Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 417. Menuju Ruang Rahasia bag. 2



Kempat pemuda itu mulai menelusuri koridor lorong memperhatikan sekitarnya.


"Kalian yakin jalannya lewat sini?" tanya Xenon


"Kami yakin jalannya lewat sini, Xenon-san"


"Tapi ini masuk ke wilayah sekitar kelas praktikum"


Kaito bertanya, "Kelas praktikum?"


"Kelas yang dipakai untuk berlatih sihir, strategi pertempuran dan pedang"


Ketiga remaja dari dunia lain itu tidak begitu memahami apa yang dikatakan oleh Xenon. Entah kelas atau apa itu, namun jalan yang mereka telusuri sekarang adalah jalan yang pernah mereka lalui saat kabur dari ruang rahasia tersebut.


Saat sampai di belokan lorong koridor, Kino sempat berhenti dan melihat ke dalam sebuah lorong kecil yang terdapat sebuah lukisan.


Lukisan tersebut tidak asing untuknya.


"Di sini. Sebelah sini!" katanya


Ketika temannya yang lain berlari mengikutinya dari belakang. Dari sini langkah mereka sedikit halus agar tidak ada yang menyadarinya.


Xenon sendiri memasang sihirnya untuk memastikan tidak ada mengetahui dan mengikuti mereka sampai ke tempat itu.


[Earth Art: Wall of Illusions]


Ini adalah sihir yang pernah digunakan oleh Xenon untuk menghindari si kembar mereka sedang ada di kota.


Sihir ini bisa menghalangi seseorang agar tidak mengetahui keberadaan dan apa yang dilakukan oleh orang yang berada dalam jangkauan sihir tersebut.


Yang ada di hadapan Xenon saat ini adalah sebuah lukisan besar dengan ujung lorong yang buntu.


"Kalian yakin di sini tempatnya? Ini hanya sebuah ujung lorong yang buntu tanpa ada apapun seperti pintu masuk atau lainnya"


Xenon mulai terlihat ragu dan menatap ketiga remaja dari dunia lain itu dengan tatapan bingung.


Tapi tampaknya ketiga remaja dunia lain itu tampak yakin dengan tempat tersebut.


Apalagi orang yang pertama kali mengatakan kepada mereka untuk masuk ke lorong itu adalah Kino.


Ryou meraba-raba dinding dan lukisan besar yang ada di sana untuk mencari celah yang merupakan pintu masuk menuju ruang rahasia tersebut.


Sesekali dia mengetuk sekitar dinding dan lukisan untuk mencari pintu yang ada.


-Tuuk...Tuuk...Tok


Saat dia mengetuk dan mendengarkan suara di lukisan, ada sedikit perbedaan suara yang dihasilkan.


Xenon yang semula merasa ragu akhirnya percaya.


Kaito mendorong lukisan tersebut ke arah samping hingga terlihat jelas sebuah anak tangga yang menuju ke bawah.


"Ini...."


"Ini adalah jalan menuju ruang rahasia yang kami ceritakan kepadamu, Xenon" jelas Ryou


"Kita masuk sekarang" ujar Kaito


Keempat pemuda itu berjalan dan menuruni anak tangga. Kemudian dari luar, lukisan tersebut bergerak dan menutup sendiri.


Di dalam, keempat pemuda itu menuruni anak tangga dan sedikit demi sedikit pencahayaan mulai menghilang.


"Tunggu dulu" Ryou meminta mereka untuk berhenti. Kemudian dia mengaktifkan sihirnya.


[Fire Art: Agnimal Candle]


Api yang berbentuk kucing kembali muncul dan tampaknya dia sangat senang bertemu dengan majikannya kembali.


Kucing api tersebut langsung mengelus-ngelus wajah Ryou dan mengitari tubuhnya. Ekornya bahkan bergoyang-goyang.


"Iya iya aku juga senang bertemu denganmu. Sekarang, tolong terangi jalan ini lagi ya" kata Ryou


Setidaknya Xenon tidak terkejut dengan hal itu karena dia mengetahui potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh ketiga remaja dari dunia lain tersebut.


'Aku tau mereka menakjubkan. Batu sihir yang awalnya hanya benda sekarang justru melebur dan menyatu dengan tubuh mereka dengan baik' pikirnya


"Tidak ada waktu, ayo!" Kaito memimpin di depan


Mereka berlari menuruni anak tangga dan saat melewati jalan lurus, kecepatan berlari mereka mulai sedikit lebih cepat.


Hingga akhirnya mereka tiba di depan sebuah pintu yang tidak asing untuk Kaito dan kedua kakak beradik itu, namun cukup asing untuk Xenon.


Xenon benar-benar terkejut dengan pintu itu dan saat dibuka, dia nyaris tidak bisa berkata apapun.


"Bagaimana mungkin ada tempat seperti ini dan aku sama sekali tidak mengetahuinya?"


Akhirnya, ruang rahasia itu berhasil dimasuki oleh mereka.


Di sisi lain yang belum terlihat di ruang rahasia tersebut, buku yang ada di dalam bola kristal besar mulai sedikit bercahaya.


******