Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 47. Pencarian Informasi bag. 3



Michaela yang melihat senyum kakak itu menjadi merah merona karena malu. Senyuman kakak itu begitu lembut. Lalu sambil mengelus rambutnya dengan lembut, kakak itu menjawab pertanyaan Michaela.


“Salam kenal, anak manis. Perkenalkan namaku Kino, Yuki Kino. Senang bertemu denganmu”


“Yuki…Kino…”


“Kamu bisa memanggilku Kino. Jadi, siapa namamu?”


“Michaela!” dia menjawab dengan senyum lebar pada Kino


“Michaela-chan ya. Nama yang cantik” Kino tersenyum sambil terus mengelus lembut rambut Michaela


Michaela semakin senang dengan perhatian yang diberikan oleh Kino padanya.


Stelani dan anak-anak lain yang melihatnya sangat kaget. Tidak pernah ada orang yang memperlakukan mereka sedekat itu sebelumnya.


Selesai mengelus rambutnya, Kino kembali berdiri. Michaela bertanya pada Kino.


“Nee, Kino-niichan…apa arti dari kata –chan itu?” Michaela bertanya dengan wajah penasaran


“Hmm…itu adalah kata untuk anak perempuan yang manis. Karena Michaela-chan sangat manis jadi kata itu kutambahkan untukmu”


Mendengar hal itu, anak-anak lain jadi maju dan mendekati Kino dengan antusia.


“Kalau aku, apakah aku juga manis?” tanya seorang anak lain


“Untuk anak laki-laki, aku akan menambahkan kata –kun agar terlihat kuat”


“Huwaa, keren!!”


Anak-anak lain mulai dekat dengan Kino saat itu juga, Stelani dan Fabil hanya saling melihat satu sama lain. Setelah itu, mereka mendekati Kino bersama-sama dan membungkuk.


“Kami benar-benar minta maaf karena sudah membuatmu susah!”


“Ada apa?! Jangan seperti itu. Kalian membuatku takut” Kino menjadi panik melihat kedua anak di depannya membungkuk sambil minta maaf


“Kami sudah membuatmu terlihat seperti orang jahat di altar. Padahal kami hanya terlalu…”


“Terlalu bahagia!!”


Stelani berusaha mengatakan sebuah kalimat pelengkap di bagian akhir kata-katanya tetapi Fabil sudah mencuri kesempatan itu terlebih dahulu. Ditambah lagi dia mengatakannya dengan suara yang keras.


“……” Stelani melirik Fabil dengan tatapan tajam


Melihat apa yang dilakukan kedua anak itu membuat wajah Kino berubah merah karena malu. Bukan hanya malu, tapi dia juga takut jika ada yang menganggapnya sebagai seorang penindas yang suka memaksa anak kecil untuk tunduk padanya.


Kino berpikir tidak butuh waktu lama bagi pikiran negatifnya itu untuk menjadi kenyataan. Dikarenakan Stelani dan Fabil melakukannya di jalan umum, sudah jelas akan lebih banyak orang yang melihat hal itu.


Ternyata hal itu terbukti. Banyak penduduk dan orang-orang yang lewat melihat apa yang kedua orang itu lakukan di jalan terhadap Kino.


Dengan Stelani dan Fabil yang masih tertunduk minta maaf padanya membuat semua tatapan sinis orang-orang yang melihat mereka tertuju pada Kino.


Kino bahkan meniru kebiasaan Kaito yang suka membayangkan hal-hal aneh dalam pikirannya.


‘Seandainya di tempat ini terdapat wartawan surat kabar yang lewat, sudah bisa dipastikan wajahku akan langsung masuk koran di halaman depan sebagai berita utama berjudul penindasan seorang remaja terhadap sekelompok anak kecil di jalan umum di kota.


Gerak tubuh Kino sekarang menunjukkan bahwa dia benar-benar panik.


Kino merasa dia benar-benar dalam masalah sekarang. Wajahnya itu benar-benar mencerminkan isi hatinya sekarang.


‘Aku berusaha untuk tidak menarik perhatian tapi kenapa justru semakin banyak orang yang melihat ke arahku sekarang?’


Kino berusaha untuk mengembalikan mentalnya sedikit dan mendekati kedua anak yang masih belum mengangkat kepala mereka. Dia membisikan sesuatu kepada kedua anak itu.


“Kalian berdua dengar, aku mohon jangan menarik perhatian lebih dari ini. Kalau terus seperti ini, penduduk kota akan melihatku sebagai penjahat. Kumohon angkat kepala kalian dan tolong tenangkan diri, mengerti?”


“……!!!” Stelani dan Fabil langsung mengangkat kepala mereka dengan cepat


“Haaa…” Kino menghela napas panjang


Michaela mendekati Kino dan menarik lengan jari telunjuknya.


“Kino-niichan, apakah kau jadi mengajak kami makan? Kino-niichan tidak akan berbohong kan? Aku lapar”


“Michaela!”


Stelani sedikit menaikkan nada bicaranya pada Michaela dan itu sempat membuatnya kaget. Michaela yang takut dimarahi oleh Stelani menggenggam tangan Kino dengan erat dan bersembunyi di belakang tubuhnya tetapi Kino tersenyum melihat hal tersebut.


Sambil balas memegang tangan kecil gadis itu, dia berkata padanya dengan lembut.


“Tenang saja, Michaela-chan. Aku sudah berjanji akan mengajak kalian makan, karena itu kita akan makan di tempat ini”


“Tapi…” Stelani melihat Kino dengan tatapan tidak enak hati


“Ada apa? Apakah ada tempat lain yang kalian sukai? Kalau ada kita bisa ke sana sekarang agar kalian bisa sarapan”


“Bukan begitu. Hanya saja itu….”


Stelani masih setengah hati menerima kebaikkan Kino yang baru dia kenal. Fabil juga melihat Kino dengan tatapan yang sama seperti Stelani. Akan tetapi dia lebih memikirkan anak-anak lain dibandingkan ego miliknya.


“Stelani, kurasa tidak apa-apa jika kita menerimanya. Lagipula Michaela akan ketakutan kalau kau membentaknya begitu. Mereka sudah kelaparan sejak pagi dan kita semua tau itu, iya kan?”


Fabil berusaha meyakinkan Stelani.


“Tapi, Fabil–”


Kino kembali mencoba meyakinkan mereka.


“Aku tau kalian masih merasa cemas, apalagi kita baru saja bertemu. Tetapi aku hanya ingin membantu. Selain itu, memangnya kalian tidak merasa lapar?”


Ketika ditanya seperti itu, perut mereka menjawabnya dengan sangat jujur.


-Kruuuuk


Suara ‘konser musik’ seperti yang mereka putar saat di altar kini diputar kembali di jalan kota.


Kino tertawa kecil dan tersenyum kepada anak-anak yang wajahnya semerah tomat.


“Sudah diputuskan. Sekalipun kalian menolak, perut kalian terlalu jujur jadi sebaiknya ikuti kata perut kalian itu dan kita masuk ke sini ya”


“……”


Tidak ada pilihan lain. Siapa yang akan menolak tawaran makan enak di saat perut kalian sedang lapar? Selain itu ada orang baik yang akan membayar semua yang kalian makan, bukankah itu bagian terbaik? Dan itulah yang sekarang sedang dialami oleh anak-anak tersebut.


Mereka masuk ke dalam restoran keluarga itu. Begitu membuka pintu, mereka semua disambut oleh pelayan restoran.


“Selamat datang”


“……”


Beberapa pelanggan melihat mereka dengan tatapan aneh, ada juga yang melihat dengan tatapan sinis.


Kino bisa merasakan tekanan tempat itu. Semua pelanggan itu mungkin menganggapnya aneh. Kenapa bisa remaja seperti dirinya bersama anak kecil sebanyak itu?.


“Selamat datang, tuan. Mau meja untuk berapa orang?” seorang pelayan wanita menghampiri Kino


“Tolong meja untuk sembilan orang”


“Baik. Mohon tunggu sebentar”


Semua anak-anak itu melihat sekeliling restoran dengan mata berbinar. Itu karena mereka tidak pernah sekalipun datang dan makan di tempat seperti ini.


Kino hanya memperhatikan mereka yang terlihat senang. Tidak lama setelah itu, pelayan wanita tadi menghampirinya.


“Silahkan lewat sini, tuan”


Pelayan itu menunjukkan tempat untuk mereka. Tempat itu berada di bagian dalam dan nyaman sekali dengan sepuluh kursi empuk dan sebuah meja yang panjang.


‘Sepertinya mereka memberiku tempat yang melebihi kapasitas. Apakah ini memang dasar dari pelayanannya?. Kurasa tidak masalah selama mereka memberi pelayanan terbaik’


Anak-anak lain sudah memilih tempatnya. Kino duduk di sisi berlawanan dengan Stelani dan Fabil. Dengan jumlah kursi yang lebih membuat tempat di samping kanan Kino kosong.


Pelayan wanita yang pertama melayaninya datang bersama seorang pelayan wanita lain. Mereka menghampiri meja Kino untuk membawakan menu dan air putih segar yang dingin.


“Ini apa? Kami belum pesan apapun” Fabil sedikit panik melihat segelas air disajikan di depannya


“Ini gratis. Silahkan diminum” pelayan wanita itu tersenyum sambil membagikan segelas air kepada mereka semua


Semua anak-anak itu meminumnya. Kino yang menerima daftar menu dari pelayan wanita itu langsung meletakkannya di depan anak-anak itu tanpa melihatnya terlebih dahulu.


“Pilihlah yang kalian suka”


“Benarkah kami boleh makan yang kami suka, Kino-niichan?!” Michaela merasa senang sekali


“Tentu. Aku yang membayarnya jadi pilihlah sesuka kalian”


Melihat antusiasme mereka, sudah bisa dipastikan anak-anak itu akan memilih banyak makanan.


“Ka–kalian semua, seharusnya tenang sedikit” Fabil mencoba menenangkan semua anak-anak yang lain


Kedua pelayan yang melayani mereka hanya diam tersenyum sementara pelanggan lain terkadang melirik mereka sambil berbisik-bisik.


Kino tidak mau memikirkan apa yang dilakukan oleh orang di sekitar mereka dan fokus pada semua anak-anak itu.


Seperti layaknya orang yang baru pertama kali melihat menu dengan gambar makanan enak di dalamnya, anak-anak kecil itu begitu senang dan mengatakan mereka ingin mencicipi semuanya.


Mendengar itu, tentu saja Stelani dan Fabil menjadi begitu malu atas kelakuan mereka yang tidak sopan, namun Kino sangat memaklumi hal tersebut dan tetap menunggu mereka memilih makanan yang mereka inginkan.


Setelah lima belas menit mereka sibuk memilih, akhirnya semua orang termasuk Stelani dan Fabil telah menentukan makanan utama sebagai sarapan mereka.


Ketika membalik daftar menu yang bertuliskan kata makanan penutup, wajah Michaela terlihat merona karena senang. Dengan cepat, gadis kecil itu memanggil Kino.


“Kino-niichan, apa aku boleh pesan kue coklatnya juga?”


Pertanyaan itu seperti sebuah umpan jitu untuk menarik perhatian anak-anak dan tentu saja kemungkinan mereka menolak tawaran Kino tersebut adalah nol alias mustahil untuk ditolak.


“Aku yang ada coklat dan strawberry di atasnya”


“Aku juga mau yang ada es krimnya”


“Aku mau yang keju”


“Aku mau yang strawberry di kuenya ada banyak”


Mendengar mereka mengatakan apa saja yang ingin mereka makan membuat Kino menjawab “tentu” dengan nada lembut pada anak-anak itu. Mereka memanfaatkan momen itu dengan baik dan sekarang mereka benar-benar menunjuk hampir semua menu yang ada di sana.


“Kalian semua, tidak boleh serakah seperti itu! Kalian hanya boleh memilih satu menu untuk dimakan, tidak boleh lebih. Jangan membuat orang lain repot karena ulah kalian!”


Stelani menasehati semua anak-anak itu agar tidak merepotkan Kino.


Akan tetapi, karena respon senyuman yang diberikan Kino itulah yang membuat semua anak-anak kecil itu tidak mendengarkan nasehat Stelani dan menjadi lebih berani mengatakan apa yang mereka inginkan pada Kino.


Sebagai contoh nyata, Kino akhirnya benar-benar memesan hampir semua menu dessert yang ada dalam daftar.


“Apakah ada tambahan lainnya?” tanya pelayan kepadanya


“Tidak ada. Terima kasih”


“Baik. Mohon ditunggu”


Kedua pelayan itu akhirnya pergi untuk mempersiapkan pesanan mereka.


Setelah kedua pelayan itu pergi, akhirnya Kino mendapatkan kesempatan untuk bicara dengan mereka semua, terutama dengan dua anak yang terlihat lebih tua.


“Setelah menangis tadi, apa perasaan kalian sudah tenang?” Kino bertanya pada kedua anak itu


“Maafkan kami sebelumnya karena sudah membuatmu kerepotan saat di altar” jawab Fabil sambil sedikit menundukkan kepalanya


“Jangan pikirkan itu. Sebenarnya aku lebih khawatir saat kalian tiba-tiba minta maaf seperti itu tadi. Aku sudah bisa merasakan tatapan sinis para penduduk. Kukira mereka akan langsung memanggil pihak keamanan untuk menangkapku tadi”


Terdengar seperti lelucon yang bagus meskipun sebenarnya Kino benar-benar berpikiran begitu.


“Kami benar-benar minta maaf”


“Tidak apa-apa. Oh, aku hampir lupa…”  sambil mengambil uang koin 500 Franc yang ada di sakunya, Kino memberikannya pada dua anak yang lebih tua dan berkata “aku hampir lupa memberikan uang ini. Kalian bisa membawanya bersama kalian”


“Tapi, ini terlalu banyak. Kami tidak bisa menerima semua ini setelah ditraktir makan juga” Fabil mencoba menolaknya


“Bukankah kalian berdiri di sana untuk mendapatkan uang sumbangan? Jika kalian menerima ini artinya kalian sudah berhasil mengumpulkan uang sumbangan yang kalian butuhkan hari ini. Karena itu terimalah uangnya”


Stelani dan Fabil saling menatap satu sama lain. Stelani mengangguk tanda bahwa uang itu harus diterima. Akhirnya sambil menelan ludah karena gugup, Fabil akhirnya menerima uang tersebut.


“Te–terima kasih banyak”


“Sama-sama. Aku senang kalian menerimanya. Jadi, boleh aku tau siapa nama kalian?”


“Namaku Fabil”


“Aku Stelani. Um…boleh kami juga memanggilmu…Kino-niisan?” Stelani bertanya sambil malu-malu


“Tentu. Salam kenal Fabil-kun, Stelani-chan” Kino menjawab dengan senyumannya


Kesan pertama Stelani dan Fabil tentang Kino akhirnya berubah. Sekarang hanya ada satu kalimat dalam pikiran mereka tentang Kino, dia adalah malaikat.


Hal pertama yang harus dilakukan Kino agar bisa mengobrol dengan mereka adalah mendapatkan kepercayaan mereka dan menciptakan suasana nyaman terlebih dahulu. Dengan begitu, mereka bisa saling bertukar pikiran dan kemungkinan Kino bisa lebih banyak mendapatkan informasi tentang jam saku miliknya.


“Sebelumnya boleh aku bertanya sejak kapan kalian berada di depan altar untuk meminta sumbangan?”


Stelani dan Fabil awalnya terlihat tidak mau menjawab. Akan tetapi mengingat sosok ‘malaikat’ di hadapan mereka mau memberi 500 Franc sekaligus mentraktir delapan orang sekaligus untuk sarapan lengkap dengan menu penutup membuat mereka memutuskan akan menjawab semua pertanyaan darinya.


“Satu minggu” kata Stelani


“Satu minggu ya. Ah, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud melakukan introgasi atau apapun, hanya saja kebetulan aku baru datang ke kota ini sekitar dua hari yang lalu jadi aku belum mengetahui apapun tentang seluk beluk kota”


Mendengar itu, mereka berdua terlihat lega.


“Begitu, jadi Kino-niichan pendatang baru” kata Fabil tersenyum


“Benar. Aku datang dari tempat yang jauh bersama adik dan temanku. Kalau boleh bertanya, apakah kalian tau nama kota ini?”


Pertanyaan jenius dari Kino. Sebelumnya ketika mereka terjebak dalam ‘dunia siang’ dan ‘dunia malam’, kota tersebut seperti tempat yang memang seakan ‘dibuat’ untuk terus ter-reset secara berulang-ulang. Dengan kata lain, tidak penting apakah kota tersebut memiliki nama atau tidak.


Tetapi sejak ‘kedua dunia’ itu lenyap dan berubah menjadi sebuah kota baru yang tidak kalah anehnya, dia berpikir hal dasar seperti ini sangat penting. Paling tidak, dia bisa memiliki gambaran tentang misteri kota itu juga tentang jam saku miliknya dan permata milik Kaito.


“Kino-niisan tidak mengetahui kota ini tapi kau datang ke sini sudah dua hari?. Itu sangat tidak biasa” Stelani berkomentar dengan tawa kecil


“Begitulah” Kino tersenyum dengan tenang sambil menjawab gadis itu


“Kalau begitu aku akan menjawab pertanyaan Kino-niisan. Nama kota ini adalah $#*@$!?*”


“Eh?!”


Kino merasa dia seperti mendengar kata samar tidak jelas dari mulut Stelani. Dia menjadi terkejut dan telapak tangannya mulai berkeringat.


“Ada apa, Kino-niisan?”


“Maaf, boleh ulangi sekali lagi?. Aku tidak begitu mendengarnya”


“Oh?. Tentu saja. Jadi\, kota ini bernama $#*@$!?*\, bagian dari Negara @!$%?*”


“……”


Mendengar itu, Kino menjadi yakin akan sesuatu dan semua itu bisa langsung disimpulkan dalam sekejap di dalam pikirannya.


‘Sekarang aku yakin bahwa ‘dunia’ ini tidak membiarkan aku untuk mengetahui apapun yang berhubungan dengan nama, letak dan asal kota ini. Saat hal tersebut disampaikan maka akan terdengar seperti bahasa asing di telingaku’


Satu informasi penting lainnya sudah didapatkan Kino.


“Kino-niichan, kenapa diam?” Fabil bertanya melihat Kino yang tidak bereaksi dengan jawaban Stelani tadi


“Maafkan aku. Aku mendengarkan. Terima kasih”


Memang obrolan yang dilakukan Kino kepada mereka semua itu terdengar biasa, namun sebenarnya Kino benar-benar sedang mengintrogasi kedua anak itu. Dia merasa hanya Stelani dan Fabil yang bisa memberinya informasi penting yang benar-benar dibutuhkannya.


Bagian penting dari tahap introgasi Kino dimulai dari sini.


“Apa kalian memang sudah lama tinggal di kota ini?”


“Kami sudah lama tinggal di sini, hanya saja baru satu minggu yang lalu kami memutuskan untuk meminta sumbangan di pintu masuk altar” jawab Fabil


Kino mencocokkan apa yang didengarnya dari Lily beberapa waktu lalu dengan jawaban mereka.


[Anak-anak yatim piatu itu meminta sumbangan di pintu masuk altar. Mereka baru saja seminggu di sini. Sepertinya ada satu dari mereka sering masuk untuk meminta sumbangan kepada para jamaah yang ada di dalam. Kadang aku juga sering memberikan uang pada mereka]


‘Jawabannya cocok tapi masih ada yang kurang’ gumam Kino dalam hati


Dia bertanya lagi kepada kedua anak yang ada di hadapannya.


“Apa kalian akan berada di sana seharian penuh?. Bukankah itu sangat berat untuk kalian semua?”


Mendengar rasa simpati dari Kino, Stelani merasa sedikit terharu sehingga sepertinya tanpa dia sadari dia mengatakan hal yang tidak seharusnya dia katakan.


“Kami hanya melakukannya sampai jam sembilan, terkadang jika memang masih belum banyak terkumpul kami akan berdiri di sana sampai jam sepuluh sebelum memberikan semua uang itu kepada Justin-sama”


“Justin-sama? Siapa Justin-sama itu?”


“Ah!”


Menyadari dirinya sudah mengatakan hal yang tabu, wajah Stelani langsung berubah pucat. Fabil juga mulai terlihat takut. Kino menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan jawaban yang didengarnya barusan dan ingin mencari tau lebih dalam lagi. Tapi begitu melihat kedua orang itu menjadi takut, dia ragu untuk melakukannya.


Sampai akhirnya dia justru mendapat jawaban yang diinginkannya dari pihak tidak terduga.


“Kino-niichan, Justin-sama itu sangat jahat. Dia juga tidak punya rambut dan tubuhnya besar dengan banyak tato menyeramkan. Theo-niichan selalu memanggilnya dengan sebutan gorilla dan dia sangat membencinya”


Michaela dengan sangat polos menjawab itu semua. Reaksi Stelani dan Fabil langsung berubah.


“Michaela, apa yang kau bicarakan?! Jangan mengatakan hal seperti itu! Siapa yang mengajarimu bicara hal yang bukan-bukan?!”


“Kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu di depan umum, apa kau mengerti Michaela?!”


Mendengar ucapan Stelani dan Fabil yang memarahinya seperti itu, Michaela langsung bangun dari tempat duduknya dan berlari ke arah Kino untuk dipeluk sambil menahan tangis. Kino dengan lembut memegang dan memeluknya.


Dengan teriakan yang dilakukan kedua anak barusan sukses membuat mereka semua menjadi pusat perhatian pelanggan lain.


Kino tidak menyangka bahwa hal itu terdengar seperti hal yang fatal tapi sekarang dia tidak bisa mundur. Jawaban gadis kecil yang ada dalam pelukannya sekarang membuatnya merasa semakin penasaran.


Perasaan kuat di hatinya mengatakan kalau memang ada yang tidak beres dengan semua anak-anak itu.


“Michaela tenang ya”


Sambil memeluk anak itu, Kino bangun dan berpindah kursi, dia membiarkan Michaela duduk di sisi kirinya agar dia merasa nyaman. Sekarang, Kino merasa senang sekali karena pelayan itu memberinya tempat dengan kapasitas lebih dari jumlah mereka.


Dengan tetap memeluk Kino, gadis itu tampaknya tidak mau melihat wajah kedua orang di hadapannya. Tentu hal itu membuat mereka berdua merasa bersalah karena sudah membentaknya di tempat umum.


Stelani dan Fabil mencoba minta maaf pada gadis kecil malang itu.


“Michaela, kami tidak bermaksud memarahimu. Kami berdua minta maaf”


“Tolong maafkan kami, Michaela”


Gadis kecil itu hanya terus memeluk Kino yang duduk di sampingnya tapi sesekali dia melihat keduanya. Kino mengusap-usap punggung gadis itu dan memberinya sedikit pengertian untuk mau memaafkan keduannya. Sampai akhirnya dia mau memaafkan mereka berdua.


Sekarang masalahnya, bagaimana cara Kino mengembalikan suasana ini sekarang.


******