Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 270. Hari Santai Sebelum Ujian bag. 2



Kembali ke tempat ketiga remaja dunia lain berada saat ini, mereka masih menghadapi teka-teki rumit mengenai diri mereka sendiri.


Tapi ada topik unik yang dibahas kali ini dan topik itu pertama kali dibuka oleh Ryou.


“Bicara soal ‘dunia’ yang kita datangi, biasanya tempat yang dibawa oleh permata Kaito memiliki ciri khas. Kenapa yang ini tampaknya tidak begitu?”


Kino bingung dengan kalimat sang adik.


“Apa maksudnya, Ryou?”


“Biasanya kalau tidak berhubungan dengan monster aneh, tukang jual organ tubuh atau yang masih hangat di ingatanku, zombie. Tapi kita tidak begitu mengalami kejadian yang terlalu mengerikan ketika tiba di tempat ini”


“Kenapa kau bicara seolah-olah aku ini pembawa sial?”


“Memang kalau bukan pembawa sial, apa lagi sebutannya?”


“……” Kaito tampaknya sudah cukup dengan kalimat menyayat hati itu


“Ryou, jangan bicara begitu pada Kaito-san! Kaito-san, maafkan Ryou ya”


“Tidak masalah Kino. Aku akan bertanya pada Xenon mengenai sihir membungkam mulut seseorang agar bisa aku praktekkan langsung pada adikmu itu”


“Kau mau jadi ‘Kaito bakar’ atau ‘Kaito panggang’. Aku akan berikan opsi ‘Kaito goreng’ agar kau menjadi lebih renyah dengan sensasi krispi di luar, bagaimana?”


“Dasar remaja dunia lain yang menyebalkan…”


“Kau juga remaja dunia lain, ya! Berkaca pada air sungai sana!”


“Kalian berdua, ini masih pagi. Aku mohon kalian tenanglah atau aku akan mendinginkan kalian lagi”


-Deg


Keduanya diam dan melihat Kino.


“Aku akan mendinginkan kalian lagi. Kebetulan sekali kaki kalian ada di dalam air sungai, kan? Mungkin berenang sedikit akan membantu kalian”


Wajah tenang dan senyum itu adalah ketakutan lain yang dimiliki oleh keduanya sekarang.


“Kami…minta maaf”


“Syukurlah kalian mengerti kalau pakaian ini adalah pinjaman dari Xenon-san” kata Kino dengan senyum ramah


“Hahaha” Ryou menanggapinya dengan tawaan kecil yag kaku dan terpaksa


Ketiganya bersantai sementara waktu. Ryou mencoba mengeluarkan api kecil dari tangannya.


“Lihat ini, aku sudah bisa mengontrolnya. Aku masih heran apa ada hukum tertentu untuk setiap sihir yang kita pakai? Apa masih belum terpikirkan bagaimana cara kerja pengguna sihir lain”


“Xenon juga terlihat tidak lelah ketika menggunakan semua sihir itu” tambah Kaito


Seperti halnya Ryou, Kaito juga ingin mengontrol angin dari sihirnya dan membuat pusaran air kecil di sungai.


“Aku juga ingin tau, tapi sekarang kita hanya bisa menunggu sampai Xenon-san pulang sekolah. Selama itu, mungkin ada baiknya kita mencari informasi kembali. Misalnya…


“Misalnya? Informasi apa lagi yang mau kau cari, Kino?”


Kino berpikir sejenak kemudian melanjutkan kalimatnya, “Misalnya tentang Keluarga Kerajaan Bernkastel-Wiesbaden”


Kedua orang itu terkejut. Mereka bertiga menengok semua sisi untuk memastikan semua aman tanpa ada orang lain di tempat itu. Setelah dirasa aman, ketiganya melanjutkan topik yang dianggap rahasia dan tabu tersebut.


“Kino, kita bicara pelan-pelan saja” Kaito mengingatkan


“Aku setuju, Kino. kita berbisik-bisik seperti ini saja untuk berjaga-jaga”


Kino mengangguk dan mulai membicarakan bahasan tersebut.


“Kalian ingat yang diceritakan oleh Xenon-san mengenai kemungkinan konspirasi dari dalam, kan? Kalau aku pikir kembali, kita sendiri belum mengetahui apapun mengenai sejarah tempat ini”


“Kita memang tidak boleh sampai terlibat terlalu dalam, Kino” ucap Kaito


“Aku mengerti, Kaito-san. Hanya saja, aku rasa jika memang berhubungan dengan permatamu maka kita akan masuk ke dalam masalah ini. Apalagi, kasus hilangnya orang ini ada hubungannya dengan ujian besok”


“Soal penyusup itu, ya?”


“Benar. Bisa saja, akan ada korban hilang lain di akademi”


Kalimat dan semua penjelasan sang kakak membuat Ryou menanggapinya dengan serius. Dia tampaknya mulai sependapat dengan sang kakak.


“Kaito, Kino benar. Aku juga tidak ingin melibatkan diri dalam urusan menyebalkan ini, apalagi ini ada hubungannya dengan otoritas Negara. Aku percaya ada isu politik dan lainnya yang terlibat”


“Tapi, pikirkan ini. Permatamu itu tidak pernah membuat kita menemukan jalan mudah. Hal ini juga mungkin sudah menjadi jalan untukmu agar bisa mendapatkan permata itu”


“Selain itu, kita semua sudah percaya bahwa Akademi Sekolah Sihir memiliki permata ingatanmu yang lain. Dengan sangat terpaksa, kita harus menyelam lebih dalam lagi dalam masalah Xenon”


“……” Kaito terdiam


“Kaito-san, aku merasa Negara ini memiliki sejarah yang gelap hingga kasus ini bisa terjadi dan jika dugaanku benar, itu adalah jawaban yang kita harus temukan kebenarannya”


“Aku mengerti. Jadi, intinya kita harus mencari tau hal yang bersifat sangat rahasia. Begitu kan?”


“Selain keluarga Xenon dan gadis kecil nakal itu, aku ingat ada keluarga kapten terkuat dari Divisi Khusus dan sisanya…”


“Keluarga Duke Kiel-Kassel, Keluarga Midford dan Keluarga Viscount Rottenburg. Enam keluarga yang paling dekat dengan kerajaan. Aku yakin masing-masing dari mereka memiliki rahasia yang pantas untuk diselidiki juga”


Seketika mereka menjadi sangat serius. Tampaknya di hari yang tenang sebelum ujian besok, mereka menemukan sesuatu yang harus dilakukan.


Ryou berdiri dan berkata, “Kita pergi. Itu lebih bagus daripada hanya bersantai. Aku tidak mau kita yang sudah terlanjur terlibat malah tidak bisa melakukan apa-apa. Paling tidak, informasi seperti apapun itu akan sangat berguna”


“Baiklah, sudah diputuskan”


Ketiganya memakai sepatu kembali dan pergi ke kota. Tujuan mereka adalah informasi mengenai sejarah mengenai kota tersebut dan informasi tentang keenam keluarga yang dekat dengan kerajaan.


Tidak akan mudah, tapi tidak mungkin menghentikan ketiga remaja dari dunia lain tersebut untuk mendapatkan informasi.


“Tempat ini mungkin menyimpan sesuatu”


Sebuah gedung yang sangat tidak asing untuk mereka bertiga, [The Office of The Magic Departemen].


“Selamat datang kembali di tempat ini. Kita masuk, anak-anak. Ikuti aku dan jangan tersesat” kata Ryou dengan sangat percaya diri


“……” kedua orang di belakangnya hanya menatap aneh Ryou


“Kenapa diam? Perlu digendong?”


“Iya iya, terserah Ryou saja” sang kakak memilih mengalah


Mereka masuk dan menuju meja informasi kembali. Kino mencoba bertanya pada bagian informasi.


“Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?”


“Permisi, kami ingin mencari tau informasi penting”


“Baik, informasi apa?”


“Informasi mengenai keluarga kerajaan dan enam keluarga penting di pemerintahan Negara ini”


“Baik. Mohon tunggu sebentar”


Petugas itu mengambil sebuah batu permata seperti sebelumnya, namun dengan warna berbeda. Dia memberikannya pada Kino.


‘Ukurannya lebih kecil dari yang kemarin. Apakah ini benar-benar mengandung informasi yang kami cari?’ pikirnya dalam hati


“Silahkan diakses di meja nomor 4 di lantai dua”


“Lantai dua?”


“Benar. Silahkan naik tangga yang ada di sebelah sana. Mejanya ada di sebelah kanan dari arah tangga”


“Baik. Terima kasih”


Mereka pergi meninggalkan meja informasi.


“Ada apa?” tanya Ryou


“Batu permatanya lebih kecil dan kita diminta menaikki tangga menuju lantai dua, meja nomor 4”


“Kecil sekali. Berbeda dengan yang sebelumnya” kata Ryou


“Apa mungkin informasi yang ingin kita ketahui itu bersifat rahasia sekali ya?”


Kaito bersikap tenang dan berkata, “Kita akan tau begitu sampai di atas”


Mereka tiba di lantai dua dan betapa kagetnya mereka. Lantai itu bukanlah area terbuka seperti di lobi melainkan penuh dengan pintu. Ryou sampai tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya.


“Apa ini? Kenapa jadi seperti net room yang ada di Jepang?”


“Ruang tertutup. Sepertinya dugaanmu benar, Kino. informasi yang ingin kita cari kemungkinan bersifat rahasia” kata Kaito sambil menatap batu permata di tangan Kino


Kino mulai merasa aneh tapi mereka tidak bisa mundur. Ketiganya mulai mencari meja nomor 4, atau lebih tepatnya pintu nomor 4.


“Ketemu!” tunjuk Ryou


Di depan pintunya, ada sebuah lubang kecil.


“Lubang apa ini?”


Kaito menunjuk permata di tangan Kino, “Mungkinkah itu untuk memasukkan permata di tanganmu?”


Kino melihat ukuran lubang dan permatanya.


“Cocok. Sepertinya benar”


Begitu diletakkan, pintu tersebut terbuka dan ketika dilihat, mereka bertiga cukup terkejut dengan isinya.


“Serius…selamat datang di Jepang versi dunia lain”


******