Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 387. Hubungan dan Ingatan Masa Lalu bag. 1



-BRAAK


Xenon membuka pintu ruang Divisi Eksekutor dan melihat para anggota masih disibukkan dengan pekerjaannya. Di depannya terdapat banyak tumpukkan kertas yang mirip dengan ruangan Algeria beberapa waktu lalu.


Xenon masuk ke dalam dan melihat semua kertas-kertas itu. Tentu saja itu cukup mengagetkannya.


‘Aku melihat gunungan kertas menyebalkan lagi’


‘Lupakan soal kertasnya, aku harus bertemu Rexa-sama!’ dalam hatinya


Salah seorang anggota divisi memanggilnya.


“Xenon-sama?”


“Apa ada sesuatu?”


Xenon melihat tempat itu dan bertanya, “Dimana Rexa-sama?”


“Rexa-sama mungkin akan kembali sebentar lagi”


Kaito yang berada di luar ruangan menengok ke sisi samping kanannya. Ada seseorang yang datang.


“Itu…”


“Kalian? Apa ada sesuatu?” tanya orang tersebut


Fisiknya tidak asing karena Kaito sudah melihatnya siang ini. Dia memanggil, “Xenon, kapten divisimu datang” katanya


Mendengar nama Xenon, Rexa terkejut. Dia langsung melangkah cepat. Kino dan Ryou yang melihat Rexa tiba juga sedikit kaget.


“Xenon-san, Rexa-san sudah…”


“Xenon!” panggil Rexa sambil melihat ke dalam. Betapa terkejut dan senangnya dia melihat Xenon ada di dalam. Dan betapa seriusnya Xenon yang mendekatinya sambil menarik tangannya keluar.


“Ikut aku sebentar”


“Xenon?”


“Ada hal penting yang harus aku tanyakan padamu”


Xenon menarik Rexa keluar ruangan melewati ketiga remaja dari dunia lain. Tentu saja Kaito dan kedua kakak beradik itu melihat mereka.


“Mau dikejar?” tanya Kaito


“Kita ikuti perlahan. Ini pasti masalah yang tadi didengar dari para siswa itu. Ayo, Kino, Kaito!”


Mereka mengikuti kedua van Houdsen itu dari belakang.


Xenon menarik tangan Rexa dan berjalan cepat hingga Rexa sendiri harus mengikuti ritme cepat dari langkah kaki Xenon.


“Xenon, aku senang sekali kamu mencariku” ucapnya


Namun sang adik tidak menjawab atau memberikan respon. Setelah berjalan ke lorong koridor yang lebih sepi tanpa siapapun, setelah belokan menuju lorong lainnya, Xenon berhenti dan melepas tangan Rexa.


“Xenon?”


Dari belakang, Ketiga remaja dari dunia lain itu bersembunyi di balik dinding belokan. Mereka mengintip.


“Apa Xenon-san akan marah ya?” Kino terlihat khawatir


“Aku ragu kalau dia akan baik-baik saja dan tenang saat bicara dengan Rexa van Houdsen, Kino. Tapi aku harap ini akan membuat hubungan mereka membaik”


“Kenapa Kaito-san bisa bicara begitu?”


“Karena pada dasarnya, Xenon bersikap dingin pada Rexa demi menyelamatkan reputasinya. Aku yakin kau juga menyadarinya, Kino. Sejak kaulah yang pertama menanyakan hal tersebut”


Kino terdiam dan melihat situasi kembali.


“Sst! Kalian berdua jangan ribut. Aku ingin mendengar semuanya dengan jelas!” bisik Ryou


Xenon berbalik dan membentak Rexa, “Kenapa Misha-sama diusir dari akademi?! Apa Rexa-sama tau akibatnya?! Ini menyangkut masa depan Anda dan pandangan para bangsawan terhadap status Anda!”


“Kenapa aku harus memikirkan perasaan gadis yang sering menyakiti adikku saat aku tidak ada?”


“Apa?!”


Ucapan Rexa membuat Xenon terkejut. Ekspresi Xenon yang serius kini berubah bingung dan ekspresi Rexa yang awalnya datar berubah menjadi serius.


Kali ini, Rexa yang mengeluarkan semua isi hatinya.


“Kamu pikir aku tidak tau apa yang sudah dikatakan oleh Misha selama dia ada di sini? Aku sering mendapatkan laporan dari semua orang termasuk Emilia-sama mengenai sifatnya”


“Bukan hanya melecehkanmu secara verbal dengan panggilan terkutuk itu, tapi juga melakukan hal buruk dan menyebarkan aib masa lalu secara terang-terangan di depan umum”


“Selama ini aku terus menahan diri, berharap kamu mau datang padaku dan mengatakan semua isi hatimu, tapi kamu tidak melakukannya dan menahan semuanya seorang diri”


“Apa kamu pikir aku tidak sedih dan sakit mendengar apa yang menimpa adikku selama ini?!”


“Rexa…-sama…”


Rexa mendekati Xenon dan memegang kedua pundaknya.


“Apa aku tidak bisa dipercaya lagi olehmu, Xenon?”


-Deg


Dada Xenon seakan terkena sebuah serangan mental. Melihat ekspresi Rexa yang sendu dan penuh rasa kecewa karena dijauhi oleh sang adik sekian lama membuatnya tidak bisa menahan dirinya kali ini.


“Aku…tidak peduli dengan pandangan orang lain. Aku tidak peduli dengan semua kata-kata mereka padaku”


“Aku hanya ingin mendapatkan kepercayaan dan hubungan baikku dengan adikku kembali. Apa kamu pikir aku bisa menikahi orang yang tidak menyukai orang-orang yang berharga untukku?”


Xenon tidak bisa berkata apapun dan hanya tertunduk. Dia tidak ingin melihat wajah itu. Di dalam hatinya, tentu saja bukan ini yang dia inginkan.


Dia ingin hubungannya baik seperti dulu. Bagaimanapun juga, Rexa adalah satu-satunya kakak yang dimilikki.


***


Saat masih kecil, Xenon kecil terbiasa mengikuti Rexa kemanapun dia pergi. Itu karena dia mengenal Rexa sebagai kakaknya.


“Rexa-niichan!”


“Xenon, sini…ayo sini”


Keduanya terbiasa bermain bersama, makan bersama, tidur di kamar Rexa hingga Rexa sendiri lebih menyayangi ibunya yang lain, Axelia.


“Ibu!” teriak keduanya


Ini adalah ingatan saat keduanya masih kecil. Ketika itu, mereka berada di taman mawar kediaman van Houdsen.


Hal yang selalu dilakukan keduanya saat itu hanya bermain, saling memanggil dan menemani Axelia.


“Rexa-sama, Xenon sayang~”


Axelia memeluk keduanya dan menciumi pipi mereka. Hal yang diingat oleh kedua kakak beradik itu adalah ibu mereka yang memeluk mereka adalah yang terbaik.


Axelia terbiasa mengajari banyak hal pada mereka sejak kecil. Terlepas dari kenyataan bahwa Rexa akan menjadi pewaris berikutnya, tentu saja akademik Rexa lebih banyak dan pengetahuannya lebih dalam mengenai semua bidang.


Namun ada hal yang tidak pernah diajarkan kepadanya, yaitu kasih sayang dan cinta. Semua hal itu didapatkannya dari ibunya yang lain, Axelia.


Karena tumbuh bersama, Rexa menjadi perangai yang begitu dewasa, lembut, protektif kepada ibu dan adiknya serta sangat bertanggung jawab.


Akan tetapi suatu hari, di malam hujan saat itu, dia mendengar sesuatu.


Itu terjadi sebelum pesta ulang tahun Xenon yang ke-6. Malam itu, di sebuah ruangan dia melihat ibu tirinya sedang menangis. Dan orang yang membuatnya menangis adalah sang ibu kandung, Vexia.


Di saat itu, Rexa mengetahui bahwa ibu tiri yang begitu disayanginya adalah mantan pelayan di rumahnya sebelum dirinya lahir dan Xenon adalah anak hasil perselingkuhan sang ayah.


******