
Mari sedikit mundur sebelum adanya upaya pembunuhan, maksudnya upaya pencekikan seorang murid senior terhadap murid baru.
***
Setelah upacara selesai dan semua orang mulai bubar perlahan, ketiga remaja dari dunia lain itu menjadi orang pertama yang keluar.
Hal itu karena sumber drama panjang itu adalah salah satu dari mereka sehingga Ryou yang menjadi orang pertama yang keluar, bersama dengan dua orang yang digandengnya.
Begitu mereka bertiga keluar, semua siswa mengikuti.
Lalu, di barisan Divisi Dewan Sihir, ada satu orang yang terlihat mematung seperti baru mendapatkan serangan jantung.
“Xen, kau baik-baik saja kan?” tanya Jene yang ada di dekatnya
Xenon tidak bergerak.
“Xen? Xenon?”
Mendadak terdapat aura mengerikan dengan sebuah tulisan ‘aku akan mencekik leher kecil anak itu’ di dekatnya.
Tentu saja itu hanya ilusi Jene, tapi entah kenapa hal itu tertulis dengan jelas. Bahkan dia bisa membacanya.
Jene jadi merasakan firasat tidak menyenangkan sekarang.
“Xe–Xenon…”
“Jene-sama…”
“Ya!” Jene menjawab cepat seperti sedang berhadapan dengan komando militer
Ekspresi Xenon yang seperti kesetanan itu yang membuatnya merasakan firasat buruk.
“Aku mau pergi sebentar. Ada urusan yang harus aku urus”
“Xenon? Xenon!!”
Begitu Xenon berjalan cepat keluar dari ruang aula, Jene berteriak. Dia sendiri tampak panik.
“Aku yakin dia bergumam mau mencekik leher anak itu tadi. Jangan bilang dia mau mencekik Ryou”
“Dia…bercanda kan?”
Kemudian, ketika ada di lorong koridor, keramaian itu tidak menghentikannya. Saat dari kejauhan mulai terlihat targetnya, Xenon langsung berlari dan dengan cepat menangkap Ryou.
Kedua tangan Xenon memegang pundak remaja itu, kemudian mulai siap mencekiknya.
“Dasar murid gila! Orang gila! Kau mau mempermalukan Rexa-sama dan divisimu sekarang ya!”
Ryou yang terlihat dicekik sambil digoyang-goyang ke depan dan belakang dengan cepat oleh Xenon mulai merasa mual.
“Bueegh! Lepas…kan…aku…ueeekh!”
“Xenon-san?!”
“Xenon?! Kenapa kau ada di sini?!”
Dengan mata tajam dan ekspresi jahatnya, Xenon terlihat seperti sosok setan yang akan memakan anak di tangannya.
“Aku datang untuk mencekik leher murid bodohku ini”
Begitulah kilas baliknya.
Sekarang, mari kita lihat selanjutnya.
***
Di lorong koridor itu sekarang, dengan para murid yang masih lalu lalang di sana, Xenon seperti setan yang berhasil menangkap mangsanya.
Kino terkejut mendengar kalimat milik Xenon yang berujung pada wajah panik.
“Xe–Xenon-san, kasihan Ryou. Bisakah kamu melepaskannya?”
Xenon melihat Ryou yang mencoba menahan rasa mualnya. Kemudian dia tersenyum ke arah Kino.
“Tentu saja, Kino. Aku akan melepaskan adikmu ini”
“Syukur–”
“Setelah aku mematahkan lehernya ini! Hiyaa!!”
Xenon lagi-lagi menggoyang-goyangkan tubuh Ryou ke depan dan ke belakang dengan cepat sambil mencekik lehernya.
Wajah Ryou semakin terlihat aneh dan dia bergumam tidak jelas.
“Jangan…to…oi!’
“Xenon-san! Ryou bisa muntah nanti!”
Adegan itu berlangsung selama beberapa menit sampai akhirnya Ryou kesal dan melepaskan dirinya.
Kemudian, Kaito yang memperhatikan sekeliling koridor tersebut menarik tangan Ryou dan Xenon untuk bergegas pergi dari sana.
“Kita jadi pusat perhatian. Ikut aku”
Mari ganti tempat ke area lebih tertutup yaitu di salah satu ruang kelas kosong.
Ini adalah ruangan yang tidak dipakai di hari itu. Xenon menunjukkannya kepada Kaito. Kemudian setelah pintu ditutup rapat, dimulailah perang ronde kedua antara guru dengan murid sihirnya.
Dimulai dari sang murid yang mencoba melampiaskan kekesalannya kepada sang guru sihirnya.
“Apa yang kau lakukan, dasar bodoh! Aku nyaris ke isekai tadi!” protesnya
“Aku yang harusnya marah di sini, dasar tidak punya otak! Kenapa kau malah adu mulut dengan pengajar seperti itu, hah?!” balas Xenon
Ryou dengan tangan menyilang di dada langsung tersenyum bangga.
“Hah! Kau lihat tadi, aku menang adu mulut melawan si gendut itu! Siapa yang tahan mendengarkan curhatan tentang senior yang nyaris bunuh diri karena ditolak junior baru!”
“Itu kejadian tahun lalu dan meskipun itu tidak penting, setidaknya jangan membuat dirimu jadi pusat perhatian! Semua orang akan mengenalimu!”
“Kenapa? Bukanlah bagus kalau mereka tau aku?”
Xenon ingin sekali memukulnya. Sebagai gantinya, dia berteriak ke arah wajah Ryou.
“Dasar otak tumpul! Kalau kau jadi pusat perhatian, pergerakanmu akan terbatas karena semua orang akan menngenalimu!”
“Sekarang bukan hanya anggota Divisi dan Rebellenarmee yang tau seperti apa sifatmu itu, tapi semua orang termasuk Dewan Sekolah dan Barbara-sensei juga akan menandaimu!”
Mendengar kata ‘menandai’ membuat Ryou merinding. Wajahnya jadi memperlihatkan ekspresi jijik sambil berkata, “Dia mau apa? Menandaiku? Hii~dia punya hobi erotis juga? Pantas saja pidatonya tadi soal asmara semua”
“Keperawananku dalam bahaya ini. Kino, lindungi adikmu ini!”
Xenon mulai naik pitam, “Bukan itu maksudnya!”
“Tapi kan kau sendiri yang bilang dia mau menandaiku! Memang apa lagi kalau bukan hal mesum yang mungkin akan terjadi?! Bisa saja dia main BDSM padaku?! Aku ini laki-laki lurus yang menyukai romansa normal! Bukan hal yang berbau pelampiasan nafsu!”
Kino dan Kaito yang mendengarkan adu mulut itu jadi seperti berada di alam ghaib.
“Kino…”
“Ya, Kaito-san?”
“Adikmu sehat kan?”
“Aku rasa dia hanya sedikit…kekurangan hormon serotonin, sehingga jadi mudah marah seperti itu”
“Tapi bukannya dia memang gampang marah?”
“Ryou adalah anak yang baik. Percayalah padaku, Kaito-san. Aku kenal adikku. Tapi…”
“Tapi?” Kaito melihat Kino dengan ekspresi cemas
“Tapi aku khawatir pada mentalku sendiri”
“Kino…” Kaito melihat Kino dengan tatapan lirih
Semua adu mulut itu berisi kata-kata ‘pujian’ yang diucapkan sangat tulus dengan nada tinggi. Tentu saja semua itu tidak benar. Isinya hanya kata-kata hinaan untuk masing-masing individu.
Kaito mendengar kata singkatan yang asing.
“Kino, tadi Ryou bilang BDSM. Itu apa?”
“Itu singkatan dari ‘Bondage, Discipline, Sadism and Masochism’, Kaito-san”
“Apa itu bon bon tadi?”
“Singkatnya hal-hal berbau kekerasan, perilaku kasar dalam hubungan intim yang mengacu pada gaya tuan dan majikan”
“......” Kaito langsung mematung
Dengan penjelasan singkat Kino, dapat diartikan bahwa sepertinya adu mulut Ryou dan Xenon sedikit berat untuknya.
‘Aku senang aku adalah orang yang polos’
Kini, hanya tinggal menunggu salah satu dari kedua orang yang beradu mulut itu kehabisan tenaga.
******