Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 286. Ujian Masuk Akademi Sekolah Sihir bag. 2



Di akademi, semua yang masuk dalam anggota divisi dan panitia seleksi ujian berkumpul di tempat terpisah.


Algeria memberikan beberapa perintah setelah selesai dengan kata sambutannya.


“Anggota Divisi Dewan Sihir berjaga di tempat masing-masing sambil menyusun semua hal yang diperlukan oleh panitia”


“Para panita penguji termasuk para kapten silahkan ke ruang rapat”


Ketika Xenon hendak keluar, tangannya ditangkap oleh seseorang.


“Xenon!”


“Jessie-sama?”


“Kemana kamu pergi semalam? Dimana kamu menginap? Kenapa tidak kembali ke sini?”


Wajahnya terlihat khawatir. Gadis itu bahkan tidak terlihat akan melepaskan tangannya dari milik Xenon. Ditambah lagi, kakak kembarnya tidak kalah cerewetnya dari tunangan Xenon.


“Kau benar-benar senang sekali membuat masalah ya, calon ipar!”


“Jene-sama, aku benar-benar minta maaf. Tapi semalam itu adalah hal yang penting dan aku sudah katakan sejak awal bahwa itu urusan pribadi”


“Terserah. Pokoknya hari ini aku yang akan mengawasimu dan–”


“Xenon”


Sebelum Jene selesai dengan kalimatnya, ada suara lain yang memanggil.  Itu adalah Rexa yang menghampiri mereka bertiga.


“Rexa-sama, selamat pagi. Maaf hari ini aku datang terlambat”


Xenon seperti tidak ingin membahas apapun. Dia melepaskan tangan Jessie dan pergi begitu selesai memberi salam pada kaptennya.


“Xenon, tunggu!” Rexa mengejar sang adik


Dari kejauhan, Mark yang berjalan bersama Lucas dan Emilia memperhatikan hal tersebut.


“Mereka masih belum membaik ya?” tanya Mark


Lucas menghela napasnya dan menjawab Mark, “Tampaknya hati Xenon jauh lebih sulit terbuka sejak mengetahui siapa dirinya di keluarga itu”


“Begitu. Tapi aku rasa, mereka harus menghentikan itu segera”


“Kenapa?”


“Aku hanya merasa bahwa mereka harus menjaga satu sama lain. Setidaknya, agar tidak berakhir sepertiku”


Mark berjalan lebih dulu dari kedua orang tersebut.


**


Di luar, Rexa menangkap tangan Xenon.


“Xenon, tolong dengarkan aku”


Xenon terpaksa berhenti. Dia menengok dan bicara pada Rexa.


“Rexa-sama, ini sudah waktunya aku pergi sekarang. Rexa-sama juga memiliki pekerjaan untuk dilakukan, bukan?”


“Kenapa sikapmu dingin seperti itu? Tidak bisakah kamu mendengarkanku sebentar?”


“Apa ada hal penting lain yang harus dibicarakan di hari seleksi ujian ini? Jika itu adalah hal yang berhubungan dengan urusan keluarga dan pribadi, sebaiknya tolong ditahan dulu”


“Xenon…” Rexa terlihat sedih dan melepaskan tangan sang adik


Jessie dan Jene yang melihat itu dari jauh mulai cemas.


“Kenapa Xenon masih tidak mau menerima Rexa-sama setelah kejadian itu? Bukankah mereka begitu dekat? Jene, kenapa?”


“Dasar anak keras kepala itu” Jene mengumpat sambil melihat Xenon yang berjalan pergi meninggalkan mereka


Di ruang rapat, ada 26 orang yang penjadi panitia seleksi, 8 orang di antaranya adalah penguji dan sisanya adalah pengawas ujian.


Algeria mengumpulkan mereka semua.


“Seperti yang sudah diinformasikan bahwa kalian akan menjadi penguji dan pengawas jalannya ujian”


“Silahkan lihat daftar peserta dan ruangan yang harus kalian jaga. Untuk menjaga sportifitas, aku sengaja tidak memberikan bocoran apapun kepada kalian mengenai medan area pada pos yang kalian jaga”


Algeria membagikan kertas kepada mereka. Xenon, Jessie dan Jene terkejut dengan daftar pesertanya.


“Ini kan…”


“Aduh, kenapa jadi dapat si bodoh itu?” umpat Xenon pelan sambil memperlihatkan wajah tidak senang


Di sisi lain, Emily dan Mark mendapatkan peserta yang tidak terduga.


“Huwaa~jodoh!” teriak Emily


“Ada apa, Emily?” tanya Alicia


“Ini anak yang Emily suka! Dia akan ada di ruangan yang Emily jaga, Alicia!”


“Anak kemarin ya?”


Sementara Mark tertarik dengan foto yang dilihatnya sekarang.


“Mark, ada apa?” tanya Lucas yang berdiri di dekatnya


“Dia masuk dalam daftar itu, kan?”


“Aku tidak yakin, tapi dia kuat. Apa kamu keberatan jika aku yang mengujinya sendiri secara langsung dengan kekuatan penuh?”


“Aku ingin tidak ada korban jiwa sekalipun kamu menyingkirkan 90% peserta di posmu” kata Lucas sambil tersenyum


“Aku juga tidak akan membuat atasanku tertekan jadi tenang saja”


Lucas meninggalkan Mark kembali. Semua orang yang telah mendapatkan daftar dan ruangan langsung keluar untuk pergi ke pos masing-masing.


Xenon masih melihat foto orang-orang di daftarnya. Di belakangnya, Jessie dan Jene mengikuti.


“Di ruangan yang akan aku jaga ada sekitar 60 dari 540 peserta ya? Tidak banyak tapi tidak sedikit juga rupanya” gumamnya pelan


Jessie dan Jene mendekati Xenon.


“Xenon…”


“Ya?”


“……” keduanya ingin bertanya soal apa yang terjadi semalam


Namun, sepertinya mereka harus menahan diri terlebih dahulu. Jene mengalihkan pembicaraan itu ke arah lainnya.


“Kalian ingin mengatakan sesuatu?” tanya Xenon


“Se–seperti yang kau tau bahwa salah satu dari temanmu ada yang masuk ke dalam daftar, benar kan?”


“Lalu?”


“Ada orang lain yang harus diawasi sedikit lebih ketat lagi”


“Diawasi lebih ketat? Yang mana?”


Jene membuka lembar berikutnya, “Yang ini”


Xenon memperhatikan fotonya. Dia tidak asing dengan itu.


“Setengah elf?”


“Dalam daftar, di sini hanya memuat nama dan foto. Tapi semalam, tiap divisi mendapatkan data lengkap mereka dan data anak ini kosong”


“Kosong?!” Xenon terkejut


Dia sadar akan pembicaraan antara dirinya dan ketiga remaja dari dunia lain itu. Xenon mulai berpikir serius.


‘Aku punya sedikit gambaran mengenai hal ini. Begitu rupanya. Aku rasa dia adalah penyusup yang aku duga. Berarti para kapten dan anggota lain sudah memiliki kecurigaan tentang peserta ini’


‘Ada kemungkinan Kino, Ryou dan Kaito juga memiliki data yang mencurigakan, sejak mereka bukan berasal dari ‘dunia’ ini. Sepertinya, Dewan Sihir juga memiliki informasi yang tidak kalah penting dari milikku’


‘Tapi, aku berani bertaruh mereka masih belum mengingat tentang sejarah yang hilang itu. Artinya masih ada kesempatan untuk melakukan pertukaran informasi dengan Mark-sama seperti yang kami berempat rencanakan semalam’


Jessie memanggil, “Xenon?”


“Ah! Maafkan aku. Karena ada urusan, aku tidak tau apapun. Terima kasih sudah memberitauku mengenai hal ini, Jene-sama. Apakah ada hal lain lagi yang kalian ketahui dari hasil kemarin?”


“Ada. Tapi aku ragu kau tidak tau mengenai hal itu” Jene mulai sinis


“Apa maksudnya?”


“Kau mengetahui bahwa ketiga teman barumu itu adalah penjelajah dimensi…benar begitu kan?”


Xenon terdiam mendengar pertanyaan Jene.


“Jawab? Kau sudah tau itu dan menyembunyikan sesuatu di belakang kami berdua, iya kan? Apa urusanmu kemarin mengenai hal ini juga? Apa ada sesuatu yang sedang kau lakukan bersama mereka sampai kau tidak melibatkan kami?!”


Jene terus menghujaninya dengan pertanyaan, namun Xenon hanya diam tanpa menjawab.


“Xenon, aku mohon tolong jawab pertanyaan Jene”


“Maafkan aku. Aku tau kalian mungkin akan mengetahui itu cepat atau lambat tapi aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun”


“Jadi benar kau sudah–”


“Mereka memang bukan berasal dari ‘dunia’ ini, tapi kemarin aku hanya mengajari mereka sihir karena mereka ingin masuk ke akademi”


“Hah?!”


Xenon terpaksa berbohong. Tidak, dia tidak bohong tapi dia juga tidak berkata jujur.


“Kemarin aku mengajari mereka sihir lagi. Aku sudah melaporkan hal ini pada semua kapten divisi pada rapat Dewan Sihir para Kapten kemarin pagi. Algeria-sama dan Emily-sama yang menyeretku. Kalian bisa tanyakan itu jika tidak percaya”


“Be–begitukah? Makanya kau tidak mengajak aku dan Jessie?”


“Benar”


Tampaknya Jessie dan Jene percaya pada Xenon dan merasa lega.


‘Aku tidak bisa mengatakan apapun untuk saat ini, tapi karena sudah terlanjur jadi aku rasa tidak masalah mengatakan ketiga orang itu adalah penjelajah dimensi lain’ pikir Xenon


Mereka kembali berjalan menuju ruang ujian yang ditentukan.


Dari belakang, terlihat seseorang yang menatap sinis Xenon dari kejauhan.


“Aku akan menyingkirkanmu, darah kotor. Akan aku lenyapkan keberadaanmu. Dengan begitu, Rexa-sama akan sepenuhnya melupakan kehadiranmu”


******