Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 146. Permata dan Jiwa yang Indah bag. 7



Di dalam bar itu, ketiga remaja itu seperti mendapatkan kejutan.


Kino masih belum bisa menunjukkan senyuman manisnya karena masih dalam suasana terkejut, sedangkan kedua orang lainnya sudah bisa mengeluarkan satu sampai dua kata dari mulutnya.


“Pa–papa katanya…” gumam Ryou pelan


“Telingaku tidak salah dengar. Ternyata memang papa” Kaito mulai memperjelas apa yang didengarnya


Joel memamerkan dirinya yang memeluk Michaela dan yang lainnya.


“Ehehe, aku seorang papa sekarang! Panggil aku papa”


“Joel-papa~” semua anak-anak itu memanggilnya


Theo hanya bisa memeluk Kino sambil berkata “paman mesum” dengan wajah anehnya. Joel langsung menengok ke arah anak itu.


“Oi oi, itu papa. Kau sudah berjanji akan memanggilku papa, kan? Aku orang tuamu sekarang”


“Kau masih mesum di mataku” celetuk Theo dengan wajah anehnya


Joel menurunkan Michaela dan anak lainnya.


“Jangan kejam begitu. Aku sudah putus dengan…hmph!” Joel langsung dengan cepat menutup mulutnya dan mendekati anak itu. Dia berbisik kembali.


“Aku sudah putus dengan semua pacar-pacarku demi bisa menjadi orang tua kalian! Jangan mengatakan hal yang menyakiti hatiku”


“Perjalananmu masih panjang untuk menjadi orang tua, paman mesum!”


“Dasar anak yang tidak ada manis-manisnya sama sekali!”


“Dasar pria tua yang tidak punya rasa malunya sama sekali!”


Sungguh sebuah tontonan menarik di siang hari. Kino yang berada dekat dengan kejadian itu hanya bisa melihatnya tanpa bisa berkata apapun. Ryou tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertanya.


“Sejak kapan ini terjadi? Apa yang sebenarnya kami semua lewatkan?”


Arkan menarik kursi dan bergabung dengan mereka.


“Jadi, aku akan menceritakan apa yang terjadi. Kemarin, manager memutuskan untuk mengadopsi mereka semua sebagai anak-anaknya”


“Kemarin? Kemarin kapan?” tanya Ryou


“Tepatnya setelah mereka diusir olehmu dan kembali ke sini dengan wajah sedih”


Joel langsung duduk di kursi dan dengan wajah semangat dia siap memamerkan banyak hal.


“Jadi, aku mulai terpikirkan hal ini setelah pengelola pasar gelap datang ke bar di siang hari. Aku mengatakan pada istriku, Maggy untuk mengadopsi mereka semua”


“Tuan manager melakukannya?” Kaito sempat terlihat tidak percaya


Sekarang, Kino bisa menjadi dirinya kembali dan tersenyum pada anak-anak itu.


“Kalian benar-benar beruntung sekarang”


“Kami beruntung sejak bertemu denganmu, Kino-niisan” Stelani tersenyum merona


“Ehem! Biar kuceritakan semuanya sejak awal”


******


Ini bermula saat Maggy masih berada di ruangan Justin bersama suaminya. Tepatnya di hari ketika Jack dan Seren datang siang itu. Mereka tampak sedang membicarakan banyak hal. Sampai akhirnya sebuah topik menjadi pembahasan.


“Jey, bagaimana caramu ingin melindungi anak-anak itu? Mereka bisa saja mengalami bahaya setelah ini. Kita tidak bisa membiarkan mereka berada di wilayah berbahaya ini selamanya” Maggy bertanya dengan wajah penuh kecemasan


“Aku…” Joel diam sejenak


Dengan wajah penuh dengan ekspresi serius, dia mulai menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Dia bicara pada sang istri saat itu.


“Maggy, aku ingin mengadopsi mereka sebagai anak-anak kita”


“Apa? Mengadopsi?!”


“Benar. Aku tidak bisa membiarkan mereka terus berada di jalan seperti ini! Dengan tidak adanya Justin, mereka bebas memilih jalan mereka! Tapi, mereka terlalu kecil dan membutuhkan banyak arahan dari orang dewasa!”


“Itu tidak semudah yang kau pikirkan Jey!”


“Aku tau! Tapi, aku tidak ingin membiarkan mereka terlantar tanpa perlindungan! Paling tidak, kita bisa merawat mereka sampai mereka cukup dewasa untuk memilih jalan masing-masing”


“Jey…itu terlalu…”


“Terlalu pantas untuk dicoba. Aku sudah mengabaikan mereka terlalu lama selama Justin hidup dan kau juga tau hal itu! Aku tidak pernah mencoba membantu dan takut untuk bertindak. Sekarang, aku memiliki kesempatan untuk menebusnya dan akan kulakukan sekarang! Aku tau kau akan mendukungku, Maggy”


“……”


Joel mengatakan hal yang sama sekali tidak terpikirkan oleh sang istri. Mendengar hal itu, Maggy hanya bisa terdiam sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


“Jey…kau tidak serius kan?”


“Aku serius kali ini. Aku ingin melakukannya”


“Kalau kau memang serius, aku akan mendukungmu. Tapi, pertama-tama perbaiki dulu sifatmu yang suka main perempuan itu” Maggy berjalan keluar ruangan itu dan menghampiri mereka semua


Joel hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum tipis sambil bergumam dalam hati.


‘Aku rasa harus memutuskan hubunganku pada semua pacar-pacarku itu malam ini’


**


Pada siang hari di hari yang sama, ketika Joel menemani anak-anak itu ke rumah sakit. Dia memutuskan untuk menunggu di luar dan membiarkan Riz yang menemani mereka.


Selama di luar, Joel memikirkan cara dan waktu yang tepat untuk mengakhiri hubungannya dengan semua pacar-pacarnya tersebut dan fokus mewujudkan niatnya tersebut. Tentu saja niat itu masih belum diketahui oleh anak-anak itu.


Setelah mereka selesai menjenguk Kino di sore harinya, Joel mengajak mereka semua kembali ke bar untuk mandi dan makan. Dia meminta Riz untuk mengantarkan mereka semua termasuk membawa senjata milik para remaja itu ke bar.


“Kau mau kemana, paman Joel?” tanya Riz di jalan


“Aku ada sedikit urusan”


“Urusan? Apakah penting?”


“Sangat penting. Aku tidak bisa menunda hal itu. Tolong antar mereka dengan semua benda tajam ini ya” Joel berlari meninggalkan Riz


Dia meninggalkan Riz untuk menemui rumah dan tempat kerja semua pacar-pacarnya. Dia melakukannya hingga malam. Semuanya dilakukan karena dia memutuskan untuk putus dengan mereka. Tentu itu tidak berjalan lancar seluruhnya. Tapi dengan semua usaha dari dompetnya yang tebal, akhirnya semua pacar-pacar Joel mau melepaskannya.


Meskipun jumlah yang dikeluarkan tidak sedikit, tapi dompet Joel masih terhitung cukup tebal.


“Aku harus membuat uang-uang ini berkembang biak lagi setelah bar selesai direnovasi” gumamnya di hari itu


Joel yang pulang ke rumah malam itu, memberitau Maggy tentang apa yang terjadi.


Drama panjang rumah tangganya kembali dimulai. Akan tetapi, setelah melewati badai emosi dan hujan air mata yang deras akhirnya rumah tangga itu kembali membaik. Hal itu membuat Joel dapat mewujudkan apa yang dikatakannya siang itu.


Berselang satu hari dari kejadian itu. Tepatnya ketika anak-anak itu mengunjungi Kino di rumah sakit kembali, dia memutuskan untuk mengatakan kabar gembira ini. Namun hal pertama yang harus dilakukan olehnya adalah membuat anak-anak itu tenang.


Itu karena Ryou mengatakan bahwa mereka tidak boleh datang menjenguk dengan alasan Kino harus menerima perawatan kembali sebelum diperbolehkan pulang.


Saat itu di bar, semua anak-anak itu terus mengatakan ‘pujian’ manis untuk Ryou.


“Dasar kakak galak! Dia bukan adik Kino-niichan!” umpat seorang anak kecil


“Ryou-niichan jahat!” umpatan lainnya datang


“Dasar setan!” dan Theo ikut ‘memuji’ Ryou


Stelani dan Fabil hanya bisa terlihat sedih namun mencoba tidak menghina orang yang telah menyelamatkan mereka.


Joel bersama Maggy masih mendengarkan semua anak-anak itu mengatakan seluruh isi hatinya. Lalu ada Arkan yang masih sibuk menata botol-botol sambil berpura-pura tidak mengenal mereka semua.


“Kau mau mengatakannya sekarang, Jey?” bisik Maggy


“Benar. Ini adalah waktu yang tepat”


Joel menarik napasnya dan mulai terlihat serius.


“Hmm? Ada apa, Joel-ojichan?” Michaela langsung terdiam


“Anak-anak…aku ingin mengatakan kalau mulai hari ini…aku…aku akan–”


“Akan? Kau akan apa, paman mesum?” Theo tidak sabar dan langsung memotong pembicaraannya


“Bocah, biarkan aku menjadi sedikit terharu di momen seperti ini”


“Memang momen apa yang ingin kau ciptakan sampai perlu menjadi terharu?”


Joel mencoba tenang menghadapi Theo yang memang sudah penuh dengan kalimat tajam menusuk jantung.


“Dengar anak-anak, aku ingin mengatakan pada kalian bahwa kalian akan memiliki orang tua baru yaitu aku”


Joel langsung mengatakannya tanpa menunggu momen terharu. Sang istri hanya mengangguk sambil tersenyum dan Arkan nyaris menjatuhkan botol yang sedang dia pegang.


Anak-anak itu terdiam tanpa mengatakan apapun.


“Ma–maksudnya…” Fabil terlihat tidak percaya


“Apa arti semua itu, Joel-ojichan? Maggy-obacahn?” timpal Stelani yang juga tidak percaya


“Aku dan suamiku sudah memutuskan untuk mengadopsi kalian sebagai anak kami. Bagaimanapun juga kalian tidak bisa tinggal di jalan dan tidak terurus. Siapa yang akan bertanggung jawab pada kalian semua jika kalian sakit? Kalian butuh orang dewasa untuk merawat kalian”


“Dan aku sudah memutuskan untuk menjadi orang tua kalian. Paling tidak sampai kalian bisa memutuskan jalan apa yang ingin kalian ambil”


“……” anak-anak itu masih terdiam


Joel tersenyum dan mulai mengatakan banyak hal.


“Aku mengatakannya pada kalian sebelum ini, kan? Aku menebus semua hal yang kulakukan. Aku telah mengabaikan kalian terlalu lama dan membiarkan kalian terus hidup dengan rasa takut pada Justin. Tapi, hal itu telah berakhir dan kalian bebas. Kalian menemukan kebebasan untuk hidup. Namun, meskipun bebas…apakah kalian sudah memikirkan langkah selanjutnya?”


Anak-anak itu saling melihat satu sama lain dengan wajah bingung.


“Aku yakin kalian butuh seseorang untuk melindungi kalian. Tapi sekalipun kalian menyukai remaja bernama Kino itu, kalian tidak mungkin tinggal dengannya. Aku ingin kalian menikmati hidup seperti anak-anak seusia kalian. Aku ingin kalian berhenti memikirkan uang” lanjut Joel


“Rumah kami cukup besar kalau hanya untuk tempat tinggal kalian. Tentu saja semua hal yang kalian butuhkan akan menjadi tanggung jawab aku dan suamiku. Kami akan menyekolahkan kalian, memberi kalian makan dan pakaian serta…”


“Memberi kalian rasa aman dan cinta” Joel tersenyum


Arkan yang mendengar itu tertunduk dengan wajah memerah karena menahan air mata. Momen itu sangat mengharukan, mengingat semua hal berat yang dialami anak-anak itu karena Justin.


Wajah anak-anak itu berubah. Mereka mulai terlihat memerah dan mata mereka mulai berkaca-kaca.


“Kami…bisa makan enak…”


“Bisa. Aku akan memasak makanan enak untuk kalian semua” ucap Maggy dengan senyum


“Kami juga…bisa mandi dan pakai baju bagus?”


“Tentu. Banyak baju yang akan kita beli setelah ini” lanjut wanita itu


“Kami…kami akan tidur di kasur yang hangat dan nyaman?”


Wanita itu mengangguk.


“Bukan dengan selimut kotor dan penuh lubang?”


“Bukan. Ada kasur dan penghangat ruangan di kamar kalian nanti. Juga banyak bantal empuk untuk tidur” Joel menambahkan


“Hiks…hiks…kami…kami benar-benar bisa…bisa sekolah seperti anak-anak lain, Maggy-obachan? Tidak perlu mengemis di altar dan mencari uang lagi?”


Maggy tidak bisa menahan air matanya lagi dan mulai berdiri untuk memeluk mereka.


“Kalian akan sekolah. Kami akan memberi kalian buku yang bagus dan banyak. Kalian akan bisa membaca dan menulis, juga bisa menjahit. Nanti akan kuajarkan cara membuat kue agar bisa kalian berikan pada kakak kesukaan kalian itu”


Theo melepas topinya dan menutupi wajahnya dengan topi tersebut. Itu adalah bentuk pertahanan dirinya dari sebutan ‘cengeng’ ketika air matanya mulai tidak bisa dibendung.




“Bocah kecil, kau sudah berjuang melindungi mereka semua selama ini. Kau penjaga sekaligus kakak yang baik. Kini, sudah saatnya kau dilindungi dan dimanja seperti yang lain. Aku yakin. Kakak kesukaanmu juga pasti akan senang”



Mendengar semua itu, mereka mulai menangis. Tangisan kebahagiaan dan sebuah perasaan bebas akhirnya dirasakan semuanya. Mereka menangis di pelukan dua orang dewasa itu. Arkan hanya bisa membersihkan gelas sambil terus meneteskan air mata.



Untuk merayakannya, Maggy memasak banyak sekali makan malam hari itu. Tentu saja Arkan juga ikut sebagai saksi nyata momen mengharukan itu.



“Mulai sekarang, panggil aku Joel-papa. Aku adalah papa kalian. Dan ini adalah Maggy-mama”



“Jey, jangan seperti itu”



“Joel-papa! Maggy-mama!” anak-anak terlihat senang



Stelani dan Fabil mencoba untuk menahan rasa senangnya dan membiarkan anak-anak itu menikmati momennya. Di saat semuanya sudah selesai, Joel melihat Theo.



“Jadi, bocah kecil…panggil aku papa kali ini. Aku sudah lulus dari kata ‘mesum’ sejak mendedikasikan diriku sebagai pria yang cinta anak istri”



“……” Theo terlihat berpikir



“Oi, hanya panggil papa saja” desak Joel



“J–J–Joel…Joel-papa…” Theo memanggilnya dengan nada pelan



“Aku tidak dengar” ledek Joel



“Joel-papa…”



“Sekali lagi” Joel terlihat senang sekarang



“J–J–Joel-papa mesum yang menyebalkan!” Theo berteriak ke arah pria itu



\-Jleb



Suasana haru yang berakhir cepat dengan Joel yang menangis di pojok ruangan. Seakan mengabaikan pria itu, semua orang sibuk menghabiskan makanan dan tertawa.



\*\*\*\*\*\*