
Di wilayah gelap, Seren berjalan dengan santai menuju pintu gerbang. Suasana wilayah tersebut memang begitu menakutkan meskipun hari masih pagi. Di setiap toko terlihat banyak sekali mayat yang tergantung dan kepala yang tersusun rapi.
Seren yang berjalan melewati tempat itu layaknya rumah sendiri tersenyum manis sekali.
“Aku berharap nanti malam semuanya terjual habis. Sayang sekali jika semua potongan tubuh mereka harus dibuang atau dibakar. Kalau tidak segar, biasanya akan langsung membusuk. Tapi, nanti malam akan ada tambahan barang segar. Semoga pelanggan menyukainya”
Benar-benar tidak disangka bahwa wanita secantik itu memiliki selera yang tidak biasa.
Setelah berjalan sekitar sepuluh sampai lima belas menit, Seren sampai di depan pintu gerbang yang tertutup dengan pria penjaga gerbang yang sedang duduk di kursi sambil mengelap pisau daging miliknya.
Melihat Seren datang, pria itu langsung berdiri dengan masih memegang pisau daging miliknya sambil memberi hormat pada Seren.
“Salam, Madame. Apa ada urusan penting?”
“Aku mau mengambil barang dan mengurus permintaan Justin. Bisa buka pintunya sekarang?”
“Baik, Madame”
Pria tersebut membuka pintu gerbangnya dan mempersilahkan Seren untuk lewat. Dia bertanya pada tuannya sambil tersenyum.
“Madame, apa anda akan keluar sendiri lagi? Aku bisa menemanimu kalau kau mau. Lagipula pembukaannya masih nanti malam jadi seharusnya tidak masalah jika gerbangnya dikunci dulu. Bagaimana, Madame?”
“Kau mau menemaniku? Aku ingin mengambil malaikat kecil milik Justin” kata Seren dengan nada santai
“Malaikat? Ah, anak-anak jalanan itu ya. Apa Madame akan menjadikan mereka barang dagangan juga malam ini?” pria besar itu bertanya padanya
“Rencananya begitu. Suamiku sangat senang sekali jadi aku berpikir untuk membawanya lebih cepat agar dia semakin senang. Ketika Justin datang dan meminta bantuan suamiku, dia mengatakan kalau kami bisa membawanya satu per satu. Niatnya ingin kubawa secara utuh tapi kemungkinan akan kubawa dalam keadaan terpotong nanti” Seren bicara dengan ekspresi bingung
“Berapa banyak yang ingin Madame bawa siang ini? Aku bisa saja membantumu membawanya seperti saat bersama Monsieur beberapa hari yang lalu” pria besar itu dengan senyum percaya diri menawarkan dirinya
“Hmm…dua atau tiga. Kalau memungkinkan aku ingin semuanya karena Justin memberikan kami tugas yang konyol. Bagaimana dengan itu, Will?”
Penjaga gerbang bernama Will itu tertawa karena senang.
“Ahahaha, itu mudah Madame. Kalau begitu, tidak masalah jika gerbangnya ditinggalkan dan aku pergi denganmu kan?”
“Ya, terserah saja. Lagipula suamiku masih ada di dalam. Sekalipun ada yang mencoba mencuri barang di sini, aku yakin pada akhirnya mereka sendiri yang akan menjadi pajangan. Kau tutup saja gerbangnya dan bantu aku ya”
“Jadi, gajiku akan kau naikkan bulan ini kan, Madame?” Will bertanya dengan nada sedikit meledek sambil melihat pisau daging yang dipegangnya
“Hmm…tergantung seberapa membantu kau nanti. Mungkin aku akan menaikkannya sedikit dengan bonus”
“Yahoo!!” Will berteriak begitu senang
Tidak peduli seberapa senangnya penjaga gerbang itu, Seren langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Di dalam pikirannya sekarang hanya memikirkan bagaimana caranya bisa membawa semua anak-anak tersebut.
Sepanjang jalan melewati area yang sepi tersebut, Seren berjalan dengan tenang sambil berpikir.
‘Haruskah dalam keadaan hidup atau mati ya? Sepertinya tidak masalah kalau dibawa dalam keadaan mati tapi Jack senang sekali dengan suara jeritan anak-anak. Kurasa akan kubawa satu atau dua orang dalam keadaan hidup, sisanya tergantung perasaanku’
Sambil tersenyum, Seren membayangkan lagi betapa senangnya sang suami saat dia berhasil membawa pulang anak-anak itu. Dia bahkan mengatakannya dengan senyum yang manis.
“Jack pasti akan menyukainya. Senangnya~”
Mendengar itu, Will memberi respon.
“Aku yakin Monsieur pasti akan semakin mencintai anda, Madame”
“Begitukah menurutmu, Will?” Seren bertanya dengan senyum cantiknya
“Tentu saja! Selain itu, Madame akan semakin dicintai oleh Monsieur jika memperlakukan pegawainya dengan baik”
“Seperti apa contohnya?” Seren bertanya dengan polos
“Menaikkan gajiku bulan ini adalah bukti bahwa Madame sangat murah hati dan peduli pada kesejahteraan karyawan. Monsieur pasti semakin mencintai anda yang murah hati, Madame”
“Begitu ya. Kalau begitu akan aku naikkan gajimu 60% bulan ini. Jack pasti akan semakin mencintaiku. Ah, senangnya~”
“Ehehehehe. Madame yang terbaik. Terima kasih banyak, Madame”
Di sini dapat dilihat seberapa polosnya wanita cantik bernama Seren itu.
Meskipun dia lebih hebat dari Justin tapi karena terlalu mencintai suaminya, bahkan karyawannya sendiri saja sampai bisa mengerjainya seperti itu.
Hanya tinggal berdoa agar Will benar-benar mendapatkan kenaikkan gaji yang diinginkannya dan tidak berakhir sebagai pajangan.
Sepanjang jalan yang sepi di wilayah lain dari tempat asing itu, Will bertanya banyak hal pada tuannya tersebut.
“Madame, boleh aku tau kenapa Justin datang hari ini? Tampaknya dia sedang tidak baik-baik saja”
“Ah, sepertinya dia sedang terganggu karena ada seseorang yang masuk ke wilayah depan”
“Hoo, pantas saja dia sepertinya sedang kesal. Tadi dia bahkan menembakku karena kesal. Ahahaha” Will tertawa dengan wajah senang
“Dia kesal padamu? Memang kau mengatakan sesuatu padanya?”
“Aku memanggilnya dengan sebutan botak. Ahahahaha” Will bicara dengan percaya diri
“……” Seren terdiam dan tidak mau berkomentar
Selesai tertawa, Will bertanya kembali pada Seren.
“Orang seperti apa yang dicari olehnya?”
“Hmm…pria dengan pedang tanpa sarung pedang. Selain petunjuk itu tidak ada yang lain. Sepertinya orang bodoh yang memberinya info tersebut akan dijual nanti malam dan sudah terdaftar di kios milik Riz Mortem” Seren menjawab dengan santai
“Lalu, kemana kita akan pergi sekarang? Tidak mungkin Madame akan mencarinya tanpa petunjuk, benar kan?”
“Aku mau pergi ke tempat yang biasa dia datangi. Justin tidak mengatakan kemana dia akan pergi setelah keluar dari ruangan kami tapi aku yakin dia pasti akan tetap mencari targetnya sendiri”
“Lucu sekali. Kalau begitu kenapa dia repot-repot meminta bantuan kalian untuk mencarinya pria dengan pedang tanpa sarung pedang itu?” Will bertanya dengan nada heran dan remeh
“Kurasa dia memang kesulitan menemukan targetnya. Akan tetapi bisa juga dia menjadikan hal ini sebagai pengalihan. Aku hanya bisa berpikir bahwa dia memang ingin menyingkirkan anak-anak itu sejak dia sudah mulai bosan. Tapi itu hanya pemikiranku saja”
“Yah, yang manapun sama saja. Intinya keinginan Jack untuk memiliki banyak koleksi kepala anak-anak di pasar gelap sebentar lagi akan terwujud. Bagaimanapun juga, di wilayah asing ini…tidak ada orang yang bisa disebut sebagai manusia. Sejak kita semua hidup dengan sifat iblis seperti ini dan berbeda dengan penduduk di kota tersebut”
“Benar sekali, Madame”
Sorot mata Seren berubah tajam dan nada bicaranya yang lembut seketika berubah menjadi dingin.
Seren dan penjaga gerbang itu sampai di [Barre des Noirs] dan membuka pintunya. Ketika mereka sampai, mereka disambut oleh bartender.
“Selamat datang. Ah, Seren-sama. Lama tidak bertemu” Arkan memberikan senyuman ala bartender kepada Seren
“Halo Arkan. Kupikir kau sudah mati dibunuh oleh Justin semalam. Riz pagi ini berlari ke tempatku sambil bercerita dengan antusias soal barang yang didapatkannya. Padahal aku berharap wajah tampanmu bisa menjadi barang utama untuk toko suamiku di pasar gelap. Sayang sekali kami harus menunggu sampai kau mati nanti” kata Seren dengan nada santai dan wajah datarnya
“Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan saya, Seren-sama. Seperti yang anda lihat, saya masih sehat. Mungkin yang bisa membunuh saya hanyalah potongan gaji dan kehilangan sisa cuti tahun ini. Bagaimanapun juga, tidak mudah bekerja di lingkungan yang penuh dengan tindak kekerasan dimana-mana” Arkan dengan senyumannya menjawab Seren
“Begitu ya”
“Apa anda ingin minum sesuatu?” Arkan bertanya kepada Seren dengan wajah ala bartender miliknya
“Nee, aku mau bertanya padamu. Apa kau tau dimana tempat anak-anak jalanan milik Justin?” Seren masih terlihat begitu santai
“Tempat tinggal mereka maksudnya? Apa anda ada perlu?” Arkan menatap Seren dengan wajah heran
“Justin sudah memberikan mereka pada suamiku sebagai bayaran karena meminta bantuan kami untuk mencari pria berpedang tanpa sarung pedang”
“Eh?!”
Raut wajah Arkan sekarang berubah menjadi pucat dan panik. Dia ingat pagi ini Justin mengatakan padanya bahwa dia akan mencarinya sendiri ke kota. Siapa yang mengira bahwa Justin akan meminta bantuan dari pembunuh wilayah gelap.
Arkan bahkan bergumam dalam hati dengan ekspresi panik.
‘Si gorilla itu meminta bantuan dari pasangan suami istri psikopat ini hanya untuk mencari orang yang bahkan tidak pernah dia temui?! Kurasa Justin sudah mulai gila! Dan hal yang tidak kalah gila, dia memberikan Theo dan anak-anak lain kepada mereka!! Sudah jelas kesembilan anak-anak itu akan menjadi dagangan di pasar gelap dalam keadaan terpotong!!’
Arkan memang tidak pernah peduli pada nasib semua anak-anak jalanan itu. Tapi entah kenapa mendengar mereka diberikan kepada Seren, dalam hati kecil Arkan tumbuh perasaan takut.
Dia takut membayangkan kepala anak-anak itu berada di etalase dan terpajang di kios dagang yang berada di pasar gelap.
‘Bagaimanapun juga, wanita ini dan suaminya adalah iblis sungguhan yang bisa dengan mudah menjual manusia dalam keadaan hidup atau mati di wilayah gelap. Haruskah aku berbohong padanya dengan mengatakan
aku tidak tau?’ pikir Arkan dalam hati
Baru saja dia berpikir untuk berbohong, Seren sepertinya menyadarinya dan langsung membuatnya tidak bisa menghindar.
Tanpa disadari oleh Arkan, entah sejak kapan sebuah benang kawat sudah melingkar di lehernya dan hanya tinggal ditarik oleh Seren dengan satu gerakan.
“Arkan, sebaiknya kau bicara jujur atau kepalamu akan ada di meja bar ini nanti. Kau tau bahwa aku sangat ingin kepalamu ada di salah satu daftar daganganku kan? Kalau kau masih ingin kepalamu menempel di leher itu sebaiknya jangan mencoba untuk berbohong. Mengerti maksudku?”
Sorot mata Seren terlihat begitu lembut dengan senyuman manis, tapi tindakan dan kalimatnya itu tidak sinkron sama sekali.
Arkan hanya bisa pasrah dan menjawabnya dengan jujur. Dia memberitau semuanya termasuk jalan menuju ke sana dengan perasaan sedikit terpaksa.
Setelah mendengar semua yang dikatakan Arkan, Seren melepaskan leher Arkan dari jeratan benang kawat yang tajam tersebut dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
“Terima kasih banyak, Arkan. Ini, kuberi 5.000 Franc sebagai tips. Ambilah”
Seren dengan senyuman manis memberikan sekantong koin emas kepada Arkan. Ini memang tidak seperti Arkan yang sangat menghargai uang dan gajinya tapi dia menolaknya begitu saja. Sungguh sangat disayangkan sekali.
“Kau yakin tidak mau uangnya?” Seren bertanya dengan nada kecewa
“Ti–tidak perlu. Apa anda butuh sesuatu yang lain? Jika tidak ada sebaiknya anda tidak berada di sini sejak anda begitu sibuk, Seren-sama” Arkan mencoba mengusir mereka dengan cara halus
“Kau benar. Baiklah aku pergi du…ah, sebentar!. Apa kau punya kantong plastik yang bisa membungkus manusia? Kalau ada berikan padaku semua yang kau punya”
“……”
Lagi-lagi Arkan tidak bisa melakukan apapun dan terpaksa mengambil kantong plastik sampah berukuran besar yang digunakan olehnya untuk membungkus kelima mayat semalam. Dia memberikannya kepada Seren dan memintanya untuk pergi dari bar.
“Jika sudah tidak ada lagi, anda sebaiknya pergi sekarang Seren-sama”
Seren dengan senyum dan sedikit bersenandung meminta Will membawakan kantong plastik itu. Mereka berdua menuju pintu keluar dan Seren melambaikan tangannya kepada Arkan.
“Sampai jumpa lagi, Arkan. Terima kasih kantong plastik besarnya. Ayo kita pergi sekarang, Will”
“Baik, Madame”
Ketika mereka menutup pintu dan pergi, Arkan menjadi lemas dan seketika menjadi begitu panik
“Ini mustahil! Hanya karena seorang pria tidak dikenal, keadaan bisa berubah seperti ini!. Aku tidak pernah berharap iblis dari wilayah gelap itu akan pergi ke tempat asing ini. Sekarang keadaanya justru semakin berbahaya. Sudah begitu, Justin bahkan sampai memberikan peliharaan miliknya…. Aku merasa kasihan pada nasib mereka hari ini. Malam ini, mungkin hari terakhir mereka hidup”
Sekarang, ada sebuah perasaan yang tidak pernah dimiliki oleh Arkan selama dia tinggal dan bekerja di bar itu.
Dia yang bisa dengan tenang melihat orang lain dibunuh di depan matanya semalam justru mengkhawatirkan nyawa anak-anak kecil itu.
Di saat Arkan penuh dengan kebimbangan dan perasaan bersalah yang tidak pernah dirasakan olehnya, dia teringat apa yang dikatakan oleh rekan kerjanya semalam.
[Pada akhirnya, kau hanya akan menjadi bagian dari orang-orang tak berhati seperti Justin]
[Kau tidak lebih baik dari Justin, Arkan! Kau sama seperti dia, seorang iblis yang tidak memiliki hati nurani dan rasa kemanusiaan! Suatu hari nanti kau akan menyadari betapa rendahnya dirimu dan kau akan menyadarinya]
“……” Arkan terdiam mengingat semua itu
Itu adalah kalimat yang dikatakan oleh tuan Nox kepadanya semalam ketika dia berlari kembali ke bar setelah mendengar peristiwa pembunuhan itu dari salah satu pelanggannya.
Senyum kecewa ditunjukkan olehnya.
“Tuan Nox, kurasa kau benar. Aku mungkin sudah menjadi iblis yang sama seperti Justin”
Perhatian Arkan teralihkan ketika dia melihat pintu barnya kembali terbuka. Matanya melebar seakan melihat sesuatu yang tidak biasa.
******