
Sosok besar dengan palu terlihat. Itu adalah sosok makhluk besar yang tidak asing untuk sebagian orang di sana.
"Itu...Ironhammer Giant?!"
"Kenapa bisa ada makhluk seperti itu?!"
"Mustahil! Jadi anak itu benar-benar kuat?!"
Para peserta tampaknya tidak asing dengan monster itu. Kino tidak mengerti dan hanya bisa takjub pada hal tersebut.
Karena rasa penasaran, dia bertanya pada seseorang di sebelahnya.
"Maaf, apakah makhluk itu begitu familiar di mata yang lain?"
"Kau tidak tau? Itu adalah monster yang sering digunakan pasukan kerajaan untuk menyerang garis depan selain pasukan kavaleri dan pasukan beast-warrior"
"Beast-warrior?"
"Benar. Ironhammer Giant adalah monster dalam sihir pemanggilan yang paling umum namun juga cukup kuat" jelas orang itu
"Apakah sangat kuat?" tanya Kino dengan rasa penasarannya
"Cukup kuat untuk menyerang dan lagi, mereka harus dilengkapi dengan keinginan kuat dari si kontraktornya"
"Kontraktor? Mobil?" istilah yang aneh baru didengar Kino
"Kontraktor, orang yang menjalin kontrak dengan monster itu. Jika kontraktornya memiliki tekad yang kecil maka monster itu akan menyerangnya balik"
"Artinya monster itu kuat"
"Begitulah. Jarang sekali ada yang menggunakan monster itu untuk menyerang tapi tampaknya gadis kecil itu sungguhan"
"Maksudnya?"
"Gadis itu kuat. Aku pikir dia bercanda soal dirinya yang seorang kapten divisi. Tapi dengan melihatnya menerbangkan peserta besar di awal tadi dengan mudah, aku tarik kembali pendapat itu"
Orang yang di samping Kino rupanya mengetahui beberapa hal mengenai monster pemanggil.
'Ini pengetahuan baru. Syukurlah aku mengetahuinya di sini' katanya dalam hati
Mereka memperhatikan kembali pertarungannya.
Emily terlihat tersenyum saat monsternya mulai terlihat oleh lawan.
Dia mengeluarkan sihir penghalang lain di sekitarnya.
[Sound Barrier]
Sihir yang menghalangi seseorang yang tidak dikehendaki mendengar percakapan antara pengguna dengan lawan yang ditargetkan.
"Selamat menghadapi peliharaan imut milik Emily, half-elf"
-Deg
Mata remaja itu langsung melebar dan ekspresi wajahnya mulai tidak bisa disembunyikan lagi. Dia syok.
Dari luar arena, Kino merasa ada hal yang aneh.
"Sepertinya Emily-san mengatakan sesuatu. Tapi aku tidak bisa dengar"
"Benarkah?" tanya orang yang berdiri di sampingnya
Dia mencoba melihat gerakan bibir penguji dan peserta di dalam arena dan tampaknya dia setuju dengan Kino.
"Kau benar. Aku lihat mereka tampak sedang bicara. Sepertinya itu sihir"
"Sihir ya..." Kino menjadi sedikit penasaran, 'Perasaan aneh apa ini?' gumamnya dalam hati
Sementara itu, di dalam arena, Emily terlihat berbeda.
"Kenapa kaget? Emily sudah tau kalau kamu adalah half-elf. Apa ada sesuatu?"
Remaja itu akhirnya melihat dengan tatapan tajam.
"Penguji, apa ada rasisme di sini? Apa salah jika aku adalah seorang setengah elf?"
"Tidak ada. Hanya saja Emily tau kalau kamu bermaksud membunuh Emily"
"......!!!" remaja itu terkejut. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Penguji terlalu berlebihan. Aku tidak mungkin melakukannya. Lagipula, penguji tidak punya bukti kalau–"
"Rebellenarmee...benar tidak?"
-Deg
Remaja itu langsung tidak bisa berkata apapun. Tanpa sadar, dia langsung maju dengan cepat.
Sorot mata pembunuh mulai terlihat. Monster Emily tampaknya sudah siap dengan serangan itu.
Palu besar yang dipegangnya langsung digerakan untuk memukul lawan. Namun kali ini berbeda.
Bukan dihindari, palu tersebut diterimanya. Ada sebuah tangan besar yang tercipta.
[Giant's Hand]
Sebuah sihir yang memunculkan tangan raksasa yang dapat menahan serangan lawan.
Tangan tersebut menghempaskan kembali palu yang ditangkapnya.
Remaja itu langsung maju mendekati Emily.
"Sungguh bocah menyebalkan. Aku akan senang jika kau tutup mulutmu, penguji"
Sosok mata tajam itu seperti mengeluarkan cakar dari jarinya. Itu sihir.
[Wind Art: Silver Fang]
Cakaran putih tajam dengan pisau angin kuat siap melukai Emily. Namun, Emily sama sekali tidak bergerak.
Dia hanya tersenyum dan berkata dengan nada sinis, "Jangan berani mendekati Emily, penyusup. Diam dan tunduk pada Emily"
[Final Countdown]
Di atas kepala remaja itu, terlihat sebuah time-count. Waktunya dimulai dari angka 20. Seketika gerakan remaja itu langsung dipaksa berhenti.
"Apa yang..." remaja itu panik saat semua sihirnya lenyap
Emily mendekatinya dengan wajah mengerikan.
"Kamu adalah penyusup benar kan?"
"Emily memiliki sihir khusus yang hanya dimiliki oleh Emily sendiri. Jadi kamu kurang beruntung"
Remaja itu terdiam dan melihat ke luar arena.
"Jangan cemas. Emily menggunakan sihir yang menyegel suara agar tidak terdengar dari luar. Percakapan ini hanya kamu dan Emily yang mendengarnya"
"Apa maumu?"
Emily menujuk ke arah kepalanya.
"Kamu sudah terkena sihir Emily, [Final Countdown]. Waktu hidupmu hanya tinggal 20 menit lagi"
"Apa?!" wajahnya pucat mendengar ucapan Emily
"Emily akan mengampuni dan membiarkanmu hidup jika ingin menuruti kata-kata Emily"
Remaja itu sangat kesal dan marah.
"Jangan bercanda! Aku tidak akan pernah menjual kesetiaanku pada–"
"Earl Midford"
"......!!!"
"Emily tidak mau berdebat. Kamu akan Emily gugurkan dan mati sebelum melaporkan hal ini pada atasanmu atau kamu akan mengikuti Emily dan akan Emily jamin keselamatanmu"
Remaja itu seperti tidak punya pilihan.
Di luar arena, kedua pengawas itu tampak melihat dengan seksama tanpa mengganggu. Mereka sepertinya tidak menyadari apa yang terjadi.
Sedangka Kino merasakan hal yang aneh.
'Apa ini? Intimidasi? Tapi tidak terlihat seperti itu. Emily-san seperti sedang melakukan sesuatu. Apa sebutannya...introgasi? Aku tidak yakin tapi...'
Kino terlihat tidak tenang. Orang yang ada di sampingnya mulai saling berpendapat.
"Aku tidak tau kapten divisi penyerang sekuat itu"
"Itu hanya anak kecil kan? Bagaimana bisa kita dikalahkan dengan mudah?"
"Sulit dipercaya. Aku ragu aku akan menang melawannya"
Semua mulai terlihat cemas. Pasalnya, pertarungan ini sangat tidak seimbang sejak awal. Bisa dikatakan, Emily belum menunjukkan kemampuan sesungguhnya.
Di dalam arena, Emily masih menunggu. Sorot matanya menjadi sangat tajam.
"Emily sudah lelah menunggu. Kalau begitu, Emily akan membuatmu–"
"Tunggu sebentar!"
"Apa?"
Remaja itu mulai pasrah. Dengan ekspresi kesal, dia mulai menyerah.
"Aku mengerti. Aku akan mengikutimu"
"Hoo..."
"Tapi berjanjilah satu hal bahwa kau akan melindungiku karena aku telah berkhianat"
"Tentu. Sihir [Final Countdown] Emily akan berhenti selama kamu mengikuti Emily, namun akan kembali aktif begitu kamu mengkhianati Emily diam-diam"
"Kh..."
Emily tersenyum manis sambil melihatnya.
"Jangan mencoba melakukan hal yang buruk, half-elf. Emily sudah mendapatkan izin dari Lucas untuk mengambil langkah serius"
"Alasan Emily menjadi penguji karena Emily kuat dan Emily memiliki banyak sihir khusus"
"Bukankah Emily sudah mengatakan bahwa Emily adalah siswa kelas khusus?"
"Emily akan membiarkanmu untuk lulus dan setelah ini, kamu akan langsung Emily minta untuk bertemu Lucas"
"Menghindar berarti mati" Emily menekankan kalimat ini dengan nada serius
Remaja itu akhirnya mengangguk, "Aku...mengerti"
"Jadi, siapa namamu?"
"Galaktika" jawabnya
"Galaktika. Baiklah"
[Nox]
Sihir penghalang suara itu akhirnya menghilang.
Emily membantunya berdiri. Kemudian, dia berbisik.
"Angka di atas kepala itu hanya bisa dilihat oleh Emily dan kamu seorang. Kamu bisa melihatnya di cermin jika penasaran" bisiknya
Remaja bernama Galaktika hanya bisa terdiam pasrah.
Emily tersenyum senang, "Satu peserta dinyatakan lulus. Peserta nomor 103 dinyatakan lulus. Selamat bergabung di Akademi Sekolah Sihir"
"Waaaaa!!" banyak sorak sorai terdengar
Selagi suara sorakan itu terdengar, Emily menggunakan sihirnya untuk terhubung dengan Lucas.
[Telepahic Power]
"Lucas, ini Emily. Emily sudah dapat satu target yang dimaksud"
Suara Lucas terdengar, "Aku merasakan semua sihir yang kamu lakukan. Akan aku kirim Algeria ke sana"
"Baik"
Emily melihat remaja bernama Galaktika tersebut.
"Tunggu di dekat pengawas sampai ada yang menjemput"
"Aku mengerti"
Pos 3, ruang ujian [Area Level B] telah meluluskan 1 orang dan menggagalkan 9 orang dari total 80 peserta. Sisa peserta 70 orang yang harus diuji.
******