
Kaito melihat Ryou dan sukses mengatakan sebuah ‘pujian’ bertubi-tubi dengan wajah dan nada datar. Bagian yang paling menyenangkan dari hal itu adalah semua kalimat ‘pujian’ yang dikatakan olehnya merupakan kalimat ‘pujian’ yang sudah dikatakan terlebih dahulu oleh Ryou untuk Kaito.
Mendengar hal itu, sebuah teriakan keras menyambut Kaito.
“Kaito!!!”
“Aku di sini” tanya Kaito dengan nada datar
Ryou yang masih belum memasukkan pedangnya kembali langsung memerah seperti tomat karena menahan
marah.
Seakan siap menebas pemuda berwajah santai tanpa dosa di depannya, Ryou mulai mengangkat pedangnya.
“Kau benar-benar punya dendam pribadi padaku ya? Bagaimana rasanya melampiaskan semuanya sekaligus?” Ryou bertanya sambil menahan emosi
“Senang sekali. Aku senang kau merasakan semua perasaan itu. Aku sudah merasakannya lebih dulu. Terima kasih untuk pujiannya selama ini. Kau teman yang terbaik, Ryou”
Dengan wajah yang tersenyum manis dan ceria, Kaito mengatakan hal itu dari lubuk hati yang paling dalam. Mental Kaito benar-benar sudah kuat menghadapi mulut pedas Ryou.
Dendam karena selalu menjadi korban dari mulut pedas Ryou akhirnya berhasil terbalaskan.
Sudah tidak mau menghabiskan tenaganya, mereka masuk dalam mode serius. Ryou memasukkan pedangnya kembali ke sarung pedangnya dan mendekati Kaito dengan membawa pistol di tangannya.
“Kaito, kau saja yang pegang ini. Aku tidak mau membawanya” Ryou memberikan pistol itu pada Kaito
“Aku tidak tau cara memakainya. Sebaiknya kau yang menyimpan itu”
“Aku tidak tau seberapa akurat jika aku yang melakukannya. Kau punya kemampuan membidik anak panah dengan baik. Meskipun terdengar seperti tidak ada hubungannya, tapi seharusnya kemampuan itu bisa berguna juga pada benda ini. Kau harus membawa ini bersamamu, Kaito. Kuberikan pelurunya juga padamu”
“Bagaimana cara menggunakan benda ini? Kau harus mengajariku terlebih dahulu”
“Hmm…baiklah”
Ryou mengajari cara menggunakan pistol dan mengisi pelurunya. Dia juga sedikit menjelaskan tentang kekuatan pistol yang dipegangnya dan bagaimana posisi membidik dengan menggunakan benda tersebut.
“Terima kasih. Aku sudah mulai paham. Aku akan menyimpan ini” Kaito menerimanya
Kaito menyimpan pistol yang diberikan Ryou ke dalam saku jubah bagian luar. Setelah beberapa lama, Ryou menatap ke arah lima pria berotot yang tidak sadarkan diri di tanah.
“Apa kau punya tebakan dari mana asal mereka?” Ryou bertanya pada Kaito dengan nada serius
“Tebakan ya…ada satu meski tak begitu yakin”
“Jadi, dari mana menurutmu?”
“Ingat yang kukatakan soal aku diikuti oleh dua pria bertato? Dari fisik mereka semua, aku yakin mereka berasal dari tempat asing itu”
Kaito menatap mereka dengan tatapan dingin dan sinis. Ryou yang melihat ke arah mata Kaito mengetahui bahwa orang di sampingnya ini sedang memperhatikan dengan detail seluruh tubuh mereka mulai dari kepala hingga kaki untuk mengingat semua yang bisa dijadikan informasi.
Dia juga merasakan emosi yang tersembunyi dari tatapan berbahaya milik Kaito.
“Sekarang, mau diapakan?” Ryou bertanya pada Kaito
“Kurasa kita bisa meninggalkan mereka di sini”
“Begitu. Kalau begitu kita pergi dari sini. Aku tidak mau berlama-lama di tempat menyebalkan begini. Selain itu aku juga masih sakit hati mendengar kalimat yang pernah kukatakan padamu malah berbalik menyerangku!. Menyebalkan!”
“Maaf ya” Kaito tersenyum seakan menggoda wajah Ryou yang cemberut
Setelah menenangkan diri, Kaito mengeluarkan jam saku miliknya. Waktu yang ditunjukkan jam itu pukul 08.05, sudah banyak waktu yang terbuang percuma sekarang karena aksi kejar mengejar tadi.
“Jam delapan pagi. Kita sudah menghabiskan waktu nyaris satu jam sejak keluar penginapan. Sebaiknya kita tinggalkan mereka”
“Kalau sampai bertemu dengan jenis yang sama dengan mereka, kau harus memikirkan saranku untuk membunuh mereka. Tembak saja kepalanya kalau perlu”
“……”
Kaito tidak banyak berkomentar. Kalimat Ryou itu benar-benar seperti seorang psikopat sesungguhnya. Sekarang dia tidak tau apakah yang dikatakan Ryou itu serius atau hanya candaan.
‘Apa dia benar-benar sadar apa yang dia katakan? Apa Ryou benar-benar sudah mulai terpengaruh dengan ‘dunia’ ini dan mulai kehilangan rasa kemanusiaannya? Aku harus benar-benar mengawasinya dengan benar’
Ryou menatap wajah Kaito sambil bertanya.
“Ada apa?”
“Tidak. Bukan apa-apa. Ayo pergi”
Kaito berjalan di depan Ryou. Ryou yang berjalan di belakangnya tampak normal seperti tidak terjadi apa-apa.
Kaito mulai merasa dia harus meningkatkan pengawasannya pada Ryou. Bahkan hal itu sudah dipikirkannya dalam hati.
‘Kino, aku tidak akan membiarkan adikmu membunuh manusia. Jika memang kekuatan bertarungnya mempengaruhi hatinya sebagai manusia, kurasa akan lebih baik jika dia tidak bisa menggunakan senjata sama sekali’
Berbeda dengan makhluk aneh, kali ini mereka berurusan dengan manusia. Dalam konteks kehidupan nyata, membunuh manusia akan membuat mereka mendapatkan sebutan ‘pembunuh’ di depan namanya dan hal itu akan menjadi masalah dan aib dalam kehidupannya.
Kaito hanya tidak ingin membuat Ryou merasakan hal tersebut. Meski begitu, dia tidak tau apakah Ryou benar-benar mengatakan dia ingin membunuh manusia sungguhan atau hanya untuk membuatnya terlihat kuat karena berhasil bertahan hidup dari ‘dunia malam’ sampai sekarang.
“Aku akan mengawasimu dengan baik, Ryou” Kaito bergumam pelan
“Kau memanggilku, Kaito?”
Sambil berlari mendekat, Ryou berjalan sejajar dengan Kaito sekarang.
“Tidak, bukan apa-apa”
Mereka berjalan keluar gang sempit itu dan kembali lagi ke jalanan di kota sampai akhirnya mereka kembali merasakan keramaian kota tersebut.
Di saat kerumunan itu begitu padat bersamaan dengan matahari pagi yang mulai tinggi, keduanya tidak menyadari bahwa mereka baru saja melewatinya.
“……!!”
“Ada apa, Ryou?”
“Yang tadi itu….”
******
Di sebuah kios buah di kota, Theo terlihat membantu seorang pria bertubuh pendek memindahkan kotak-kotak yang berat.
“Ukh…”
Theo terlihat kesulitan mengangkat kotak tersebut.
“Oi, bocah! Kau yakin bisa melakukannya tidak? Jangan sampai apel-apelku yang berharga rusak karena ulahmu. Kalau tidak bisa, aku akan cari yang lain saja!”
“Aku bisa, aku bisa!. Tolong tunggu sebentar, tuan!”
Dengan semua tenaga yang dia miliki dia mencoba mengangkatnya lagi. Tapi sepertinya tidak begitu lancar.
-BRAAAAK
Kotak kayu tersebut jatuh dan semua buah apel yang ada di dalamnya berjatuhan ke jalan.
“Oi, bocah! Apa yang kau lakukan pada daganganku!!”
“Ma–maafkan aku. Akan segera kubereskan”
“Tidak perlu, tidak perlu! Pergi kau bocah tidak berguna!. Kau sudah membuatku rugi. Lihat apa yang kau lakukan pada daganganku! Sudah, pergi kau dari sini dan jangan kembali lagi!”
Pria besar itu bergitu marah pada Theo dan mengusirnya. Dengan menahan emosi, Theo pergi dari tempat itu dengan mengambil tiga buah apel yang terjatuh di tanah.
“Oi, kembali kau dasar pencuri!!. Kembalikan apelku!”
Pria pendek itu berlari mengejari Theo, namun kecepatan berlari Theo sulit untuk diimbangi olehnya
Sambil menengok ke belakang, Theo berteriak dan menjulurkan lidahnya.
“Mblee! Tidak mau!. Kau sendiri yang tadi mengusirku, dasar orang pendek!. Rasakan itu!”
Dengan semua tenaganya, Theo berlari menjauhi kios buah itu. Setelah lima menit berlari dan sudah berhasil jauh dari wilayah pasar itu, Theo menarik napas sebentar dan mengelap apel yang diambilnya tadi. Dia memakannya dengan lahap sambil berjalan menelusuri jalan di kota.
“Sarapan yang tidak buruk. Untung aku mengambil ini. Setidaknya rasa lapar dan hausku bisa sedikit membaik”
Setelah satu per satu apel yang dimilikinya habis, dia mulai melihat sekeliling kawasan pertokoan di kota dan mulai berpikir untuk menemukan pekerjaan baru.
‘Aku harus menemukan pekerjaan untuk mendapatkan uang. Aku tidak tau apakah Stelani dan yang lain baik-baik saja di altar. Yang jelas, aku harus bisa mendapatkan uang yang banyak agar mereka bisa mendapatkan makanan’
Theo masih belum sepenuhnya baik-baik saja sejak ingatan pembunuhan yang Justin lakukan masih melekat kuat di ingatannya. Ingatan anak kecil itu memang sangat kuat terutama pada hal yang bisa membuatnya senang atau trauma.
‘Aku tidak boleh memikirkannya! Aku sudah memutuskan untuk membalasnya. Aku tidak boleh kalah dari perasaan takutku!’
Mulai berpikir untuk mengumpulkan keberaniannya kembali, Theo mulai berjalan dan menawarkan jasanya pada toko-toko di sekitar wilayah itu.
Mulai dari kedai makanan, toko barang bekas, kios sayuran, kios buah yang lain sampai toko besi dia datangi. Waktu berlalu begitu cepat dan sampai saat ini dia sama sekali tidak mendapatkan hasil yang diinginkan.
“Sial! Kenapa hari ini sulit sekali mendapatkan pekerjaan! Apa mereka tidak punya kesulitan hidup sepertiku ya?”
Theo masih mencobanya walaupun gagal lagi dan lagi. Hidup tidak mudah untuk anak kecil sepertinya. Tanpa kemampuan yang berguna dan usia yang masih terlalu kecil untuk bekerja, hidupnya benar-benar selalu mengalami kesulitan.
“Tidak berguna. Ini tidak akan berhasil. Kalau seperti ini aku tidak akan bisa mendapatkan uang untuk mereka makan” Theo begitu putus asa
Dia melihat jam dinding dari luar jendela sebuah toko. Jam tersebut menunjukkan pukul 08.05 sekarang. Sudah hampir satu jam sejak dia berpencar dengan teman-temannya dan pergi ke kota.
Theo berbaur dengan banyaknya kerumunan penduduk yang berjalan di kota. Setelah melewati sebuah gang yang terdapat di sisi kanannya, dia sempat melihat ada dua orang yang baru saja keluar dari gang tersebut dan mengambil arah kiri untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Theo tidak menyadari apapun dan terus berjalan lurus.
Begitu pula dari arah berlawanan. Tanpa disadari oleh mereka berdua bahwa mereka telah berjalan melewatinya. Meski hanya sekejap, sebuah bayangan dengan ciri yang sama seperti yang dimiliki mereka terlihat memantul di dalam bola mata.
**
“……!!”
Ryou menghentikan langkah kakinya tiba-tiba dan terdiam sambil menengok ke arah belakang. Dia memperhatikan sisi kanan di belakangnya dengan tatapan serius.
“Ada apa, Ryou?” Kaito menengok ke arah Ryou yang berhenti tiba-tiba
“Yang tadi itu…”
“Ryou?” Kaito memanggil Ryou yang tidak memberinya jawaban
“Aku seperti melihat anak kecil yang kita cari”
“Dimana?” Kaito melihat ke arah kerumunan orang-orang di sana
“Di sana, di sisi kanan itu. Aku tidak begitu yakin karena melihatnya hanya sekilas saja tapi sepertinya mirip dengan anak yang kita cari”
“……”
Kaito melihat kerumunan di sisi yang berlawanan dengan posisinya sekarang.
“Kurasa itu hanya perasaan…Eh? Kaito?”
Dia tidak memberikan kesempatan Ryou untuk bicara lebih dan langsung berlari ke sana.
“Kau tunggu di sini. Aku akan melihatnya sendiri!” Kaito langsung berlari dengan cepat ke jalan itu
“Tu…Oi, jangan tinggalkan aku Kaito!”
Kaito tampaknya tidak begitu peduli pada teriakan Ryou dan berlari melewati orang-orang itu satu per satu. Namun sayang, dia tidak melihat anak yang mereka cari.
Kaito sempat menengok ke gang yang berada di sampingnya dan dia juga tidak melihat sosok anak itu di dalam gang. Toko yang ada di sekitar Kaito adalah kios bunga, toko alat dan senjata, kion aksesoris dan kios barang bekas. Tidak ada anak berbaju orange bertopi coklat di sana.
“Oi! Aku sudah katakan tunggu aku!”
Ryou berhasil mengejar Kaito yang berhenti di samping gang. Dia memperhatikan Kaito yang masih melihat sekeliling tempat itu.
“Ryou, kau yakin melihatnya ke arah sini?”
“Aku sudah bilang aku tidak begitu yakin! Kau harus dengarkan orang bicara sampai selesai dulu, dasar bodoh!”
“……” Kaito diam mendengarkan
“Kurasa itu hanya perasaanku karena aku terlalu fokus. Hmm? Kaito?”
Kaito masih tetap diam dan merasa bahwa apa yang dilihat Ryou itu bukanlah ilusi. Meskipun bukan dia sendiri yang melihatnya tapi dia percaya Ryou bukanlah orang yang akan berbohong perkara hal penting seperti ini.
“Apa kau tidak mau mengecek area ini, Ryou?”
“Kaito, sudah kubilang bisa saja aku hanya salah lihat”
“Kenapa? Apa kau tidak percaya pada dirimu sendiri? Aku percaya pada apa yang kau katakan tadi tapi kenapa kau justru meragukan dirimu? Kau tau betapa pentingnya anak itu untuk bisa mendapatkan jam saku kalian lagi, iya kan? Berhenti beralasan seperti itu!”
Kaito tampak kesal mendengar Ryou terus beralasan bahwa dia hanya salah lihat. Ryou menghela napas karena tidak ingin berdebat panjang dengannya lalu minta maaf pada Kaito.
“Aku mengerti, aku minta maaf. Baiklah, kita akan pergi mencari di sekitar sini agar kau tidak lagi penasaran”
“……”
Kaito tidak meresponnya dan langsung berjalan ke area tersebut. Ryou yang hanya bisa menghela napas untuk kesekian kalinya berjalan di belakangnya sambil menggodanya terus menerus.
“Oi, aku minta maaf. Aku sudah bilang kan. Jangan marah atau kau akan cepat tua nanti”
“Aku sudah lebih tua enam tahun darimu”
“Ish, dasar galak!”
“Haa…berhenti mengatakan hal yang membuat telingaku sakit. Kau ingin aku menyerang balik dirimu lagi seperti sebelumnya?”
Nada bicara Kaito sudah lebih baik. Suasana hatinya sangat mudah tenang, membuat pembicaraannya dengan Ryou kembali normal hanya dalam beberapa detik.
“Mau cari kemana?” Ryou bertanya pada Kaito
“Karena kau merasa melihatnya di sekitar sini, kita akan mulai menelusurinya di tempat ini sampai ke toko di depan. Jika tidak ada, kita pergi mencarinya ke pusat kota”
“Baiklah”
Tidak ada dari mereka yang menyadari bahwa orang yang mereka cari sebenarnya masih ada di sekitar tempat itu. Takdir berkata lain dan mereka tidak bisa menemukannya pagi itu.
**
Theo yang berjalan di keramaian melihat kios bunga dan masuk ke dalamnya untuk menawarkan jasanya.
“Apa aku bisa membantu di sini, Bibi? Aku akan membantu melayani pelanggan atau mengangkat pupuknya. Kau cukup membayarku sebesar 5 Franc”
“Bukankah kau terlalu kecil untuk mengangkat semua pupuk-pupuk ini , nak? Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu padamu nanti?”
“Aku bisa melakukannya. Aku mohon, aku akan melakukan pekerjaan apa saja asalkan bisa mendapatkan uang untuk membeli roti”
Theo memohon pada bibi pemilik kios bunga itu. Meskipun awal sempat menolak tetapi karena perasaan iba akhirnya dia mengijinkan Theo untuk membantunya mengangkat pupuk di tokonya.
“Jangan sampai dijatuhkan ya, nak. Cukup pindahkan sepuluh karung pupuk itu saja ke bagian belakang dan aku akan membayarmu”
“Terima kasih banyak!” Theo merasa senang sekali
Dengan cepat akhirnya dia langsung melakukan tugas yang diberikan bibi itu. Memang terdengar mudah tapi siapa yang menyangka kalau semua pupuk-pupuk itu sangat berat. Theo hanya mencoba untuk tidak mengeluh. Bibi pemilik kios bunga tersebut melayani pelanggan sambil mengawasi kinerja Theo.
Membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit bagi Theo untuk memindahkan semua pupuk itu ke belakang toko.
“Ini 5 Franc” bibi itu memberikan uang untuknya
“Terima kasih banyak, bi”
“Besok-besok kalau memang berat sebaiknya kau tidak melakukan pekerjaan yang sulit seperti itu dan cari pekerjaan yang lebih ringan”
“……” Theo hanya tertunduk
Setelah menerima uangnya, dia pergi ke kota untuk mencari tempat lain yang mau menerimanya. Sepanjang jalan menelusuri jalanan di area tersebut, Theo terus memandangi koin di tangannya.
“5 Franc ya. Masih terlalu sedikit. Kemarin aku berhasil mendapat 50 Franc meski susah payah. Setidaknya hari ini aku harus dapat 60 Franc”
Theo merenung dalam hatinya dan memasukkan koin itu ke dalam saku celananya.
‘Dibandingkan dengan bekerja susah payah begini, mencuri di altar jelas lebih cepat mendapatkan uang. Tapi aku tidak mungkin membahayakan yang lain. Apa yang dikatakan Fabil pagi ini benar. Jika sampai ada yang menyadari bahwa aku yang mencuri semua emas dan perhiasan milik penduduk di sana maka kami akan dalam bahaya’
“Haaa…”
Menghela napas karena lelah, Theo mencoba untuk tidak memikirkan hal lain termasuk kejadian tadi malam. Fokusnya sekarang adalah dia harus mendapatkan uang agar teman-temanya bisa mendapatkan roti untuk dimakan.
Di saat kebuntuan dalam pikirannya itu mulai membuatnya khawatir, dia seperti mendapatkan sebuah ‘kejutan’ di depan matanya. Tetapi arti dari ‘kejutan’ itu sendiri masih tidak bisa terpikirkan olehnya. Apakah itu baik atau tidak untuknya sekarang dia tidak tau.
Theo hanya diam mematung dengan mata melebar dan ekspresi tidak percaya.
“Kenapa…bisa di sini…”
******