereka pernah menggunakan rencana ini untuk melawan goblin dan itu berhasil. Jadi, aku ingin sekali melakukannya pada kalian”
Sebelum keluar, Kaito memang mengambil pedang dan kantong kain milik Ryou. Seperti yang diketahui sebelumnya, Kaito membeli tiga jenis botol ramuan obat dengan jumlah tiap jenisnya adalah dua puluh. Dengan kalkulasi tersebut, maka setiap orang akan memiliki dua puluh botol dengan jumlah beragam untuk tiap kategori obat. Salah satunya adalah milik Ryou. Dari semua obat yang dimilikinya, dia hanya menggunakan semua obat penyembuh luka berwarna hijau. Itu artinya racun dan penawar sama sekali tidak digunakan olehnya sejak awal.
“Aku telah mengoleskan dua botol pada pedang di tangan kiriku sebagai permulaan karena aku tau tidak mungkin bisa membunuh kalian dengan cepat. Tapi, aku rasa sedikit goresan dari senjata yang telah diolesi racun cukup membuat kalian menderita dan berhenti di sana”
Kaito mengeluarkan dua botol lain dari kantongnya dan menuangkan semua itu pada kedua pedangnya. Setelah itu, dia tersenyum sinis sambil berkata, “waktunya pembantaian” pada kawanan ogre itu.
Kaito langsung berlari dan melompat ke tubuh mereka, menusukkan kedua pedangnya ke bagian leher mereka dan hal itu terus diulang-ulang olehnya kepada sepuluh ekor ogre yang tidak berdaya itu. Tidak ada gerakan yang disia-siakan olehnya, semua dilakukan dengan cepat dengan memanfaatkan tubuh ogre itu sebagai batu loncatan.
Jeritan demi jeritan tanda kesakitan mereka terdengar seperti suara lagu yang indah untuk Kaito di malam itu. Dia bertarung dan menyerang mereka layaknya sedang menari di atas tubuh para ogre. Kaito dengan cepat terus menusuk tubuh mereka dengan kedua pedangnya. Tentu saja, racun yang ada pada pedangnya akan masuk ke dalam tubuh para ogre itu dan membuat mereka tersiksa beberapa menit sebelum akhirnya mati.
Sepuluh ekor ogre lainnya yang melihat hal itu berlari ke arah Kaito dan menyerangnya langsung menggunakan tongkat pemukul besar di tangan mereka. Kaito mengulangi pola serangan yang sama namun dengan menggunakan dua pedangnya kali ini.
Sebagai orang yang telah mengalami banyak pertarungan di ‘dunia malam’, malam yang dilaluinya hari ini adalah malam terbaik sepanjang perjalanannya di sana. Malam yang tidak pernah dia sangka akan datang, malam yang selalu dia harapkan dan malam yang paling indah dalam perjalanannya selama ini di ‘kedua dunia’ tersebut. Luka dan lelah tidak membuatnya terhenti. Semakin lelah, semakin memaksakan diri untuk menyerang, semakin cepat dan kuat serangan yang diberikannya pada musuh.
-GROOOOAAAARR
Para ogre yang tersisa terus berteriak dengan keras dan mata merah mereka menyala semakin terang. Itu menunjukkan mereka semakin gila dan semakin agresif dalam menyerang. Pertarungan dengan para ogre itu terasa cepat tapi juga terasa lama. Kaito tidak tau sudah berapa lama pertarungan ini berlangsung. Fokusnya hanya tertuju pada cara untuk menggoreskan kedua pedangnya pada ogre di hadapannya.
Tapi, akhirnya dia menyadari bahwa dia mungkin telah melakukan pertarungan itu lebih lama dari yang dipikirkan. Mencari kesempatan untuk menyerang, berlari dan melompat menghindari serangan terus menerus telah menguras tenaganya. Kaito mulai sedikit mengalami penurunan kecepatan dalam berlari menghindari serangan. Sebuah tongkat pemukul besar dari salah seekor ogre tersebut hampir mengenainya.
“……!!”
-BAAAANG
Dan bersamaan dengan suara keras itu, tiba-tiba dia mendengar suara teriakan yang tidak asing.
**
Di dalam bangunan yang dipenuhi akar yang kering dan bagian yang rusak, tubuh kedua kakak beradik itu terbaring tak sadarkan diri.
“……Mmm……”
Mata Kino mulai terbuka sedikit demi sedikit dan akhirnya dia mulai tersadar. Dia mencoba bangun perlahan tetapi saat mencoba menggerakan lengan kanannya, dia langsung menjerit kesakitan.
“Akh… tanganku!!” Kino merasakan rasa sakit yang hebat saat berusaha menggerakan tangan kanannya
“Sepertinya lengan kananku patah. Mungkinkah karena aku diserang tiba-tiba saat berlari sebelumnya?”
Dia memegang lengan kanannya dengan tangan kirinya dan berusaha mengingat apa yang terjadi.
Dia tidak bisa menggerakan lengan kanannya dengan bebas, tapi dia berusaha mencari permatanya di kedua saku celanannya dengan tangan kiri. Dia merasakan permata itu ada di salah satu sakunya dan mengambilnya keluar untuk memastikan.
“Ada. Syukurlah ini masih ada. Jika ini hilang, Kaito-san akan sangat sedih”
Kino memasukkan permata itu lagi, tapi dia baru menyadari jam sakunya hilang. Saat menengok ke sisi kirinya, dia menjadi pucat melihat tubuh Ryou terbaring tak sadarkan diri di sana. Tentu saja dia segera teriak sambil mengeluarkan air mata.
“Ryou!! Tidak… kenapa lagi denganmu? Ryou, buka matamu!! Ryou!!”
Kino melihat wajah sang adik begitu pucat, bibir yang sedikit biru, noda bercak darah pada pakaiannya yang terlihat baru. Dia tidak berhenti memanggil namanya sambil menangis dan menggunakan tangan kirinya untuk menyentuh wajahnya. Wajahnya dingin, namun dia bisa merasakan hembusan napasnya, menandakan Ryou masih hidup. Tapi tidak membuat sang kakak yang baru sadar dari pingsannya tenang. Dia melihat kondisi Ryou lebih buruk dari saat dia menemukannya terakhir kali.
“Ryou!! Aku mohon jangan menakutiku!! Aku mohon buka matamu. Hiks…Ryou…”
Kino terus menangis dan memegang telapak tangan kanan sang adik. Saat itu, dia merasakan ada sesuatu di saku celananya. Sambil mencoba menahan tangis, dia merogoh saku celananya dan melihat jam saku yang selama ini dipegang olehnya.
“Kenapa jam ini…berada di saku milik Ryou?”
Kino membuka tutup jam dan melihat waktu yang ditunjukkan oleh jam saku tersebut. Dia langsung terlihat begitu bersinar saat melihatnya. Tiba-tiba dari arah luar dia mendengar suara keras seperti senjata yang jatuh dan jeritan.
-GROOOOAAAAR
-BRUUUUK…BRUUUUK….BRUUUUK
Tentu saja reaksi pertamanya, dia sangat kaget dan berubah pucat. Dia tidak tau apa yang terjadi di luar sana, tapi satu hal yang dia tau bahwa di luar sana ada makhluk mengerikan lain yang berkeliaran. Kino menjadi sangat waspada. Terlebih lagi, dia tidak melihat senjata apapun dan hanya melihat kantong kain milik Ryou berada di samping tubuhnya. Sabuk pengikat dagger miliknya sendiri terlihat seperti hiasan karena semua pisau dagger miliknya telah digunakan untuk pertarungan sebelumnya. Busur yang dibawanya juga sudah tidak ada. Kino benar-benar tanpa senjata sekarang.
“Jika suara itu semakin mendekat, hanya tinggal masalah waktu sampai mereka menemukan kami. Makhluk-makhluk itu benar-benar hanya mengincar permata ini, tapi aku tidak mungkin memberikannya sejak ini adalah benda berharga milik Kaito-san…”
Dia baru menyadari, Kaito tidak ada di sana dan mulai bertanya-tanya dalam hatinya.
‘Dimana Kaito-san?’
Suara keras di sana masih terdengar. Tapi, kali ini sedikit lebih jauh dari suara pertama yang didengarnya. Kino terlihat ragu untuk berdiri dan melihat ke arah Ryou yang terbaring tak berdaya. Matanya terlihat sangat sedih saat melihat wajah sang adik. Namun, rasa penasaran juga tidak bisa dia sembunyikan. Dia menggenggam erat jam saku di tangannya dan berusaha berdiri.
“Aku akan kembali, Ryou. Semua akan baik-baik saja” Kino melihat wajah Ryou sambil tersenyum
Dengan menghapus air matanya, Kino berjalan perlahan-lahan dan sangat hati-hati. Dia membungkukan tubuhnya sedikit dan mengintip ke luar dari dalam bangunan. Sebuah pemandangan ‘menarik’ dilihatnya di tanah.
“……!!!”
Hal yang terpikirkan untuk dilakukan saat mengintip ke luar sana adalah berteriak sekeras-kerasnya melihat pemandangan yang dilihatnya. Makhluk besar berwarna kecoklatan yang sudah berubah menjadi mayat dalam jumlah yang tidak ingin dihitung olehnya. Kino reflek langsung berbalik dan jongkok karena terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Makhluk apa itu?! Kenapa ada di sana? Tapi… mereka sudah…mati…kan?” Kino berdiri sedikit lagi dan melihat kembali ke luar.
“Apa yang terjadi? Suara benda jatuh yang besar itu pasti berasal dari benda seperti kayu besar di sana dan suara teriakan itu berasal dari mereka. Tapi apa yang menyebabkan mereka mati?”
Kali ini Kino memberanikan diri untuk berdiri dan melihat semua yang ada di luar. Ada beberapa ekor makhluk besar yang masih bertarung melawan seseorang dengan pedang yang melawan mereka. Meski dia hanya bisa melihat punggung orang tersebut, tapi dia bisa langsung tau siapa pengguna pedang itu.
“Kaito…-san? Itu Kaito-san!! Kaito-san bertarung dengan semua makhluk itu?!”
Kino tidak bisa melepaskan pandangannya dari gerakan Kaito yang dengan cepat melakukan serangan. Memang serangan seperti apa yang dilakukannya tidak begitu jelas, tapi dia tau bahwa Kaito sedang mendominasi. Kino melihat jam saku di tangan kirinya dan matanya semakin terlihat senang.
“Hanya sedikit lagi. Aku mohon, tinggal sedikit lagi”
Kino kembali melihat pertarungan yang dilakukan Kaito dan kali ini dia melihat Kaito mengalami penurunan kecepatan saat menghindari serangan makhluk itu. Kaito terus menghindar tapi serangannya semakin lama semakin tidak akurat untuk mengenai makhluk besar itu.
“Kaito-san!!” Kino menjadi panik melihat hal itu
Dia ingin melangkahkan kakinya keluar dari bangunan itu untuk menyusul Kaito tapi dia merasa sangat berat untuk melangkah ke luar.
“Jika aku keluar sekarang, keadaan pasti akan semakin buruk. Sejak melihat monster serangga di pohon besar itu, aku sudah menyadari bahwa mereka menginginkan permata ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?. Kaito-san sedang terpojok sekarang. Padahal, waktu yang tersisa hanya tinggal….Itu dia!!” Kino terpikirkan sesuatu
Akhirnya, tanpa ragu Kino keluar dengan mengangkat tangan kirinya ke atas. Dia bergumam dalam hatinya.
‘Jika ini bisa terdengar oleh Kaito-san, aku yakin keadaan akan berubah’
Kino mulai menarik napas panjang dan berteriak sekeras yang dia bisa.
“Kaito-san!!! Tiga menit…hanya tinggal tiga menit lagi sampai matahari terbit!!! Berjuanglah untuk tiga menit terakhir!! Kaito-san, kamu dengar kan?. Hanya untuk tiga menit!!”
Kaito mendengar suara itu dari arah belakangnya dan terdengar suara keras bersamaan dengan teriakan itu.
-BAAAANG
“Kaito-san!!!” Kino berteriak dengan wajah panik dan pucat
Tongkat besar itu jatuh menghancurkan tanah. Tapi, siapa yang menduga kalau Kaito berhasil menghindarinya. Dia melompat ke samping kanannya dan langsung melompat ke belakang. Kaito mendarat di mayat ogre yang dibunuhnya sambil melirik ke belakangnya.
“…Kino…diam di sana dan jangan bergerak. Aku akan menyelesaikan ini dalam tiga menit”
“Aku mengerti. Aku akan masuk dan menjaga Ryou” Kino memasukkan jam sakunya kembali ke sakunya dan masuk ke bangunan itu
Kino yang berjalan ke arah tubuh Ryou yang masih belum sadarkan diri duduk dan berusaha untuk memangku kepala Ryou ke pangkuannya.
“Jika kembali ke ‘dunia siang’ saat matahari terbit nanti, tempat ini kemungkinan akan menjadi ramai dan tanganku yang sakit akan bisa membawa Ryou. Tolong bersabarlah sedikit lagi ya, Ryou”
Kaito yang sudah melihat Kino terbangun mulai tersenyum lembut dan melihat tiga ekor ogre menyerang bersamaan setelah salah seekor dari mereka gagal menghancurkan tubuhnya.
“Untuk sisa waktu tiga menit, aku harus menghabisi mereka semua”
Ketiga ogre itu menyerang Kaito secara bersamaan. Tongkat besar itu mulai diangkat dan dijatuhkan ke arah Kaito. Pada saat itu, dia sedang berada di atas mayat ogre. Tongkat pemukul itu akhirnya menghancurkan tubuh mayat ogre tempat Kaito berdiri, namun tidak mengenai tubuh Kaito. Kaito menghindarinya dengan melompat ke atas dan langsung menggoreskan pedangnya lagi ke tangan makhluk itu. Hal itu terus diulangi olehnya sebanyak tiga kali. Tentu saja para ogre itu belum mati dan masih bisa bergerak.
“Tidak akan lama lagi. Hanya tinggal sedikit lagi dan mereka akan…”
-TENG…TENG…TENG…TENG
Suara jam besar terdengar lagi. Secara tiba-tiba semua langsung berubah total hanya dengan satu kedipan matanya. ‘Dunia malam’ telah berakhir dan mereka kembali ke ‘dunia siang’. Tubuh Kaito yang terluka seluruhnya kembali semula, pakaian yang kotor juga telah bersih seperti tidak terjadi apapun. Tentu saja Kaito masih memegang kedua pedang itu di tangannya.
Kota yang sudah seperti hutan yang hancur kembali seperti semula, tidak ada jalanan yang rusak dan berlubang, mayat monster, akar besar yang menghancurkan bangunan toko di sana, pohon yang tertinggi di sana semua lenyap. Kaito menatap langit di pagi itu dan tersenyum. Sampai akhirnya dia sadar dia hampir melupakan sesuatu.
******