Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 63. Petunjuk dan Awal Masalah Baru bag. 3



Di luar bar sebelumnya, Theo berlari keluar gang dimana mereka bertiga bersembunyi. Hal itu terjadi tidak lama setelah suara wanita dan langkah kaki itu menghilang. Theo mencoba berlari menuju ke bar.


Ryou yang kesal langsung terlihat emosi sambil mencoba mengejarnya.


“Bocah sial itu!!”


“Ryou!!” Kaito memanggil Ryou yang ikut berlari mengejar Theo


Dengan cepat, Ryou berhasil menangkap anak itu dan menutup mulutnya serta menggendongnya. Tentu saja anak itu memberontak dan berusaha melepaskan diri dari Ryou.


“Hmp…Mmp…Hmmph” Theo memberontak saat digendong Ryou


Kaito yang keluar melihat Ryou yang berjalan membawa Theo yang mencoba memberontak saat digendong olehnya. Bukan hanya itu, Kaito juga menengok ke sisi kirinya.


Kaito tidak bisa menyembunyikan wajah terkejut miliknya bahkan ketika dia sedang berkata dalam hati.


‘Mereka berdua…sudah tidak ada?! Hanya dalam waktu singkat mereka bisa menghilang di jalan lurus seperti ini?!’


Itu adalah hal yang wajar karena ada orang asing yang tidak dikenal olehnya bisa mengetahui bahwa mereka bersembunyi di salah satu gang di dekat bangunan. Selain itu mereka bisa langsung menghilang begitu saja di jalan lurus tidak lama setelah berjalan sebentar.


Siapapun pasti akan berpikir hal yang tidak-tidak. Terlepas dari itu semua, pikiran Kaito jauh melebihi itu.


‘Kurasa mereka bukan orang sembarangan. Terutama suara wanita yang aku dengar. Aku tidak tau kenapa tapi ini kurasa dia jauh lebih berbahaya dari yang lain. Kenapa ada orang yang berbahaya di tempat seperti ini?!’


“Hmmp…Mmmph…” Theo masih memberontak


Ryou sekarang sudah berada di dekat Kaito dan menurunkan Theo dengan cara menjatuhkan anak itu begitu saja.


-Buuuk


Suara Theo yang jatuh ke tanah sampai terdengar. Sebelum dia berusaha membangunkan tubuhnya, Ryou sudah mendekatinya dengan mengeluarkan sedikit pedang dari sarung pedang di pinggangnya.


“Bocah sial, kau pikir apa yang kau lakukan barusan?! Jangan karena aku menahan diri untuk tidak melakukan hal buruk padamu, kau jadi mencoba membahayakan kami!”


“Hiiiiii!!!!” Theo langsung bangun secepatnya dan berlari ke belakang Kaito


“……!!!” Kaito kaget saat Theo bersembunyi di belakangnya sambil terlihat takut


“Jangan coba-coba bersembunyi kau!. Aku akan merevisi ancamanku beberapa waktu lalu. Aku tidak akan menarik kedua telingamu itu tapi akan kupotong telingamu itu karena sudah tidak berfungsi dengan baik!”


“Ryou, hentikan itu!” Kaito melarang Ryou sambil melindungi anak di belakangnya


“Kau gila ya melindungi dia!. Baru aku mengubah pandanganku tentang bocah itu tapi dia malah nyaris membuat kita dalam masalah!. Kau juga pasti merasa aneh pada orang yang lewat tadi, kan?!. Mereka berbahaya dan dia keluar sebelum mereka berdua–”


Ryou tidak melanjutkan kembali kalimatnya dan justru terlihat begitu terkejut. Wajahnya syok sehingga tidak bisa mengatakan apapun.


“Sudah menyadarinya?” Kaito bertanya sambil menyipitkan matanya ke arah Ryou


“Mereka…sudah…tapi bagaimana…”


Ryou bertanya dalam keadaan syok dan setelah diam beberapa detik, tatapan matanya berubah tajam.


“Mereka bukan orang biasa, itu maksudmu?” Ryou bertanya pada Kaito


“Kemungkinan mereka bisa bertarung dan dilihat dari kemampuan mereka pergi dengan cepat tanpa suara seperti itu sudah dipastikan bahwa mereka berbahaya”


“……”


“Aku bahkan berpikir mereka terbiasa membunuh dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar seperti itu”


“……!!!” Ryou terkejut dan terdiam mendengar jawaban Kaito


“Aku tidak tau apa yang mereka lakukan di sini tapi akan jadi masalah serius jika sampai berurusan dengan mereka. Simpan kembali senjatamu itu dan kita harus segera pergi dari sini begitu mendapatkan jam saku kalian kembali”


“……”


Ryou melakukan apa yang dikatakan Kaito tanpa mengatakan apapun.


Theo yang berdiri di belakang Kaito tidak memahami apa maksud kalimat tersebut tapi dia tidak ingin memikirkan hal itu. Dia berlari menuju bar itu tanpa dihentikan oleh kedua remaja itu.


“Tu…Oi, Kaito! Kenapa kau melepaskan bocah itu!”


“Kita akan melihatnya dari sini. Jika di dalam ada Justin, akan sangat berbahaya sejak dia sedang berusaha mati-matian mencariku”


“Cih! Untuk orang yang kehilangan ingatan, santai sekali hidupmu itu!” Ryou berkomentar dengan mulut pedasnya lagi


“……” dan Kaito hanya diam tanpa mau berkomentar


Dari kejauhan, mereka hanya menunggu Theo masuk ke dalam bar. Mereka hanya melihatnya dengan tatapan sinis dan tajam.


**


Theo berlari dan sampai di bar tersebut. Theo membuka pintu masuk bar dan saat dibuka, dia melihat Arkan yang berdiri di meja bar sendirian. Tidak ada siapapun termasuk pelanggan di


dalam sana.


Dengan mengatur napasnya yang terengah-engah, Theo melihat ke arah Arkan dan mencoba memanggilnya.


“A–Arkan-nii…”


“Theo…” Arkan terlihat terkejut dan dengan cepat dia keluar dari meja barnya


“Arkan-nii, apa gori…Justin-sama ada di ruangannya?”


“Theo!!” Arkan teriak memanggil anak itu sambil berjalan dengan cepat untuk mendekatinya


“Eh?”


Arkan langsung memengang kedua pundak Theo dengan erat. Ketika dilihat dari dekat, dia bisa melihat wajah Arkan tampak begitu pucat. Theo menjadi ikut panik dan tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya.


“Ar–Arkan-nii, ada apa? Kenapa kau pucat begitu? Apa Justin-sama ada di dalam?”


Theo tidak bisa berhenti untuk merasa panik. Dari wajah Arkan, dia tau bahwa ada yang tidak benar.


“Theo, dari mana saja kau? Jalan mana yang kau lewati untuk sampai ke sini? Apa kau bertemu dengan dua orang aneh tadi?! Apa kau terluka?!”


Arkan bertanya dengan nada panik. Bukan seperti Arkan yang dikenal oleh Theo, bartender itu terlihat sangat mencemaskan anak itu. Theo sendiri merasa semakin curiga dan menjadi semakin panik.


“A.–Arkan-nii, kenapa kau terlihat gugup dan panik begitu? Apa maksudmu dua orang aneh?”


“Aku…aku memang bertemu dengan dua kakak aneh tapi mereka bukan orang jahat. Kau tau, Arkan-nii…pria pengguna pedang itu sebenarnya–”


“Bukan masalah itu! Stelani dan yang lainnya dalam bahaya!!!” Arkan berteriak dan menjadi semakin panik


“Apa maksudnya itu?! Jangan bercanda, Arkan-nii!!”


Arkan terlihat begitu kecewa pada dirinya sendiri karena mungkin semua yang dikatakan olehnya sudah terlambat. Tapi, dia tidak ingin menyesal dan menjadi seperti Justin.


Kalimat tuan Nox yang terus menghantuinya membuat Arkan semakin menyesal. Hanya dengan ini dia bisa menebus kesalahannya. Itulah yang dipikirkannya.


“Dengarkan aku baik-baik, ada dua orang yang ke sini bertanya alamat tempat tinggal kalian padaku. Mereka adalah seorang wanita dan pria tinggi bertato. Mereka sangat berbahaya. Kau tidak pernah mengenalnya tapi mereka berasal dari tempat paling gelap di wilayah asing ini”


“Apa maksudmu, Arkan-nii–” Theo syok mendengarnya


“Mereka dibayar oleh Justin-sama untuk mencari pria berpedang tanpa sarung pedang itu dan kau harus tau bahwa bayaran yang diberikan kepada mereka adalah kalian!!”


“Apa–”


“Justin-sama memberikan kalian kepada mereka berdua sebagai bayaran dan itu artinya mereka sedang menuju tempat tinggal kalian untuk membunuhmu dan teman-temanmu!!”


“Jangan bicara omong kosong, Arkan-nii!!” Theo melepaskan dirinya dari Arkan sambil terlihat kesal


Dengan cepat dia berlari ke ruangan Justin dan membuka pintunya secara paksa. Agak mengejutkan saat pintu terbuka dan tidak ada siapapun di ruangan yang biasa Justin tempati.


“Justin-sama sedang keluar sejak pagi dan sepertinya dia pergi ke tempat kedua orang itu. Mereka berasal dari pasar gelap di wilayah hitam dan tempat itu adalah area perdagang manusia terbesar di wilayah asing ini” Arkan menjelaskan hal itu kepada Theo


“Eh…” Theo mematung dan berdiri dengan wajah pucat


Tangannya seketika berubah dingin dan menjadi tidak bisa berpikir jernih.


Setelah perlahan-lahan membalikkan tubuhnya untuk melihat Arkan, dia mulai bertanya-tanya dalam hatinya dengan pikiran kosong.


‘Apa ini? Apa orang di depanku ini waras? Membunuh katanya, perdagangan manusia katanya…aku tidak pernah mendengarnya. Kenapa aku…merasakan firasat buruk? Apakah aku sedang bermimpi?’


Sambil terus bertanya-tanya dengan ekspresi syok, Theo mendengarkan Arkan melanjutkan pembicaraannya.


“Mereka datang kemari untuk bertanya dimana tempat tinggal kalian. Aku tidak ingin membantunya tapi wanita itu mengancamku sehingga aku terpaksa mengatakannya”


-Deg…Deg…Deg


“……”


Theo mungkin diam namun detak jantungnya semakin cepat dan semakin cepat. Dengan keringat dari kening dan tangannya yang berubah dingin, dia seperti tidak ingin mendengar apa yang dikatakan Arkan.


Akan tetapi, hal itu mustahil diketahui oleh Arkan. Dia dengan wajah pucat terus bicara semua yang dia tau.


“Aku menduga tujuan mereka mencari alamat tempat tinggal kalian karena mereka ingin membunuh kalian semua dan menjual tubuh kalian di pasar gelap dan ternyata hal itu benar. Seren-sama mengatakan Justin-sama memberikan kalian semua sebagai bayaran karena meminta bantuannya untuk mencari pria berpedang tanpa sarung pedang itu”


-Deg


“……!!!”


Theo semakin syok dan gemetar dan wajah pucat Arkan juga tidak kalah dari Theo. Tidak menunggu waktu lama, Theo langsung bergegas keluar dari bar itu dan berlari secepat yang dia bisa.


Di dalam bar itu hanya ada Arkan dengan berbagai macam perasaan. Takut, kecewa pada dirinya sendiri dan penyesalan mulai memeluknya.


“Maafkan aku…maafkan aku…maafkan aku…”


Arkan tidak bergerak selangkah pun dan berdiri mematung sambil terus mengatakan kata maaf.


**


Di luar bar selama kejadian itu berlangsung, Ryou dan Kaito hanya melihat ke arah pintu bar.


“Kau yakin akan membiarkannya masuk sendirian seperti itu?” Ryou bertanya dengan wajah serius pada Kaito


Seakan semua kekesalan dan emosi sebelumnya hilang, mereka benar-benar bersikap seperti tidak terjadi apapun. Kaito menjawab Ryou dengan nada serius.


“Aku tidak suka dia masuk dengan terburu-buru seperti itu tapi akan jadi lebih berbahaya jika kita ikut menemaninya”


“Tapi, Kaito…kita juga tidak tau apakah benar pria bernama Justin itu di dalam atau tidak”


“Jika dalam waktu lima sampai sepuluh menit Theo tidak keluar, mau tidak mau kita harus menerobos bar itu dan merebut jam saku kalian. Itu adalah cara terakhir yang kupikirkan sekarang”


“Aku mengerti. Kalau begitu kita akan menunggunya” Ryou membalas kalimat Kaito dengan tenang


Kaito mengambil jam saku miliknya dan melihat waktu yang ditunjukkan jam tersebut. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.23 dan cuaca sudah semakin siang. Di tempat asing tersebut matahari memang tidak bisa masuk dengan baik sehingga panas teriknya tidak terlalu terasa.


Setelah memasukkan kembali jam sakunya, Kaito menyadari ada yang akan datang dari arah depannya. Tidak lama setelah itu Theo keluar sambil berlari.


“Dia keluar, Kaito! Oi, Bo…Woi!!”


Ryou berteriak karena Theo berlari melewati mereka begitu saja.


Kali ini, Theo berlari dengan seluruh kecepatannya tanpa memedulikan Ryou dan Kaito. Emosi Ryou kembali memuncak dan dia langsung bergegas mengejar anak itu.


“Dasar bocah sial! Jangan kau pikir kau bisa lari tanpa menjelaskan apapun!! Kali ini benar-benar akan kupotong telingamu itu, dasar anak menyebalkan!!”


“Ryou!!” Kaito berteriak setelah Ryou juga meninggalkannya


Ryou sudah jauh meninggalkan dirinya dan sekarang Kaito tidak tau harus melakukan apa.


“Kenapa semuanya jadi begini?”


Awalnya dia ingin sekali mengejar Ryou secara langsung namun dia cukup tertarik dengan apa yang membuat Theo bisa berlari tanpa memedulikan dirinya dan Ryou.


Langkahnya terhenti dan Kaito menengok ke arah bar itu kembali sambil bertanya-tanya dalam hatinya.


‘Apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana? Apa yang didengar oleh Theo sampai seperti itu? Ini semakin rumit dan perasaanku benar-benar tidak bagus tentang ini’


Tidak hanya suara wanita yang bisa dengan mudah menyadari dirinya ketika bersembunyi tetapi ada hal lain lagi yang sedang terjadi.


Tampaknya ‘dunia’ itu juga memiliki hobi yang sama seperti ‘dunia malam’ yaitu menguji keberuntungan Kaito sampai ke titik terendahnya.


******