Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 45. Harta Karun Tak Berarti yang Berkilau bag. 1



Beralih ke tempat lain di sudut kota paling asing, terdapat cerita panjang yang terjadi bersamaan dengan saat Theo dan semua anak-anak itu meninggalkan rumah mereka untuk pergi ke altar saat itu.


Di bar [Barre des Noirs] pada pagi hari itu, Arkan selaku bartender yang bertugas hari itu menggantikan bartender sebelumnya karena kabur.


Dia sedang di meja bar menyiapkan gelas dan hal-hal kecil lainnya.


“Hanya karena mendengar ada drama berdarah semalam dari pelanggan membuat si tua itu langsung berhenti dan pergi meninggalkan kota. Merepotkan saja”


Arkan terdengar seperti sedang menggerutu, namun sebenarnya wajah yang ditunjukkan olehnya itu tidak mewakili kata-katanya.


Daripada disebut menggerutu, dia bicara seakan pembunuhan di dalam bar tempatnya bekerja tidak


pernah terjadi dan sama sekali tidak menimbulkan masalah apapun untuknya.


Setelah menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan bar dan menyiapkan semua keperluan, dia melihat jam yang ada di dinding bar. Jam tersebut menunjukkan pukul 06.50 pagi.


“Sebaiknya lebih cepat membuka bar ini. Lagipula dengan pesta berdarah semalam, aku yakin semua orang tidak akan datang ke sini untuk minum-minum lebih cepat”


Setelah berjalan ke pintu dan mengganti tanda di depan pintu sebagai tanda bar sudah di buka, Arkan menengok ke arah pintu ruangan Justin. Dia sedikit berpikir tentang keadaan pria besar bertato itu.


Arkan berkata dalam hatinya dengan raut wajah serius.


‘Aku tidak melihatnya keluar ruangan itu sejak aku kembali dari rumah semalam sampai pagi ini. Aku sempat melihat mata dingin yang dia tunjukkan padaku sebelum mengusirku semalam. Mata itu adalah mata yang haus akan mangsa'


Dia mengingat semua rekam kejadian yang terjadi di bar semalam.


Kemarin malam, jelas dia mendengar Justin berteriak sangat keras sebelum membunuh kedua anak buahnya yang kembali dengan kegagalan di bar tempatnya bekerja.


Bahkan, kata-kata yang diucapkan Justin kepada kedua anak buahnya sebelum jadi mayat pun masih lekat dalam ingatannya.


“Beraninya kalian kembali ke hadapanku dengan kegagalan saat mencari pria pengguna pedang tanpa sarung pedang itu!!. Seharusnya jika kalian sejak awal tidak bisa menemukannya, kalian jangan pernah melaporkan hal itu padaku!!. Dasar sampah-sampah tidak berguna!!” Justin berteriak sambil menghajar mereka


Mereka habis dibuat babak belur oleh mereka. Meskipun dia tidak melihat sendiri kejadiannya karena pintu tertutup saat itu, tapi dia sudah bisa menebaknya.


Salah seorang anak buah Justin yang bertubuh tinggi sengaja ditempatkan oleh Justin saat itu. Dia menempatkannya di depan pintu masuk menuju ruangannya sebagai anjing penjaga yang menghalangi siapapun masuk, termasuk Arkan yang saat itu sedang  bekerja di shift-nya bartender malam itu.


Sedikit perhatiannya teralihkan saat Theo masuk ke bar dan bersikeras untuk menemui Justin. Tentu saja anjing penjaga Justin langsung memukul dan mendorong Theo hingga terjatuh.


Arkan tidak melakukan apapun untuk menolong Theo malam itu karena pada dasarnya, dia tidak begitu peduli pada nasib anak-anak yatim piatu peliharaan Justin.


Dia hanya tau tentang tugasnya sebagai bartender yang bekerja di bar itu, jadi dia tidak perlu menempatkan dirinya sebagai orang baik yang memiliki rasa empati pada siapapun. Dan hal itu berlaku juga pada sikapnya terhadap anak kecil.


Setelah anjing penjaga di depan pintu itu selesai melakukan tugasnya dengan memukul Theo hingga jatuh, dia mendengar suara tembakan datang dari dalam ruangan. Bukan hanya satu atau dua tembakan, tapi enam tembakan beruntun.


-Dor…Dor…Dor…


-Kyaaaa


Bersamaan dengan itu, teriakan dari ketiga wanita penggoda yang saat itu melayani Justin keluar berselimuti sehelai kain panjang yang menutupi tubuh tanpa busana mereka. Mereka gemetar, menangis dan berlari ke pojok belakang bar.


Para pelanggan juga terlihat pucat dan panik saat itu. Tidak ada satupun yang bergerak dari tempatnya atau mengeluarkan suara.


Arkan yang berdiri mematung mendengar semua itu, masih bisa memasang wajah tanpa ekspresi miliknya. Seakan dia sudah terbiasa dengan kekacauan yang ditimbulkan Justin selama ini, dia masih tetap tenang meskipun seluruh orang-orang di bar termasuk anjing penjaga Justin saat itu terlihat pucat dan mematung.


Suara Justin yang berteriak setelah membunuh kedua orang itu terdengar lagi.


“Dasar tidak berguna!!!. Beraninya para tikus jalanan ini kembali tanpa membawa hasil yang kuinginkan!!!. Oi kalian para sampah, singkirkan tikus-tikus ini dari hadapanku sekarang dan jangan coba-coba merusak suasanaku sekarang!!


Ketika Justin berjalan keluar dengan tubuh bagian atas tanpa sehelai kain dan bermandikan darah segar dari mayat yang ada di dalam ruangannya, Arkan melihat jejak kaki Justin pada lantai bar dan mulai panik.


Isi pikirannya saat itu benar-benar mewakili wajah paniknya.


‘Sial, harusnya kau jangan mengotori lantai bar ini dengan darah peliharaanmu itu, dasar tidak tau diri! Kau pikir siapa yang akan membersihkan semua sisa noda darah itu?! Dasar gorilla tidak punya otak!. Aku tidak akan membiarkan anak buahmu meninggalkan bar-ku dengan kotoran sebanyak itu!’


Ketakutan terbesarnya saat itu adalah harus lembur tanpa dibayar hanya untuk mengepel lantai bar. Sungguh neraka sesungguhnya bagi Arkan. Mengepel lantai bar dengan darah segar dimana-mana lebih membuatnya takut dibandingkan melihat orang dibunuh di depan matanya. Sungguh ‘mulia’ dan ‘suci’ sekali hatinya itu.


Setelah menengok ke arah lantai kotor itu, dia melirik Theo yang masih gemetar dan duduk di lantai dengan tubuh mematung. Melihat mata anak itu yang melebar seakan syok dengan apa yang dilihatnya, Arkan hanya berpikir anak itu mungkin sedang menikmati tontonan gratis ini dengan senang sampai tubuhnya tidak bisa bergerak.


Tidak lama kemudian suara teriakan ketiga wanita penggoda itu terdengar disusul suara tembakan beruntun lain dari pistol di tangan Justin.


-Kyaaaa


-Dor…Dor…Dor…Dor


Arkan sempat merasa aneh dengan hal itu. Dia berpikir sejenak.


‘Bukankah sudah ada enam tembakan sebelumnya. Seharusnya peluru di pistolnya itu sudah habis. Bagaimana bisa dia menembak ketiga wanita itu lagi?’


Arkan sempat berjalan sebentar ke ruangan Justin dan mengintip sedikit. Dia melihat kedua mayat yang masih baru berada di lantai dan dia mulai membuat wajah aneh.


‘Tampaknya aku benar-benar akan lembur hari ini. Bongkahan daging tak bernyawa itu masih terus mengeluarkan darah mereka sampai menggenangi ruangan ini. Aku akan melaporkan hal ini pada manager untuk meminta bonus 100% dan hari libur tambahan!’


Dia sempat melirik kanan kiri tempat itu dan akhirnya dia menemukan sebuah pistol yang ada di lantai.


‘Hoo…dia memiliki dua pistol. Pantas saja dia bisa melakukan tembakan beruntun sekali lagi’


Arkan menyadari Justin berjalan kembali menuju ruangannya dan sebelum masuk, dia sempat menatap Theo dengan tatapan dingin.


Komentar lain dari Arkan yang sangat berkelas pun keluar.


‘Oi, jangan mencoba menakuti anak kecil. Kau tidak tau anak itu begitu menikmati pertunjukkan yang kau lakukan sampai-sampai membuatnya terharu dan gemetar karena kagum. Cepat masuk sana, gorilla besar!!. Kumohon biarkan pesta malam ini berakhir!. Aku tidak mau lembur sendirian!!’


Mata Arkan berubah menjadi lebar saat mendengar Justin mengatakan sebuah kalimat padanya.


“Jangan menggangguku atau kubunuh kau”


Dia tidak habis pikir mengapa Justin bisa mengatakan hal dingin seperti itu kepada peliharaannya tersebut.


‘Dasar tidak punya hati!. Padahal Theo tampaknya merindukanmu sampai berlari malam-malam begini ke bar. Gorilla besar itu memang tidak punya perasaan ternyata’


Gumaman dinginnya itu sebenarnya tidak membantu apapun sama sekali, tapi Arkan merasa ingin mengutarakannya walau sulit.


Begitu pintu dibanting oleh Justin, Theo yang berusaha berdiri langsung berlari keluar diikuti semua pengunjung bar yang berteriak sambil melakukan hal yang sama seperti Theo.


Dalam sekejap, tempat itu sepi dan hanya menyisakan Justin yang ada di dalam ruangannya, beberapa anak buah Justin yang berdiri di sudut-sudut bar, lima mayat, satu anjing penjaga pintu yang masih berdiri mematung dan dirinya sendiri di meja bar.


Sambil melihat bar tempatnya bekerja yang kacau balau dengan cat merah segar di lantainya, Arkan seperti akan berteriak namun dia melakukannya di dalam hati. Sementara wajah tampannya itu tetap terlihat tenang seakan tidak punya ekspresi.


‘Dasar sial, sial, sial, sial!!! Lihat apa yang dilakukan olehmu, dasar gorilla!! Lihat itu, ketiga wanitamu itu masih mengeluarkan darah dari lubang di tubuh mereka!! Kau tidak tau betapa repotnya mengepel semua itu malam-malam, hah?! Besok aku juga harus bangun pagi untuk membuka bar ini! Kau pikir darah mereka itu seperti parfum wangi bunga yang semerbak? Mereka sangat amis sampai-sampai aku bisa melihat masa depan bar ini bangkrut karena  aroma amisnya. Aaahh!!!’


Dia hanya menghela napas panjang berkali-kali. Seperti akan menangis malam itu, pemuda berusia sekitar 28-29 tahun itu sudah bisa meramal masa depannya yang gelap di tempat asing di kota itu.


“Aku harus ambil cuti setelah ini demi kesehatan mentalku” ucapnya dengan nada lirih


Arkan sudah nyaris menyerah tapi tidak bisa menyerah. Akhirnya karena Justin tidak mengatakan apapun dari ruangannya, dia meminta semua anak buah Justin yang ada di sana untuk mengangkat semua mayat-mayat itu.


“Kalian semua, tolong angkat ketiga wanita itu dan dua orang yang ada di ruangan Justin-sama. Mereka tidak cocok sebagai hiasan di bar ini. Kalau dibiarkan, nanti tempat ini bisa dikutuk dan pelangganku tidak akan kemari lagi”


“Baiklah baiklah” jawab mereka semua dengan nada malas


Anak buah Justin yang ditugaskan sebagai anjing penjaga mengetuk pintu ruangan Justin setelah akal sehatnya kembali. Dia meminta izin untuk membersihkan kedua mayat itu. Ketika sudah diizinkan, pintu dibuka oleh anjing penjaga pintu itu. Ada sekitar tiga anak buah Justin yang masuk untuk membawa kedua mayat pria besar itu keluar dari ruangannya.


Saat mereka mulai mengangkat dan membawanya keluar, Justin berteriak.


“Aku tidak akan memberikan toleransi apapun pada mereka yang berani menentangku dan gagal menjalankan tugas mereka. Buang mereka semua ke tumpukan sampah dan biarkan mereka membusuk di sana!!”


“Baik”


Arkan yang mendengar hal itu langsung menutup wajahnya dengan tangan sambil bergumam dalam hati.


Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dia bergumam kecil. Sebuah kalimat sederhana keluar dari mulutnya.


“Kepalaku pusing. Sepertinya aku migrain sekarang”


Anak buah Justin yang lain membawa ketiga mayat wanita penggoda yang mati itu dan benar-benar melempar tubuh mereka semua ke tumpukan sampah. Setelah semua selesai, mereka meninggalkannya begitu saja.


Saat dilempar ke tanah, salah satu kaki dari mayat wanita itu tidak sengaja menyenggol kantong sampah yang berada di dekatnya sehingga kantong itu jatuh dan semua isinya berserakan. Itu adalah sampah dari botol-botol bekas minuman Justin yang baru dibersihkan pada siang hari di saat itu.


Melihat anak buah Justin masuk kembali setelah selesai membuang kelima mayat itu ke belakang, membuatnya penasaran dengan hasil susunan yang mereka lakukan pada kelima mayat itu.


Saat menengok ke tempat pembuangan sampah bar di belakang, dia langsung berubah pucat seperti kondisi kelima mayat di tanah saat itu.


Banyak botol-botol berserakan, sampah kaleng dan lainnya yang ada di kantong sampah besar yang sudah dia susun sedemikian rapi langsung hancur tak berbentuk. Dia bahkan melihat seperti apa anak buah Justin menumpuk mayat kelima orang itu.


“Tega sekali, seharusnya mereka menumpuk semua mayatnya ke atas agar terlihat rapi bukan dibiarkan tergeletak di tanah seperti itu. Aku tidak mungkin menyusun mereka agar mudah dibungkus sendirian kan? Lihat saja nanti, mereka akan kumintai tolong untuk membungkus semua mayat-mayat itu”


Sambil menggaruk kepalanya, dia berbalik dan berjalan masuk ke bar lagi.


Selama dia di luar melihat hasil kerja cerdas dan nyata dari anak buah Justin itu, Justin sepertinya sudah berteriak dan marah-marah kepada anak buahnya di dalam ruangannya dengan mengeluarkan beberapa ‘pidato’ pembuka yang sangat terperinci.


Ketika sudah di dalam bar kembali, dia hanya mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan Justin saat itu.


“Aku ingin pria berpedang tanpa sarung pedang itu hidup atau mati. Sejak dia memasuki wilayahku tanpa ijin dengan senjata, itu artinya aku harus mengurusnya dengan senjata juga”


Arkan kembali ke meja bar untuk membereskan alat-alat pembuat cocktail serta menghitung pendapatan di kasir. Dia bicara sambil membenahi meja kerjanya tersebut.


“Pria berpedang tanpa sarung pedang, ya” kata Arkan dengan suara pelan


Setelah selesai dengan peralatan cocktailnya itu,  dia mulai berjalan ke mesin kasir dengan berkomentar panjang di dalam hati.


‘Memangnya kekacauan seperti apa yang bisa dibuat oleh pria itu di tempat asing ini sampai-sampai membuat Justin marah? Padahal hanya masuk ke tempat ini tidak akan membuatnya dalam masalah serius, benar kan? Hanya karena dia merasa seperti penguasa, bukan berarti wilayah yang terabaikan ini benar-benar miliknya’


Setelah diam beberapa saat, dia mendengar suara pintu terbuka dan semua anak buah Justin keluar dari ruangan sambil berlari menuju pintu keluar bar. Mereka diperintahkan oleh pria besar itu untuk mencari pria berpedang tanpa sarung pedang itu bahkan jika harus ke pusat kota itu.


Arkan akhirnya menyadari bahwa sekarang hanya tinggal dia dan pria besar bertato itu di dalam bar.


Setelah menarik napas dan membuangnya, bartender itu keluar dari meja bar dan berdiri di depan pintu ruangan yang terbuka.


Arkan yang sudah berdiri di depan pintu ruangan itu, melihat ke lantai ruangan Justin kembali sambil mencoba menahan emosinya yang meledak-ledak lantaran harus membersihkan ruangan itu dan seluruh bar sendirian setelah ini.


“Justin-sama, apakah saya sudah bisa mengepel lantai ruangan anda?. Tempat ini tidak baik untuk suasana hati yang buruk”


“Arkan…”


“Ya, Justin-sama”


“Apa kau ingin bernasib sama seperti sampah di belakang?”


“……”


“Kalau mengerti tinggalkan aku sendiri”


Mendengar itu, Arkan pergi keluar meninggalkan bar. Di luar bar, dia menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya. Setelah beberapa lama dia menghembuskan asap dari mulutnya sambil berkata.


“Mereka semua merepotkan”


Tidak lama setelah itu, ada seseorang yang berlari dari kejauhan menuju ke arahnya. Sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya, Arkan terdiam sampai sosok orang tersebut terlihat. Seorang pria yang terlihat lebih tua darinya berlari dari arah kejauhan tadi untuk menghampiri Arkan.


Arkan yang melihat pria tua itu kesulitan mengatur napasnya saat berhenti di hadapan dirinya, menjatuhkan puntung rokoknya ke tanah lalu menginjaknya.


Dia membantu pria tua malang itu menarik napasnya lalu bertanya dengan sikap normal.


“Tuan Nox, kenapa malam-malam datang ke tempat kerja? Bukankah shiftmu sudah selesai pagi ini? Ini masih giliranku sekarang”


Pria tua itu langsung melihat wajah Arkan dengan penuh keringat dan rasa takut.


“Arkan, apa yang terjadi sebenarnya di bar?! Apa benar terjadi pembunuhan di tempat ini, jawab aku!!” sambil berteriak ketakutan dan panik, pria bernama Nox itu bertanya padanya


“Oh itu tadi. Em, benar. Justin-sama sedang dalam kondisi hati yang buruk beberapa waktu lalu. jadi dia melampiaskan semua emosinya kepada dua anak buahnya dan tiga wanita yang biasa dia bawa ke dalam bar. Memang ada masalah serius?”


“Jangan bercanda, kenapa kau bisa bicara setenang itu?!” kepanikkan semakin ditunjukkan tuan Nox pada Arkan


Namun, Arkan hanya menjawab dengan wajah datar tanpa dosa.


“Aku harus melakukan apa? Semua itu sudah terjadi dan aku tidak dibayar untuk menghentikan pembunuhan”


“Arkan…kau…” jawaban acuh tak berperasaan dari Arkan membuat tuan Nox syok


Ternyata, Arkan masih meneruskan pendapat acuh terbaik miliknya.


“Lagipula, manager sudah menyerah menghadapi Justin-sama karena dia merupakan penguasa wilayah tak terjamah ini. Tempat ini tidak memiliki hukum seperti di kota. Petugas keamanan juga tidak pernah datang memeriksa tempat ini, jadi untuk apa dipermasalahkan?.”


“……” sekarang tuan nox kehabisan kata-kata mendengar rekan sesama bartendernya bicara begitu dingin seperti itu


“Bicara soal itu, kenapa kau bisa tau ada keributan di tempat kerja?”


“Pe–Peter, pelanggan yang sering datang ke bar ini datang sambil mengetuk pintu rumahku dengan keras berkali-kali sambil berteriak. Di–dia bilang bahwa ada pembunuhan yang dilakukan Justin-sama di bar. Mendengar hal itu, tentu saja a–aku menjadi panik dan–”


Pria tua itu mencoba menjelaskannya walau mulutnya gemetar dan kata-katanya terbata-bata. Arkan hanya diam sambil melanjutkan kalimat terakhir dari penjelasan tuan Nox.


“Dan kau langsung datang kemari untuk melihat langsung, benar kan?”


“……” pria tua itu diam


“Kalau mau melihatnya dari dekat, kau bisa masuk ke dalam. Oh, hati-hati karena lantainya masih basah. Kemungkinan aku akan kerja rodi sampai pagi untuk menghilangkan noda darahnya. Aku bermaksud mengambil cairan amonia di rumah. Sebelum aku pergi, mau kutemani untuk melihat ke dalam dulu?”


“Arkan! Ini tidak lucu!. Bagaimana bisa kau begitu dingin sementara ada orang yang mati di depan matamu?!”


Pria tua itu sudah kehabisan kesabaran dan membentak pemuda itu dengan semua emosi yang dimilikinya. Dan sekali lagi jawaban Arkan begitu tenang tanpa dosa.


“Aku hanya bersikap selayaknya bartender normal”


Cukup dengan semua kata-kata Arkan, tuan Nox akhirnya kehabisan kesabaran dan mengatakan sesuatu yang membuat Arkan akhirnya menunjukkan wajah pucat.


“Aku sudah muak dengan tempat ini. Aku akan meninggalkan kota ini sekarang. Semua ini sudah bukan urusanku”


“Eh?”


“Jika memang kau tidak peduli pada nyawa siapapun hingga bisa bersikap dingin dan tidak peduli seperti itu, maka lakukanlah semuanya sesukamu. Pada akhirnya, kau hanya akan menjadi bagian dari orang-orang tak berhati seperti Justin”


“Kenapa–”


“Kau…tidak lebih baik dari Justin, Arkan! Kau sama seperti dia, seorang iblis yang tidak memiliki hati nurani dan rasa kemanusiaan! Suatu hari nanti kau akan menyadari betapa rendahnya dirimu dan kau akan menyadarinya”


Tuan Nox berlari meninggalkan Arkan sendirian di luar bar. Arkan yang terkejut mencoba memanggilnya kembali.


“Tung…Tuan Nox!”


Dia gagal memanggilnya. pria tua itu sudah jauh di depan sana dan sekarang dia sendirian. Arkan seperti terlihat sedikit murung lalu mengatakan apa yang dirasakannya.


“Kenapa dia bisa berkata begitu? Padahal aku berharap dia bisa membantuku membersihkan semua darah yang mengenang di dalam? Kupikir dia bisa menjadi rekan kerja yang baik. Dasar pria tua yang tidak bisa diandalkan!”


Sekarang, Arkan hanya meratapi nasibnya dan berjalan pulang ke rumahnya seperti yang dikatakannya tadi untuk mengambil cairan amonia.


"Ah...aku ingin libur setelah ini"


******