Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 135. Adanya Perubahan



“Kau menjadikan orang, bukan…iblis seperti itu sebagai panutan? Kau pasti tidak serius”  kata Joel seakan menyindir Riz


“Memang itu salah ya?” Riz melihatnya dengan wajah cemberut


“Lupakan saja semua yang kukatakan itu. Akhirnya aku bisa mengembalikan ketenangan ini”


Joel mencoba mendapatkan kembali akal sehatnya. Dia dengan tenang menarik napasnya dan berdiri untuk menghampiri ruangan Justin.


“Maggy, anak-anak, semua sudah selesai. Kalian bisa keluar sekarang” Joel tersenyum memanggil mereka


“Jey, apakah semua baik-baik saja?” tanya Maggy dengan wajah cemas


“Sudah selesai. Mereka sudah pulang. Kita bisa melanjutkan makan siang kita”


Mendengar itu, Fabil melepaskan pelukannya dari anak-anak itu. Dia meyakinkan semuanya bahwa orang-orang itu telah pergi. Theo bergegas keluar dari ruangan itu dan hanya melihat Arkan dan Riz yang berdiri di dekat meja tempat mereka makan sebelumnya.


“Arkan-nii!!” Theo berlari menghampirinya


Arkan hanya melihatnya datang tanpa ekspresi lalu duduk karena lelah.


“Apa kau yang mengusir mereka, Arkan-nii? Kapan kau datang?”


“Aku baru saja tiba dan aku merasa aku akan pergi ke akhirat tadi. Boleh aku minta minum?”


Theo langsung mengambilkan air yang ada di meja penuh makanan itu dan memberikannya pada Arkan. Anak-anak lain akhirnya keluar dan berlarian ke arah meja makan kembali.


Maggy masih berada di ruangan Justin bersama suaminya.


“Aku sudah melihat ruangan penuh noda darah ini sejak kau memintaku menjaga tempat ini, Jey. Ini jauh lebih serius dari yang kau katakan di rumah saat kau kembali, kan?”


“……” Joel terdiam saat istrinya bertanya demikian


“Apa kau benar-benar terlibat dengan orang-orang berbahaya itu, Jey? Aku sudah sering melihatmu berhubungan dengan hal-hal semacam ini sejak dulu! Kenapa tidak pernah ada perubahan dalam hubungan pertemananmu itu!” Maggy bicara dengan nada marah


“Itu bukan salahku! Ini semua ada hubungannya dengan kejadian kemarin dan mereka berdua adalah pelakunya”


“Apa?! Pasangan muda itu adalah pelakunya?!” Maggy terkejut


“Aku tidak akan berkata lebih soal itu, Maggy. Lebih baik kau tidak bertanya agar kau tidak dalam bahaya. Aku hanya berpikir untuk melindungi anak-anak itu”


“Jey, bagaimana caramu ingin melindungi anak-anak itu? Mereka bisa saja mengalami bahaya setelah ini. Kita tidak bisa membiarkan mereka berada di wilayah berbahaya ini selamanya”


“Aku…”


Joel mengatakan hal yang sama sekali tidak terpikirkan oleh sang istri. Mendengar hal itu, Maggy hanya bisa terdiam sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


“Jey…kau tidak serius kan?”


“Aku serius kali ini. Aku ingin melakukannya”


Sang istri hanya bisa menghela napas pelan dan berkata padanya dengan wajah serius.


“Kalau kau memang serius, aku akan mendukungmu. Tapi, pertama-tama perbaiki dulu sifatmu yang suka main perempuan itu” Maggy berjalan keluar ruangan itu dan menghampiri mereka semua


Joel hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum tipis sambil bergumam dalam hati.


‘Aku rasa harus memutuskan hubunganku pada semua pacar-pacarku itu malam ini’


Setelah itu Joel keluar dari ruangan Justin. Di dekat meja makan, anak-anak mulai melihat Arkan dengan wajah cemas.


“Apa? Kenapa kalian menatapku dengan tatapan aneh? Aku benar-benar tidak apa-apa. Hanya haus karena berlari untuk sampai ke sini”


“Berlari? Arkan-niisan berlari sampai sini?” Stelani terkejut


“Kau bisa menebaknya?” Riz bertanya pada Arkan


“Bukan menebak. Sejak aku cerita padamu kemarin soal Seren-sama yang datang ke bar, aku sudah bisa menduga mereka akan kembali ke tempat ini. Bagaimanapun juga, mereka itu senang sekali membuat orang lain hampir terkena serangan jantung” jelas Arkan dengan wajah lelah


Theo mulai melihat ke arah Riz dengan tatapan sinis. Dia bahkan mendorongnya untuk menjauhi Arkan. Joel dan Maggy yang melihat itu langsung menghampirinya dengan panik.


“Bocah, apa yang kau lakukan?”


“Apa maksudmu tadi, Riz-nii?! Kau bilang kalau mereka adalah bosmu, kan?! Apa kau juga bekerja untuk mereka?!” Theo terlihat mencurigai Riz sekarang


Riz hanya bisa terlihat syok karena pertanyaan itu. Joel dan Maggy mencoba menenangkan anak itu, sementara Stelani dan Fabil memeluk anak-anak lain agar tidak terpancing suasana itu.


“Jawab aku sekarang, Riz-nii! Mungkinkah…mungkinkah semua yang kau lakukan itu hanyalah–”


“Theo, sebaiknya kau tenang” Arkan langsung memanggilnya dengan menarik pundak anak itu


“Arkan-nii! Tapi…”


“Aku sudah lama mengenalnya dan dia adalah temanku. Sebaiknya kau duduk dan tenanglah. Lagipula, kau tidak lupa kalau dia yang menolong Kino dan kita semua juga, kan?”


“……” Theo terdiam


Dia mengikuti apa yang dikatakan oleh Arkan. Begitu pula dengan semua orang. Joel dan Maggy meminta semua anak-anak itu untuk duduk dan melanjutkan makan siangnya kembali. Arkan mulai menceritakannya pada Theo siapa Riz dan apa hubungannya dengan pengelola pasar gelap itu. Theo hanya melihat Riz yang duduk sambil meminum air di gelas yang dipegangnya.


“Jadi begitulah. Sekarang mengerti, kan?”


“Jadi…Riz-nii hanya…” Theo melihat ke arah Riz lalu menundukkan kepalanya sambil berkata “maafkan aku”


“Tidak apa-apa. Aku juga salah karena tidak langsung menceritakan semua itu pada kalian. Bagaimanapun juga, kita semua jadi mulai mengenal satu sama lain akibat kejadian ini”


“Aku sudah tau kalau Riz-niichan bukanlah orang jahat. Kau juga kan, Stelani?” tanya Fabil untuk membela Riz


“Benar. Jika bukan karena Riz-niisan, aku dan Fabil bahkan Kino-niisan juga pasti akan dalam bahaya”


Suasana akhirnya kembali membaik. Maggy mulai mengambil piring lain untuk Arkan dan bergabung dengan mereka untuk makan.


Sekarang, tempat usaha yang sedang direnovasi itu mulai terlihat lebih mirip rumah dibandingkan bar. Suasana hangat justru menyelimuti tempat itu, tidak seperti bar pada umumnya.


Arkan yang akhirnya bisa dekat dan menunjukkan kepeduliannya pada anak-anak yang selama ini dijauhi olehnya, identitas Riz yang tidak dipandang aneh oleh orang lain, bahkan Joel juga mulai berubah ke arah yang lebih baik.


Sebuah perubahan besar yang terjadi, tidak lama setelah Justin mati.


Di waktu makan yang tenang itu, Joel mulai membuka pembicaraan santai.


“Kau kembali di saat yang tepat, Arkan”


“Ada untungnya aku kembali sekarang, kan? Lagipula aku tidak ingin mengganggu waktu kakak adik di rumah sakit itu”


“Apa terjadi sesuatu pada Kino-nii dan Ryou-nii?” tanya Theo sambil mengunyah makanannya


“Mereka hanya sedang melepas rindu setelah kejadian panjang kemarin. Kurasa kau harus bertemu dengan remaja yang bernama Kino, Riz. Kau harus tau kemampuannya” Arkan melirik pada Riz


“Kemampuan?” Riz melihat Arkan dengan wajah aneh


“Ya. Kemampuan untuk membuat mulut Ryou berhenti bicara. Dia veteran dalam mengendalikan emosi Ryou”


“Benarkah itu?” Riz seperti tersambar petir


Dia begitu kaget sampai garpu yang dipegangnya jatuh ke meja. Sungguh reaksi yang sangat berlebihan. Namun, pokok pembahasan kedua pria muda itu juga semakin lama semakin aneh.


“Benar. Kau pernah menyebut Ryou anak miskin adab, kan? Sekarang kau bisa menemukan titik kelemahan Ryou dengan cepat dan itu adalah Kino”


“Sungguh mengejutkan!!”


“Akhirnya kita bisa mengetahui cara paling ampuh untuk membuat anak galak itu diam seperti marmut. Ahahaha” Arkan mulai tersenyum dan tertawa


“Akhirnya, kemenangan di tangan kita. Ahahaha. Kau jenius bisa melaporkan ini pada kita, Arkan”


Sekarang, kedua orang itu terlihat seperti penjahat yang siap memburu mangsanya. Di sisi lain, semua anak-anak itu termasuk Joel dan Maggy jadi memandangi mereka berdua sambil berbisik.


“Mereka kenapa, Joel-ojichan?” tanya Michaela dengan wajah bingung


“Apa kepala mereka baik-baik saja?” anak lain mulai ikut bertanya


“Aku tidak tau, anak-anak. Paman adalah orang yang paling sehat di sini. Jangan meniru mereka berdua dan makan saja ya” jawab Joel sambil berbisik pada anak-anak itu


Sekarang, keadaan berubah sepenuhnya. Tidak ada yang peduli tentang masalah yang sebelumnya. Di tengah-tengah pembicaraan, Maggy berbisik pada sang suami.


“Jey, kantong berisi uang itu mau diapakan?”


Joel melihat kantong berisi uang itu dengan baik. Tiba-tiba, Theo dan anak-anak lain bertanya karena penasaran dengan kantong kecil di meja itu.


“Apa itu benar-benar berisi uang yang banyak?” tanya Fabil


“Berapa jumlahnya, Joel-ojisan?” Stelani bertanya pada Joel


“Sangat banyak. Sekitar 50.000 Franc”


“50.000?!” semua anak-anak langsung berteriak karena terkejut


“U–uang sebanyak itu…memangnya ada di dunia ini?!” Stelani terlihat tidak percaya dan terkejut dengan jumlahnya


“Tentu saja ada. Aku punya lebih banyak dari ini” jawab Joel dengan senyum percaya dirinya


“Tapi uang itu pemberian iblis! Uang itu dari mereka berdua, iya kan?” Theo langsung merusak suasana senang itu dengan ucapannya


Semua anak-anak terdiam tidak bicara. Lalu Joel melihat Theo dengan senyum meledek.


“Bocah kecil, uang itu selalu benar. Itu adalah peraturan terpenting agar kau bisa hidup. Jadi, jangan pikirkan hal kecil seperti itu”


“Hmph!” Theo mengabaikannya dan memakan kembali makanan di piringnya


Sempat terjadi keheningan sejenak, akhirnya Joel memanggil Arkan dan Riz.


“Kalian berdua, berhenti menjadi gila sejenak! Aku ingin bicara serius”


Arkan dan Riz berhenti membuat wajah aneh dan melihat Joel. Joel tampak memegang kantong yang ditinggalkan oleh pasangan suami-istri itu di atas meja.


“Menurutmu, mau diapakan benda ini?”


“Jack-sama hanya mengatakan bahwa uang itu ditinggalkan sebagai bayaran karena mengganggu makan siang ini. Kurasa manager bisa mengambilnya” saran Arkan


“Hmm…” Joel berpikir sejenak dan melihat anak-anak itu


Tidak lama setelah itu dia mulai mengambil kantong uang itu dan membawanya ke bekalang. Dia meletakkannya ke dalam brankas miliknya lalu kembali.


“Jey”


“Aku sudah memikirkan untuk apa uang tersebut. Nanti akan kukatakan pada kalian. Sekarang kita makan lalu pergi ke rumah sakit lagi”


Anak-anak itu langsung terlihat ceria dan senang sekali. Mereka mulai bicara satu sama lain.


“Hore~kita akan membawa kue krim untuk Kino-niichan dan makan bersama~”


“Asyik~”


“Kalau begitu ayo kita habiskan makanannya agar cepat bisa ke tempat Kino-niichan”


Para orang dewasa itu hanya bisa melihat mereka makan dengan lahap seakan semua hal menegangkan itu tidak pernah terjadi. Selesai makan, Arkan memutuskan untuk menjaga bar sampai Sean datang, sementara Maggy pergi mengambil pakaian anak-anak itu ke tukang cuci langganannya sambil membawa beberapa peralatan makan yang akan dibawa pulang.


Joel dan Riz memutuskan untuk menemani anak-anak itu ke rumah sakit lagi dengan membawa bingkisan kue krim yang sebelumnya tersimpan di lemari pendingin, serta dua bilah pedang dan sabuk dengan tiga pisau milik Kino.


Mereka berjalan meninggalkan Arkan sendiri di bar. Selesai mengantar kepergian semuanya, Arkan hanya bisa duduk melepas lelah.


“Hari melelahkan lainnya”


******