Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 161. Akhir dari Keinginan yang Telah Terwujud



Di lobi penginapan, Joel dan anak-anaknya menunggu ketiga remaja itu.


“Joel-papa, kita diusir Ryou-niichan ya?” tanya Michaela yang menggandeng tangan ayahnya


“Eeemm…mereka hanya…butuh ketenangan di pagi hari” Joel menjawab dengan wajah bingung dan senyum yang dipaksakan.


******


Ini terjadi sekitar 15 menit lalu.


“Dasar pejahat kecil!” gumam Ryou


Ryou menatap mereka sinis tapi hanya bertahan beberapa detik. Setelah itu, dia menatap Kaito yang sudah berdiri karena tangannya ditarik oleh Michaela dan Fabil.


“Kino…” Kaito melihat Kino dengan wajah bingung


“Um, mereka datang beberapa menit lalu dan katanya ingin mengajak kita makan jadi…”


“Ayo kita siap-siap pergi, Kaito-niichan” Michaela menunjukkan senyuman manisnya


“Pergi? Benar-benar makan dengan kalian semua?”


Joel tertawa sambil menepuk pundak Kaito.


“Ahahaha, tentu saja! Bukankah kau janji pada anak-anakku kemarin kalau kalian akan di sini sampai Kino sembuh”


“Iya, tapi aku pikir kami yang akan ke tempat kalian siang ini. Karena itu semalam, bersamaan dengan pergi membeli obat tidur, aku juga membeli sabun pencuci pakaian untuk mencuci baju yang kotor kemarin” jelas Kaito


Mendengar itu, Joel tertawa semakin keras dan menepuk pundak Kaito berkali-kali.


“Ahahaha, kau ini lucu sekali! Lupakan soal itu! Sebaiknya kita pergi sekarang”


“Tidak! Kalian keluar dari sini!” tiba-tiba Ryou berteriak dengan raut wajah kesal


Semua orang melihatnya.


“Ryou-nii, kami ingin mengajakmu makan. Kenapa galak sekali!” kata Theo dengan wajah cemberut


Ryou langsung bangun dan menghampiri Joel yang berdiri di dekat Kaito. Tanpa basa-basi dia berkata pada Joel, “Kau dan anak-anakmu harus keluar dari sini sebelum aku usir dengan paksa. Kalau mau kami ikut dengan kalian, lakukan sekarang”


“Kau mengancamku?” tanya Joel


“Ini bukan ancaman tapi aku bersungguh-sungguh. Orang yang baru bangun tidur itu bisa lebih nekad dari orang yang sedang mabuk. Kalau tidak mau aku usir dengan senjata tajam, bawa mereka semua dan tunggu kami di bawah”


“Oi, itu terlalu kejam, kan?”


“Keluar sekarang!!!”


Mendengar Ryou berteriak, Joel mau tidak mau segera membawa anak-anaknya ke bawah dengan wajah panik.


******


15 menit kemudian, di sinilah Joel dan kesembilan anak-anaknya yang manis.


“Joel-papa, mereka lama sekali” rengek Michaela


“Mereka akan segera turun”


“Huh! Dasar Ryou-nii jelek! Bisa-bisanya dia mengusir kita semua seperti itu!” Theo menggerutu


“Tapi itu tidak salah juga, Theo. Kita membuatnya kaget di pagi hari. Wajar jika Ryou-niisan marah” Stelani mencoba membela Ryou


“Tetap saja dia galak!”


“Siapa yang kau panggil galak, bocah menyebalkan?!”


“……!!!” Theo terkejut


Dari arah belakang, Ryou datang dengan pedangnya yang terpasang pada sabuk pengikat pedang di pinggangnya. Di sampingnya, Kino berjalan bersama Kaito yang tidak lupa membawa senjatanya juga.


“Kino-niichan~” anak-anak itu langsung menghampirinya


“Kaito, kau ingin menjadi pusat perhatian dengan membawa pedang tanpa sarung pengamannya?” Joel bertanya dengan wajah heran


“Ini bagian dari pertahanan diri. Selain itu, aku yakin kau tidak sedang membawa uang dalam jumlah kecil, tuan manager. Apalagi mereka mengatakan kalau kalian ingin mentraktir kami sarapan”


Alasan Kaito masuk akal. Joel tidak mau menghabiskan banyak waktu dan sekarang mereka memutuskan untuk keluar dari penginapan.


Di jalan, Ryou terus berada di dekat Kino dan berdebat dengan Theo serta anak-anak lain. Sungguh sikap yang sangat ‘dewasa’ sekali.


Sedangkan Kaito berjalan bersama Joel di belakang mereka semua.


“Kau bisa tidur dengan bantuan obat tidur rupanya”


“Begitulah. Melihat bagaimana Kino sempat tidur di rumah sakit karena efek obat yang diberikan padanya membuatku berpikir, mungkin saja Ryou dan aku juga bisa terpengaruh oleh efek obat”


“Begitu”


“Aku ingat terakhir kali aku tidur sekitar seminggu lalu. Karena itu aku ingin sekali merasakan tidur seperti dulu. Aku senang aku bisa merasakannya lagi”


“……”


“Selain itu, berkat tidur dengan obat tidur aku juga tidak melihat mimpi apapun”


‘Termasuk mimpi buruk itu lagi’ kata kaito dalam batin


Kaito langsung mengganti topik pembicaraan.


“Kita mau kemana? Kau bilang akan mentraktir kami sarapan, tuan manager?”


“Anak-anak itu yang memiliki ide. Kemarin saat kembali dari tempat kalian, mereka terus memintaku untuk menemani mereka makan bersama kalian pagi-pagi”


“……”


“Mereka bilang ingin makan di tempat saat Kino mentraktir mereka semua sarapan”


“Begitu. Mereka juga sempat bercerita padaku dan Ryou sebelum kami pergi ke pasar gelap waktu itu”


“Ya, seperti itulah. Karena aku sudah berjanji pada mereka semua, jadi sebagai orang tua yang baik aku harus menepati janjiku” Joel bicara dengan bangga sekali


“Aku senang kau menyelamatkan mereka setelah kematian Justin, tuan manager”


“Aku hanya membayar apa yang telah aku abaikan selama ini. Selain itu, berkat kematian Justin aku bisa memiliki kesempatan untuk menebusnya. Terima kasih untuk semua itu”


“Sama-sama”


Setelah berjalan melewati jalan di kota, mereka akhirnya sampai. Tempat itu adalah restoran keluarga yang pernah didatangi oleh Kino dan lainnya, [Stands de Restauration Familiale].


“Ini tempat yang waktu itu…” kata Kino


“Kami ingin makan di sini lagi, karena itu kami semua meminta Joel-papa untuk makan di sini juga. Ehehe ~” Michaela memeluk Kino dengan senang


“Begitu. Kalau diingat kembali, Theo-kun tidak ikut bersama kita waktu itu, kan?”


“Umm” Theo mengangguk


Ryou sempat melihat ke dalam dari kaca jendela.


“Ayo masuk!” Fabil menarik tangan Kino dan Ryou


Ketika pintu dibuka, pelayan wanita yang pernah melayani mereka menyambutnya.


“Selamat datang”


Ketiga remaja itu cukup kaget dengan keadaan ini.


“Joel-san, apakah ini disewa untuk acara khusus? Tidak ada pengunjung lain di tempat ini” Kino bertanya pada Joel dengan wajah bingung


Arkan menyambut mereka semua.


“Selamat datang, kalian semua. Kami sudah menunggu. Makanan sudah dipesan jadi tinggal menunggu saja”


“Arkan, kau di sini juga?” Ryou memanggil


“Kau pikir siapa yang akan membantu manager?”


“Hmm~syukurlah kau tidak dipecat ya”


Sungguh kalimat yang sangat ‘manis’ di pagi hari.


“Aku harap kau tidak sengaja menggigit lidahmu sendiri” umpat Arkan


Maggy menghampiri sang suami dan mengatur semuanya. Akhirnya, Joel dan Maggy meminta mereka semua untuk duduk.


Kino duduk berdekatan dengan anak-anak itu, sedangkan Ryou dan Kaito duduk bersama dengan para orang dewasa.


“Bagaimana, hebat kan?! Semua Joel-papa yang menyiapkan ini kemarin” ucap Michaela dengan wajah ceria


“Benarkah?” Kino mencoba menanggapi anak itu


“Benar! Kemarin malam, Arkan-niisan dan Joel-papa pergi bersama aku dan Theo ke tempat ini untuk menyewa restoran di pagi hari” Stelani terlihat senang sekali


“Kami ingin makan bersama dengan Kino-niichan dan semuanya. Habis, curang sekali Theo-niichan kemarin makan masakan buatan Kino-niichan” kata seorang anak kecil lain


“Benar. Karena itu kami minta Joel-papa untuk mengajak kami semua” gadis kecil lain ikut menjawab


Kino hanya mendengarkan cerita mereka sambil tersenyum. Sesekali, Stelani dan Fabil bertanya tentang luka di tangan kiri Kino.


“Apa lukanya masih sakit, Kino-niichan?”


“Sudah tidak. Ryou selalu membantuku mengganti perbannya. Terima kasih sudah bertanya, Fabil-kun”


“Syukurlah kalau begitu, Kino-niisan. Semoga lukanya cepat sembuh”


“Terima kasih, Stelani-chan”


“Tapi kalau cepat sembuh, nanti Kino-niichan pergi dari tempat ini lebih cepat”


Ucapan Fabil sedikit membuat suasana menjadi sedih. Kino tersenyum dan menghibur mereka.


“Karena itu, aku akan menghabiskan banyak waktu dengan kalian. Itu akan menjadi kenang-kenangan yang indah”


Mendengar itu, anak-anak tersenyum. Theo sempat melihat Kaito yang duduk di tempat yang berdekatan dengan tempatnya saat ini. Wajahnya tampak murung sambil menggenggam bandul kalungnya.


Di meja makan tempat para orang dewasa, mereka lebih banyak bicara hal yang serius.


“Ini cukup mengejutkan. Terima kasih sudah mempersiapkan ini semua untuk kami, tuan manager” ucap Kaito


“Aku menggunakan uang yang memang sudah disiapkan demi ini semua”


“……” Kaito sempat terdiam mendengarnya


“Kau ingat ceritaku soal pengelola pasar gelap yang memberikan uang demi bertemu kalian? Mereka meninggalkan uang mereka di bar. Aku menyimpannya di brangkas saat itu untuk saat seperti ini. Aku senang bisa digunakan dengan baik. Aku orang tua yang pengertian, ahahaha” Joel menjelaskan sambil tertawa


Kedua remaja itu tersenyum. Ryou sempat melihat sang kakak yang sedang mengobrol dengan anak-anak itu.


“Aku akan menganggap semua ini sebagai bentuk perayaan” katanya


“Perayaan?” Maggy terlihat bingung


“Bagaimanapun juga, Kino itu sangat menyukai anak-anak. Aku yakin mereka semua juga menyukai kakakku. Aku tidak pernah membenci mereka meskipun kami selalu bertengkar. Berkat mereka juga Kino selamat. Aku memiliki banyak hutang pada anak-anakmu, paman manager, bibi. Terima kasih banyak”


Kalimat Ryou itu murni sebuah rasa terima kasih. Setelah mendengar ucapan Ryou, suasana di sekitarnya mulai berubah. Baik Arkan maupun pasangan suami-istri itu tau bahwa kedua remaja di depannya akan pergi.


“Setelah ini, jaga diri kalian” pesan Arkan


“Tentu. Tapi, seandainya permata milik Theo bukanlah kepingan ingatanku yang terakhir, masih ada kesempatan bagi kami untuk di tempat ini”


“Tetap saja tujuanmu adalah untuk mencari kepingan itu kan, Kaito?”


“Itu benar. Karena itu, terima kasih untuk pesanmu, tuan bartender”


Joel dan Maggy hanya melihat satu sama lain sambil tersenyum. Tidak lama setelah itu beberapa makanan datang. Banyak makanan yang dipesan oleh pasangan suami-istri itu. Meskipun ketiga remaja itu tidak memiliki rasa lapar atau keinginan untuk makan, tapi mereka tetap menikmatinya bersama yang lain.


Semua makanan itu dinikmati dalam satu tempat yang sama. Wajah semuanya tampak sangat senang sekali. Sebuah momen yang selalu diinginkan oleh anak-anak itu ketika semuanya kembali.


Sebenarnya ada yang kurang dari mereka.


“Apa kalian tidak mengundang Riz untuk datang?” tanya Kaito pada semua orang


“Aku sudah mengajaknya pagi ini, tapi dia berkata bahwa dia tidak ikut. Katanya itu adalah momen berharga milik manager dan yang lain, jadi dia hanya menitipkan salamnya untuk kalian. Selain itu…”


“Dia tidak mengetahui tentang siapa kalian dan soal cerita itu. Aku sudah bicara pada semuanya termasuk pada anak-anak bahwa Riz tidak perlu tau soal kenyataan kemarin. Meskipun dia menolong kalian, tapi dia masih memiliki hubungan dengan pengelola pasar gelap” Joel melanjutkan kalimat Arkan


“Ini hanya langkah untuk berjaga-jaga” lanjut Arkan


Kedua remaja itu mengerti dengan apa yang dimaksud oleh mereka dan memilih tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sesekali, Kaito melihat ke tempat Kino dan tanpa sengaja pula, matanya bertemu dengan mata Theo yang melihatnya.


Kaito hanya memberinya senyum sambil mengangkat garpunya dan anak itu membalasnya dengan senyuman. Tampaknya, Theo sudah menerima kenyataan dengan baik. Dan keputusannya untuk memberikan permata itu sudah bulat.


Satu hal yang membuatnya tidak menyesal adalah keinginan mereka akhirnya bisa diwujudkan.


‘Aku rasa, inilah yang disebut makan seperti sebuah keluarga. Meskipun ini mungkin akan menjadi yang terakhir, tapi aku sangat senang’


Sebuah cahaya titik terlihat dari bandul kalung Theo. Kino yang sempat melihatnya terkejut, begitu pula dengan Kaito yang merasakan sesuatu. Dia segera melihat ke arah bandul kalung Theo.


“Permatanya…bersinar” ujarnya


Mendengar itu, semua orang langsung melihat ke tempat Theo dan terkejut. Permata itu benar-benar bersinar. Kali ini, semua orang dapat melihatnya sendiri. Anak-anak itu, bahkan para pelayan pun ikut menyaksikannya.


Kaito langsung menghampiri cahaya itu. Melihat Kaito mendekatinya, Theo sempat terkejut. Namun, tanpa sengaja tangan Kaito menyentuh permata itu.


Hanya sebuah sentuhan kecil, namun membuat permata itu masuk ke dalam tubuhnya.


“Kaito…-san…” Kino yang berada dekat dengannya terkejut


Seketika itu juga, sebuah cahaya yang sangat terang menyelimuti semuanya. Bukan hanya menerangi semua orang namun juga seluruh kota itu. Bersamaan dengan itu, kedua jam saku ikut bersinar.


Semuanya lenyap, menghilang di balik cahaya


******