
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya pintu terbuka. Terlihat ada seorang perempuan yang berdiri di hadapan Ryou dan Kaito dan tepat di belakang mereka perempuan itu, Kino lansgung berlari memeluk adik dan temannya.
“Ryou! Kaito-san!”
“Kino…”
Ryou dan Kaito membalas pelukan itu dengan erat.
“Aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Aku senang kau selamat, Kino” kata Kaito dengan senyum
Kino melepaskan pelukan itu dan melihat kedua orang itu dengan seksama.
“Kalian…tidak terluka, kan?”
“Tidak. Kami semua baik-baik saja. Meskipun…sedikit kotor” Ryou melihat ke lantai koridor yang penuh dengan darah
Bukan hanya Kino yang terkejut, tapi semua orang berteriak dan mundur ke belakang ketika melihat kumpulan mayat zombie di luar kantin.
“Kyaaa!!!”
“Mereka…mereka yang ada di depan pintu?!”
Kim Yuram berubah pucat dan Ha Jinan segera mundur lalu berlutut sambil menangis.
“Tidak! Hiks…Eunji…Eunji…hiks…”
Kino segera menarik tangan keduanya untuk masuk dan segera setelah itu, orang-orang di dalam menutup pintu dan menahan pintunya kembali.
Di dalam, Kino mulai terlihat cemas.
“Bagaimana bisa kalian bertemu dengan semua makhluk-makhluk itu? Apa yang terjadi sebenarnya?”
“Aku tidak tau. Karena ulah si bodoh ini saat kita di restoran, makanya kita berada di sini. Dan ketika aku melihat sekelilingku, tau-tau ada seekor zombie yang mengejar. Sudah begitu, aku harus melihat zombie lain…” Ryou terdiam dan menyadari keanehan di sekelilingnya
Dia melihat ada tas berisi makanan yang berserakan di lantai dan mengingatkan dia pada sesuatu yang baru ditemuin. Dia bertanya pada sang kakak.
“Kino, apa mereka baru menemukan makanan? Ada banyak makanan dan air di sana”
“Benar. Ada sedikit kegaduhan di sini”
Ryou dan Kaito menyadari situasi ini. Mereka dapat melihat ada anak perempuan yang ketakutan dan menangis serta pria yang wajahnya babak belur seperti habis dihajar seseorang.
“Aku bertemu dengan zombie yang memakan seorang perempuan sebelum bertemu Kaito. Dia juga tampaknya mencoba mendapatkan makanan. Tapi sayangs sekali, justru dia yang menjadi makanan mereka” ujar Ryou
Suara Ryou terdengar di telinga semua orang di sana. Mendengar itu, wajah mereka semua menjadi ketakutan. Mereka bisa menebak siapa perempuan yang dimaksud.
“Kamu bertemu dengannya?” tanya Kino
“Yap. Dia nyaris membunuhku. Kaito memenggal kepalanya agar tidak bergerak sebelum kami melarikan diri dari sana. Tampaknya para zombie di luar juga penghuni gedung ini”
Tiba-tiba terdengar teriakan.
“Eunji!! Eunji!!”
“……!!” Ryou dan Kaito kaget mendengarnya
Sebagian orang-orang itu juga terkejut dan syok. Mereka menangis dan ada juga yang berpelukan karena menangis bersama. Perempuan malang yang berteriak memanggil nama seseorang itu dipeluk oleh perempuan lain yang membukakan pintu kantin.
“Jinan, Ha Jinan…tenanglah”
“Itu Eunji! Hiks…maafkan aku…Eunji…hiks…Eunji…”
Kino merasa sedih melihatnya. Pemuda di belakang Kaito yang sebelumnya terlempar karena mencoba menolong perempuan malang itu juga hanya bisa terlihat sedih dan kecewa.
“Kh…kenapa jadi begini…”
Ryou berbisik pada Kaito.
“Kelihatannya yang kita temui sebelumnya itu adalah salah satu dari teman mereka”
“Tampaknya begitu”
“Ini merepotkan. Kita tidak bisa bilang ke mereka kalau kau menendang kepalanya seperti bola kan, Kaito?”
“Tolong kau rahasiakan itu ya. Kita tidak boleh terlibat dalam masalah. Bisa sangat menyusahkan nantinya”
“Aa. Aku juga tidak mungkin membahayakan Kino”
Kino terlihat penasaran dengan kedua orang yang sedang berbisik-bisik itu. Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menarik pundak Kino dan mendorongnya ke belakang. Lalu, dia dengan penuh kekesalan menarik kerah pakaian Ryou.
Itu adalah pria dengan luka di wajahnya. Dengan suara keras yang menyakitkan telinga, dia bicara penuh amarah pada Ryou.
“Oi, bocah sial! Apa yang kau katakan barusan?! Apa maksudmu dengan perempuan yang dimakan oleh monster itu?! Katakan padaku dimana kau melihatnya?!”
“Hah?” Ryou terlihat tidak senang dengan perlakuan itu
Sebelum mulut Ryou bicara, Kaito dengan cepat mencengkeram pergelangan tangan pria itu dengan kuat dan melepaskan kerah pakaian Ryou.
“Akh!!” pria itu kesakitan
“Park Cho Joon!” teriak pemuda di belakang Kaito
Kaito tidak memedulikan teriakan itu dan bicara pada pria itu. Sorot mata dan nada bicaranya begitu dingin sehingga membuat pria itu nyaris tidak bisa melawan.
“Sebaiknya jangan berbuat kasar di sini. Jangan coba-coba menyakiti temanku atau kau akan menyesal”
Rasa sakit dari cengkeraman tangan Kaito membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, otaknya yang terbuat dari otot sepertinya tidak mengerti konsep ‘bersikap tenang sebelum bertindak’. Dia dengan penuh emosi mencoba melampiaskan kekesalannya pada Kaito.
“Lepaskan aku, sialan! Lepaskan aku atau kubuat kau menyesalinya!!”
Ryou terlihat sedang merapihkan pakaiannya dan mulai membuka mulutnya.
“Kaito, lepaskan dia”
“Kau yakin? Dia bisa habis kalau kau yang menangani”
“Sudah lepaskan saja”
“……” Kaito merasakan firasat buruk
Tanpa berpikir, dia melepaskan pria itu dan sebuah tendangan mendarat di perutnya.
“Kuaaaakh!!” pria itu terjatuh dan menahan rasa sakit
Semua orang terkejut dan syok. Lagi-lagi mereka dibuat sangat kaget dengan apa yang terjadi pada pria bernama Park Cho Joon.
Ryou berjalan mendekatinya dan menatap rendah pria itu.
“Kh….”
“Akan kuberitau padamu dan semua orang yang ada di sini. Jika berani melakukan tindakan kasar pada kakak dan temanku, aku tidak akan berpikir dua kali untuk menghajar mereka. Sekalipun dia adalah perempuan atau pria pengecut sepertimu”
Betapa dinginnya kalimat itu. Tentu saja, bagian dari kalimat ‘sekalipun dia adalah perempuan’ itu hanya gertakan.
Ryou sangat menyayangi sang ibu, jadi dia tidak akan pernah bermain fisik pada perempuan.
Hal itu juga mengingatkannya pada anak-anak di tempat asing itu. Meskipun anak-anak itu, termasuk Stelani dan Michaela sangat sering berargumen dengannya, nyatanya Ryou tidak pernah menyakiti mereka karena mereka perempuan dan orang yang disayangi sang kakak.
Kalimat dingin Ryou itu tampaknya ber-impact pada cara pandang semua orang di sana.
“Ryou, aku tidak terluka. Jangan seperti itu. Aku mohon, hentikan” Kino menghampiri Ryou dan mencoba menghentikannya
“Kau yakin kau tidak terluka? Mereka tidak melakukan hal buruk padamu, kan?”
“Aku baik-baik saja. Justru aku yang bertindak tidak sopan beberapa waktu lalu”
“Hmm~kurasa itu bohong. Aku tidak percaya. Tapi ya sudah kalau kau bilang begitu” jawab Ryou dengan santai
Kaito hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergumam dalam hati.
‘Sudah kubilang kalau Ryou yang menghadapinya, dia akan menyesal. Untung saja mulut pedasnya tidak keluar’
Pemuda di belakang Kaito berjalan melewatinya dan mencoba untuk membantu Park Cho Joon berdiri.
“Cho Joon, pegang tanganku”
“Menyingkir kau, lemah!”
-BUUK
Park Cho Joon mendorong pemuda itu dengan tendangannya hingga dia terjatuh.
“Seo Garam!” teriak dua perempuan yang tidak jauh dari posisi Kaito berdiri sekarang
Kaito melihat kejadian itu tanpa bermaksud menolongnya. Dia masih memperhatikan semua orang di sana dan mengamati situasinya.
‘Jangan mencoba melibatkan diri dulu, Kaito. Aku harus terlihat tidak peduli untuk melihat situasinya. Aku harus melindungi Kino dan Ryou. Sebaiknya abaikan drama kecil ini sementara waktu’ pikir Kaito
Kino berniat menolong tapi langkahnya dihalangi oleh tangan Ryou.
“Jangan bergerak, Kino. Kita amati situasinya terlebih dahulu” bisiknya
“Tapi…”
Ryou menggelengkan kepalanya. Kino hanya bisa terdiam. Tetapi, bukan Kino namanya jika tidak menolong orang yang terluka. Dia tetap berjalan ke arah pemuda yang terjatuh itu dan membantunya berdiri.
‘Akh! Kakakku itu!’ teriak Ryou dalam hati
“Apa kamu baik-baik saja? Pegang tanganku” Kino mengulurkan tangannya
Pemuda itu, Seo Garam segera meraih tangan Kino sambil menahan sakit. Dia sempat melihat Park Cho Joon dengan ekspresi sedih dan lirih.
“Cho Joon, tidak ada yang ingin berakhir seperti ini. Tidak Ha Jinan, tidak juga Kim Yuram, tidak juga Kim Eunji. Aku dan kau juga tidak menginginkannya”
“Kh…diam…” Park Cho Joon mulai terlihat meneteskan air mata
“Terimalah kenyataan, Cho Joon. Kim Eunji sudah meninggal. Dia melakukannya demi melindungi Ha Jinan, demi melindungi kita semua. Jangan lampiaskan amarahmu lagi. Bukan hanya kau yang sedih di sini” Seo Garam mulai menangis kembali
Isak tangis mewarnai suasana tersebut. Semua orang yang ada di dalam ruangan menangis.
Kino benar-benar lemah dengan kondisi ini. Dia jadi ikut bersedih dan tidak bisa berbuat apapun. Namun tampaknya, ada dua orang yang terlihat dingin dan tidak menunjukkan ekspresi kesedihan sama sekali. Siapa lagi kalau bukan Ryou dan Kaito.
Kaito menarik tangan Kino dan Ryou untuk menjauhi mereka semua. Dimulailah rapat ketiganya. Sambil berbisik, Kaito bertanya pada Kino.
“Apa yang terjadi sebenarnya?”
“Aku tidak begitu mengetahuinya, Kaito-san”
“Ceritakan saja yang kau tau, Kino”
“Saat tersadar, aku sudah ada di depan pintu kantin ini dan mereka segera menyeretku masuk. Tidak lama setelah itu, dari arah belakangku…gadis yang menangis di sana berlari kencang dengan wajah pucat sambil membawa semua makanan di lantai itu”
“Lalu?”
“Di belakangnya banyak sekali makhluk aneh seperti zombie yang mengejarnya” Kino menjelaskan semua yang dia tau
“Jadi dia dikejar oleh para zombie di luar ketika berusaha mencari makanan?” Ryou bertanya pada Kino
“Dari cerita yang sempat aku dengar, gadis bernama Ha Jinan dan Kim Eunji mencari makanan di luar ketika zombie itu tidak ada. Tapi sepertinya, mereka kurang beruntung dan salah satu dari mereka menjadi korban”
“Jadi, Kim Eunji itu adalah orang yang tidak beruntung tersebut ya?” Ryou kembali memastikannya
“Benar. Gadis bernama Ha Jinan itu kembali seorang diri dan menjatuhkan dirinya beserta semua makanan itu sambil menangis histeris. Dia mengatakan ‘maafkan aku, Eunji’ saat datang. Kemudian…” Kino melihat pria yang duduk tertunduk dengan luka di wajahnya
“Kemudian, pria bernama Park Cho Joon itu menyerangnya. Dia terlihat begitu emosi sampai-sampai nyaris saja membunuh Ha Jinan” lanjut Kino
“Apa?!” Ryou dan Kaito terkejut
“Pria bernama Park Cho Joon itu mencekiknya. Lalu, pria itu…aku sempat mendengar namanya Seo Garam…”
“Benar, aku dengar. Lalu, kenapa dengannya?” Ryou melirik ke arah pemuda yang dimaksud
“Dia berusaha menyelamatkan Ha Jinan, namun dia didorong dengan kuat. Karena aku tidak tahan melihatnya, aku melakukan tindakan pembelaan dengan menendang wajahnya”
“……”
Bagian ‘menendang wajahnya’ yang dikatakan Kino itu seperti sebuah kebohongan untuk Ryou dan Kaito.
“Kau…menendang wajahnya?” Kaito terlihat tidak percaya
“Kau benar-benar melakukannya, Kino?” sang adik lebih tidak percaya lagi
“Aku…aku terpaksa karena gadis itu bisa saja mati” Kino memerah karena malu
“……” kedua orang lainnya terdiam
Dalam pikiran mereka, akhirnya ada satu hal lainnya yang bisa disepakati bersama.
‘Ternyata Kino bisa jadi lebih mengerikan dari yang terlihat’
******