Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 183. Event Horror bag. 13



Kalimat Kaito sempat membuat Kino terkejut.


“Kita tidak…memiliki aroma tubuh juga di sini?”


“Benar. Sepertinya aturan dari tempat sebelumnya masih berlaku di sini. Aku baru menyadarinya beberapa waktu lalu. Tapi mengenai tidak lapar, tidak perlu tidur dan defekasi masih belum aku ketahui” ujar Kaito yang berjalan mendekati mereka


“Begitu. Aku pikir kita sudah bebas dari hal seperti itu begitu sampai di sini. Terima kasih sudah memberitau kami, Kaito-san”


“Sama-sama”


Kaito mengikat jubah miliknya di pinggang lalu melihat benda yang dipegang oleh kedua kakak beradik itu.


“Akhirnya bertemu dengan sesuatu yang berguna” senyum Kaito


“Begitulah. Sedikit modifikasi dan selesai. Selain itu, ada yang ingin kami bicarakan denganmu, Kaito” Ryou terlihat serius


Kedua kakak beradik itu menceritakan semua informasi yang mereka miliki kepada Kaito.


“Ternyata itu bukan perasaanku. Mereka memang jadi lebih agresif dan tidak seperti mayat hidup yang berjalan saja”


“Kaito-san juga menyadarinya?”


“Aku baru menyadarinya beberapa waktu lalu. Tapi jika itu benar, maka ada kemungkinan di gedung lain juga mengalami hal yang lebih buruk dari di tempat ini” lanjut Kaito


“Kau benar. Dua dari pendiri aplikasi [Event Horror Apps] telah menjadi korban dari permainan yang dibuatnya sendiri, sedangkan satu orang tersisa tidak diketahui keadaannya. Ini lebih merepotkan dari pergi ke pasar gelap kemarin” Ryou menambahkan


“Kalian berdua, aku rasa kita tidak bisa membuang-buang waktu. Sebaiknya kita pergi dari sini”


“Kau benar, Kino. Kita pergi dari sini. Kali ini kau tidak akan bertarung sendiri, Kaito” ucap Ryou dengan menunjukkan pisau barunya


Kaito mengangguk dan menghampiri keempat mahasiswa yang terlihat waspada akan sesuatu. Mereka melihat ke arah lurusan lorong tersebut sehingga membelakangi ketiga remaja yang datang.


“Ada apa, Garam-san?” tanya Kino panik


“Di–di–di–di sana…seperti ada yang berjalan ke arah sini…”


Tangan Seo Garam terlihat gemetar. Kang Ji Song yang memegang sapu dan penggorengan di tangan juga tidak kalah panik. Kedua gadis di dekat mereka menjadi pucat dengan membawa semua tas belanja. Jika harus melarikan diri, sudah dapat dipastikan bahwa mereka akan mengalami sedikit kesulitan.


Kaito maju di depan Kang Ji Song.


“Sejak kapan suara itu terdengar mendekat?”


“Aku…aku rasa barus sekitar beberapa menit yang lalu. Tapi anehnya, sosok zombie masih belum terlihat. Namun, suaranya cukup keras sampai ke sini”


“Apa yang di ujung lorong tersebut?”


“La–laboratorium dan ruang dosen lantai ini. Lalu toilet dan…area merokok. Ada juga beberapa ruang kelas. Di depan sana juga ada tangga”


“Begitu”


Kaito melihat Kino dan Ryou untuk bertanya.


“Kemungkinan di depan sana adalah para zombie yang bergerak hanya di area tersebut, seperti di lorong belakang kita. Bagaimana sekarang? Mau diterobos untuk memastikan apakah ada tempat yang aman atau kita pergi lewat jalan lain?”


Setelah diam sejenak, Kino menjawab.


“Lebih baik kita cari tempat aman lain. Kita bisa keluar lewat pintu darurat lagi dan–”


-BRAAK


Terdengar suara pintu terbuka dari arah belakang mereka. Bersamaan dengan itu terdengar pula suara yang sangat tidak diharapkan untuk datang.


-GRAAA


-Deg


“……!!!” semua orang terkejut dan melihat ke belakang


Ada zombie yang keluar dari arah pintu darurat. Tampaknya pintu darurat yang ada di lantai atas telah berhasil dijebol akibat banyaknya zombie yang telah berkumpul di depannya.


“Mereka berhasil sampai ke sini!” kata Kim Yuram panik


Ryou sudah bersiap dengan dua bilah pisau di tangannya sambil tersenyum senang.


“Kino, tampaknya idemu itu tidak bisa dilakukan. Mau tidak mau kita harus coba menerobos ke depan dan turun


dari tangga yang ada di sana”


“Kita ke depan?! Tapi, di depan sana mungkin saja zombie! Seo Garam panik


“Apa bedanya? Di belakang kita juga zombie, kan?” ucap Ryou dengan santai


“……” Seo Garam kehabisan kata-kata untuk sikap santai Ryou


Ha Jinan mendekati Kino kembali dan menarik ujung bawah pakaiannya.


“Ki–Kino-ssi…”


“Jangan khawatir, Jinan-san”


“Tapi…tapi…”


“Kaito-san, bagaimana menurutmu?”


“Kita maju. Kalau ada ruang kelas dan dekat dengan toilet, setidaknya kalian semua bisa bernapas lega untuk sementara. Jika memungkinkan, kita habisi semua yang ada di depan sana”


“Setuju”


Ryou tidak memerlukan aba-aba untuk berlari ke depan.


Zombie-zombie di belakang mereka tampak masih berada dalam jarak aman. Namun, ada dua ekor yang berjalan sedikit lebih cepat dari yang lainnya sehingga dua zombie tersebut hampir sampai ke arah mereka.


Kino yang melepas pegangan dari Ha Jinan menyuruhnya untuk berlari bersama yang lain.


“Ha Jinan, aku akan menyusul. Paling tidak, dua ekor itu harus ditangani terlebih dahulu”


“Kino-ssi!!”


“Jinan, kita pergi! Kino akan baik-baik saja!” Kim Yuram menarik tangan Ha Jinan


Setelah berhasil membuat mereka berlari seperti instruksinya, Kino berbalik dan langsung membunuh dua ekor zombie yang berada dalam jangkauan mereka, kemudian meninggalkan zombie lainnya untuk menyusul Kaito dan lainnya.


Ryou yang berlari bersama Kaito di paling depan berteriak untuk bertanya pada Kang Ji Song.


“Kang Ji Song! Dimana lorong yang terdapat tangga menurun dan ruang kelasnya?” teriak Ryou


“Kanan! Belok kanan dan nanti akan sampai di ruang kelas lain”


“Kaito, kita pilih kanan!”


Kaito sedikit meningkatkan kecepatannya untuk memastikan belokan tersebut dan ternyata mereka benar. Begitu berbalik, para zombie itu ada di sana. Jumlahnya tidak kalah banyak dari sebelumnya.


“Aku mulai lelah melihat mereka semua” gerutunya pelan


Kaito langsung menghunuskan pedangnya untuk menghabisi mereka. Dengan cepat, Kaito mulai memenggal kepala mereka satu per satu.


Dari arah belakang, Ryou juga mulai mencoba senjata barunya tersebut.


“Aku sudah memakai ini untuk menusuk kepala zombie sebelumnya. Kita lihat setajam apa pisau ini jika dipakai untuk menggorok leher mayat hidup”


Ryou menggunakan dua pisau di tangannya untuk membunuh mereka. Zombie yang mencoba menangkapnya dengan cepat harus kehilangan kedua tangan mereka akibat dipotong oleh Ryou.


Tidak butuh waktu lama sampai kepala zombie itu terpisah dari lehernya. Jumlah zombie yang datang semakin berkurang, namun bukan berarti mereka benar-benar dalam posisi aman.


Seo Garam dan Kang Ji Song diikuti oleh Kim Yuram dan Ha Jinan sampai di belokan dan melihat dua remaja asing itu benar-benar bertarung dengan sangat cepat.


“Ryou…bisa mengalahkan zombie-zombie itu dengan mudah?” Seo Garam sedikit syok


“Aku tau mereka memiliki pengalaman dalam hal ini. Tapi, apa mungkin?” Kang Ji Song terlihat curiga


Kim Yuram melihat gerakan dan ekspresi Ryou saat membunuh mereka semua.


‘Wajahnya itu…’


Sepertinya, ada yang dipikirkan oleh gadis itu. Ketika Kino menyusul mereka, dia pergi menyusul adik dan Kaito di depannya.


“Kino, coba kau periksa ruang yang ada di samping kiri. Pintunya terbuka. Bisa saja tempat itu aman” ujar Kaito


“Aku mengerti” Kino membuka pintu dan terkejut


Ada banyak darah dan bekas makanan di dalamnya.


‘Mungkinkah sebelumnya ada orang di tempat ini?’ pikirnya


“Kino! Bagaimana?!” Kaito berteriak lagi


“Di–di sini ada sampah bekas makanan dan tidak ada benda berat untuk menahan pintu”


“Tidak masalah. Itu artinya kita harus membunuh mereka semua agar area ini bisa kita jadikan sebagai area aman” kata Ryou dengan senyum


-GRAAA


Dari arah belakang, zombie-zombie sebelumnya mulai bermunculan. Keempat mahasiswa itu berlari dan masuk ke dalam ruang kelas tersebut.


“Tunggu kami dan jangan coba-coba untuk keluar” ucap Kino


Sebelum pintu ditutup, Seo Garam menghampiri Kino dan coba meyakinkannya.


“Aku akan ikut membantu kalian!”


“Terima kasih, tapi kami bisa menangani ini” jawab Kino tersenyum lalu menutup pintunya


Wajah Seo Garam tidak berhenti untuk cemas dan dia menyadari bahwa jika mereka tidak bertemu dengan Kino dan yang lainnya, mungkin mereka sudah menjadi bagian dari mayat hidup di luar.


Di luar pintu, semua pembersihan itu didominasi oleh Kaito dan Ryou. Kino mencoba untuk menganalisa pergerakan para zombie itu sambil menjaga pintu ruang kelas tersebut.


‘Para zombie itu tampaknya masih belum menunjukkan tanda-tanda agresif. Tapi, apakah ada faktor yang membuat mereka seperti itu?’


Hanya butuh waktu cukup singkat sampai akhirnya Ryou dan Kaito berhasil membersihkan semua zombie yang ada di daerah tersebut.


******