
Di sisi lain dari wilayah terasing yang lebih dalam, ada suatu tempat bernama [Région Crâne Rouge]. Tempat itu adalah wilayah yang lebih gelap dari wilayah terasing sebelumnya. Tempat yang tidak terjamah oleh siapapun, lebih pekat dengan suasana tidak nyaman sehingga memberikan kesan yang kental dengan pengertian tempat terasing sesungguhnya yang ada di kota.
Meskipun tempat tersebut memiliki deskripsi yang tidak menyenangkan, bukan berarti tidak ada yang ke sana. Iblis berwujud manusia selalu ke tempat itu baik di siang hari atau malam hari.
Sebut saja tempat itu sebagai ‘wilayah gelap’.
Untuk memasuki wilayah gelap itu hanya membutuhkan satu kriteria saja yang disebut immoral. Benar, hanya orang-orang yang tidak berhati dan tidak bermoral yang bisa berada di wilayah tersebut. Karena tempat itu hanya didatangi oleh iblis berwujud manusia, tidak diperuntukkan bagi manusia yang memiliki hati.
Jalan di wilayah tersebut lebih gelap, bangunannya lebih tinggi. Masih menjadi pertanyaan sampai saat ini, mengapa tempat dengan bangunan yang lebih tinggi dari altar di kota bisa tidak disadari oleh penduduk di kota tersebut. Banyak pertanyaan yang timbul.
Apakah tempat itu adalah dunia lain yang bersebelahan dengan kota yang ada sekarang?.
Apakah semua orang tidak pernah menganggap tempat itu ada karena berbahaya?.
Ataukah mereka memang tidak pernah mengetahuinya sejak awal?
Ternyata, kota itu sendiri adalah ‘dunia’ yang tidak kalah aneh dari ‘dunia siang’ dan tidak kalah mengerikan dari ‘dunia malam’.
Mari beralih ke dalam bagian terbaik dari semua itu.
******
Di suasana pagi menjelang siang itu, Justin berjalan ke tempat yang tidak biasa. Tempat tersebut semakin sepi dan lembab, bisa dilihat hanya dia seorang yang berjalan di sana.
Terdapat bangunan yang lebih tinggi dari tempat di bar atau bangunan-bangunan lain sebelumnya dan hal yang paling menarik adalah setelah melewati jalan yang sepi tersebut, ada sebuah gerbang besar di depan sana.
Gerbang tersebut dijaga oleh seorang pria bertato yang lebih tinggi dari Justin dengan banyak bekas luka lama hampir di seluruh tubuh bagian atas, hanya menggunakan celana jeans sobek tanpa atasan serta tangan yang memegang pisau daging besar dan terdapat tulisan [Région Crâne Rouge] di bagian atas gerbangnya.
Itu adalah wilayah gelap, [Région Crâne Rouge].
Pria penjaga tersebut menghadang Justin sambil mengarahkan pisau daging yang dia pegang ke wajah Justin.
“Ini belum waktu pembukaan, apa yang membawamu ke tempat ini, Justin?”
“Aku ingin bertemu dengan ‘mereka’. Sebaiknya kau membiarkanku masuk sekarang karena aku sedang tidak ramah hari ini”
“……”
Pria tersebut melihat sorot mata tajam dari Justin dan tertawa lebar seakan senang melihatnya.
“Ahahaha. Lucu sekali. Kau tidak pernah datang ke tempat ini di pagi hari. Melihatmu seperti ini, aku yakin kau memang sedang dalam masalah, benar begitu kan botak?”
-Dooor
Suara tembakan keluar dari pistol yang ada di tangan Justin.
Justin sepertinya mengeluarkan pistol itu tidak lama setelah dia mendengar kalimat pujian dari penjaga gerbang itu, botak katanya. Padahal itu adalah pujian yang bagus karena itu sesuai dengan kondisi kepalanya yang memang tidak memiliki rambut. Seharusnya Justin merasa senang mendengarnya.
Tembakan itu memang tidak mengenai sang penjaga karena hanya sebagai gertakan, namun tentu saja itu membuktikan ketidaksukaan Justin pada ucapannya.
Penjaga tersebut tidak takut sama sekali. Dengan senyum lebar, dia menarik kembali pisau daging besar tersebut dan mempersilahkan Justin untuk masuk.
“Oi, oi, kau jangan serius seperti itu, Justin. Kalau kau ingin masuk, masuklah. Lagipula, ‘mereka’ sudah ada di dalam. Banyak barang bagus yang sudah datang. Mungkin kau tertarik untuk melihat-lihat dulu sebelum pembukaan”
“Aku tidak peduli dengan barang yang mereka bawa” Justin memasukkan pistolnya kembali dan berjalan dengan wajah dinginnya
Pintu gerbang terbuka dan Justin masuk ke dalam area tersebut.
Di awal gerbang masih terlihat beberapa bangunan kosong yang tidak terpakai dan hancur. Namun hanya berkisar sekitar empat bangunan setelahnya, wilayah tersebut berubah menjadi sebuah tempat perdagangan.
Tempat itu disebut pasar gelap, sebuah pasar yang menjual hal aneh yang tidak biasa dan tidak akan pernah ditemui di pasar manapun.
Di wilayah terasing sebenarnya terdapat pasar aneh sejenis seperti tempat ini, akan tetapi material yang di jual di pasar tersebut berbeda dengan pasar gelap.
Hanya ada satu jenis material yang dijual di pasar gelap di [Région Crâne Rouge] yaitu manusia, baik itu yang masih hidup, sekarat maupun yang sudah mati. Biasanya yang paling laris adalah manusia yang sudah mati. Pasar itu juga menerima organ tubuh manusia apapun jenisnya dan bagaimanapun kondisinya.
Itulah sebabnya hanya iblis berwujud manusia saja yang bisa mendatangi tempat tersebut. Alasannya karena manusia dengan hati hanya akan berakhir menjadi dagangan di sana.
Deskripsi pasar tersebut persis seperti kawasan pertokoan di kota. Kios dagangan sederhana ada di setiap sudut jalan dan toko-toko dengan jendela kaca yang memajang dagangannya juga banyak terlihat.
Tentu saja yang terpajang di sana adalah mayat, kepala dan tubuh manusia lain yang menggantung atau tersusun rapi di etalase toko.
Seperti kata pria penjaga tersebut bahwa semua kios dan toko tersebut tidak ada yang buka satupun karena belum waktunya pembukaan. Justin berjalan di jalan tersebut sendirian.
Sampai akhirnya dia berdiri di sebuah bangunan lantai enam bertuliskan [La porte du Paradis].
Justin masuk ke dalam tempat itu dan disambut oleh seorang wanita muda di lobi.
“Selamat datang. Oh, Justin-sama! Bukankah anda datang cepat hari ini. Apa ada yang bisa dibantu?”
“Aku tau ‘mereka’ ada di sini. Aku ingin bertemu dengannya” Justin menjawab dengan tatapan dingin
“Silahkan tunggu sebentar”
Wanita muda itu naik ke lantai dua. Sekitar tiga atau lima menit dia turun dan mempersilahkan Justin untuk naik ke atas. Di lantai dua, ada tiga pintu tertutup dan satu pintu yang terbuka.
Justin masuk ke dalam pintu yang terbuka dan dilihatnya tiga orang yang sedang berada di sofa. Seorang pria muda tampan yang duduk sambil melihat sebuah peti kecil di atas meja, seorang wanita yang sedang tidur sambil memeluk sesuatu di sofa dan yang terakhir adalah orang yang dikenal oleh Justin.
Pria muda tampan tersebut berdiri sambil tersenyum menghampiri Justin.
“Justin, temanku! Ladang uang lain yang selalu membawaku pada pencapaian tertinggi! Kenapa kau datang di pagi hari seperti ini?”
“Aku tau kau tidak akan sibuk di pagi hari, karena itu aku datang”
“Hoo…kupikir kau merindukanku. Padahal kita baru bertemu tiga hari lalu. Silahkan masuk. Duduklah di tempat yang kau suka tapi jangan ganggu istriku yang sedang tidur”
Justin dan pria tampan tersebut berjalan lalu duduk di sofa. Dia melirik orang lain yang duduk di sampingnya. Orang tersebut menyapanya dengan senyum lebar.
“Yo, Justin-sama. Baru saja kita bertemu di bar ya”
“Riz, kenapa kau bisa di sini juga?” Justin bertanya dengan nada dingin
“Oh, hanya melaporkan barang yang tadi kuambil darimu ke Jack. Aku mau memasukkannya sebagai benda utama di kiosku nanti malam. Karena kondisi kelima mayatnya masih bagus jadi aku meminta Jack untuk mengatur harganya”
“……” Justin mendengarkan meskipun dia tidak peduli
“Kalau aku yang jual tentu saja akan kujual dengan keuntungan 100%, hanya saja Jack bilang nanti pembeli tidak berminat dengan itu. Jadi aku memintanya untuk memasang harga minimal agar bisa terjual”
“……”
“Mayatnya masih di rumahku. Begitu kembali dari bar aku langsung berlari sekuat tenagaku untuk sampai ke sini lebih cepat, ehehehe” Riz tertawa seperti tanpa dosa di wajah tampannya itu
“……”
Justin tidak sungguh-sungguh peduli dengan semua hal yang Riz katakan. Dia hanya menunggu sampai Riz selesai bicara dengan pria di depannya. Setelah sepuluh menit akhirnya Riz keluar dengan senyum senang.
“Akhirnya kita bisa bicara. Riz Mortem cerita padaku dengan wajah senang sekali karena mendapatkan mayat bagus darimu. Jadi, ada perlu apa datang jam segini?”
“Aku ingin kau membantuku mencari seseorang”
“Seseorang? Kenapa kau tertarik dengan orang itu?”
“Dia sudah masuk ke wilayahku dengan senjata. Aku paling tidak suka orang sok suci seperti penduduk kota masuk ke wilayahku. Hanya akan mengotori tempatku saja”
“Jangan bilang kau mencari orang itu hanya karena hal remeh begitu?”
Pria tampan bernama Jack itu melihat Justin dengan wajah aneh. Sambil menutupi wajahnya dengan tangan, dia berkomentar lagi.
“Justin teman dan ladang uangku yang manis dan lucu, kau harus berpikir lebih luas. Tempat kita ini hidup berdampingan dengan kota itu. Kau pasti tau bahwa pelangganku juga banyak yang berasal dari kota itu, iya kan?. Seharusnya kau berpikir lebih luas dan tidak terpaku pada hal sepele yang tidak penting”
“Kau tau aku tidak suka ada tikus yang memasuki wilayahku dan masih berani bicara begitu di hadapanku, Jack!!”
Justin yang marah langsung mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya kepada Jack. Tetapi dengan cepat ada seseorang yang menendang tangannya hingga pistol itu terlempar ke samping lalu menghunuskan sebuah dagger ke lehernya.
“Cih!” Justin yang tidak lagi memiliki senjata di tangannya hanya bisa terlihat kesal
Orang yang menendang pistol Justin sambil menghunuskan dagger tersebut adalah wanita yang sebelumnya tidur di sofa. Siapa yang mengira kalau gerakannya lebih cepat dari Justin.
“Nee, Justin…kau tidak boleh menyakiti suamiku atau kepalamu akan menjadi salah satu pajangan di pasar nanti malam. Kendalikan emosi dan wajah jelekmu itu”
Wanita itu tau caranya membuat Justin diam.
Jack langsung berdiri dari tempatnya dan membuka tangannya lebar-lebar sambil tersenyum memanggil nama wanita itu. Matanya menjadi berbinar-binar dengan efek kelap-kelip seperti tokoh dalam drama.
“Seren, cintaku! Selamat pagi sayangku! Turunkan benda itu sekarang dan peluk suamimu ini~”
Seren, nama wanita cantik itu langsung memasukkan kembali daggernya dan memeluk suaminya.
“Oh, Seren cintaku. Apa tidurmu nyenyak, sayangku?”
“Oh, Jack. Aku bermimpi melihat gorilla ketika aku bangun. Aku takut” Seren terlihat lemah lembut sambil memeluk suaminya
“Tenang saja, sayangku. Aku akan melindungimu dari gorilla itu”
Drama rumah tangga yang aneh. Pada akhirnya Justin hanya menjadi penonton tanpa popcorn.
Setelah drama aneh kedua pasangan tersebut berakhir, Jack dan Seren duduk kembali. Jack melihat Justin sambil tersenyum dengan wajah polosnya.
“Maafkan istriku ini, temanku. Dia sedikit berlebihan kalau habis bermimpi buruk. Coba kuingat, sampai dimana kita tadi?”
Justin yang merasa dipermainkan membentak pria tampan itu dengan wajah kejamnya.
“Jangan bercanda, Jack! Aku tidak suka main-main”
“Dan aku tidak suka kau datang hanya untuk berteriak di sini, Justin. Di sini aku adalah rajanya. Aku masih menganggapmu teman sampai saat ini, tapi jika kau berani bicara dengan nada tinggi padaku lagi, jangan dendam padaku jika nanti malam kepalamu benar-benar akan menjadi dagangan”
Sekarang, Jack yang terlihat lemah justru menunjukkan taringnya. Sorot matanya jauh lebih tajam dari Justin dan terdapat aura membunuh yang kental di sekelilingnya. Inilah sosok Jack sesungguhnya yang bahkan bisa membuat seorang Justin menjadi terlihat ciut bagaikan anak tikus.
“……” Justin hanya diam tanpa membalas kata-kata itu
Setelahnya, wajah Jack kembali seperti sebelumnya.
“Temanku, aku minta maaf telah bicara jahat padamu. Tentu saja aku tidak mau kau menjadi dagangan sejak semua barang darimu itu sangat bagus. Kalau kau mati, Riz akan menangis tujuh hari tujuh malam tanpa henti nanti. Aku serius, sampai dimana kita tadi?”
“Aku mau kau membantuku mencari seseorang”
“Yang kau bilang berani masuk ke wilayahmu dengan senjata ya. Baiklah baiklah, meskipun aku merasa kau hanya membuang-buang waktu mencari orang itu karena hal sepele begitu tapi biarlah. Seperti apa dia?”
“Pria dengan pedang tanpa sarung pedang”
“Ciri-ciri lain? Misalnya tinggi badan atau wajahnya, jelek atau tidaknya? Tidak mungkin hanya itu saja, kan?” Jack bertanya dengan wajah bingung
“Aku tidak tau soal yang lain. Sampah yang melaporkannya padaku hanya mengatakan semua itu”
“Kau pasti tidak serius? Lalu dimana sampah yang melaporkan hal bodoh itu sekarang?”
“Sudah menjadi daftar barang yang akan dijual Riz nanti malam”
Jack hanya bisa menatap Justin dengan tatapan sedih sambil bergumam.
“Demi semua uangku yang ada di brankas, bisa-bisanya kau mencari orang hanya dengan ciri-ciri tidak jelas begitu”
Akhirnya ada orang yang menganggap Justin cukup bodoh sejak tidak ada yang berani padanya di wilayah kekuasan miliknya sendiri. Sudah cukup dengan semua rasa malu itu, Justin melanjutkan kata-katanya.
“Aku tidak peduli dengan komentarmu. Aku ingin pria itu hidup atau mati. Aku sudah memerintahkan semua sampah yang kupunya tapi tidak ada satupun yang kembali pagi ini. Akan kuanggap mereka belum menemukannya jadi aku meminta bantuanmu”
“Tidak mau mencarinya sendiri di kota?”
“Tadinya aku ingin langsung pergi ke kota karena aku bilang pada Arkan begitu, tapi aku merasa meminta bantuanmu adalah hal terbaik jadi aku langsung pergi ke sini. Bagaimana?”
“Biar kupikirkan sebentar”
Jack berpikir sambil melihat kotak kecil yang ada di atas meja. Dia tersenyum dan mengeluarkan isinya.
“Justin, temanku. Kau tau ini apa?”
“Hobi burukmu” tanpa basa-basi Justin langsung menjawabnya dengan cepat
Benda yang ada di tangan Jack sekarang adalah sepasang bola mata berwarna biru yang cantik dengan darah segar yang masih ada di sekitarnya. Dengan senyuman, Jack mulai membuka mulutnya kembali.
“Bola mata ini adalah milik seorang anak kecil berusia 8 tahun. Anak itu adalah putri dari salah seorang pembantu milik seorang pedagang di kota itu. Kau tau tidak, mereka berdua dijual padaku kemarin malam dan baru datang pagi ini dalam keadaan masih hidup. Aku hanya sempat meminta Seren untuk mencongkel bola mata anak itu dan memotong kepalanya saja”
“Apa inti dari pembicaraanmu itu?” Justin merasa suatu hal yang tidak asing untuknya
“Bola mata dan semua organ anak-anak sedang diminati akhir-akhir ini. Kau paham maksudku, kan?”
“Kau ingin aku memberikan tikus-tikus milikku sebagai bayarannya?” Justin menyipitkan matanya
“Tentu saja aku tidak akan memaksa, tapi sejujurnya aku sudah lama tertarik pada kedelapan malaikat kecil milikmu itu. Kalau kau tidak keberatan, mungkin kau mau memberikan satu atau dua untukku sebagai bayaran. Bagaimana?” Jack tersenyum pada Justin
Ini adalah sebuah tawaran dari Jack untuk Justin. Seperti sedang melakukan transaksi jual-beli biasa, tidak ada ekspresi lain selain senyum manis di wajah Jack saat mengatakan hal tersebut. Sungguh iblis berwujud manusia yang sebenarnya.
Tapi, Justin juga bukanlah manusia. Tentu saja sudah bisa ditebak respon apa yang diberikan olehnya kepada Jack.
“Ahahahaha, menarik. Baiklah! Bukan satu, aku akan memberikan mereka semua padamu!. Aku sudah muak dengan mereka semua sejak mereka tidak memberikanku uang yang cukup. Selain itu, tikus bernama Theo juga semakin kurang ajar setiap harinya”
“Jadi intinya–” Jack mulai terlihat berbinar-binar karena senang
“Kau bisa memiliki mereka, tapi pria berpedang tanpa sarung pedang itu harus menjadi milikku. Kalau bisa, aku ingin dia dalam keadaan masih bernapas” Justin menjawab dengan wajah senang
“Bernapas ya. Akan kuusahakan. Jadi, selama prosesnya apa aku harus mendapatkan pria itu dulu baru bisa memiliki malaikat kecilmu itu atau–”
“Terserah saja. Tetapi tidak menutup kemungkinan aku juga akan mencarinya sendiri kalau sudah bosan menunggu”
“Setuju! Jangan khawatir, meskipun petunjuk bodoh dari sampahmu itu tidak membantu sama sekali tapi mungkin masih bisa diusahakan sedikit. Kalau begitu seiring dengan pencarian, aku akan mulai mencicil untuk mengambil kedelapan malaikatmu itu satu per satu”
Jack meletakkan kembali sepasang bola mata itu ke dalam peti kecilnya kembali dan mengeluarkan sapu tangan untuk mengelap kedua tangannya.
Setelah itu, dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Justin.
“Senang berbisnis dengamu, temanku”
Justin tersenyum lalu tertawa sambil menjabat tangan Jack. Setelah itu, dia berdiri dan mengambil pistolnya di lantai lalu pergi dari tempat itu.
Di dalam ruangan itu, Jack mengelus rambut panjang istrinya yang lurus dan indah.
“Seren cintaku, akhirnya kita bisa menambah daftar barang baru di sini. Apa kau senang?”
“Aku senang sekali. Tapi tetap saja aku harus bilang kalau Justin itu sangat bodoh melebihi gorilla di hutan. Hanya karena hal tidak jelas begitu dia sampai menjual semua anak-anak itu pada kita. Apa ada hal yang lebih bodoh darinya di dunia ini?”
“Jangan begitu, sayangku. Bukankah bagus kalau dia termakan emosinya begitu? Pada akhirnya kita bisa menambah daftar barang baru di pasar nanti”
“Hmm…”
“Jadi, siapa yang mau mencari pria itu?. Kau atau aku?” Jack mencium kening sang istri sambil memegang tangannya
“Aku. Lagipula kita juga boleh mengambil anak-anak itu satu per satu selama pencarian. Kalau wilayahnya hanya di sekitar kota atau wilayah asing itu saja tidak akan sulit. Biarkan aku saja yang melakukannya ya” Seren melihat suaminya dengan tatapan seperti anak kucing
Tentu saja Jack yang sangat sayang pada istrinya hanya bisa mengangguk sambil mengelus-elus rambut sang istri.
“Karena masih cerah, sebaiknya aku pergi sekarang. Akan lebih bagus jika anak-anak itu bisa masuk sebagai dagangan malam ini meskipun hanya satu. Para orang kaya itu juga tidak akan mempermasalahkan kualitasnya” Seren bangun dari sofa dan bersiap
“Jangan terlalu lelah ya, Seren sayangku. Untuk sisa barang tadi pagi biar aku yang mengurusnya. Hanya perlu dipotong menjadi sepuluh bagian bukanlah masalah besar”
“Aku mengerti. Sampai jumpa nanti malam, suamiku”
Seren mencium pipi suaminya lalu pergi dari ruangan tersebut. Setelah keluar, Jack yang masih duduk melepas jasnya dan mengendurkan dasinya lalu berdiri sambil melompat dengan senang.
“Yahoo…dapat delapan barang baru lagi! Ah~ senangnya. Seharusnya dia menjual mereka semua sejak awal padaku. Enaknya dimana aku meletakkan semua kepala milik anak-anak itu nanti ya? Haruskah aku menitipkannya pada kios lain atau aku bisa menjualnya sendiri di toko milikku?. Huwaa~ jadi tidak sabar”
Senyuman itu adalah sebuah senyuman milik psikopat sesungguhnya yang tidak sabar menikmati mangsanya. Ternyata, ada orang lain yang lebih jahat dan kejam selain Justin di tempat terasing itu.
******
Di jalan sempit di tempat asing, Kaito mencoba mencari tau informasi yang dibutuhkan olehnya.
“Theo, ceritakan semua itu kepada kami. Tergantung pada jawabanmu, aku berjanji akan membantumu”
“……”
Theo tidak memiliki pilihan karena keadaan miliknya sendiri juga sangat sulit. Hal yang selalu dia pikirkan adalah membalas semua yang dilakukan Justin kepada dirinya dan teman-temannya.
“Aku mengerti. Kaito-nii, Ryou-nii. Aku akan menceritakan semuanya dan membantu mengembalikan jam saku milik Kino-nii. Aku juga ingin meminta bantuan kalian”
“Tentu”
“Aku ingin menyelamatkan teman-temanku dari gorilla itu! Aku ingin kami bisa lepas dari Justin dan terbebas dari neraka ini!”
Sorot mata milik Theo berhasil meyakinkan Kaito. Bahkan, Ryou yang awalnya terlihat jengkel dengan anak itu akhirnya bersedia melupakan perasaan kesal itu dan serius mendengarkannya.
“Aku akan menjawab semua pertanyaan kalian. Ini juga demi diriku dan teman-temanku”
******